Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 146


__ADS_3

"Mbak sama sekali tidak Mood mau keluar dari rumah..Mbak jar, menjaga Eki juga." ucap Tania.


"Kalau begitu bawa Eki saja mbak." ucap Mona.


"Nanti ada Suruhan mantan mertua mbak, itu yang mbak takuti.." ucap Tania.


"Ya udah kalau begitu aku keluar sendiri deh cari makanan biar tidak Bosan." ucap Mona.


"Kamu hati-hati yah,. jangan terlalu kemalaman pulang nya." ucap Tania.


"oke Mbak. Aku pamit dulu yah." ucap Mona.


Tania menganguk. Setelah Mona pergi dia langsung menutup pintu seperti biasa, karena dia takut mantan mertua nya tiba-tiba datang. N


Di salah satu tempat minum Mona menghampiri Angga yang dari tadi sudah menunggu nya.


"Loh kamu sendirian? Bukan nya kamu bilang akan mengajak Tania?" tanya Angga kepada Mona.


"Maafin aku kak, aku sudah mencoba membujuk mbak Tania tapi dia tidak mau, seperti nya dia takut." ucap Mona.


"Takut? takut karena apa?" tanya Angga. Mona seketika langsung terdiam.


"Humm maksud ku, takut keluar malam-malam." ucap Mona.


"Tidak mungkin.. Biasa nya dia keluar malam tidak pernah mengatakan takut..Kamu menyembunyikan sesuatu dari saya tentang Tania?" tanya Angga.


Mona menggeleng kan kepala nya. "Enggak kok, siapa yang menyembunyikan sesuatu, enggak ada kok. Aku sudah sangat lapar. Aku mau makan." ucap Mona langsung mengalihkan pembicaraan mereka.


Angga menghela nafas panjang.


"Sangat mencurigakan." batin Angga karena melihat gelagat Mona.


Mona makan dengan sangat lahap sekali.


"Apa kakak tidak makan?" tanya Mona kepada Angga yang hanya diam memerhatikan dia makan.


"Saya sudah makan sebelum nya." ucap Angga. "Oohh begitu." ucap Mona, Angga menganguk.


Setelah selesai makan mereka berjalan di jalan pinggir kota mencari Martabak yang akan di bawa pulang oleh Mona.


"Kamu jujur saja kepada saya Mona, apa yang sedang terjadi kepada Tania? Dari tadi saya memerhatikan Sifat kamu sangat berbeda, beri tau saya!" ucap Angga.


Mona menggeleng kan kepala nya. "Tidak ada kak, kenapa aku harus menyembunyikan sesuatu dari kakak, aku sudah janji untuk memberi tau semua nya tentang mbak Tania kepada kakak." ucap Mona.

__ADS_1


Angga Menghela nafas panjang.


"Kalau memang terjadi masalah, kamu akan tau hukuman dari saya." ucap Dika, Mona terdiam dia langsung jalan begitu cepat agar tidak berbicara lagi dengan Angga.


Setelah yang di cari Mona sudah dapat akhirnya dia pulang.


"Aku pulang dulu yah kak, terimakasih banyak traktiran kakak, aku juga minta maaf tidak bisa membawa kak Tania ke sini." ucap Mona.


"Tidak apa-apa, kamu hati-hati lah di jalan." ucap Angga kepada Mona.


Mona menganguk sambil tersenyum.


Mona pulang dengan taksi yang di hentikan oleh Angga. Mona pergi meninggalkan Angga.


"Seperti nya masalah Tania cukup serius sehingga dia takut keluar." batin Angga.


Keesokan harinya...


"Permisi Bu, ini ada surat." ucap pria yang baru saja turun.


"Surat? Surat apa ini?" tanya Tania kebetulan lagi di depan rumah bersih-bersih.


"Surat panggilan dari pengadilan." ucap pria itu.


"Seperti nya ini salah alamat deh pak, coba lihat Dulu dengan baik." ucap Tania.


"Dengan Bu Tania kan?" ucap pria itu lagi.


"Iyah benar saya." ucap Tania. Dia melihat alamat dan benar kalau rumah nya.


Tania mengambil dan membacanya. Setelah di baca ternyata surat pengadilan memanggil untuk sidang membicarakan hal asuh anak.


"Mohon di tandatangani dulu sebagai tanda terima Bu." ucap Pria itu. Tania menandatangani dan pria itu pergi.


"Apa-apa an ini? Kenapa mereka sangat berani melaporkan ini." ucap Tania.


Dia sangat kesal dan juga takut.


"Bik! Bibik." panggil Tania masuk ke dalam.


"Ada apa Tania? Kamu teriak-teriak saja terus menerus." ucap Bibik Sisi yang sedang menonton.


"Lihat ini bik." ucap Tania memberikan surat panggilan itu kepada Bibik Sisi. Bibik sisi melihat nya dia juga ikut kaget dan tidak berhenti mengumpat Mantan Mertua Tania..

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Mona yang tidak masuk sekolah karena jam kosong jadi dia ijin untuk libur.


Mona melihat Surat itu. Dia terdiam sejenak.


"Ini sudah keterlaluan sih mbak, mereka tidak akan menyerah." ucap Mona.


"Mbak tenang kan diri dan pikiran Dulu, jangan takut karena Eki pasti sama Mbak." ucap Mona.."Mbak sama sekali tidak bisa tenang Mona." ucap Tania.


"Aku akan mencari Pengacara yang begitu handal untuk mengurus tentang hak asuh." ucap Mona.


"Kamu fokus aja kepada sekolah kamu Mona, biar mbak yang mengurus ini." ucap Tania.


Mona menggeleng kan kepala nya.."Karena selama ini kita mengalah bukan berarti kita orang yang lemah." ucap Mona.


"Sudah Mona biar mbak yang mengurus semua nya, kamu bantu mbak mengurus Eki sudah jauh lebih baik untuk Mbak kok." ucap Tania.


Mona menghela nafas panjang. "Tidak bisa mbak, aku harus campur tangan, walaupun aku anak SMA, tapi aku tau pengacara yang terbaik bisa menangani Masalah ini." ucap Mona.


"Membayar pengacara sangat lah mahal Mona." ucap Tania.


"Mbak tidak ingin memperpanjang masalah ini.. Mbak tidak ingin membuat Eki menderita karena ini..Mbak akan memberikan Eki kepada mereka." ucap Tania.


"Tania! Apa yang kamu katakan!" ucap Bibik sisi.


"Maafin aku bik. Tapi aku tidak ingin merepotkan Siapa pun termasuk Bibik dan juga Mona.." ucap Tania. "Mbak tau sendiri kan kalau Eki adalah penyemangat Mbak.. Mereka sudah membuat mbak menderita, apa Mbak yakin mereka bisa mengurus Eki dengan baik?" ucap Mona.


"Mbak yakin mereka bisa mengurus Eki dengan baik." ucap Tania.


"Bibik tidak setuju! Bagaimana bisa kamu semudah ini untuk menyerah ?" ucap Bibik sisi.


"Apa yang harus aku lakukan bik? aku tidak bisa melakukan apapun lagi..Aku yakin Eki jauh lebih nyaman dan tercukupi di rumah nenek dan kakek nya." ucap Tania.


"Apa kamu yakin? Bagaimana kalau nanti Eki menderita di sana? Apa kamu tidak merasa kasian ketika jauh dari dia?" ucap Bibik Sisi.


Tania melihat wajah Eki. "Sudah sangat susah kamu berada dititik ini bersama Eki dan Mona.. Bagaimana bisa semudah itu kamu memberikan Eki kepada mereka?" ucap Bibik sisi.


Tania menangis dia duduk di kursi.


"Sudah jangan menangis, kita harus menghadiri sidang itu, dan melihat keputusan pengadilan seperti apa." ucap Bibik sisi.


Tania terlihat sangat terpukul, dia sedih, bingung harus melakukan apa. Melihat wajah Eki membuat nya semakin sedih.


"Seandainya saja aku tidak menikah dengan Malvin hidup ku tidak akan sesulit ini." batin Tania mengingat lagi di hari pernikahan mereka yang sangat bahagia sekali.

__ADS_1


__ADS_2