
"Kalian berdua ikut dengan saya ke Butik." ucap Angga.
"Ke butik Tuan?" ucap Dara.
"Saya ingin melihat Pembuatan Jas saya." ucap Angga.
"Hari ini saya bertemu beberapa rekan kita Tuan." jawab Fani.
"Saya belum menyelesaikan pekerjaan yang Tuan berikan." ucap Dara lagi. Angga Menghela nafas panjang mendengar masing-masing alasan mereka.
"Baiklah saya akan pergi sendirian." ucap Angga.
Dia beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan Fani dan Dara.
Setelah memastikan Tuan nya benar-benar pergi mereka berdua duduk di sofa.
"Aku merasa ada yang aneh dengan pak Deri deh Ra." ucap Fani.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu?" tanya Fani.
"Dia menjual sahamnya kepada Tuan Angga, sementara dia juga pembeli saham." ucap Fani.
"Mungkin seperti yang di bilang dia membutuhkan uang yang banyak untuk saham baru nya." ucap Dara.
"Huff bisa jadi sih, hanya saja aku merasa ada yang aneh pada nya." ucap Fani.
"Sudah lah, kita tidak perlu ikut campur." ucap Fani.
Angga pun naik ke dalam mobil nya.
"Tuan muda mau kemana?" tanya supir nya.
"Ke Butik tempat wanita itu bekerja." jawab Angga.
"Saya mendengar Butik itu sedang di kunjungi oleh beberapa wartawan karena keramaian pembeli dan juga jahitan baju yang bagus." ucap supir.
Angga terdiam sejenak.
"Kalau begitu bawa beberapa bodyguard." ucap Angga. "Percuma saja Tuan. Saya tidak bisa memastikan tuan baik-baik saja ketika di keramaian." ucap supir lagi.
__ADS_1
"Tidak perlu banyak basa-basi segera menjalankan mobil!" ucap Angga. Supir itu sudah berusaha untuk memberi tahu bos nya akhirnya dia pun mengikuti perintah bos nya itu.
Setibanya di depan butik dan ternyata sangat ramai sekali. Tangan Angga menahan pintu mobil. Wajah nya terlihat sangat panik campur gugup melihat keramaian.
"Sebaiknya kita pergi dari sini Tuan, saya tidak yakin Tuan bisa lebih lama di sini." ucap Supir. "Tunggu!" ucap Angga menahan supir. Dia melihat pintu belakang Butik itu terbuka.
Dia berharap dari sana dia bisa ke ruangan penjahit. Dia langsung turun dengan cepat berjalan ke belakang. Body guard nya menunggu di luar bersama supir.
"Kemana jalan ini? Kenapa begitu sangat luas sekali?" ucap Angga. Dia melewati taman dan juga pohon yang cukup tinggi sehingga dia terlihat acak-acakan.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di jendela ruangan penjahit. Dia bernekad untuk memanjat jendela itu namun tiba-tiba seseorang memukul kaki nya dengan kayu begitu kuat.
"Auuuhh!!! Sakit!!! Dia berteriak kuat dan langsung jatuh.
"Rasain!!" Tania merasa sangat senang sekali.
"Tuan Angga!!" Tiba-tiba bodyguard itu datang membantu Angga. "Tuan Angga?" ucap Tania kaget, dia memastikan siapa yang di pukul dengan sekuat tenaga itu.
Dan setelah melihat itu Angga dia sangat panik.
"Maka nya Tuan kalau mau ke sini jangan lewat jendela, ada pintu samping, pintu depan terbuka lebar!" ucap Tania merasa kesal. Dia akhirnya membawa Tuan Angga ke ruangan nya.
"Tuan bisa datang ke sini ketika jas Tuan Selesai." ucap Tania. "Saya harus memastikan Jas saya di Buat dengan baik dan juga rapi." ucap Angga.
"Saya sudah tau pekerjaan saya. Tuan tidak perlu memerintahkan saya." ucap Tania.
"Lalu sekarang di mana Jas saya? Apa sudah jadi?" tanya Angga karena melihat pakaian lain di atas meja jahit. Tania langsung terdiam.
"Hummm, Jas Tuan... Ada.." ucap Tania sangat gugup.
Angga melihat jas nya di tempat pakaian yang belum jadi.
Dia menatap Tania. "Saya bisa menjelaskan nya Tuan, saya tidak menyelesaikan nya karena ada bahan yang kurang, saya sedang menunggu bahan itu." ucap Tania sudah sangat tidak enak.
"Sudah saya bilang saya kasih waktu tiga hari. Dan ini sudah dua hari, bagaimana bisa kamu bersantai mengabaikan jas saya seperti itu?" ucap Angga marah.
"Saya mengerti Tuan. Saya minta maaf." ucap Tania.
"Saya tidak membutuhkan kata Maaf, kau harus segera menyiapkan Jas saya!" ucap Tuan Angga.
__ADS_1
"Saya akan segera menyelesaikan nya." ucap Tania. "Silahkan! Selain itu kamu harus tanggung jawab atas perbutan kamu terlebih dahulu." ucap tuan Angga sambil menunjuk Kaki nya.
"Apa yang harus saya lakukan Tuan?" tanya Tania. "Kau harus mengobati kaki saya yang memar, sekarang saya tidak bisa berjalan." ucap Tuan Angga.
"Saya akan melakukan nya nanti setelah saya melanjutkan beberapa Jahitan di Jas Tuan." ucap Tania. Angga sama sekali tidak mempermasalahkan nya.
Angga memerhatikan Tania yang terlihat langsung melanjutkan Jas nya.
"Huff aku sungguh sangat bodoh merendahkan harga diri ku demi bisa melihat Wanita ini." batin Angga.
"Tunggu -tunggu! Apa yang baru saja aku katakan?" ucap nya langsung menepis pikiran nya. "Aku hanya ingin mendapatkan Jas yang bagus di setiap pertemuan dan semua acara dan juga pakaian ku saat keluar rumah." ucap Angga.
Dia melihat bodyguard nya baru saja datang. "Tuan kami sudah membawa beberapa obat-obatan." ucap bodyguard nya.
"Saya bisa melakukan nya sendiri, Kalian bisa menunggu saya di luar." ucap Tuan Angga. "Tapi Tuan." Namun Angga mengode agar mereka keluar saja.
Mereka meninggalkan Angga.
Tania terlihat sangat fokus sekali ke pekerjaan nya.
Angga melihat Box Eki. "Kemana Bayi itu? Kenapa suara nya dari tadi tidak kedengaran?" ucap Angga. Dia berdiri namun kaki nya benar-benar sangat sakit sekali.
"Saya akan menuntut kamu!" ucap Angga mengumpat Tania.
Namun tidak beberapa lama Eki menangis. Tania meninggalkan jahitan nya melihat ke Eki.
"Cup! Cup! cup!" Tania langsung mengendong Eki menenangkan dia. Eki tidur lagi di gendong mamah nya.
Setelah tenang dia meletakkan kembali dan membuat susu untuk Eki. "Saya sudah bilang bekerja dan sambil mengasuh anak itu menyusahkan! Bagaimana jika Jas saya tidak rapi karena sambil mengasuh anak yang begitu rewel." ucap Angga.
Tania menoleh ke arah Angga.
"Kau bisa menitipkan bayi itu pada pengasuh atau keluarga. kau juga memiliki suami, Kenapa tidak menitip kan pada nya?" ucap Tuan Angga.
"Karena tidak ada yang bisa saya andal kan mengasuh anak saya itu sebab nya dia ada di sini." ucap Tania.
Angga hendak lanjut berbicara namun langsung di potong oleh Tania.
"Lebih baik Tuan urus diri sendiri dari pada harus memprotes anak saya." ucap Tania. "Kau sungguh wanita yang tidak mempunyai sopan santun kepada saya." ucap Angga.
__ADS_1
"Kau sudah memukul saya dengan kayu, dan juga sudah mengabaikan Jas saya. Dan sekarang kau berbicara tidak sopan, saya akan melaporkan kau kepada bosmu!" ancam Angga.