Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 158


__ADS_3

"Maafin aku bik tidak Ijin dulu kepada Bibik, Tapi aku sudah bilang pada Mona bik." ucap Tania. "Iyah Bibik tau, tapi Bibik tidak mau kamu tidur di rumah tuan Angga." ucap Bibik Sisi.


Tampa di tanya Tania sudah tau karena apa Bibik sisi tidak mengijinkan.


"Dari tadi Bibik merasa ada yang kurang..Eki kemana?" tanya Bibik Sisi. Tania seketika terdiam.


"Eki di mana? kenapa kamu tidak membawa nya bersama mu?" tanya Bibik Sisi.


"Eki di rumah teman ku bik. Aku sangat sibuk, lembur Tiap hari menyiapkan baju pernikahan Nada." ucap Tania.


"Bibik sudah bilang kalau kamu sibuk, kasih Eki kepada Bibik." ucap Bibik Sisi.


"Bukan meninggalkan Eki di rumah teman kamu, bagaimana kalau mereka tidak menjaga Eki dengan baik?" tanya Bibik Sisi.


Tania terdiam. "Kenapa kamu diam? Sekarang beri tau di mana Eki, Bibik akan menjemput nya." ucap Bibik Sisi.


"Sebenarnya Eki ada di rumah Angga Bik. Dua hari ini aku tidur di sana." ucap Tania.


Bibik Sisi menghela nafas panjang. "Kenapa kamu membohongi Bibik?" tanya Bibik Sisi.


"Aku takut Bibik marah." ucap Tania.


"Sudah jelas Bibik Akan marah kalau seperti ini.. Bibik sudah meminta agar kamu menjaga jarak dengan Angga." ucap Bibik sisi.


"Bik aku mencintai Angga.. Begitu juga dengan sebaliknya. Aku juga sudah bertemu dengan keluarga dan orang tua nya.. Mereka menerima dan merestui hubungan kami." ucap Tania.


"Itu hanya di depan saja, kita tidak tau di belakang. Apa kamu tidak mendengar sekarang di mana-mana membicarakan kamu." ucap Bibik Sisi.


"Aku tidak perduli dengan kata orang lain Bik. aku hanya butuh ijin dam restu dari Bibik sebagai pengganti orang tua ku." ucap Tania.


"Justru karena Bibik menganggap kamu anak, Bibik ingin kamu hidup bahagia, tidak di usik oleh siapa pun, tidak ada yang mengganggu fokus pada masa depan anak dan Adik kamu." ucap Bibik Sisi.


"Sudah waktunya aku di dampingi Bik, aku sudah yakin. Ada pun nanti masalah kedepannya aku sudah siap untuk menghadapi nya." ucap Tania.


"Ingat Eki yang akan menanggung rasa sakit kalau kamu mempunyai masalah Tania. Mona yang akan sedih melihat kamu di bicarakan di sana sini, dia juga pasti aku di bully." ucap Bibik Sisi.


Tania menunduk kan kepala nya.


"Apakah Bibik tidak ingin aku bahagia?" tanya Tania.


"Bukan Bibik tidak mau, hanya saja Bibik mengkhawatirkan kalian." ucap Bibik Sisi.


"Aku tau Bibik mengkhawatirkan kami, tapi Bibik juga harus mendukung keputusan ku ini, aku ingin menikah lagi. Eki butuh sosok ayah di hidup nya. Aku juga ingin memiliki pendamping." ucap Tania.


"Terserah kamu saja kalau begitu, Bibik tidak bisa mengatakan apapun lagi kalau itu sudah benar-benar keputusan mu." ucap Bibik Sisi.

__ADS_1


"Bikkk... Aku mohon jangan marah kepada ku." ucap Tania.


"Kasih waktu Bibik untuk berfikir terlebih dahulu." ucap Bibik Sisi lalu pergi meninggalkan Tania.


Tania menghela nafas panjang sambil memegang kepala nya.


"Kenapa sangat sulit menyakinkan Bibik Sisi." ucap Tania.


"Bibik Sisi hanya takut kamu tidak bahagia bersama Angga." ucap Aris.


"Aris... Kamu kok bisa di sini?" tanya Tania.


"Aku ke Butik ingin melihat baju pengantin nya." ucap Aris.


"Oohh." ucap Tania dengan lesu.


"Kamu tidak perlu sedih seperti itu, kalau jodoh tidak akan kemana, apapun itu rintangan nya pasti bisa di lewati bersama." ucap Aris.


Tania menganguk.


"Kalau begitu ayo ke Butik..Kamu harus melihat pakaian kamu yang baru saja selesai aku jahit." ucap Tania.


"Kamu datang sendirian? Nada tidak ikut?" tanya Tania.


"Oohhh." ucap Tania.


Sampai di ruangan Tania dia menunjukkan jas Aris.


"Boleh aku Coba?" tanya Aris.. Tania menganguk.


Setelah di coba ternyata sangat Cocok di badan Aris.


"Sangat bagus sekali." ucap Aris. Tania tersenyum.


"Terimakasih yah sudah menjahit Jas sebagus ini." ucap Aris.


"Untuk sahabat ku apa sih yang enggak." ucap Tania. Aris tersenyum.


"Milik Nada di Mana?" tanya Aris. Tania menunjukkan nya.


"Wahh.... Belum jadi saja sudah terlihat sangat cantik." ucap Aris.


"Kamu pasti akan pangling melihat Nada ketika memakai gaun ini." ucap Tania. Aris tersenyum.


Setelah itu Tania harus lanjut bekerja lagi.

__ADS_1


"Aku lanjut bekerja lagi yah.. Kalau kamu mau pulang, pulang saja. Aku tidak bisa menemani kamu." ucap Tania.


"Baiklah. Kamu jangan Terlalu pusing memikirkan Bibik Sisi, dia pasti akan mengerti dan memberikan restu." ucap Aris.


"Semoga saja..Kamu juga hati-hati ketika di luar, karena di hari mau mendekati pernikahan ada saja musibah yang datang." ucap Tania.


"Siap..." ucap Aris.


"Aku berdoa agar kamu dengan Nada langgeng, baik-baik terus." ucap Tania.


"Amin... Terimakasih yah Nada..Kamu memang sahabat terbaik ku." ucap Aris memeluk Tania.


"Ekhem-Ekhem!! Ingat kamu sudah mau menikah!" ucap Angga yang baru saja datang.


Aris menyengir dan melepaskan Tania. "Baiklah Tuan." ucap Aris.. Tania tersenyum.


"Kalau begitu aku keluar dulu yah Tania." ucap Aris.


"Kamu kenapa bisa di sini?" tanya Tania. Angga meletakkan Paper bag CFC di depan Tania.


"Saya ada kerjaan dekat sini, saya hanya bisa mengantar kan ini untuk makan siang kamu. saya juga tidak bisa menemani kamu, karena saya harus ke kantor." ucap Angga.


"Ya Allah kamu tidak pernah repot-repot seperti ini." ucap Tania.


"Sebenarnya bukan hanya tujuan mengantarkan ini, saya juga merindukan wajah cantik dan manis ini." ucap Angga.. Tania tersenyum.


"Sebaik nya kamu segera kembali ke kantor." ucap Tania.. Angga melihat jam.


"Jangan lupa di makan, setelah selesai bekerja saya akan datang ke sini." ucap Angga.. Tania menganguk. Angga pun pergi.


"Ya ampun kenapa dia membawa CFC sebanyak ini? aku tidak akan bisa menghabiskan semua nya ini." ucap Tania.


"Kami siap untuk membantu menghabiskan." ucap dua karyawan datang.


"Kebetulan sekali kalian datang, bawa ini untuk di bagi-bagi di luar." ucap Tania. Mereka sangat senang meninggalkan yang spesial untuk Tania.


"Untung saja aku tidak jadi makan di rumah makan tadi." ucap Tania, dia makan dulu baru lanjut bekerja lagi.


Setelah selesai dia lanjut bekerja.


Bibik sisi di dalam bus termenung. Dia mengingat dulu betapa sedihnya Tania mengandung sendirian, melahirkan hanya di temani dia ke dukun karena tidak memiliki uang.


Bibik sisi masih mengingat dengan sangat jelas kepedihan Tania yang di tinggal kan suami, dan juga orang tua nya.


Berada di titik sekarang tidak lah muda bagi Tania. Dan Bibik Sisi hanya ingin Tania menikmati masa sendiri nya dulu, berbahagia bersama anak dan Adik nya.

__ADS_1


__ADS_2