
"Maafkan saya Tuan, saya memberikan Handphone pemberian tuan kepada adik saya karena dia jauh lebih membutuhkan nya." ucap Tania.
Angga Menghela nafas panjang. Angga menarik pinggang Tania lebih dekat dan memeluk nya.
"Kamu membuat saya tidak fokus bekerja, Emosi saya memenuhi pikiran saya." ucap Angga.
Tania membawa pelukan Angga.
"Aku tidak ingin melepaskan pelukan yang begitu nyaman ini." batin Tania.
Dia mengelus kepala Angga. Namun suara perut Angga yang begitu besar membuat Tania melepaskan pelukannya menatap Wajah Angga.
"Itu suara perut tuan?" ucap Tania. Angga menganguk.
"Saya belum makan dari siang tadi." ucap Angga. Tania melihat jam sudah hampir jam Tujuh.
"Sebaiknya Tuan makan. Kalau Tuan tidak makan bisa sakit!" ucap Tania. "Saya tidak ingin makan kalau bukan masakan Kamu." ucap Angga.
"Baiklah kalau begitu saya akan masak sebentar." ucap Tania meninggalkan Angga di kamar nya. Angga tersenyum lebar.
"Ini salah satunya aku ingin mendapatkan pasangan yang lebih dewasa dari ku." ucap Angga sambil tersenyum.
Dia mandi sembari menunggu Tania selesai Masak.
"Loh Tania kamu masak lagi?" tanya Rendi yang kebetulan mau ke dapur membuat kopi.
"Iyahh, Tuan Angga mau di masakin makanan yang sama persis seperti yang saya Masakin untuk dia sebelumnya." ucap Tania.
"Ini sungguh membingungkan sih. Bagaimana bisa Tuan Angga suka makanan seperti ini padahal dia tentang makanan pemilih sekali." ucap Rendi.
"Kamu mau cobain Masakan saya gak?" ucap Tania. "Saya jadi penasaran." ucap Rendi sambil mendekati Tania mau mencicipi makanan yang di sendok Tania.
Namun Angga tiba-tiba datang memakan yang di dalam sendok Tania. Mereka berdua tercengang.
"Tania memasak untuk saya. Kalau kamu mau masak sendiri." ucap Angga.
Rendi terdiam dia bingung harus ngomong apa.
__ADS_1
"Saya akan menyisihkan sedikit untuk kamu coba." bisik Tania. Melihat itu Angga menatap Tania dengan tatapan tajam.
"Saya sudah sangat lapar ayo buat kan saya makan." ucap Angga. Tania menganguk.
"Tuan Angga sangat berbeda sekali. Kenapa kelihatan nya Tuan Angga marah ketika aku berbicara dengan Tania? Ini sangat mencurigakan sekali." batin Rendi.
"Ah sudahlah tidak ada gunanya juga aku memikirkan itu. Aku ingin mencoba masakan Tania yang membuat Tuan Angga ketagihan." ucap nya sambil membawa mangkuk nya.
"Hummm Rasanya enak. Tapi seperti nya ada yang kurang.." ucap nya. "Oh iya nasi." ucap nya. dia memegangi nasi dan memakan habis semua nya.
Namun kebetulan juga Dara ke dapur. Rendi langsung diam. Sementara Dara tidak perduli sama sekali. Dia membuat susu.
Dia melihat kopi Rendi yang belum jadi. Biasanya dia selalu membuat untuk Rendi tapi kali ini tidak. Dia hanya membuat untuk dirinya sendiri.
Setelah selesai dia langsung keluar seakan tidak melihat Rendi di sana. "Kenapa aku jadi merasa kesepian sih di cuekin sama Dara? Aku merasa ada yang kurang. Semangat ku juga berkurang." batin Rendi.
"Dara kamu tidak Makan?" tanya Angga. Dara yang hendak melewati Meja makan mendengar Angga dia langsung berhenti.
"Makan dulu.. Kalau kamu memiliki masalah Jangan sampai tidak makan." ucap Angga. Dara menganguk. Tania yang mendengar itu hanya bisa menghela nafas panjang.
"Silahkan makan Tuan, saya hanya berbicara sendiri." ucap Tania. Mereka makan sama-sama.
Angga sudah kenyang sekarang mata nya sangat mengantuk sekali.
Dia masuk ke kamar nya terlebih dahulu meninggalkan Tania dengan Dara di Meja makan.
"Ada apa dengan kamu Dara? kamu kelihatan nya sangat sedih." ucap Tania. Dara Menggeleng kan kepala nya.
"Tidak apa-apa kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku." ucap Dara.
"Bagaimana aku tidak menghawatirkan kamu, lihat lah kamu seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup." ucap Tania.
"Kamu benar, aku tidak memiliki Semangat hidup. Tidak ada rasa nya yang membuat ku semangat lagi. Orang yang aku anggap sebagai rumah ternyata sudah memilih orang lain." ucap Dara.
"Aku tidak mengerti maksud kamu apa." ucap Tania.
"Rendi menyukai Fani. Dia berpura-pura dekat dengan ku agar dia bisa dekat dengan Fani juga." ucap Dara.
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu tau seperti itu? Tidak mungkin Rendi seperti itu." ucap Tania. "Percaya atau tidak itu adalah fakta nya. Ini begitu sakit sekali. Aku bingung harus mengatakan apa sekarang." ucap Dara.
"Fani sudah memiliki pacar. Tidak mungkin juga dia mengkhianati kamu." ucap Tania.
"Fani sudah putus dengan pacar nya, aku tidak menuduh Fani merebut Rendi tapi aku rasa sangat kecewa sekali." ucap Dara.
Tania membawa Dara kepelukan nya. "Kamu yang sabar yah. Kamu pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada Rendi." ucap Tania.
"Aku sudah mencintai Rendi lebih dari tujuh tahun. Melupakan dia semudah itu tidak mungkin Tania." ucap Dara.
"Kamu tidak bisa memaksakan cinta. Karena kalau di paksain salah satu akan ada yang tersakiti." ucap Tania.
"Kamu harus berdamai dengan keadaan. Bicarakan baik-baik, pikir kan Jalan keluar nya dengan baik." ucap Tania.
"Aku butuh waktu untuk memikirkan semua itu, menerima semua itu aku butuh waktu." ucap Dara.
"Aku paham kok, kamu pasti kuat." ucap Tania. Dara tersenyum. Rendi yang mendengar percakapan mereka membuat nya merasa sangat bersalah sih.
"Dara benar-benar sudah sangat tulus kepada ku, dia mencintai ku dengan tulus.. Bagaimana bisa aku begitu jahat meninggalkan dia." batin Rendi.
"Dara aku ingin berbicara." ucap Rendi menyusul Dara. Namun Dara tidak mau mendengar dan langsung pergi.."Aku ingin sendiri, jangan mengganggu ku." ucap Dara.
Rendi mau mengejar nya keluar namun Tania menahan nya.
"Dia bilang jangan ganggu gak usah di ganggu dulu." ucap Tania.
"Saya ingin memperjelas dan membicarakan nya lagi. Sekarang saya sadar." ucap Rendi.. Tania Menghela nafas panjang.
"Kasih dia waktu untuk sendiri. Dia sangat kecewa sama kamu, saya juga yakin kalau untuk saat ini dia bahkan tidak ingin bertemu dengan kamu, dia tidak ingin melihat wajah kamu." ucap Tania.
Rendi mengusap kepala nya. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Rendi.
"Kamu hanya perlu sabar dan meminta maaf kepada nya.. Ketika perempuan marah dia akan sangat sulit di ajak bicara." ucap Tania. Rendi menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau begitu kamu istirahat, saya juga mau istirahat." ucap Tania. Dia memastikan Angga sudah tidur.. Tidak Lupa untuk menyelimuti Angga.
"Tidur yang nyenyak yah Tuan." ucap Tania mengelus rambut Angga dan mencium kening nya.
__ADS_1