Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 81


__ADS_3

"Kamu akan selalu bersama Tuan." ucap Rendi. Semua mengikuti Rendi. Angga tersenyum.


"Saya tidak akan mengurangi Gaji, atau tunjangan apa pun kepada anggota saya." ucap Angga. Karena walaupun dia keluar dari bisnis itu dia sudah memiliki banyak kekayaan, bisnis dan juga perusahaan yang benar-benar besar.


"Bagaimana dengan kalian berdua? Kalau kalian ingin ikut dengan Danil saya akan membawa kalian ke sana." ucap Angga pada Dara dan Fani.


"Tidak mungkin kami ikut dengan pak Danil Tuan, kami akan selalu setia kepada Tuan." ucap Dara.


"Danil jauh lebih tinggi membayar kalian semua. Mereka juga akan memperlakukan kalian dengan baik." ucap Angga. Dara dan Fani menggeleng kan kepala nya.


"Kami hanya merasakan kenyamanan di sini bekerja dengan Tuan." ucap Fani. Angga tersenyumlah.


"Baiklah kalau begitu, kalian semua bisa lanjut bekerja." ucap Angga. Mereka semua bubar.


"Kita sudah sampai Mbak." ucap supir kepada Tania tepat di depan perusahaan Angga. "Terimakasih banyak yah Pak." ucap Tania dia pun langsung turun dari mobil.


"Tania.. Kamu ngapain di sini?" tanya Dara. "Kebetulan aku ketemu kamu di sini, aku mau memberikan makan siang kepada Tuan Angga." ucap Tania.


"Oohhh. Ya udah ayo aku antar." ucap Dara.


"Tuan Angga belum makan, kata nya belum selera untung saja kamu datang membawa makanan kesukaan dia." ucap Dara. Tania tersenyum.


"Permisi Tuan." ucap Dara.


"Ada apa lagi? Kenapa kau datang?" tanya Angga. Tiba-tiba Tania muncul.


"Tania datang membawa kan makan siang untuk Tuan, Tuan belum makan dan itu bisa membuat Tuan semakin sakit." ucap Dara.


Angga melihat Tania. "Baiklah, kau bisa keluar." ucap Angga pada Dara, Dara menganguk dia pun ijin untuk keluar.


"Maafin saya datang tidak ijin kepada Tuan, saya juga menggangunya jam kerja Tuan." ucap Tania. Angga hanya diam sambil memandangi Tania.


"Tuan mengatakan belum makan, saya khawatir sakit Tuan kambuh dan semakin parah." ucap Tania.


Angga beranjak dari tempat duduknya dan mendekati Tania.


Dia menarik tangan Tania duduk di sofa. Tania heran.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkan saya. Saya lagi banyak fikiran sehingga saya tidak berselera untuk makan." ucap Angga.


"Tuan tidak bisa mengabaikan nya. Makan dengan teratur itu sangat lah Bagus." ucap Tania. Dia membuka Bekal yang dia bawa.

__ADS_1


"Tuan Makan lah." ucap Tania memberikan sendok. "Saya bilang saya tidak berselera, saya hanya ingin istirahat." ucap Angga mau bersandar di pundak Tania namun Tania langsung menghindar.


"Tuan harus Makan." ucap Tania memaksa Angga makan dengan cara menyuapinya. Angga menatap wajah Tania dengan tatapan malas.


Tania memegang rahang Angga. "Tuan buka mulut." ucap Tania. Angga akhirnya mau Makan.


"Huff makan saja sulit." ucap Tania. Dia menyuapi Angga lagi dan lagi sampai makanan nya habis.


"Memberikan Tuan makan lebih susah dari pada menyuapi Eki." ucap Angga.


"Di mana dia? Kenapa kau tidak membawa nya ke sini?" tanya Angga.


"Saya tidak bisa lama-lama di sini tuan karena Eki saya titip kepada pelayan." ucap Tania.


Angga diam. Setelah selesai makan Tania merapikan semua nya.


"Tuan sudah makan, sebaiknya saya pulang." ucap Tania, Angga menahan tangan Tania.


"Saya ingin kamu di sini menemani saya untuk istirahat sebentar." ucap Angga. Tania melihat tangan Angga.


"Ini adalah perintah dari saya." ucap Angga. Tania menghela nafas panjang.


Sementara Tania yang gugup dia tidak biasa. Angga menutup mata nya sambil tersenyum.


Tania melihat Angga sedikit kurang nyaman tidak bisa tidur dengan nyenyak akhirnya dia memutuskan untuk mengelus rambut Angga.


Tidak beberapa lama akhirnya Angga tertidur dengan begitu nyenyak di paha Tania.


Di luar Dara dan juga Fani sedang istirahat karena pekerjaan nya sudah selesai.


"Dari tadi Tania kok belum keluar yah dari ruangan tuan Angga." ucap Dara.


"Loh Tania di sini? Tumben sekali dia datang." ucap Fani.


"Kamu tau sendiri tugas dia menjaga tuan Angga, di mengantarkan makanan tuan Angga." ucap Dara.


"Seandainya kalau tidak ada Tania mungkin sekarang kita sudah sangat ribet, kena marah terus." ucap Fani.. Dara menganguk.


"Dan Baru kali ini pelayan pribadi Tuan Angga yang bertahan lama." ucap Dara. "Kamu benar." ucap Fani.


"Tapi ngomong-ngomong kamu merasa gak sih kalau Tuan Angga memperlakukan Tania berbeda sekali dengan pelayan nya yang biasa." ucap Dara.

__ADS_1


."Berbeda bagaimana? menurut ku biasa saja." ucap Fani.


"Tuan Angga lebih lembut sekarang, dia juga jarang marah, dan kamu perhatikan deh kalau Tuan Angga menatap Tania seperti menatap orang yang dia suka." ucap Dara.


"Kamu lupa kalau mata yang ada pada Tania adalah mata non Lidya. Kamu tau sendiri naga sayang Tuan Angga pada non Lidya. Di selingkuhin beberapa kali Tuan Angga selalu sabar, di hianati juga Tuan Angga Sabar." ucap Fani.


"Kamu benar sih." ucap Dara. "Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Rendi duduk di samping Dara.


"Membicarakan kedekatan Tuan Angga dengan Tania." ucap Fani.


"Nih untuk kamu." ucap Rendi pada dara memberikan eskrim.


"Loh kok cuma Dara doang? Untuk aku mana?" tanya Dara.


"Bukan nya kamu punya pacar yang mempunyai toko eskrim? kamu minta saja pada dia." ucap Rendi.


"Huff baiklah-baiklah kalau kamu tidak mau membelinya untuk ku, aku akan melaporkan kamu dengan Dara pada Tuan Angga." ucap Fani.


"Aaarrrh... Baik lah ini untuk kamu." ucap Rendi memberikan punya nya untuk Fani. Fani tersenyum menang.


Dara menyuapi Rendi di depan Fani membuat Fani semakin kesal.


"Sial! Seperti nya aku harus pergi dari sini." ucap Fani. Dara dan Rendi tersenyum.


"Enggak perlu, aku hanya bercanda saja." ucap Dara. Fani tersenyum.


"Mempunyai kekasih yang bisa bertemu Tiap hari itu seperti nya sangat menyenangkan." ucap Fani.


Dara tersenyum.


"Sementara aku bertemu dengan pacar ku hanya satu kali satu bulan. Itu hanya sebentar karena aku harus bekerja." ucap Fani.


"Kamu banyak bersabar yah. Maka nya suruh pacar kamu menikahi kamu lebih cepat." ucap Rendi.


"Mau Masih ingin bekerja bersama Tuan Angga. Bertemu kalian setiap hari, dan juga yang lain nya." ucap Fani.


Karena kalau sudah menikah otomatis dia tidak bisa bekerja di sana lagi itu sudah peraturan dari Angga agar tidak terganggu di pekerjaan.


"Kita harus menikmati masa muda terlebih dahulu." ucap Fani.


"Humm kamu benar banget. Menjadi Tania itu tidak lah mudah." ucap Dara. Mereka semua bisa menjadikan Tania sebagai pelajaran untuk mereka.

__ADS_1


__ADS_2