Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 153


__ADS_3

."Ah sudah lah sebaik nya kamu tidur di sini saja malam ini. Karena Besok pagi aku harus ke sini dengan cepat." ucap Tania.


Tania tidur di samping Angga. Angga antara sadar dan tidak sadar dia memberikan lengang nya jadi bantal agar Tania bisa nyaman tidur. Karena Hanya satu bantal di sana.


Tania menatap wajah Angga.


"Terimakasih yah sudah mau menunggu, dan selalu sabar." ucap Tania.


Tania Pun tertidur karena sangat lelah seharian duduk di kursi.


Angga bangun dia melihat Eki yang di samping kiri nya dan Tania di samping kanan nya.


"Kalian tidur yang nyenyak yah." ucap Angga.


Keesokan harinya Tania bangun karena mendengar bel Butik berbunyi. Namun Tania kaget kaget dia berpelukan dengan Angga.


"Kamu sudah bangun?" tanya Angga membuka mata nya.. Tania menatap mata Angga. "Hummm.." Jawab Tania.


Angga tersenyum dia mengelus Pipi Tania.


"Lain kali kamu tidak boleh tidur di sini." ucap Angga.


Tania menghela nafas panjang. Angga menatap mata Tania.


"Sangat jarang saya bisa menatap mata kamu sedekat ini." ucap Angga mencium mata Tania.


"Aku harus bangun.." ucap Tania namun di tahan oleh Angga.


"Kamu mau kemana?" ucap Angga memeluk pinggang Tania.


"Jangan seperti ini, bagaimana kalau ada yang melihat?" tanya Tania. Angga melepaskan tangan nya.


Kedua nya baru sadar Eki.


"Eki di Mana?" tanya Tania. Namun ternyata Eki sudah tidur sendiri. "Kasihan sekali Eki. Saya akan membawa nya kembali ke rumah saya." ucap Angga.


"Tidak perlu!! Dia akan menyusahkan kamu." ucap Tania.


"Angga menggeleng kan kepala nya. "Kasihan dia menunggu kamu bekerja di sini pasti sangat bosan." ucap Angga.


"Hari ini saya tidak ke kantor." ucap Angga.


"Loh kenapa?" tanya Tania. Angga diam. Seketika Tania langsung paham kenapa Angga memilih cuti.

__ADS_1


"Maafin aku yah, aku belum bisa. Kamu lihat sendiri bagaimana banyak nya baju yang harus aku jahit." ucap Tania. Angga hanya diam.


"Kamu jangan marah gitu dong, aku janji deh nanti setelah acara pernikahan Nada selesai, aku akan mengikuti semua permintaan kamu." ucap Tania.


. Angga menatap Tania.


"Kamu janji?" tanya Angga. Tania menganguk.


"Berikan aku pelukan." ucap Angga. Mereka pun berpelukan.


"Permisi Mbak." tiba-tiba karyawan lain datang. Tania dan Angga melepaskan pelukan nya.


"Ada apa?" tanya Tania. "Maaf-maaf Mbak, saya pikir ada orang lain. Tapi kenapa mbak bisa di sini sepagi ini?" tanya karyawan itu.


"Saya bekerja sampai larut malam, jadi kami semua ketiduran di sini." ucap Tania.


"Tapi kan tidak diijinkan untuk tidur di Butik." ucap karyawan itu lagi.


"Hanya sekali ini Saja, aku tidak akan mengulangi nya lagi." ucap Tania. "Ya udah deh kalau begitu aku mau bersih-bersih Dulu yah mbak."


Tania mengajak Angga dan Eki untuk sarapan keluar.


"Setelah selesai sarapan saya membawa Eki pulang yah." ucap Angga kepada Tania.


"Sudah tidak apa-apa, saya yang akan menangani tentang itu." ucap Angga.


Tania melihat ke arah Eki. "Setelah kamu selesai bekerja datang ke rumah untuk menjemput Eki." ucap Angga.


Tania tersenyum sambil mengangguk.


"Baiklah. Aku berterimakasih banyak sama kamu karena sudah mau membantu ku di kondisi seperti ini." ucap Tania. Angga tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu ayo lanjut sarapan." Mereka pun sarapan.


Sementara di rumah Bibik Sisi dan Mona sarapan bersama.


"Apa mbak kamu tidak pulang malam tadi?" tanya Bibik sisi.


"Tidak bik, mbak Tania bilang dia lembur." ucap Mona.


"Itu hanya alasan saja, pasti mbak Tania tidur di rumah Tuan Angga." ucap Bibik sisi.


"Yah gak apa-apa bik, Lagian mereka sudah pacaran sebentar lagi mau menikah." ucap Mona.

__ADS_1


"Bibik tidak setuju Mbak kamu menikah dengan orang kaya seperti tuan Angga. Yang ada nanti mbak Tania di rendah kan di keluarga laki-laki." ucap Bibik Sisi.


Mona terdiam. "Kamu harus menasehati mbak kamu agar perlahan menjauhi tuan Angga, Kalau Tania mau menikah sebaiknya dia memilih pria yang standar seperti kita." ucap Bibik Sisi.


Mona melihat Bibik nya terlihat sangat kesal sekali.


"Kenapa bibik jadi seperti ini? Bukan nya Bibik sebelum nya sangat senang mbak Tania dengan kak Angga? Lagian kak Angga baik kok." ucap Mona.


"Tania sudah janda. Sementara tuan Angga Masih lajang. Keluarga nya orang terpandang. Mereka pasti tidak setuju Angga menikah dengan mbak Tania yang hanya hidup sederhana." ucap Bibik sisi.


Mona terdiam. "Tania sudah sangat sulit move on dari mantan suami nya. Sekarang dia harus di sakiti lagi, Bibik tidak sanggup untuk melihat nya." ucap Bibik sisi.


"Terimakasih Bik sudah mau perduli tapi kak Angga sangat bertanggung jawab, aku sudah tau semua nya perjalanan mereka bertemu, seperti apa Kak Angga. Dan aku yakin mereka saling mencintai." ucap Mona.


"Bibik tidak akan pernah setuju dengan hubungan mereka kalau sampai menikah." ucap Bibik Sisi.


"Bibik belum bisa mengatakan kalau kak Angga tidak bisa membuat mbak Tania bahagia karena mereka belum bersama." ucap Mona.


Bibik Sisi terdiam.


"Ya sudah lah jangan bahas itu lagi, semoga kamu memikirkan kebaikan Eki dan juga Mbak kamu." ucap Bibik Sisi.


"Bibik hanya bisa menyarankan ke jalan yang benar karena Kalian sudah seperti anak Bibik sendiri. Bibik tidaklah ingin Tania di tipu oleh laki-laki lagi." ucap Bibik Sisi.


"Aku paham kok Bik," ucap Mona. Bibik nya pergi. Mona juga ijin ke sekolah.


Sampai di sekolah ia memikirkan tentang perkataan Bibik nya.


"Yang di katakan oleh Bibik Sisi ada benarnya. Aku rasa mbak Tania sendiri jauh lebih tenang. Dari pada harus menikah dan membuat nya Sedih terus." ucap Mona.


"Hayo kamu memikirkan apa?" Tanya Guru kelas nya yang Masih muda. Cukup dekat dengan Mona.


"Bu aku mau bertanya, alasan seorang janda untuk menikah itu apa sih?" tanya Mona. "Tentang mbak kamu yah?" tanya guru itu..Mona menganguk.


"Ibu juga sudah tau kok kalau mbak kamu dekat dengan pria kaya dan terpandang itu." ucap guru cantik itu.


Mona Terdiam.


"Alasan menikah itu karena saling mencintai, sudah nyaman, ibadah, dan juga karena ingin ada yang menjaga." ucap guru itu.


"Mbak kamu memilih menikah mungkin karena dia sudah yakin. Dan lagi dia pasti ingin di nafkahin. Selama ini dia sudah lelah. Sudah waktunya dia istirahat." ucap guru itu.


"Bagaimana tanggapan ibu tentang mbak saya dengan kak Angga?" tanya Mona.

__ADS_1


__ADS_2