
Tania tersenyum. "Kamu sudah lama tidak di sentuh oleh seorang lelaki pasti rasanya sekarang nikmat bukan?" ucap Nada, Tania memukul lengan Nada.
"Jangan berbicara seperti itu!" ucap Tania.
"Aku hanya bercanda saja." ucap Nada, Tania menghela nafas panjang. "Ya udah deh kalau begitu aku mau menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Tania.
"Kamu pasti sudah sangat capek, sebaik nya kamu pulang saja." ucap Nada. Tania menatap Nada. "Huff kamu bisa berhenti mengejek ku tidak?" ucap Tania dengan kesal. Nada tertawa.
"Jangan lupa memakai pakaian yang lebih tertutup agar tidak ada yang melihat bekas-bekas itu." ucap Nada lagi. Tania melemparkan kain dan lanjut bekerja.
Nada tertawa. "Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu." ucap Nada. Tania Menghela nafas panjang.
Tania tersenyum mengingat nya waktu masih sama Angga. "Setidaknya aku bisa lebih tenang dan tidak memikirkan itu sekarang." ucap Tania.
"Angga kamu dari mana saja? Kenapa baru pulang? Kata staf-staf kamu sudah pulang dari Siang tadi." ucap Livy. "Kamu tidak perlu tau." ucap Angga dengan kesal kepada Iivy.
"Kamu kok gitu sih? Aku hanya mengkhawatirkan kamu, apa kamu tidak memperdulikan aku? kamu sudah mengusir aku dari kantor dan sekarang kamu cuekin aku, kamu jahat sekali!" ucap Livy.
"Saya lelah, saya ingin istirahat." ucap Angga.
"Tunggu dulu! Aku belum selesai ngobrol." ucap Livy menahan tangan Angga.
"Ada apa lagi Livy? Apa yang ingin kamu bicarakan?" ucap Angga. "Aku ingin kamu serius dengan hubungan kita sayang. Ini sudah dekat dengan hari pernikahan kita." ucap Livy.
Angga menatap Livy. "Saya tidak akan menikah dengan wanita seperti kamu!" ucap Angga.
"Kamu tau sendiri kan kalau kamu meninggalkan aku dan tidak menikahi aku akibatnya apa." ucap Livy.
"Saya tidak perduli! Saya tidak takut kalau kamu mau melaporkan saya yang membunuh almarhum Lidya!" ucap Angga..
"Yakin? Reputasi kamu dan keluarga kamu akan hancur kalau sampai berita itu beredar." ucap Livy.
"Saya tidak takut! Karena saya yakin kalau bukan saya yang membunuh nya!" ucap Angga.
"Kamu yakin dari mana? Aku sudah jelas-jelas mempunyai bukti nya." ucap Livy. "Sudah lah.. Saya mau istirahat!" ucap Angga meninggal Livy.
__ADS_1
Livy mau mengejar Angga namun handphone nya tiba-tiba berdering.
"Aaaaarrr!!!" dia Kesal. Angga masuk ke kamar nya.
"Ini tidak bisa di biarkan, tanggal yang di tetapkan sudah hampir dekat, aku harus segera mendapatkan bukti kalau aku benar-benar tidak bersalah." ucap Angga.
Dia menelpon anak buah nya yang di suruh mencari tau namun tidak ada informasi dari mereka.
Sementara Tania baru saja pulang tepat jam Delapan malam. "Assalamualaikum Bik." sapa Tania kepada Bibik Sisi yang bersama Eki.
"Walaikumsalam." Jawab Bibik Sisi. Eki langsung memeluk Tania. "Jangan peluk mamah Dulu nak, Mamah mau mandi dulu." ucap Tania.
"Kamu mandi dulu sana setelah itu istirahat. biar Eki Bibik Jagain, kamu pasti sangat kelelahan." ucap Bibik sisi.
"Terimakasih yah Bik." ucap Tania.
"Loh kok Mona gak bantuin Bibik? Dia kemana?" tanya Tania tidak melihat adik nya dari tadi.
"Oohhh Mona lagi keluar." ucap Bibik. "Keluar? Sama siapa?" ucap Tania. "Hummm..." Bibik sisi bingung harus mengatakan apa.
"Jangan bilang dia keluar sama Tomi bik?" ucap Tania..
"Seperti nya mereka masih saling mencintai, jadi tidak ada salah nya mereka pergi bersama agar hubungan nya lebih baik." ucap Bibik Sisi.
"Tidak mungkin Bik," ucap Tania.
"Bibik tidak ingin kamu marah-marah kepada Mona hanya karena masalah itu, Kelihatan nya Tomi juga sudah berubah dia jauh lebih sopan sekarang." ucap Bibik sisi.
"Tidak masalah itu Bik, aku hanya tidak ingin Mona bergaul dengan Tomi lagi!" ucap Tania.
"Biar kan saja! Mona sudah dewasa dia pasti akan tau apa yang baik." ucap Bibik Sisi. "Buruan mandi sana! Bibik gak suka kamu marah-marah seperti itu. Bagaimana kalau anak kamu melihat dan mengingat nya selama nya?" ucap Bibik Sisi.
Tania melihat Eki yang tersenyum. "Hufff baiklah bik kalau begitu aku mandi dulu yah bik." ucap Tania.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai mandi dia berdiri di depan cermin sambil memandangi leher nya yang sudah penuh dengan bercak merah.
__ADS_1
"Seharusnya Angga tidak boleh melakukan hal seperti ini, bagaimana kalau Bibik Sisi melihat nya?" ucap Tania. Dia mencari cara agar bisa menutupi nya.
Untung saja dia memiliki baju yang bisa menutupi leher nya.
Tidak beberapa lama Tomi dan Mona pulang. "Kamu mau singgah dulu?" tanya Mona.
"Boleh juga, aku masih mau bermain dengan Eki." ucap Tomi.
Mereka masuk. "Assalamualaikum..." Mona masuk tapi dia kaget melihat Tania ada di dalam. Karena dia tidak mengingat kalau Tania sudah berhenti bekerja di rumah tuan Angga.
Tania menatap Tomi mereka bersalaman. Mona sudah sangat gugup sekali. Tomi asik bermain dengan Tomi.
"Eki sangat dekat dengan pria manapun yang suka pada nya, dia pasti sangat menginginkan kasih sayang dari seorang ayah." ucap Bibik Sisi.
Tania dan Mona hanya diam saja. Tania memerhatikan Eki yang sangat senang bersama Tomi dia jadi merindukan masa-masa Angga bersama Eki.
"Aku jadi sangat merindukan Nya." ucap Tania dalam hati.
"Maafin mamah yah nak, maaf mamah tidak bisa memberikan kamu kebahagiaan yang begitu sempurna." ucap Tania.
Tidak beberapa lama Tomi harus pamit pulang karena sudah malam juga. "Mbak aku pamit pulang dulu yah." ucap Tomi mau menyalim Tangan Tania namun lama Tania baru membalas nya.
"Mbak..." panggil Tomi dan ternyata Tania melamun.
Dia menjabat tangan Tomi. "Terimakasih sudah mengajak Mona makan. Kamu hati-hati di jalan." ucap Tania kepada Tomi. Mona tersenyum.
"Iyah Mbak." ucap Tomi dia pun keluar dari rumah itu.
"Besok adalah hari terakhir kamu di sini, setelah nya aku pasti sangat merindukan kamu." ucap Mona kepada Tomi sambil mengantarkan nya ke depan.
"Aku harus menyakinkan kamu, mbak Tania, Bibik Sisi kalau aku ingin berubah menjadi lebih baik, aku juga harus lebih baik untuk diri ku sendiri." ucap Angga.
Mona tersenyum. "Aku sudah sangat menyesali perbuatan ku Selama ini. Itu sangat merugikan diri ku sendiri." ucap Tomi. Mona tersenyum.
"Bagus deh kalau kamu berfikir seperti itu, aku sangat senang dan aku yakin kamu pasti bisa." ucap Mona. Tomi memegang tangan Mona.
__ADS_1
"Doain aku yah." ucap Tomi.
"Ini sudah malam waktu nya pulang." ucap Tania yang berdiri di depan pintu. Tomi langsung melepaskan tangan nya dari Mona.