Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 13


__ADS_3

"Saya tidak bisa Tuan, saya sudah menyiapkan jas pesanan Tuan sesuai permintaan Tuan. Kalau Tuan yang baru silahkan berbicara dengan Kasir kami." ucap Tania.


"Berani-beraninya kamu menolak permintaan saya. Kamu akan tau akibatnya sendiri." ucap Angga.


"Permisi Tuan." Nada baru saja datang.


Angga menatap Nada. "Kamu pemilik butik ini kan? Penjahit kamu ini sangat tidak bertanggung jawab atas pekerjaan nya." ucap Angga.


Nada menatap wajah Tania. "Kalau boleh tau masalah nya di mana yah Tuan?" tanya Nada. "Saya ingin di buat kan Jas baru. Karena yang kemarin tidak bagus, jauh dari keinginan saya." ucap Angga.


"Baik Tuan, kami akan bertanggung jawab, kami akan segera menjahit kan yang baru." ucap Nada. "Tidak bisa Nad, klien kita sudah banyak yang menunggu, antrian jahit sudah sangat banyak." ucap Tania.


"Tidak apa-apa Tania." ucap Nada. "Kalau begitu Tuan silahkan ukur badan mungkin ukuran badan Tuan sudah berubah. Penjahit saya akan mengukur nya, Tuan juga bisa memilih bahan yang Bagus." ucap Nada.


Tania melihat Nada. Dia menghela nafas panjang.


"Ayo bawa dia ke ruangan jahit." ucap Nada pada Tania. "Nada bagaimana dengan klien kita nanti?" ucap Tania.


"Saya yang akan mengurus nya." ucap Nada. Tania tidak bisa menolak lagi. "Silahkan Tuan." ucap Nada tersenyum ke arah Angga.


Angga masuk ke ruangan yang penuh dengan kain, ruangan yang besar, dan semua mesin jahit ada di sana.


"Tempat ini sangat kotor!" ucap Angga. Tania menghela nafas panjang dia menatap Angga.


"Saya akan mengukur ulang badan tuan." ucap Tania. Angga mendekat dengan Tania.


Tania kaget karena Angga berdiri terlalu dekat dengan nya. "Tuan tidak perlu sedekat ini." ucap Tania. "Kenapa? Kamu sangat gugup ketika berdekatan dengan pria Tampan seperti saya?" ucap Angga dengan pede nya.


Tania membuang nafas dengan kasar. Dia mengukur badan Angga. Angga memerhatikan Tania yang sangat fokus melihat angka ukuran tubuh nya.


"Kenapa Mata dan wajah nya membuat saya tidak bisa melupakan nya?" ucap Angga dalam hati. Dia memerhatikan terus wajah Tania.


"Sudah selesai. Sekarang Tuan harus memilih bahan nya sendiri, saya tidak ingin ada kesalahan lagi." ucap Tania.


Angga langsung Sadar dari lamunan nya.

__ADS_1


Dia mengambil kain dari Tania.


"Tok!! Tok!! Tok!!" Permisi mbak. Eki menangis dengan saya." ucap karyawan yang mengantar kan Eki.


"Terimakasih sudah menjaga nya, maafkan saya sudah merepotkan kamu." ucap Tania mengambil Anak nya. Angga melihat bayi yang di gendong oleh Tania.


"Anak siapa itu?" tanya Angga menatap anak kecil itu.


"Lebih baik Tuan segera menyelesaikan urusan Tuan. Saya Masih banyak pekerjaan." ucap Tania.


Angga menghela nafas panjang.


"Saya juga mempunyai pekerjaan yang banyak,. namun saya tidak sesombong kamu, bahkan pertanyaan saya tidak kamu jawab." ucap Angga.


Tania menghela nafas berat. "Tuan sudah menentukan pilihan bahan nya? Kalau sudah Tuan bisa keluar dari sini." ucap Tania.


Dia membaringkan Anak nya ke dalam Box yang khusus di belikan oleh Nada.


"Di tempat seperti ini kamu membawa anak bayi, itu akan membuat nya sakit. Tempat yang jorok, penuh debu dan sangat berantakan membuat dia tidak nyaman." ucap Angga.


Tania diam. Mau bagaimana pun yang di katakan oleh Angga adalah benar, dia juga baru menyadari akan hal itu.


Namun Eki tiba-tiba menangis karena Angga menatap nya.


"Kenapa kamu menangis? Saya tidak melakukan apapun." ucap Angga bingung.


Tania langsung mengendong Eki.


"Lebih baik Tuan keluar. Anak saya takut melihat wajah yang sok Tampan dan sangat galak." ucap Tania.


"Ternyata dia adalah anak kamu? Pantesan saja dia sangat mirip dengan kamu." ucap Angga. "Berhenti mengolok-olok saya, lebih baik Tuan keluar!" ucap Tania.


"Saya tidak akan keluar, karena saya akan memastikan Jas saya di jahit dengan baik." ucap Angga duduk di sofa.


Tania mau marah namun tiba-tiba Nada datang.

__ADS_1


"Kalau Tuan mau melihat langsung penjahitan nya tidak masalah kok Tuan. Tidak ada larangan." ucap Nada. Angga tersenyum.


"Terimakasih banyak." ucap Angga. Tania lagi-lagi bergerutu pada Nada, namun Nada tidak perduli, dia Malah fokus mengambil perhatian Angga.


Setelah Eki sudah tenang dia bermain sendirian.


"Oh iya Tuan. Kalau Tuan membutuhkan sesuatu katakan saja, saya dengan senang hati membantu." ucap Nada.


"Tidak ada yang saya butuhkan untuk saat ini, anda bisa pergi. Saya mau bekerja." ucap Angga mengeluarkan laptop dari tas yang di bawa oleh bodyguard nya.


Nada menganguk. "Semangat yah Tania." ucap Nada, dia pun keluar dari sana.


"Bu Nada kelihatan nya sangat senang sekali." ucap kasir. "Bukan hanya senang saja, tapi senang sekali. Pria pujaan ku mau berlama-lama di Butik ku." ucap Nada.


"Ingat yah, Tuan Angga hanya milik Saya, kalian hanya boleh jadi penggemar saja." ucap Nada. "Walaupun kami tertarik Bu, kami tetap sadar diri, mana mau seorang Tuan Angga mau sama karyawan Butik." ucap Kasir.


"Humm seandainya saja aku pandai menjahit, aku pasti yang akan ada di ruangan itu bersama Tuan Angga. Tapi Untung saja Tania tidak tertarik dengan Tuan Angga." ucap Nada.


"Saya Heran banget sama Mbak Tania Bu, Tuan Angga sangat tampan, kaya, incaran semua wanita. Namun baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik pada Tuan Angga." ucap kasir.


"Humm kamu benar banget." ucap Nada. Di ruangan itu Tania sangat fokus menjahit. Begitu juga dengan Angga yang sangat fokus dengan laptop nya.


Namun suara rengekan Eki membuat Angga kehilangan fokus nya.


"Hey wanita penjahit!" ucap Angga pada Tania. Tania menoleh ke arah Angga dengan tatapan malas.


"Kamu mempunyai telinga gak? Anak kamu menangis sehingga membuat saya tidak bisa konsentrasi." ucap Angga.


"Anak saya tidak mengganggu Tuan, dan saya tidak meminta tuan bekerja di ruangan ini." ucap Tania. Angga menatap tajam.


"Keluar kan bayi itu dari ruangan ini!" ucap Angga pada bodyguard nya. "Anak saya tidak menangis atau pun merengek, dia hanya sangat senang bermain sehingga tertawa sendiri." ucap Tiara.


"Saya tidak perduli, dia mengganggu saya!" ucap Angga.


"Lebih baik kalian semua keluar dari sini, kalau tuan di sini, saya pastikan dalam satu Minggu ini pakaian Tuan tidak akan siap." ucap Tania.

__ADS_1


Angga berdiri. "Berani-beraninya kamu mengancam saya!" ucap Angga. "Keluar dari sini." ucap Tania. Angga berdiri dia menoleh ke arah Eki yang sudah berdiri di dalam Box melihat ke arah mamah nya, namun ketika Angga menatap nya dia langsung menangis.


Karena tidak nyaman, akhirnya Angga pun pergi dari sana.


__ADS_2