Janda Muda Dan Brondong Kaya

Janda Muda Dan Brondong Kaya
Episode 38


__ADS_3

"Aku tidak boleh berlama-lama, aku harus segera menyelesaikan ini agar aku bisa istirahat." ucap Tania.


Tidak berselang beberapa lama akhirnya bersih dan rapi.


"Apa kamu pelayan baru di sini?" tiba-tiba ada pria yang datang.


Tania yang sedang asyik membersihkan Debu di lukisan kaget karena sudah ada orang yang datang.


"I-iyah pak." ucap Tania.


"Oohh pantesan saja." ucap Pria itu lagi.


"Maksud bapak?" tanya Tania dengan wajah yang kebingungan.


"Siapa pun tidak pernah di ijinkan menyentuh lukisan itu. Namun kamu hari ini membersihkan nya Tampa ada rasa takut." ucap Pria itu lagi.


Tania langsung paham apa yang di maksud oleh Pria itu dia menurunkan tangannya menjauh dari lukisan itu.


"Saya tidak tau Pak." ucap Tania.


"Siapa bilang saya Keberatan? Lukisan itu sudah kotor tidak ada salah nya jika di bersihkan." ucap Angga yang tiba-tiba datang.


Tania melihat Angga datang dia langsung menunduk kan kepala nya.


"Saya tidak tau kalau lukisan itu sangat di jaga Tuan, saya hanya melihat nya berdebu dan saya mencoba membersihkan nya." ucap Tania.


"Lanjutkan pekerjaan kamu dan segera keluar dari sini. Kau ikut dengan saya!" ucap Angga pada Stevan.


"Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Stevan pada Tania. Tania membalas nya dengan senyuman.


Angga yang melihat Tania tersenyum kepada Stevan membuat nya merasa aneh.


"Kau membawa wanita itu ke sini dan mengijinkan nya membersihkan dan menyentuh barang-barang itu karena Dia mirip dengan Violet bukan?" tanya Stevan langsung setelah sampai di ruangan yang tertutup.


Angga diam, dia menatap wajah Stevan sambil duduk di sofa panjang.


"Saya tidak merasa di mirip dengan Violet, saya memperkerjakan dia karena dia seorang pelayan." ucap Angga.


Stevan senyum menyeringai.

__ADS_1


"Apa kau menyukai wanita itu?" tanya Stevan. "Jaga bicara mu! Mana mungkin aku menyukai seorang pelayan!" ucap Angga.


"Hufffttt tidak perlu membodohi ku Angga, aku tau Siapa wanita itu. Dia adalah anak dari yang sudah menabrak mobil Tunangan mu!" ucap Stevan.


Angga terdiam. "Aku tidak tau jelas bagaimana bisa dia di sini, tapi aku yakin kalau kau sengaja menjerat nya." ucap Stevan.


"Dia menggelap kan uang ku. Dia adalah penjahit." ucap Angga. Stevan tertawa lagi.


"Uang baju untuk penjahit tidak lah jumlah yang banyak. Tidak mungkin hanya karena uang sedikit kau meminta nya Bekerja di sini." ucap Stevan.


"Kau tidak tau apa-apa, sekarang ngapain kau ke sini?" tanya Angga. "Aku membawa ini untuk mu." Stevan memberikan surat undangan untuk acara pelelangan Berlian.


Angga menatap nya dengan tajam.


"Aku harap kau harus belajar mengangangkat tangan mu lebih sering." ucap Stevan menepuk pundak Angga dan segera pergi.


Angga tetap duduk di sofa.


"Stevan.. Kamu pikir melawan ku semudah itu? Tidak mungkin." ucap Angga.


"Permisi Tuan. Ruangan kerja Tuan sudah selesai di bersihkan." ucap Fani. Angga menganguk dia berjalan ke ruangan nya.


"Huff akhirnya aku bisa melanjutkan jahitan ku." ucap Tania. Dia memulai nya.


Di rumah sakit. Bibi Sisi dan juga Eki datang menjenguk Mona.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang Mona?" tanya Bibi. Mona perlahan bisa berbicara.


"Sudah lebih baik Bik, namun kaki ku tidak bisa di gerak kan sama sekali." ucap Mona. "Kata dokter kamu lumpuh sementara. Semua badan kamu cedera jadi butuh waktu untuk menyembuhkan nya." ucap Bibi.


"Lumpuh bik?" ucap Mona kaget.


"Iyahh. Tapi ini hanya lumpuh sementara kok, kamu harus banyak terapi dan juga pengobatan nya harus lancar agar bisa sembuh, namun kalau tidak melakukan itu, bisa jadi kamu akan lumpuh selama nya. Kaki kamu cedera nya cukup serius." ucap Bibik.


Mona terlihat sangat sedih sekali, namun tidak ada yang bisa di lakukan lagi.


"Apa benar Mbak Tania bekerja di tempat orang yang sudah membayar rumah sakit ku bik?" tanya Mona.


"Rumah sakit kamu belum di bayar, itu hanya deposit saja. sekarang mbak Tania mungkin sedang mencari uang itu." ucap Bibi.

__ADS_1


Mona terdiam. "Ya sudah kamu lanjut istirahat saja. Seperti nya Eki tidak mau lama-lama di sini." ucap Bibi.


Mona menganguk. Dia juga mengucap kan terimakasih sudah mau menjenguk nya.


"Sekarang keadaan Tomi bagaimana yah? Apa dia sudah siuman?" ucap Mona. Dia mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.


Dia ikut dengan Tomi untuk mendemo satu gedung geng motor musuh Tomi. Mona sudah melarang nya namun Tomi tidak mau mendengar kan nya.


Karena i jalan mereka berdebat. Mona tidak mau ikut karena di marahin Tomi. Namun Tomi terus memaksa nya untuk ikut, Mona meminta turun namun Tomi tidak mendengar kan nya.


Mona menggoyang kan motor sampai kehilangan keseimbangan. Dan kedua nya terseret di aspal.


"Seandainya aku tidak melakukan itu tidak mungkin aku di sini." ucap Mona.


"Tomi pasti sangat marah sekali pada ku." ucap nya lagi.


Di Butik..


"Uang pendapatan hari ini tidak banyak, hanya cukup untuk membayar karyawan satu orang, bagaimana aku bisa membantu Tania?" batin Nada.


"Aku harus segera membawa Tania kembali ke sini agar Butik ku kembali ramai. Dia juga pasti tidak nyaman bekerja di sana." ucap Nada.


"Aaaaarrr.. Ini semua karena Mona! Seandainya saja dia tidak wanita yang Keras kepala tidak mungkin Tania yang menjadi korban seperti ini." ucap Nada.


"Nada bukan lah wanita yang lembut seperti Tania. Dia wanita yang pemarah, cerewet dan juga sedikit sombong.


Namun ketika dia sudah percaya pada orang lain, dan juga sudah sangat sayang dia akan melakukan apapun untuk orang itu.


Sama hal nya pada Tania. Dia merasa karena Tania bekerja dengan nya Butik nya lebih maju dan di kenal banyak orang, Tania juga apa adanya, tidak gengsi sama sekali. Nada mencari teman yang seperti itu akhirnya dia menemukan nya.


Tidak terasa sudah malam. Tania dan Bibik di dapur sedang sibuk menata makanan di atas meja.


"Sudah selesai semua Bik." ucap Tania. "Terimakasih banyak yah Tania sudah membantu Bibik. Lain kali tidak perlu mengerjakan yang bukan tugas kamu, mengurus Tuan Angga sudah pasti melelahkan." ucap Bibi.


"Enggak kok Bu, aku sudah biasa melakukan ini." ucap Tania.


"Kamu baik banget sih, padahal kalau di lihat-lihat kamu pasti adalah anak orang kaya. Kulit putih, bersih dan juga badan yang Bagus, rambut yang lebat. Wajah yang cantik, hidung mancung." ucap Bibi.


Tania tersenyum. "Dari tadi Bibik tidak berhenti memuji ku, aku hanya lah wanita biasa." ucap Tania.

__ADS_1


"Dan kamu juga memiliki mata yang sangat cantik. Mata ini membuat Bibi teringat seseorang." ucap Bibi. Tania terdiam.


__ADS_2