
"Sudah mau selesai, Tuan Sabar dulu." ucap Tania. Tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Ini adalah surat dari dokter. Tuan harus Kontrol hari ini. Kenapa Tuan tidak pergi?" tanya Tania.
"Saya tidak ingin pergi." ucap Angga.
"Kenapa Tuan? mereka hanya memeriksa nya, dan setelah itu melihat kemajuan nya." ucap Tania. Angga Menggeleng kan kepala nya.
Tania membaca lagi.
"Tuan keluar dari rumah sakit bukan karena Sehat, itu sebab nya Tuan harus Kontrol." ucap Tania.
"Saya bilang saya tidak mau! jangan mencoba untuk memaksa saya!" ucap Angga.
"Tuan harus pergi! Kalau Tuan tidak pergi Tuan bisa meninggal." ucap Tania membuat Angga takut.
"Saya akan pergi, tapi kau harus ikut dengan saya!" ucap Angga. "Baiklah saya akan ikut." ucap Tania.
"Tuan istirahat saja, saya akan keluar." ucap Tania.
"Tidak ada waktu untuk menjahit sekarang! Kau harus istirahat karena kita ke rumah sakit harus pagi-pagi." ucap Angga.
Tania Menghela nafas panjang. Tadi dia sudah sangat senang di ijinkan namun sekarang malah di larang.
"Baik Tuan." jawab Tania.
Tania keluar dari ruangan itu dan masuk ke kamar nya sebelah.
"Sekarang Eki lagi apa yah? Apa dia sudah tidur? Biasanya dia rewel pas mau tidur. Ya Allah semoga saja Bibi sisi Sabar mengahadapi Eki." ucap Tania.
Dia mengambil Air whudu dan langsung sholat.
Di kamar Angga dia memejamkan mata nya namun ponsel nya tiba-tiba berdering dari Livy.
"Halo Sayang."
"Sayang kamu sudah mau tidur yah?" tanya Livy.
"Aku sangat lelah sekali, kenapa kamu menelpon aku?" tanya Angga. "Aku mau meminjam uang kamu, boleh gak?" tanya Livy.
"Kamu hubungi saja Dara atau Fani. Mereka akan mengurus semua nya, aku sangat lelah ingin tidur." ucap Angga.
"Terimakasih banyak sayang. Aku sangat mencintai kamu. Tidur yang nyenyak yah, muach..." Panggilan telepon pun langsung mati.
__ADS_1
"Wanita memang selalu gila uang." ucap Angga. Dia memejamkan mata nya.
Keesokan harinya Tania bangun tidur langsung ke kamar Angga.
"Tuan.. Ayo bangun.." Ucap Tania dengan lembut karena kalau seperti kemarin Angga jauh lebih marah.
"Huummm.." Angga hanya bergeliat dan kembali tidur.
"Tuan Angga ayo buruan bangun, kita akan telat ke rumah sakit." ucap Tania.
"Berikan saya waktu sepuluh menit lagi, saya masih sangat mengantuk." ucap Angga bergeliat lagi, Tania hendak menarik selimut Angga, karena hilang kesabaran namun Tania tertarik sehingga dia tidak sengaja jatuh dan mencium bibir Angga. Seperti nya Angga tidak sadar menarik tangan Tania.
Perlahan Angga membuka mata nya. Tania langsung menjauh dari Angga. "Kau ternyata wanita yang sangat pintar juga, kau mengambil kesempatan mencium saya di saat tidur." ucap Angga.
"Tuan menarik tangan saya!" ucap Tania. "Saya tidak melakukan apapun, saya tidur." ucap Angga mengelak.
"Aku tidak Sudi berciuman dengan pria seperti Tuan. Pria yang tidak mempunyai hati, berbicara dengan seenaknya, memiliki mulut yang kotor!" ucap Tania dengan kesal sambil membersihkan bibir nya.
Angga tiba-tiba menarik Tania dan memaksa nya untuk tidur di kasur. "Apa yang Tuan lakukan? Lepaskan saya!" ucap Tania.
"Kamu sudah berani mengolok-olok saya!" ucap Angga langsung mencium bibir Tania dengan kasar. Tania terus berontak namun Angga tidak memberikan ampunan.
Dia mau membuka baju Tania namun kaki Tania langsung menendang Luka Angga.
Tania langsung beranjak dari kasur. "Kau sangat kurang ajar!" ucap Angga.
"Saya bukan wanita murahan seperti wanita-wanita lain yang sudah pernah Tuan tiduri! Saya sangat membenci tuan!" ucap Tania.
"Kau hanyalah seorang janda yang tidak bisa memuaskan suami itu sebabnya kau di tinggal kan. Melayani saya tidak akan membuat kau rugi." ucap Angga.
Tania langsung melemparkan bantal pada Angga.
"Apa yang terjadi tuan? saya mendengar seperti ada pertengkaran di dalam." ucap Rendi.
Tania mau menceritakan semua nya namun Angga tiba-tiba berdiri dan menutup mulut Tania.
"Tidak ada! kamu bisa keluar!" ucap Angga. Rendi menganguk dia pun langsung keluar.
"Happ..." Tania mengigit jari-jari Angga.
"Jangan pernah berani menyentuh saya Tuan! Saya di sini hanya bekerja bukan jadi wanita bayaran Tuan!" ucap Tania.
"Kalau begitu jadi lah wanita bayaran saya, saya akan membayar kamu dua kali lipat dari biasanya kamu bersama pria lain." ucap Angga dengan tatapan penuh nafsu.
__ADS_1
"Plakk!!!" Satu tamparan mendarat di pipi Angga.
"Saya tidak seperti wanita yang tuan pikir." ucap Tania.
"Saya yakin saya bisa membuat kau puas, saya akan membayar. Karena kulit dan juga badan mu lumayan bagus." ucap Angga mengelus kulit Tania namun Tania menghindar.
"Saya akan mengundurkan diri Tuan." ucap Tania. Angga menahan tangan Tania.
"Kalau kau berani keluar dari rumah ini, hidup anak dan adik mu jadi Taruhan nya." ucap Angga.
"Maksud Tuan apa sih? Apa yang aku Lakukan sehingga Tuan begitu jahat kepada ku?" ucap Tania.
"Kau sudah mengambil Mata Almarhum tunangan saya!" ucap Angga. Tania terdiam dia sangat kaget dan juga bingung apa yang dimaksud oleh Angga.
"Jangan berbicara yang aneh-aneh Tuan. Kita sama sekali tidak pernah mengenal." ucap Tania.
Angga tertawa.
"Kau bisa melihat seperti ini karena mata almarhum tunangan ku! Dan juga karena keluarga mu ibu dan juga tunangan saya meninggal dunia!" ucap Angga menatap Tania dengan tatapan yang sangat tajam.
Badan Tania langsung bergemetar.
"Saya tidak mengerti apa yang Tuan maksud!" ucap Tania.
"Apa saya perlu menjelaskan semuanya?" ucap Angga langsung. Tania terdiam.
"Orang tua mu pada saat itu berkendara di malam hari dan menabrak mobil tunangan saya!" ucap Angga.
Tania masih belum paham apa yang di katakan oleh Angga.
"Lebih baik Tuan segera siap-siap, lupakan semua yang terjadi." ucap Tania.
"Kenapa? Apa sebelum nya kau tidak tau Mata siapa yang kamu gunakan?" ucap Angga menahan tangan Tania.
"Yang aku Pakai adalah mata ibu ku. Tidak mata orang lain!" ucap Tania.
Angga tertawa. "Saya memiliki bukti nya." ucap Angga mengambil surat dari rumah sakit dan memberikan nya pada Tania.
"Sebelum orang tua mu meninggal mereka tidak merasa bersalah sama sekali dan meminta ganti rugi kepada ibu ku. Mengetahui tunangan saya sudah tidak bisa di selamat kan mereka meminta mata tunangan saya!" ucap Angga.
Tania tertegun. Dia mengingat jelas cerita orang kalau setelah kecelakaan itu orang tua nya Masih hidup dua bulan namun karena ada gejala yang sangat serius yang membuat mereka meninggal dunia.
"Apa karena ini Tuan membuat hidup saya seperti ini? Apa karena ini Tuan sengaja melakukan semua ini menganggap saya rendahan?" ucap Tania. Angga tersenyum sinis.
__ADS_1