
"Apa karena kamu sangat mencintai mantan pacar kamu itu?" tanya Angga. "Tuan seperti nya sudah lupa dengan peraturan yang tuan berikan " ucap Tania.
"Peraturan apa?" tanya Angga.
"Peraturan kalau di rumah itu tidak ada yang boleh saling jatuh cinta dan berhubungan." ucap Tania.
"Dari mana kamu tau itu?" tanya Angga.
"Semua orang memberi tahu itu kepada ku, kalau tuan membuat peraturan seperti itu sebaiknya Tuan juga mengikuti itu." ucap Tania.
Angga terdiam sejenak. "Saya adalah bos nya. Saya Membuat peraturan itu kepada pekerja, semua karyawan saya. Tidak berlaku untuk saya." ucap Angga.
"Tapi itu berlaku untuk saya Tuan." ucap Tania. Angga terdiam lagi. Dia harus memikirkan banyak cara untuk menjawab Tania agar tidak salah.
"Baiklah saya akan mencabut peraturan itu." ucap Angga. Tania menghela nafas panjang.
"Tidak perlu Tuan." ucap Tania. Tiba-tiba Angga menatap Tania.
"Kamu menganggap saya tidak serius? Saya serius mencintai kamu." ucap Angga kesal. Tania memalingkan wajahnya.
Angga bisa merasakan kalau tidak ada cinta di mata Tania Untuk nya. "Apa kamu benar-benar tidak ingin memberikan saya kesempatan?" tanya Angga.
"Saya sudah bilang beberapa kali kalau saya mencintai orang lain." ucap Tania. Angga mengusap wajah nya.
"Baiklah saya mengerti." ucap Angga. Dia duduk di sofa bersandar sambil terus memerhatikan Tania.
"Semakin kamu menolak ku semakin aku bersemangat untuk mendapatkan kamu, aku tidak pernah merasakan perasaan seperti ini lagi setelah kematian tunangan ku." batin Angga.
Dia sudah banyak merencanakan sesuatu agar bisa mendapatkan hati Tania. Berhasil atau tidak itu adalah urusan belakangan.
Di malam hari nya...
Aris sedang menunggu Nada di pinggir Danau. Tempat yang sudah di desain romantis banyak lampu-lampu yang membuat malam itu sangat terang.
"Maaf-maaf sudah buat kamu lama nungguin." ucap Nada baru datang langsung duduk di depan Aris.
"Enggak apa-apa kok." ucap Aris sambil tersenyum.
Nada melihat tempat dan juga penampilan Aris. "Aku pikir kamu hanya ngajak makan malam seperti biasa, seperti nya malam ini berbeda. Apa kamu memiliki uang lebih sehingga bisa menyewa tempat ini?" tanya Nada.
"Enggak kok, aku hanya ingin suasana yang berbeda, kamu juga pasti bosan di ajak makan di tempat yang sama." ucap Aris.
__ADS_1
"Jujur sih aku di ajak makan nasi goreng di pinggir jalan juga mau kok. Kalau seperti ini kamu pasti banyak menghabiskan uang." ucap Nada.
Aris Menggeleng kan kepala nya.
"Kok aku kurang nyaman yah? Apa yang di rencanakan sama Aris yah?" ucap Nada Dalam hati.
"Kamu kedinginan yah?" ucap Aris. Nada menganguk. Aris membuka jas nya membalut kan ke badan Nada.
"Terimakasih." ucap Nada. "Ayo makan, keburu dingin." ucap Aris. Nada menganguk dia mulai makan.
Namun dia kaget melihat Aris berjalan ke arah nya dan berlutut di depan nya.
"Apa yang kamu lakukan? Berdiri." ucap Nada. Aris mengeluarkan Cincin dari saku celana nya.
"Aku mencintai kamu, aku tertarik dari awal bertemu kepada kamu. Dan aku ingin kamu menjadi kekasih ku." ucap Aris dengan wajah yang sangat serius.
"Nah mati aku, aku sudah bisa menebak ini, aku harus Jawab apa?" ucap nya dalam hati.
"Kenapa kamu diam? Kamu mau kan?" tanya Aris. Tania Menghela nafas panjang sambil tersenyum.
"Bukan aku bermaksud untuk menolak kamu secara langsung hanya saja ini terlalu cepat, kita baru saja kenal, aku menganggap kamu sebagai teman sama seperti Tania tidak lebih." ucap Nada.
"Kamu akan memberikan kesempatan kepada ku kan?" tanya Aris.
"Sebaiknya kita temenan saja. Bukan kah temenan jauh lebih baik? Kita tidak akan pernah ribut atau berpisah." ucap Nada.
"Aku bisa saja berteman namun rasa yang aku miliki bukan hanya sekedar teman." ucap Aris. T
Beberapa hari di rumah sakit Tania sudah boleh pulang.
"Bibik Sisi sama Aris mana sih? Mereka janji mau menjemput ku." ucap Tania menunggu di kamar nya.
"Selamat Pagi..." Ucap Angga yang baru saja datang. Melihat Angga datang Tania terkejut.
"Tu-tuan Angga.." ucap Tania karena setelah penolakan pada hari itu Angga tidak datang Selama dua hari.
"Kau tidak perlu terkejut seperti itu." ucap Angga. Tania langsung memalingkan pandangannya.
"Dokter bilang kau sudah bisa langsung pulang." ucap Angga. "Bibik Sisi mana? Kenapa dia tidak datang menjemput ku?" tanya Tania.
"Bagaimana bisa di datang menjemput mu sementara anak dan Adik mu sama dia." ucap Angga. Tania terdiam.
__ADS_1
"Ayo turun.." Angga menjulurkan tangannya membantu Tania turun dan duduk di kursi roda.
"Saya bisa sendiri tuan." ucap Tania.
"Jangan keras kepala!" ucap Angga mengendong Tania dan langsung di Duduk kan di kursi roda.
Tania di dorong Keluar dari ruangan itu. Sementara barang-barang Tania di bawa oleh Bodyguard Angga.
"Kau tunggu di sini." ucap Angga meninggal kan Tania dan mengurus administrasi nya terlebih dahulu.
"Ada apa dengan Tuan Angga? Kenapa tiba-tiba sifat dingin nya kembali lagi? Padahal Kemarin dia sudah berbicara dengan lembut kepada ku." batin Tania.
"Atau jangan-jangan dia marah? Dia membenci ku. Kok aku tiba-tiba kefikiran sih." ucap Tania dalam hati.
Tidak beberapa lama Angga kembali.
"Terimakasih Tuan sudah membantu saya membayar pengobatan nya." ucap Tania. "Humm." jawab Angga. Tiba-tiba Tania meminta Angga berhenti.
"Ada apa?" tanya Angga. Tania menatap wajah Angga.
"Tuan kenapa tiba-tiba jadi sangat dingin kepada saya? Dan juga kenapa Tuan dua hari tidak datang melihat saya?" tanya Tania.
Angga Menatap Tania dengan tatapan bingung. Tania langsung terdiam.
"Kenapa aku berbicara seperti ini? aku tidak memiliki hak untuk berbicara seperti itu." ucap Tania.
"Bukan nya sebelum nya kau yang melarang saya datang? Saya tidak datang karena kau. Dan saya terpaksa datang menjemput karena saya harus membayar administrasi nya." ucap Angga.
"Jadi Tuan terpaksa menjemput saya?" tanya Tania.
"Iyah.." ucap Angga. Tania terdiam.
"Saya tidak pernah menjemput Pelayan saya, saya juga tidak pernah membantu merawat, membayar dan juga perduli kepada pelayan saya." ucap Angga. Tania terdiam.
"Yang di katakan tuan Angga benar. Aku sudah sangat beruntung di perduli kan oleh Tuan Angga Seperti ini, tapi dia sangat mengesalkan sekali." ucap Tania.
Tidak beberapa lama sampai di dalam mobil.
"Loh tuan bawa mobil sendiri?" tanya Tania.
"Jangan banyak tanya. Buruan masuk." ucap Angga. Tania hanya bertanya namun tidak di jawab membuat nya kesal.
__ADS_1