KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Pernyataan


__ADS_3

Tepat adzan magrib aku memasuki gerbang pesantren.


"aman, sepi. Setidaknya aku tidak perlu menghadapi ustad Billal untuk malam ini. Pasti ada banyak pertanyaan dan rasanya enggan untuk menjawab" gumam ku dalam hati sembari berjalan memasuki rumah paviliun.


"assalamu'alaikum" pintu rumah terbuka tapi tidak aku lihat seseorang di depan. Mungkin Siska yang sengaja menunggu ku, pikir ku.


Setelah maju satu langkah aku dapat melihat seseorang yang tengah duduk di sofa sembari memegang buku yasin, atau apalah.


"ummi" sapa ku dengan terkejut. Tumben ummi berada disini diwaktu seperti ini.


"Wa'alaikumsalam. Nak, Kayra. Kamu baik-baik saja? akhirnya kamu pulang juga" tanya beliau dengan antusias sembari memeluk ku sekilas kemudian mengamati seluruh tubuh ku.


"Kayra baik ummi, ada apa ya? " aku bertanya balik melihat sikap ummi yang begitu khawatir.


"alhamdulillah kalau begitu. Kenapa kamu bisa pulang selarut ini? telepon kamu juga tidak bisa di hubungi" ucap ummi penuh ke khawatiran.


Kenapa jadi Ummi yang khawatir berlebihan seperti ini, niat hati hanya ingin menghindari putranya.


"batrenya habis ummi, Kayra lupa tidak charger handphone semalam" jawaban apalagi yang bisa aku berikan selain ini.


Mendengar percakapan ku dengan ummi Siska keluar dari kamar. Hanya saja tidak sekhawatir ummi.


Setelah memastikan bahwa baik-baik saja, ummi pergi meninggalkan kami untuk solat isya berjamaah.


"gila, pinter banget kamu bikin anak sama emak kalang kabut Kay" ucap Siska begitu aku memasuki kamar.


"hah, maksud kamu? " tentu saja aku tidak mengerti apa yang dikatakan Siska. Bahkan sampai saat ini aku belum menghidupkan handphone ku.


"tau gak sih, berapa kali aja ustad Billal kesini cuma buat ngecek, kamu udah pulang atau belum? Udah seperti setrikaan berjalan aja tuh ustad. Akhirnya menjelang magrib ummi yang menunggu disini. Sebelah tangan pegang handphone, bentar-bentar telp. Sebelah tangan lagi pegang buku yasin atau apalah itu, sebentar mengaji sebentar nelp. Gitu aja sampe kamu datang" Siska bercerita dengan antusias sambil sesekali memperagakan posisi ummi.


Sungguh ingin tertawa berbahak rasanya. Andai saja kekhawatiran itu hanya berlaku untuk ustad Billal. Kenapa ummi tau, jadi merasa sedikit bersalah.


"seheboh itukah Sis? " aku bertanya dengan nada melucu. Rasanya tidak sopan jika aku benar-benar menertawai beliau beliau.


"kamu ini, Jangan-jangan.... kamu sengaja ya? " Siska mulai bertanya dengan nada menginterogasi.


"ustad Billal sih nyebelin. Niatnya cuma mau menghindari Ustad Billal. Males aja pulang bareng tuh orang" dengan enteng aku memberi tahu Siska.

__ADS_1


"wah wah, kamu ketinggalan satu berita nih. Tau gak, tadi siang itu ummi nemenin aku disini. Sambil curhat soal putranya itu tuh" ucapan Siska membuat ku kembali duduk, setelah sebelumnya aku berniat untuk pergi ke kamar mandi.


"soal apa, gak usah crita kalo gak penting" males banget rasanya dengar nama disebut.


"soal kamu Kayra" tadi yang di curhatin anaknya, sekarang kok soal aku, aku jadi semakin penasaran.


"cerita yang jelas deh" pengen dengar cerita Siska, tapi juga pengen cepetan solat maghrib.


"ustad Billal suka sama kamu. Dan berniat buat nikahin kamu se.ce.pat.nya" aku faham dengan maksud Siska mengeja serta menekankan pada kata terahir.


"ummi tau itu semua. Jadi kamu siap-siap aja...... " kali ini ucapan Siska menggantung.


Aku hanya bisa membelalak kan dua bola mata ku. Masih tidak percaya dengan apa yang saja aku dengar.


"what happen Siska, what happen?????? " kepala ku langsung terasa pusing sebelah. Berita apalagi ini, kenapa dunia ku harus seperti ini? Benar-benar, keluar dari kandang macam, masuk ke kandang Singa.


"menurut ummi, ustad Billal itu memang memiliki kelebihan... bisa mengamati, menyelidiki seseorang dari tingkahlaku, tuturkata, bahasa tubuh lah pokoknya. Beberapa kali ummi memergoki ustad Billah memperhatikan kamu dengan tatapan yang berbeda. Sampai akhirnya ummi mendesak menanyai ustad Billal, dan Ustad Billal mengakui itu semua" Siska telah berada di ujung kalimat nya. Dan aku, aku tidak bisa berfikir sama sekali.


Aku tidak tau, aku tidak mengerti, aku...aku..... Kenapa harus kembali aku alami seperti ini? Bukankah baru saja, aku merasa begitu tenang dalam hidup ku. Kenapa harus kembali terjadi seperti ini? bahkan aku belum sempat menceritakan kabar bahagia ku pada Siska.


"Siska... apa yang kamu bilang barusan sungguhan? apa aku tidak salah dengar? apa aku.... " aku memegangi sebelah kepala ku. Terasa nyut-nyutan sekali.


"Kepala ku sakit Sis" aku mencoba melawan apa yang baru saja ku dengar. Berharap itu tidak benar-benar terjadi. Ini bagaikan mimpi buruk, padahal aku belum juga tidur.


"sabar Kay, istigfar. Kembalikan semua pada Allah. Semua tidak akan terjadi tanpa kehendak Allah" Siska menepuk-nepuk bahu ku sembari memeluk ku dari samping.


Aku mengangguk mendengar petuh Siska kali ini, tumben bener nasehat dia.


"solat dulu yok. Masih kuat gak ambil Wudhu" ajaknya kembali.


Dengan langkah berat aku berdiri beriringan dengan Siska menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.


"bikin santai aja Kay. Kalau ustadz Billal tidak mengatakan apapun, kamu pura-pura tidak tau aja ya" pinta Siska.


Lagi-lagi aku mengangguk. Sungguh aku berharap ini memang tidak pernah terjadi. Aku ingat benar bagaimana ustadz Billal menatap ku. Rasanya seperti di kuliti, tak bisa berkutik. Mau bergerak saja rasanya badan kaku semua. Aku serasa membeku.


Bagaimana aku harus menghadapi beliau jika memang ini benar terjadi. Apakah aku masih memiliki keberanian seperti tadi siang sewaktu di kampus?

__ADS_1


Aku dan Siska telah kembali ke kamar. Kami solat bersamaan tapi sendiri-sendiri.


Saat di sujud terakhir aku mendengar suara seseorang memasuki halaman rumah paviliun. Siapa lagi kalau bukan suara ustadz Billal. Tapi beliau tidak sendiri, ada suara ummi yang menyertai.


Deg


seketika hati ku terasa tak karuan. Rasanya sudah seperti mau disidang saja, padahal belum merasakan yang namanya mengerjakan skripsi.


Aku langsung memeluk Siska saat kami sudah sama-sama selesai solat.


"aku takut" bisik ku lirih.


"gak perlu takut, kamu tidak melakukan kesalahan. Yakinlah, ummi seorang ibu yang bijak" Siska memberi ku semangat.


Sudah pasti aku menyeret Siska untuk menemani ku keluar dari kamar.


Kali ini dengan tatapan yang berbeda. Rasa khawatir nampak terlihat di wajah ustadz Billal.


"Kayra kamu tidak apa-apa? " tanya ustad Billal membuka percakapan, padahal aku belum juga duduk. Kemudian ummi meraih tangan ku untuk duduk disebelah beliau.


"kamu gak perlu takut Kayra, Billal yang salah. Tadi ummi sudah memarahi Billal" tutur ummi.


"ayo Billal, sekarang bicara pada Kayra" ternyata Ustadz Billal anak mama juga.


"boleh saya bicara berdua saja ummi" pinta ustadz Billal. Sembari melirik kearah lain.


"Tidak. Kamu hanya membuat Kayra takut jika bicara berdua" ummi menolak permintaan putra nya. Aku bisa menebak kemana arah pembicaraan ini. Dan sepertinya memang semua benar terjadi yang baru saja diceritakan oleh Siska.


"apa kamu masih malu sama ummi"


Dan seseorang yang dilirik sepertinya menyadari. Kemudian Siska pamit undur diri untuk mengikuti kelas mengaji malam di Masjid.


Aku hanya terdiam mendengar semua penuturan ustadz Billal. Sama persis seperti yang tadi sudah ku dengar dari Siska. Akhirnya beliau mengakui juga.


"cinta yang menakutkan" batin ku.


"diawal saja begini, bagaimana jika benar-benar hidup bersama, bisa tekanan batin setiap hari mungkin ya??? " Sembari mendengar ustadz Billal bicara, aku juga tak mau kalah. Berusaha menyangkal dalam hati.

__ADS_1


Andai saja tidak ada ummi, andai saja beliau tidak jauh lebih tua dari ku, andai saja beliau bukan seorang ustadz, andai saja beliau bukan guru ku. Mungkin perdebatan panjang sudah terjadi.


________________tbc________________


__ADS_2