
Rahardian POV
Rasanya aku ingin berteriak frustasi karena beberapa hari ini menahan hasrat yang tak tersalurkan dengan baik.
Bukan hanya sekali bahkan beberapa kali.
Saat di malam pertama pernikahan hingga hari ini, satu minggu pernikahan.
Sabar
Aku masih harus terus menunggu sampai Kayra benar-benar siap dengan hubungan kami ini. Jangankan untuk berhubungan badan, untuk saling bersentuhan saja rasanya dia masih terlalu canggung. Harus aku yang memulai dan merilekskan dia terlebih dahulu.
Semua bukan karena aku yang telah pandai atau berpengalaman. Tapi hasrat sebagai lelaki muncul begitu saja sebagai layaknya lelaki normal.
Kayra Putri Almahira
Kenapa kau sulit sekali untuk ku sentuh, dulu hingga sekarang. Bahkan saat ini, setelah kau menjadi istri ku. Menyentuh raga mu sama sulitnya dengan menyentuh hati mu. Tapi tak apa, itu artinya aku mendapatkan sesuatu yang masih benar-benar tersegel.
Bahkan saat ini di rumah Kayra lebih banyak menghabiskan waktunya bersama mama daripada menemani aku berada di kamar. Masih terlihat aura manja yang belum juga menghilang setelah sekian lama berada di Pesantren.
Aku cukup memaklumi. Aku akan menunggu. Menunggu waktu ia melepaskan rindu bersama mama.
Akupun cukup sadar, aku yang telah memaksa agar semuanya terjadi lebih cepat. Jadi akupun harus menerima jika Kayra pun butuh waktu lebih lama untuk bisa menyesuaikan diri dengan ini semua.
Dan aku tak pernah lupa, bagaimana jalan ku untuk bisa tetap memiliki dia. Sesuatu yang nampak berlawanan dari yang seharusnya. Sehingga mungkin tak mudah bagi dia untuk menciptakan chemistry mesra bersama ku.
Masih teringat ledekan Radit tempo hari "udah nikah masih aja panggilannya Di, payah".
Bukan hanya itu, ledekan-ledekan lain melalui chat masih terus mengalir sampai mereka sudah meninggalkan rumah ini.
Yah, mereka adalah tiga sahabat ku yang tempo hari datang. Teman lama sejak aku di Pesantren dulu. Teman lama yang menjadi saksi betapa gilanya aku dulu mendamba seorang Kayra kecil. Teman berkeluh kesah sekaligus sumber ide saat aku begitu merindukan garis kecil itu.
Entah jalan dari mana, setelah sekian lama tak berjumpa Allah kembali mempertemukan kami di perusahaan yang sama, hanya saja beda penempatan. Dia di tempatkan di area Jawa Timur oleh karena itu aku tak mengundang nya. Aku saka baru dua kali bertemu dengannya dalam rangka pekerjaan.
__ADS_1
Tidak taunya dia datang ke rumah bersama teman-teman satu kamar saat di Pesantren dulu.
Seperti hari ini, baru juga aku dan Kayra merapatkan pandangan. Setelah seharian berada di kantor dengan kendala pekerjaan yang cukup rumit, aku ingin sesuatu yang menyegarkan pikiran juga perasaan. Pintu kamar sudah di ketuk oleh Nahla.
Dengan dalih minta diajari belajar karena sebentar lagi akan ada ujian. Terus saja dia menyita banyak waktu Kayra untuk bersama nya.
Sementara aku, lagi-lagi di anggurin.
Hingga akhirnya muncul ide brilian dalam benak ku. Pergi membawa Kayra hingga tak ada satu orangpun yang dapat mengganggu.
Bulan Madu, sepertinya aku membutuhkan itu. Tapi aku tak yakin Kayra akan mau jika dalam waktu dekat. Karena dia masih dalam masa KKN.
Rumah baru, aku rasa belum perlu. Karena kami baru saja menikah. Rasanya akan sangat sepi, hampa, sunyi jika hanya di tempati berdua.
Kos, kok sepertinya gengsi sekali kalau diketahui sama jajaran penanam saham. "saham di mana-mana, masa iya istri cuma diajakin tinggal di kosan".
Sepertinya aku perlu mencari apartemen, sekali pun itu tidak besar. Untuk investasi sekalian tempat mengungsi untuk mewujudkan ambisi. Ambisi memiliki Kayra seutuhnya. Tanpa ada gangguan dari mama, adek maupun tugas kuliah.
Yah, di tengah kerasnya aku berfikir, aku harus ribut dengan diri ku sendiri karena pagi-pagi sudah di tinggal istri berangkat lebih dulu. Setelah semalam waktunya di habiskan bersama si adek, lanjut mengerjakan tugasnya sendiri sampai hampir tengah malam. Mana tega diri ini mengusik tidur lelapnya.
Mungkin inilah resiko dari keputusan ku. Harus sabar menunggu disaat dia sibuk-sibuknya dengan tugas akhir kuliah. Setidaknya dia sudah menjadi milik ku, seutuhnya.
"assalamualaikum sayang, aku sudah sampai tempat KKN"
"*sayang sudah mandi?"
"sayang sudah sarapan? Sarapan dimana hari ini? "
"sayang sudah berangkat kerja*? "
Harus merasa cukup dengan sapaan dan perhatian lewat pesan dan panggilan. Dan kini sapaan 'sayang' sudah mulai terbiasa, saat tak bersama. Tapi tidak saat kami bersama. "iwh, aku malu" katanya.
"ya sudahlah terserah kamu saja, yang penting nyaman" akhirnya kata ku menyerah. Rasanya benar-benar aku ingin memangsa nya sesegera mungkin.
__ADS_1
Seperti kata teman-teman waktu itu "pasti belum kamu ehem-ehem ya, makanya masih canggung
aja"
Aku berpamitan pada mama untuk berangkat kerja. Tapi sebelum nya aku mengutarakan keinginan ku untuk tinggal di apartemen bersama Kayra. Dan mama pun mengijinkan saja.
"kamu sudah menjadi suami Kayra. Apapun yang kamu putuskan kiranya itu tidak menyimpang, silahkan saja. Asalkan jangan lupa untuk tetap berkunjung ke rumah orang tua" begitu kata mama.
Aku Pun melenggang menuju kantor dengan riangnya. Serasa mendapatkan angin segar ditengah panasnya menahan hasrat ingin bercinta.
Serasa jadi pengantin baru yang menyedihkan.
Tidak akan ku sia-siakan lagi waktu. Siang ini juga aku akan mulai mencari apartemen.
Soal Kayra, ini akan menjadi kejutan untuk nya. Jika semua sudah siap untuk di tempati, baru aku akan bawa dia ke sana. Anggap saja sebagai penculikan yang halal.
Jika aku beritahu Kayra sekarang, mungkin akan ada banyak negosiasi. Sedangkan ini sudah menjadi keputusan ku. Kapan akan menjadi dewasa nya dia jika terus seperti ini saja. Dewasa dalam hal ranjang maksudnya. Hhhhhhhhhh
Rasanya aku ingin tertawa geli. Bukankah aku juga belum berpengalaman dalam hal ranjang?
Setidaknya pernah lah mengintip sedikit-sedikit koleksi milik teman-teman.
Sampai mobil yang ku kendarai sampai di kantor, pikiran ku masih saja tentang itu. Sampai aku tidak memperhatikan ada banyak pesan yang Kayra kirim. Pikiran ku berkeliaran terlalu jauh rupanya.
Bayangan menghabiskan malam bersama Kayra benar-benar memenuhi otak ku.
Ku gelengkan kepala berkali-kali. Mencoba mengalihkan fokus. Ini waktunya untuk bekerja. Buka berkhayal. *Sadarlah Dian.
Sabar, cepat atau lambat Kayra akan menjadi milikmu sepenuhnya. Dia sudah menjadi milik mu, tinggal menunggu waktu. Sabarlah junior, kau pasti akan mendapatkan jatah mu pada waktunya nanti*.
Aku memberi semangat pada diri ku sendiri. Sembari terus melangkah menuju ruangan dimana menit demi menit ku habiskan.
_____________________^_^___________________
__ADS_1