
Beberapa minggu ini aku mulai disibukkan dengan kegiatan di kampus.
Selain mempersiapkan untuk ospek aku juga harus mempersiapkan baju untuk kuliah. Karena baru kemarin aku mengenakan hijab jadi koleksi ku belum banyak.
Disaat seperti ini jadi bingung juga cari teman buat ngeMoll. Adek yang sudah mulai aktif di sekolah. Melan juga sibuk mempersiapkan keperluan sendiri. Andai saja kak Gilang rumahnya deket.
Untuk pergi malam hari aku merasa waktu sudah pendek, belum selesai memilih memilih tau-tau sudah mau tutup. Belum lagi mama papa pasti juga capek sudah kerja seharian.
Mau tak mau aku persi sendirian.
Diantar sama supir begitu pulang di jemput lagi. Entah kenapa mama papa belum mengijinkan aku untuk bawa motor sendiri turun ke jalan raya. Sampai kapan aku akan jadi anak mama? sampai kapanpun juga akan tetap anaknya mama bukan?
Tapi memang benar juga, belum punya SIM. Hehehe
Sialnya selalu saja ada pahlawan disiang bolong. Ups, ketemu pahlawan kenapa sial?
Karna pahlawannya gak diharapkan. Takut justru kesialan yang terjadi.
Dihari pertama aku memang tengah chatting dengan Dian saat berangkat. Jadi aku memberi tau kalau mau belanja.
Belum juga dapat satu baju dia sudah muncul.
"gk ada dosen, tugas juga udah kelar. Ntar balik lagi ke kampus"
begitu kata dia.
Bukannya membuat belanja makin tenang yang ada malah H2C, Harap-harap Cemas. Cemas ada yang memergoki kemudian laporan sama ustadzah. Tapi yang di larang keras kepala, ya sudahlah resiko ditanggung penumpang. Anggap saja punya asisten pribadi. Karna aku yang selalu cerewet saat dia jalan sejajar sehingga dia memutuskan untuk berjalan di belakang ku. Sebenarnya kasihan juga, tapi tidak mau ambil resiko. Jadi itu resiko yang harus dia tanggung kalau masih ingin menemani aku berbelanja.
Sementara di hari kedua, kak Jo tiba-tiba saja muncul saat aku membayar di kasir.
"kak, bisa disini? "
"sengaja, cari kamu"
"gak kuliah? "
"lagi gak ada kelas"
selesai membayar di kasir kak Jo mengikuti ku untuk kembali mencari baju di tempat lain.
__ADS_1
Bagaimana bisa kak Jo tau aku sedang disini? sudah pasti adek. Siapa lagi. Sudah tidak ada lagi kata 'kebetulan'.
"tenang, aku sudah minta ijin kok"
aku yang mendengar kalimat kak Jo seketika berhenti.
"ijin sama siapa kak? "
"ya sama mama kamulah"
hemp, mentang-mentang sudah kenal. Seperti yang sudah tidak punya takut saja, jadi aku yang takut sendiri.
"masa sih? emang gimana pamitnya"
"tante aku lagi gak ada jelas hari ini. Boleh minta ijin temeni Kayra belanja? "
"hemp, benarkah? trus gimana tanggapan mama"
"boleh saja kalau tidak merepotkan kamu."
"hemp" aku hanya berdehem.
"makanya punya pacar"
Hi, ngeri.
langsung aku berjalan mempercepat langkah. Ekstrim, membayangkan kak Jo bakalan berani bilang
"tante, boleh pacarin anaknya? "
"tante, saya minta ijin untuk menikahi anak tante"
big no!
"maaaaaaamaaaaaaa"
Baru di hari ketiga aku benar-benar mendapat pahlawan. Mama menawari aku untuk membuatkan baju sendiri. Padahal sedang banyak pesanan. Mungkin mama kasihan melihat aku yang bulak-balik mencari baju tapi susah dapat yang pas. Maklumlah, badan imut. Rata-rata baju di pasaran ukuran big size. Yang di sesuaikan badan model sih, sementara penduduk Jawa kebanyakan kan badannya mini size.
Akhirnya disiang hari mama menyempatkan untuk pergi bersama ku ke toko kain. Toko kain langganan mama pastinya. Jarang-jarang sih ikut kesini, tapi sekali kebetulan ketemu sama anak pemilik toko. Arab blasteran. Usia tak beda jauh dari aku. Dan kali ini kami kembali bertemu.
__ADS_1
Entah proyek apa yang sedang mama garap bersama tuan toko, sehingga aku keliling memilih baju ditemani anak tuan toko. Pegawai toko kemana memang? ada, mereka mengekor. Menyiapkan kain setelah aku pas memilih.
Dunia itu sesempit apa sih, benar ada nya kalimat 'dunia tak selebar daun kelor'. Faktanya dia tiga tahun di atas ku, dan saat ini dia sudah menyiapkan skripsi karna mengikuti program ekselerasi. Wao, keren!
Dan bagusnya lagi dia juga mengambil jurusan akuntan publik, jurusan yang sama dengan yang aku pilih. Bolehlah pdkt, siapa tau kebagian ilmunya.
Setelah aku memilih beberapa corak kain dan aku rasa cukup, kami kembali ke tempat kasir. Dimana mama dan tuan toko sedang berbincang.
Kain-kain yang aku pilih tengah disiapkan. Setelah mama melakukan pembayaran, mama segera pamit undur diri.
Sebelumnya meninggalkan tempat tak lupa aku bertukar nomor dengan kak Maryam, nama anak pemilik toko.
Sepulang dari toko kain kami langsung menuju ke rumah penjahit. Karena saat ini mama sedang banyak pesanan, sehingga baju ku dipercayakan kepada penjahit langgang. Memang sering kali mama menggunakan penjahit ini jika pesanan sedang over. Memiliki dua penjahit pribadi ternyata masih kurang.
Alhamdulillah, usaha butik mama terus berkembang. Bahkan minggu lalu mama di gandeng oleh designer ternama di kota Jogja untuk tampil di acara pameran baju batik tingkat nasional. Makanya sedang sibuk sekali.
Ketika sampai pada usia dewasa, seseorang memang akan disibukkan dunia masing-masing. Beruntung jika dalam satu keluarga berkecimpung dalam satu bidang. Tapi jika tidak, akan banyak tantangan untuk membuat langkah kaki tetap seirama.
Contohnya saja keluarga ku saat ini. Papa yang disibukkan dengan bisnis ekspor impornya. Mama yang disibukkan dengan dunia designernya. Adek yang mulai aktif di bangku SMA. Sementara aku sendiri tengah menyiapkan diri untuk menjadi mahasiswa.
Minggu minggu ini menjadi minggu terberat aku rasa. Semua sedang dalam puncak kesibukan masing-masing. Papa sudah tidak bisa diganggu gugat lagi jam kerjanya. Bahkan beberapa hari ini sampai lembur. Beruntung mama yang pekerja mandiri. Sesibuk apapun masih bisa meluangkan waktu untuk anak-anaknya. Sementara adek, yang merasa kasihan membiarkan aku jalan sendiri, sampai muncul inisiatif untuk memberi tau kak Jo. Aku yang awalnya mau negur, mendengar penuturan dia jadi speacless.
Sesibuk apapun dengan tanggungjawab masing-masing, kami masih berkumpul di meja makan bersama-sama. Minimal saat pagi hari.
Mungkin julukan 'anak mama' akan melekat sampai kapanpun, tapi ini saatnya untuk mulai melangkah mandiri. Menunjukkan jati diri.
Sementara julukan 'Kayra gadis boneka' aku sudah meminta kak Jo untuk tidak lagi menyebut julukan itu. Akan menjadi sangat memalukan, apalagi kami satu kampus saat ini. Sekalipun bukan satu jurusan juga bukan satu prodi.
'Kayra anak solihah'
julukan baru dari Dian, lebih tepatnya nick nya aku di HP dia.
_________________^_^______________
Husssttt,milik pribadi loh ya. Yang lain gak boleh ikutan.
kalau ikutan tinggalin jejak, bolek donk.
Boleh banget 🥰
__ADS_1
trimaksih yang sudah like like like
like juga deh buat kamu 😘