KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Malam terahir


__ADS_3

Kawah ijen terlewati dengan sangat baik, benar-benar liburan yang sempurna, lelah pun menjadi tidak berasa.


Tapi setelahnya, badan terasa remuk semua. Kami tiba dirumah selepas adzan dhuhur. Setelah mandi dan solat kami sudah tidak keluar kamar lagi,


Terbaring lemah diatas satu kasur, berjejer seperti ikan pindang yang sedang di jemur.


Hingga adzan magrib berkumandang, aku terbangun.


astagfirullah.. solat Asar terlewatkan. Kenapa bude Shinta gak bangunkan???


flashback


Tadi kami tiba dirumah Remond sekitar pukul 10 pagi. Hari ini hari minggu, karna sedang libur bekerja kami semua di jamu oleh ibu Remond.


Tentu saja tidak kami tolak, karna tadi di parkiran bawah kami tidak menemukan menu yang cocok.


Tak lama setelah selesai makan kami segera pamit pulang, karna badan sudah assam semua.


Eh iya, hampir saja terlupa. Kamera, perlu memindahkan foto-foto, sekalian sidak apa saja isinya, yang sejak kami bertemu dan setiap pertemuan kami, kamera itu tidak pernah tertinggal.


Awalnya tidak di izinkan, mungkin dia merasa kalau ada sesuatu di dalam sana. Setelah bernego, ahirnya aku diizinkan untuk membawa kamera dia dengan syarat tidak ada satu file pun yang terhapus.


"sejelek apapun menurut kamu, aku menyukai itu".


Akhirnya aku pulang, dengan kamera di tangan ku.


Kapan lagi... tinggal sisa hari ini, dan besok sebelum kepulangan kami.


Pesawat yang akan kami naiki terjadwal pukul 4 sore.


flashback off


Dan ternyata, setengah hari yang tersisa hari ini kami lewatkan diatas kasur.


Begitu bangun badan berasa pegal-pegal.


Setelah selesai solat magrib aku keluar lebih dulu, sementara adek sama Melan masih solat magrib bergantian.


Semua sedang berada di ruang tengah, kak Gilang nampak biasah saja, tak terlihat kusut. Bude Sintha terlihat sedang menjahit kancing baju. Pakde Hermawan sedang mengotak atik laptop, dan si kakak kecil Nafisah sedang bermain ular tangga ditemani kak Gilang.


"sudah bangun kamu ndok? " tanya bude Sintha


"iya bude, adek sama Melan juga sudah bangun" sembari aku mengambil tempat duduk di samping kakak kecil.


"bude kenapa gak bangunkan solat Asar? " tanya ku


"bude sudah masuk kamar tadi, tapi kalian semua tidur nyenyak. Jadi gak tega mau bangunkan"


"kalo sudah bangun semua, ayo dipanggil adek sama temannya diajak makan dulu" kembali bude melanjutkan kalimatnya


"masih gantian solat bude, mungkin sebentar lagi juga keluar"


Benar saja, tak lama kemudian suara pintu kamar terbuka. Adek dan Melan jalan bersamaan


"ayok makan dulu ndok" perintah bude Sintha


"bude sudah makan? " adek bertanya


"belum, ayok kita makan sama-sama. Ayok pa" ajak bude Sintha pada suami kemudian anak-anaknya yang masih saja tampak asik bermain ular tangga.


"sebentar ma nyusul" ucap kak Gilang


Bisa jadi ini menjadi makan bersama kami yang terahir, karna besok pakde Hermawan ada pementasan dan kakak kecil pasti membersamai. Yah, mengalir darah seni pada gadis kecil itu yang diturunkan tak lain dari sang Papa. Lain halnya dengan kak Gilang, yang berjiwa petualang.


Sudah pasti besok pakde tidak bisa mengantar kami ke Bandara, untung saja bude tidak punya ikatan pekerjaan jadi waktunya lebih longgar. Hanya seminggu sekali mungkin, menengok ke perkebunan bila di perlukan, atau untuk sekedar membuang suntuk, kata bude.


Kak Gilang dan Nafisah sudah duduk di meja makan. Bude menyiapkan makanan yang super lengkap malam ini


"banyak sekali bude masakannya" tanya ku


"Khan besok kalian sudah balik, pasti bakal lama bisa ketemu lagi. Biar kamu suka kangen aja sama masakan bude, jadi Khan bentar-bentar tengokin bude kesini" ucap bude, mencoba mencuri kerinduan kami rupanya


"asal kak Gilang sering-sering aja jemput pakek kereta bude" ucap adek, sambil mengunyah makanan.


Rupanya si bungsu aku inipun punya jiwa petualangan sama seperti kak Gilang. Kalo aku mah, ogah dew naik kereta lagi perjalanan segini jauhnya.


"lain kali kalo anak-anaknya berlibur kesini, kamu ikut lagi ya Mel" ucap bude pada Melan


"tak perlu sungkan, bude ini senang sekali kalo rumah rame. Teman-teman Gilang juga suka nginep disini" lanjut bude


"mau bakar-bakar jagung gak" ucap kak Gilang

__ADS_1


"kapan kak? " tanya ku kembali.


"yah sekarang lah, masa iya besok. Kamu juga udah balik" kak Gilang, ada aja rencana


"bude lagi panen jagung? " tanya Melan


"enggak, bude gak punya tanaman jagung" ucap bude singkat


"ada teman kakak yang mau bawakan, kalau kalian mau"


enaknya kalo banyak temen, banyak gratisan pula


"mau mau... aku mau kak" Lagi-lagi adek nyerocos padahal mulut penuh makanan. Jadi aku cubit deh lengan dia


"telen dulu tuh makanan! awas yah, aku bilangin mama nanti" aku peringatkan dengan suara pelan


Setelah makan malam selesai, aku dan Melan bantu bude membereskan makanan, sementara si adek sudah lari entah kemana sama kak Gilang.


"Gilang gak bilang sih kalau mau bakar-bakar, tau gitu tadi bude siapkan ikan"


"awh... merepotkan bude saja" satu minggu disini Melan sudah nampak akrab sama bude


"tapi ada sosis di kulkas, kalo kalian mau"


"calon dokter kecil gak suka junkfood bude" yah, karna hampir semua keluarga tau kalau adek selalu mengutarakan cita-cintanya menjadi dokter sejak dari kecil


"yang mau aja, yang gak mau juga gak apa"


Selesai membereskan makanan, kak Gilang dan adek sudah kembali dengan membawa karung dan ternyata berisi jagung manis.


ya ampuun cepet amat, ngerampok dari mana sebanyak ini


"beneran nih kah? " tanya ku


"siapa yang bilang bohong" ucap kak Gilang singkat


"ma, tolong disiapkan alat bakar yah, aku beli arang dulu" ngomong sambil jalan dan nyamber motor


Welleh.... semangat betul kakak aku ini.


Belum juga kak Gilang balik, dua teman dia sudah nongol.


cepet amet sudah datang


"ewh.... kak" Melan basa-basi.


Sementara aku masih ada sedikit rasa malu dengan apa yang terjadi kemaren, insiden di gunung ijen. Pura-pura mainin HP, padahal juga gak ada yang lagi penting.


Kak Gilang datang, dibarengi 2 temannya lagi.


bakal rame malam ini, owhhhhh


Setelah mereka masuk, langsung pecah isi rumah. Baru kali ini menyaksikan pemandangan macam ini. Maklum, jauh dari kakak Laki-laki. Gak tau lagi kalau Melan, mungkin sudah terbiasa dengan tingkah kakak Dian bersama teman-teman dia.


Ewh ternyata, kak Gilang langsung ambil laptop,menyiapkan karpet, ambil posisi. Ada siaran moto GP rupanya malam ini.


Pantesan, pikir ku.


Adek ke belakang meletakkan arang, tapi gak balik-balik lagi.


Sementara aku ingat bahwa harus milih milah foto di kamera.


Pakde terlihat sudah tidak lagi memakai laptop, ahirnya aku meminjamkan laptop milik pakde.


"ayok Mel" aku mengajak Melan masuk ke kamar


setelah aku membawa laptop yang aku pinjam dari pakde.


Aku mulai membuka kamera,aku search mulai tanggal paling lama, dan ternyata sudah ada foto aku disana sejak di kereta.


"kapan dia ambil foto ini? " aku bergumam sendiri.


Nampak terlihat foto diambil dari posisi atas, mungkin saja dia sengaja berdiri. Padahal cuma nampak kepala sama pundak.


Sampai beberapa foto terlihat dengan posisi aku yang tak sadar kamera ahirnya Melan berkomentar


"gila... niat nih anak. Kebetulan apa kebetulan"


"kalo kebetulan mah gak pakek niat Mel"


"cinta pandangan pertama kali Kay"

__ADS_1


"trus... menurut kamu... aku mesti seneng apa sedih? "


"nasib orang cantik mah"


"yang baru kenal aja bisa nempel gini, tapi yang udah kenal dari bayi malah lihat aja enggan"


"hemp, mulai deh... kak Dian. Udah gak usah bahas dia, dari pada bikin suasana hati kacau. Ingat, malam terahir liburan. Happy in aja.


Kak Gilang kak pernah lelah ya, bikin adek-adeknya seneng. Andai aja aku punya kakak macam dia"


"lha... aku gak boleh bahas, malah kamu yang melow. Adopsi aja gak Gilang jadi kakak kamu juga"


kreeekk


suara pintu terbuka, adek ternyata


"lihat foto yah, ikutan" ucap adek sembari merapat diatas kasur.


Sementara diluar sudah terdengar suara riuh meneriaki jagonya masing-masing.


Seperti janji ku, tidak akan aku hapus 1pun foto yang ada disana. Tapi sumpah, ada beberapa foto yang bikin aku hilang percaya diri, hilang muka, hilang ke imutan 😂😂


ahirnya aku foto pakek HP dan aku kirim ke dia, sebagai pesan hot nyus wajib dapat tanggapan. Kalau dia boleh in hapus, baru deh aku hapus.


Rupanya memang dia suka fotografer, banyak koleksi foto dia yang diambil dengan posisi yang lumayan sulit.


Aku hanya tau sekilas, tak hafal lah apa saja istilahnya.


Tapi kebanyakan fotonya tentang objek benda juga alam. Ada sih beberapa foto momentumnya bersama keluarga sepertinya.


Dan ini jadi penuh dengan foto-foto ku, apa maksud dia??


aku gak mau berfikir terlalu jauh atau GR lah istilahnya. Selama itu bukan tidak mengandung unsur pornografi. Tapi aku juga memberi syarat ke dia, cukup jadi koleksi pribadi. Awas aja kalau sampai beredar, gak ada maaf.


"eh... tapi jangan sering-sering dilihatin, dosa loh memperhatikan wajah wanita yang bukan muhrim"


~send


dreet dreet


"gak... palingan kalo kangen aja"


"gak boleh kangen sama yang belum halal"


~send


dreet dreet


"ya nanti di halalin kalau sudah lulus"


kyyya, mau ngeles gimana lagi ini


"yakin... yang di halalin mau???? "


~send


dreet dreet


"Mudah-mudahan, sejauh ini sih sepertinya lampu hijau. Semoga aja gak ada tikungan di belakang"


"maju itu ke depan, kenapa tikungannya ada di belakang? "


~send


Belum sampai ada jawaban, kak Gilang memanggil. Sepertinya acara Motor GO sudah selesai, dan bersiap untuk bakar jagung.


Akhirnya kami semua keluar, laptop off dan kembali aku serahkan ke pakde.


HP aku tinggalkan di dikamar.


Seru memang, kumpul banyak teman. Hanya saja tak punya saudara dekat rumah yang sering adakan acara seperti ini. Palingan kalau lagi ada acara di OSIS atau Remas baru kumpul-kumpul seperti ini. Itupun gak bisa loss, harus jaga sikap dari para pengganggu, seperti kak Jo... salah satunya.


Malam berlalu begitu saja, asik.... seru... malam yang berkesan. Liburan yang menyenangkan.


Hingga tak kami sadari waktu sudah larut, jam 11 terlewati begitu saja.


Kak Gilang dan teman-temannya membereskan peralatan dan sisa bahan.


Sementara adek membersihkan sampah-sampah, aku dan Melan mencuci piring dan peralatan lain yang kotor.


Sebenarnya bude Sintha belum tidur, beliau juga malarang kami untuk mencuci piring, tapi kasihan lah jika terus merepoti bude.

__ADS_1


Semua pekerjaan selesai, kami kembali ke kamar. Dan ternyata lupa belum solat Isya, sehingga kami solat Isya terlebih dulu bergantian sebelum ahirnya menikmati tidur malam terahir di kamar ini.


__ADS_2