
"Kayra" panggil kak Maryam begitu turun dari solat subuh berjamaah.
"ah, iya kak" akhirnya kami jalan bertiga kembali ke rumah paviliun.
Sudah hampir satu minggu ini Siska rajin bangun subuh, sehingga aku tak sendirian lagi untuk keluar rumah solat berjamaah.
"nanti kalo sudah mulai terang, temani kakak jalan-jalan di sawah yuk" ajaknya.
"boleh kak. Sama Siska juga ya" jawab ku, menerima ajakan kak Maryam.
"boleh" jawab kak Maryam singkat.
"bayinya lagi pengen jalan-jalan ke sawah ya kak? " Siska ikut bertanya.
"hah, gak juga. Belum ada bayi" jawab kak Maryam dengan senyum tipis. Kemudian kami saling memasuki kamar masing-masing.
Aku dan Siska memilih untuk melanjutkan mengaji al-quran masing-masing. Tidak ada kajian subuh seperti biasa nya, mungkin karena acara semalam, santri-santri masih lelah sehingga diberikan waktu yang cukup untuk kembali beristirahat.
Petang mulai menghilang. Fajar Pun menyapa mengakhiri kegelapan malam. Terlihat begitu mempesona, diiringi sapuan udara pagi yang sedikit membuat kulit bergidik. Ya, saat ini bumi Indonesia telah berada di musim kemarau. Udara terasa kering dan menjadi lebih dingin. Namun bukan berarti harus mengurung diri di kamar saja bukan? apalagi tadi sudah membuat janji dengan kak Maryam.
Minggu ini aku memang sudah mengosongkan jadwal. Sebab beberapa minggu yang lalu, ada mahasiswa yang meminta untuk les privat di rumah. Terus bertambah saja job ku ini, rasanya untuk memikirkan waktu tidur saja aku tak punya.
"sudah siap? " tanya kak Maryam begitu keluar dari kamar. Sebab aku dan Siska sudah duduk di teras lebih dulu. Menikmati senja sambil menyeruput energen hangat.
"kak Nicho gak ikut? " tanya ku, saat melihat kak Maryam berjalan keluar kamar seorang diri.
"enggak. Katanya punya rencana sendiri sama kak Bilal. Mau ngapain gitu tadi"
"owh" jawab ku sambil menganggukkan kepala. Lalu kami mulai jalan bertiga menuju sawah di belakang pesantren.
__ADS_1
Di waktu pagi sawah justru ramai. Banyak orang yang bekerja menggarap sawah. Memang sih ada santri-santri yang ditugaskan untuk ikut merawat, tapi tetap ada pekerja yang menggarap.
Kami berjalan menyusuri jalan setapak. Menikmati hembusan angin pagi diiringi mentari yang mulai menampakan diri. Indah, sejuk, rasanya damai di hati. Tak salah jika kak Maryam menyukai aktivitas ini.
Setelah lelah berjalan, kami singgah di sebuah gubuk kecil. Men selonjorkan kaki sembari menyaksikan padi-padi hijau yang bergoyang terkena angin. Burung-burung terbang bergantian mencari makan. Asrinya bumi ini masih bisa dinikmati, di tengah bisingnya kota yang hilir mudik kendaraan tiada henti.
"Kayra" deg, hati ku sudah merasa tak enak ketika kak Maryam menyebutkan nama ku.
"iya kak" jawab ku, berusaha mengatur suara agar terdengar biasa saja.
"kamu gak pernah cerita sih sama kakak, soal kak Bilal" kak Maryam mulai menginterogasi.
"bukannya begitu kak, waktu itu berdekatan dengan pernikahan kakak. Pasti kakak sibuk, gitu pikir ku"
"jadi, waktu pernikahan kakak itu..... pantesan kak Bilal dandan maksimal" cerita kak Maryam.
Berakhir lah dengan cerita flashback beberapa bulan yang lalu. Sudah kepalang basah, mau tidak mau harus menceritakan lengkap.
Sedikit banyak Kak Maryam memberikan komentar sekaligus bercerita tentang sosok ustadz Bilal, yang memang aku belum pernah tau dan tidak pernah mencari tahu. Bahkan aku tidak ingin tahu.
Kenapa juga aku harus berada pada titik ini. Mengetahui apa yang tidak ingin ku ketahui. Ada sedikit penyesalan dengan sikap ku pada ustadz Bilal tempo hari.
Tapi tidak, jangan sampai apa yang aku ketahui ini menjadikan hati ku kembali ragu. Karena sampai saat ini aku tahu, ustadz Bilal masih menaruh harap pada ku. Hanya saja tatapan tajam yang dahulu mengusik ku, kini berubah menjadi perhatian.
Lengkap kisah 3 pangeran telah aku ceritakan. Hubungan ku dengan Dian yang telah membaik juga Kak Jo yang mengalami depresi karena patah hati.
"hah, kalau tau akan rumit begini. Kenapa gak nrima lamaran ustadz Bilal aja ya waktu itu" ucap ku bergurau menanggapi nasehat kak Maryam dan Siska yang silih berganti. Berasa mendengar nasehat dari 3M kala itu.
"tawaran itu masih berlaku, jika kamu mau" suara seseorang membuatmu ku langsung tercengang. Kami bertiga duduk menghadap hamparan padi yang hijau, sehingga tidak menyadari kedatangan ustadz Bilal dan kak Nicholas. Sejak kapan mereka di sana?
__ADS_1
Rasanya malu bercampur aduk, tak karuan.
Ada yang bilang ucapan adalah doa,jangan.....jangan....jangan sampai ada malaikat yang lewat. Kata orang juga ucapan yang disaksikan malaikat itu bisa terkabul. Jangan sampai ustadz Bilal menanggapi serius dan membuat keadaan kembali rumit.
Aku masih diam terpaku. Karena hal yang baru saja terjadi, juga karena terpukau menyaksikan yang segar-segar. Semakin ke sini penampilan ustadz Bilal semakin terlihat semakin muda saja.
"Kay, ayok. Mau terus diem disini?" tarikan Siska membuat aku sadar. Kemudian aku berdiri dan berjalan mengekor pada posisi paling belakang.
Perasaan ku masih belum kembali normal. Antara malu, takut, merasa bersalah. "ah, kenapa jadi gampang baper gini sih aku" gerutu ku dalam hati.
Detik berikutnya, "aaaaaaaaaaaaaa" teriak ku panjang
bbyyuurrr, aku terjatuh ke petakan sawah yang belum di tanami. Tanpa sengaja aku terpeleset karena berjalan terlalu ke pinggir. Lumpur pun mengotori tubuh ku, hampir dari setengah kaki ku terendam lumpur.
"Kayra, kenapa bisa jatuh? " tanpa kak Maryam dengan lembut.
"Kay, hahhaahhah. Payah kamu, sekalinya jalan-jalan ke sawah malah jatoh" berbeda dengan Siska, dia justru menertawakan ku.
Dengan cekatan kak Nicholas dan ustad Bilal menolong ku. Menarik kedua tangan ku agar aku bisa keluar dari dalam lumpur. Beruntung tidak terlalu tinggi jarak antara jalan setapak dengan petakan sawah.
"Lumpur nya dalam ya? " tanya ustadz Bilal.
"iya ustad" jawab ku tanpa basa-basi. Kini aku berjalan lebih depan, ustadz Bilal berjalan di belakang ku. Sementara kak Nicholas, menjaga istri tercintanya lah. Supaya tidak bernasib sama seperti ku.
Setibanya di rumah paviliun aku langsung membersihkan diri. Setelah berganti mandi dengan Siska, kami pergi ke rumah utama. Sudah ditunggu di sana untuk sarapan bersama.
Sudah satu minggu lebih aku tidak pernah makan di kediaman utama. Karena pergi terlalu pagi dan pulang sudah petang. Rasanya kangen juga dengan citarasa masakan di sana.
Beberapa anggota keluarga sudah duduk di depan meja makan saat aku dan Siska datang. Ada perasaan sedikit malu pada keluarga besar, karena aku telah menolak lamaran dari salah satu anggota keluarga mereka. Namun juga sedikit hilang rasa canggung saat bersama mereka. Karena nyatanya mereka semua baik, care, ramah, asik. Kecuali satu bocah tengil, raja iseng. Yang selalu saja menggoda dan membuat aku tertunduk malu.
__ADS_1