
Dua minggu bukanlah waktu yang cukup banyak untuk menyelesaikan semua yang sedang berlangsung.
Berpamitan dari Pesantren, mengemas barang hingga boyongan kembali ke rumah. Sementara waktu masih menuntut ku untuk terus melanjutkan pencarian tempat magang. Setelah satu tempat yang sangat aku harapkan ternyata sudah di isi oleh keluarga dari Manager perusahaan sendiri.
Belum lagi persiapan pernikahan. Untuk hal umum aku serahkan semua pada mama. Tapi untuk seserahan dan mahar, tentunya aku mengurus sendiri bersama Dian. Serentetan barang yang harus di beli sebagai syarat seserahan di berikan oleh oma. Beruntung mama masih memberi kelonggaran, tidak harus semua daftar yang diberikan oleh oma di lengkapi.
Lelah, itu sudah pasti. Tapi rasa bahagia ini membuat aku semangat empat lima. Dan benar, pikiran tentang kak Jo dan semua kerumitan yang terjadi menguap begitu saja. Sebab ada hal yang jauh lebih penting yang saat ini mengisi pikiran ku.
Ini tiba saatnya aku meninggal kan pesantren dengan di jemput oleh mama, papa dan tak ketinggalan Dian. Bahkan kak Maryam bersama kak Nicholas juga menyempatkan untuk datang mengiringi kepergian ku.
Masih seperti biasa, jika di luar kampus pak Nicholas meminta ku untuk memanggilnya dengan sebutan 'kakak'. Bahkan sekarang beliau lah yang menjadi dosen pembimbing ku untuk menyusun skripsi ku.
Sebenarnya belum saatnya sih, tapi aku sudah terlanjur mengajukan untuk mulai menyusun skripsi. Siapa tau jika pernikahan ku ternyata akan secepat ini. Jadi sudah pasti terbengkalai.
Semua orang tersenyum bahagia melepaskan kepergian ku. Termasuk ustadz Billal dan Siska. Bahkan aku bisa pergi dengan tenang meninggalkan Siska seorang diri. Rasanya berat berpisah dari sahabat. Tapi karena aku tau bahwa sudah pasti Siska akan menerima pinangan dari ustadz Billal, sehingga aku bisa pergi dengan tenang.
Ya, berjalan sesuai dengan apa yang aku harapkan. Siska bersedia menerima pinangan dari ustadz Billal. Dan ustadz Billal pun bersama orangtua sudah berkunjung ke rumah Siska minggu kemarin ini menemui orang tua Siska. Mungkin lamaran secara resmi akan dilangsungkan dalam bulan ini juga.
Kepergian yang diselimuti kebahagiaan. Jarang sekali terjadi bukan?
Tak perlu ku hitung hitung lagi, hari terasa berjalan begitu cepat. Belum juga sempat bernafas setelah berburu sekian banyak keperluan, besok sudah harus mempersiapkan diri untuk prosesi siraman.
Mama mengundang orang salon untuk memanjakan ku di rumah.
Setelah lelah-lelah kemarin akhirnya bisa tiduran dengan nyaman. Di lulur, massage, cream bath, facial. Rasanya badan kembali segar.
Para kerabat sanak saudara dari luar kota pun sudah berdatangan. Rumah menjadi ramai. Dan rasanya saat ini aku mendadak jadi anak Sultan. Apa-apa ada yang melayani. Ada yang menyiapkan juga mengambilkan.
Wah, se istimewa ini ya jadi calon pengantin.
Aku bersama rombongan telah sampai di gedung Pancaneka. Gedung yang sebelumnya pernah aku masuki satu kali, kini telah di sulap menjadi ruangan berbeda yang aku tidak lagi mengenali setiap tikungan nya. Entah atas permintaan dari mama atau Dian, dekorasi semegah ini.
Siraman akan di gelar beberapa saat lagi. Rasanya hati sudah dag dig dug. Apalagi besok menjelang ijab kobul ya? Bisa jadi nanti malam aku tidak bisa tidur.
__ADS_1
Sementara Dian, hilang entah kemana. Sejak selesai berbelanja kebutuhan seserahan dia sudah tidak pernah ada kabar lagi. Jangankan tiba-tiba muncul di depan rumah, telpon atau sekedar kirim pesan ''hay" itupun juga tidak. Apa ini yang namanya di PINGIT?
Hanya bisa berdo'a, semoga semua diberikan kesehatan serta kelancaran hingga hari H.
Acara di mulai dengan pengajian ibu ibu dan di lanjutkan dengan siraman.
Baru saja untuk acara siraman, mau di siram air. Begini saja sudah ribet. Harus di poles make up dulu, pakai ini dan itu, astagfirullah ribetnya.
Persiapan telah selesai. Aku telah dipakai kan baju dan di rias sedemikian rupa ala siraman adat Jawa.
Saat berjalan menuju tempat siraman, ada kaca besar nan panjang di sana. Jujur saja aku terkesiap melihat diri ku sendiri saat ini. Tubuh mungil ku di balut baju siraman berwarna Peach dengan rompi bunga melati menjuntai hingga ke bawah pinggul. Wangi aroma bunga semerbak memenuhi ruangan.
Aku duduk di kursi kebesaran dan acara siraman pun di mulai. MC mulai kembali membacakan serangkaian acara. Diikuti dengan beberapa kalimat bahasa Jawa yang disampaikan oleh juru paes. (paes\=rias)
satu centong
dua centong
tiga centong
Centong demi centong di guyurkan di atas Kepala ku secara berganti di mulai dari keluarga paling tua.
Mendapatkan pelukan dari semua anggota keluarga rasanya terharu sekali.
Hal besar akan terjadi dalam hidup ku. Tapi bukan berarti seluruh dari hidup ku harus berubah bukan?
"aku masih bisa tetep peluk kak Gilang gak kalo sudah nikah? " tanya ku di depan semua orang. Sangat senang sekali karena kak Gilang menyempatkan ambil cuti di hari pernikahan ku ini. Seandainya tidak, mungkin aku bisa merajuk tujuh hari tujuh malam, bahkan lebih.
"ya.... kalo suami kamu gak cemburu sih" kata gak Gilang santai.
"tidak bisa saling berpelukan lagi, bukan berarti kasih sayang itu hilang.
Karena 'memeluk' tidak semata merekatkan pelukan. Bisa jadi pelukan itu dalam bentuk suport, semangat, dukungan" Pak ustadz yang mengisi acara ikut menyampaikan nasehat.
__ADS_1
Acara siraman pun selesai. Aku kembali memasuki ruang ganti. Sayang sekali, disaat seperti ini tidak ada Melan juga Siska yang menemani aku. Sahabat yang tak pernah terpisahkan. Sahabat yang sudah seperti ekor dan kepala. Rasanya sepi sekali hati ku.
Sudah pasti Melan menjadi pendamping di keluarga pengantin pria. Dan Siska, hari ini dia bertunangan dengan ustadz Billal. Sedangkan sahabat yang lain, aku berharap mereka semua bisa hadir. Karena pernikahan ini bukan berlangsung di hari sabtu ataupun minggu, melainkan hari Rabu.
Dengan di dampingi oleh keluarga besar, ini sama sekali tidak mengurangi kebahagiaan ku. Sekali pun rasanya ada yang kurang.
Aku kembali ke tengah-tengah keluarga untuk kembali melanjutkan acara, yaitu saatnya sesi sungkeman.
Apa yang melintas di kepala kalian saat mendengar kata 'sungkeman'?
Tentu suatu kegiatan yang sudah pasti menyisakan air mata. Namun itu semua air mata haru, air mata bahagia.
Dengan memakai baju yang masih senada dengan prosesi siraman tadi, aku melangkah.
Dengan perasaan yang masih tetap dag dig dug.
Mungkin sampai besok hingga suara SAH memenuhi ruangan, aku masih tetap merasakan hal yang sama.
Tuhan, beri aku ketenangan untuk melewati hari terbesar dalam hidup ku ini.
_____________________^_^___________________
ada yang ikut deg degan gak ini???
apa aja ya kira-kira yang dirasakan malam menjelang pernikahan??
yuuk, koment yuuuukkkk. Bagi pengalaman di hari bersejarah
Terimakasih untuk yang masih setia sampai bab ini ☺
maafkan author receh ini yang kasih UPDATE sesuka hati ✌
tetap dukung author ya, tinggal kan jejak 🙏
__ADS_1
LIKE, VOTE, COMENT,HADIAH 😘😘😘😘😘😘