
Setelah pertengkaran semalam Dian meminta ku untuk ijin tidak masuk KKN. Begitupun dengan dia yang cuti kerja. Dia bilang akan mengajak ku pergi ke suatu tempat. Namun saat aku bertanya malah dia bilang rahasia.
Bukan Dian namanya kalau tidak menyebalkan plus selalu kasih kejutan. Meminta libur dadakan dan tidak ada penolakan. Di pikir KKN di tempat Bapaknya. Huh
"sudah siap sayang? " tanya Dian begitu masuk ke kamar setelah berbincang dengan papa di bawah.
"sudah. Mau kemana sih, kenapa aku harus pakai pakaian terbaik? " tanya ku penasaran.
"memangnya pakaian terbaik bagi seorang muslim, kamu artikan apa?
Pakaian terbaik bagi seorang muslim itu kan hijab" kata Dian serius.
Namun detik berikutnya ia tertawa geli.
"jadi kamu pakai ini?
Ini koleksi terbaik kamu?" lanjutnya sambil terus memperhatikan ku di depan cermin.
"mau ke kondangan buuk?
Atau ke pesta putri raja? " sambung nya lagi.
"Dian..... iwhhhhhh!
Stop jadi orang nyebelin kenapa sih!
Sebenarnya kita mau kemana? Kalau kamu menertawakan aku terus, aku gak mau ikut. Pergi aja sendiri" aku bangkit dari kursi rias melepaskan semua accessories yang menempel di kerudung.
"Kenapa malah di lepas?
Oke oke, sorry. Aku gak bermaksud.
Kita akan ke rumah masa depan sayang, bukan ke pesta. Jadi di ganti saja ya bajunya" kata Dian dengan penuh hati-hati, sembari lengan kokohnya menahan tubuhku dalam dekapan nya.
Tanpa memberikan jawaban lagi aku melepaskan dekapannya dan berjalan menuju lemari pakaian. Dengan asal aku mengambil salah satu baju. Keinginan untuk tampil sebaik mungkin hilang sudah.
Tanpa banyak kata lagi kamipun meninggalkan rumah. Selama dalam perjalanan aku juga hanya diam. Sekalipun banyak pertanyaan dalam benak. Sebab sekilas ku ingat jalan yang kami lalui adalah jalan yang sama saat kami dulu melangsungkan akad nikah di Pesantren.
"kamu tidak pengen tanya, kita mau kemana? " kata Dian memecahkan kesunyian.
"sudah kan tadi pagi pagi sekali. Tapi jawaban kamu apa? " rasanya pertanyaan itu sudah basi sekali untuk sekedar dia tanyakan sebagai bentuk basa-basi.
"ok ok. Aku salah lagi. Maaf"
Dan lagi, kata maaf itu menjadi hal receh sekali untuk Dian ucapkan beberapa hari ini. Nyatanya sesuatu yang membuat aku tidak suka dan badmood masih saja terjadi.
Aku hanya diam. Enggan memberi komentar. Sehingga kebisuan terjadi lagi diantara kami berdua.
Mobil terus saja melaju hingga pada akhirnya benar-benar memasuki halaman Pesantren.
Sampai di sini aku masih saja tidak mengerti dengan apa yang Dian rencanakan. Aku hanya mengikuti setiap langkahnya.
Sambutan dilakukan oleh keluarga Pesantren begitu mobil kami parkir dengan sempurna. Seolah mereka semua sudah tau dengan kedatangan kami.
Tanpa banyak basa-basi lagi Dian meminta ijin untuk menuju pemakaman keluarga Pesantren di halaman samping.
Lagi-lagi aku hanya berjalan mengekor di belakang Dian. Namun kali ini tiba-tiba saja dia berhenti, menunggu hingga langkah kami sejajar lalu menggenggam tangan ku.
__ADS_1
"terlalu panjang untuk aku ceritakan sekarang. Nanti kamu juga akan tau. Seiring berjalannya waktu, aku janji akan menceritakan semuanya.
Yang pasti, jangan pernah lepas genggaman ini. Karena kamulah kekuatan ku" satu kalimat yang membuat aku semakin membisu, padahal banyak sekali pertanyaan di dalam otak.
Sesampainya di tempat pemakaman Dian langsung duduk di hadapan satu batu Nisan. Dengan khusuk dia memanjatkan do'a. Aku ikut membacakan do'a dan beberapa surah setahu dan sebisa ku. Karena sebelum ini aku jarang sekali pergi berziarah ke makam.
Dalam waktu yang cukup lama Dian menundukkan kepala di sana. Sepertinya ini makam seseorang yang sangat berarti.
"siapa? " akhirnya aku menurunkan ego ku untuk bertanya.
"inilah, ibu yang sudah melahirkan aku. Selama ini, selama di Pesantren aku sering sekali di minta oleh pak Kyai untuk berziarah ke makam ini. Tanpa aku bertanya sekali pun 'siapa'?
Aku hanya melakukan perintah itu karena yang di makamkan di sini pastilah keluarga dekat dari Pesantren. Tidak taunya...... "
Penjelasan sekilas yang sedikit banyak membuat aku mengerti. Tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam keluarga dia. Pastinya berat bagi Dian untuk menerima semua kenyataan ini. Betapa egoisnya aku. Disaat hati dia terluka dan memerlukan sandaran, kenapa justru beberapa hari ini aku memarahinya terus?
"aku akan selalu disini untuk mu sayang" kini giliran aku yang memberi dekapan juga kecupan.
Aku bingung harus berkata bagaimana.
"jangan sedih sayang"
Rasanya tak mungkin, sedikit banyak pasti dia merasakan kesedihan.
"kamu pasti kuat"
Sekuat apapun seseorang, pasti pernah memiliki titik terlemah dalam hidup nya.
"menangis lah"
Rasanya itu tidak mungkin, yang pasti laki-laki gak akan se cengeng wanita kan.
Aku tidak berjanji tidak akan pernah marah. Tapi yang pasti, semarah apapun jiwa ini hati ini tetap untuk nya. Sudah terbukti bukan?
Kalimat itulah yang aku sampaikan saat Dian mengenalkan aku pada ibunya. Sosok yang dia sendiri belum pernah lihat pastinya.
"maafkan aku ya, marah-marah terus dari kemarin" kata ku saat kami sudah meninggalkan area pemakaman.
"maafkan aku juga sudah membuat kamu marah" katanya sambil mengecup sekilas kening ku.
Lalu kami pun di persilangan masuk oleh keluarga Pesantren.
Nampak seseorang di sana yang dulu sempat aku kenal sebagai 'saingan'. Bisa jadi itu juga masih kerabat Dian.
Tapi kenapa juga Ummi berniat untuk menjodohkan mereka?
Ah entahlah. Semakin banyak saja pertanyaan dalam benak ini.
"sabar Kayra, ikuti alur saja. Bukannya Dian sudah suatu saat akan menceritakan semuanya? " aku berusaha menghibur diri sendiri. Di tengah-tengah perbincangan Dian bersama keluarga Pesantren yang aku rasa masih asing bagi ku.
"maaf kyai saya tidak bisa berlama-lama. Masih ada tujuan lain yang harus kami kunjungi. Insya Allah kapan-kapan main lagi ke sini" kata Dian saat pak Kyai menawarkan untuk mengunjungi sebuah ruangan yang selama ini di rahasiakan.
Aku hanya menarik dan menghembuskan nafas dengan berat. Sepertinya terlalu banyak rahasia keluarga Dian. Kekusutan yang selama ini dibiarkan begitu saja perlahan akan di urai kembali.
Seperti kata pepatah, sepandai-pandai nya membungkus bangkai suatu saat akan tercium juga.
Mau serapat apapun rahasia itu di tutup, pada akhirnya terungkapkan juga.
__ADS_1
Manusia punya rencana tapi Allah yang Maha Pemilik Kehendak.
Kita hanya tinggal menunggu waktu saja.
Dan mungkin inilah waktu itu. Saat Dian mulai matang dalam pemikiran dan siap memikul amanah. Amanah sebagai seorang suami, juga amanah tentang keluarganya. Sebab amanah itu berat.
Jadi ini yang dia katakan 'rumah mada depan', yaitu makam.
Tentang satu tempat lagi yang Dian katakan, akan menjadi was-was. Apakah itu suatu tempat yang menyenangkan atau justru penuh dengan kenangan.
Sepanjang perjalanan pulang kami kembali diam. Mungkin masih banyak hal yang kembali berkecamuk dalam benak Dian.
Hingga di suatu tikungan Dian hampir saja menabrak kucing yang tiba-tiba menyebrang.
"are you oke?
Kalo pikiran kamu lagi kacau biar aku aja yang nyetir ya. Kamu tinggal tunjukkan jalan" pinta ku.
"gak usah. Kita cari tempat untuk istirahat aja dulu. Biar pikiran ku lebih baik"
Setelah menolak tawaran ku, beberapa meter dari tempat kejadian justru dia membelokkan mobil ke sebuah homestay.
"kok ke sini sayang? " tanya ku heran.
"iya, kita istirahat dulu" katanya sambil melenggang menuju meja resepsionis.
Sementara aku sedikit menggerutu. Tempat istirahat kenapa harus kesini juga sih. Cafe banyak, atau warung kopi, lesehan kek. Ini malah sewa kamar?
"ayo sayang, ngelamun apa sih? " tarikan tangan Dian membuat aku kembali berjalan menepiskan semua kemungkinan yang tidak menjadi pilihan.
"panas sayang, sepertinya minum es kelapa muda lebih seger deh" kata ku saat Dian membuat pintu kamar.
"kan ada AC.
Nanti aku pesankan lewat aplikasi es kelapa muda nya" kata Dian yang sudah menarik tubuh ku ke atas pangkuan nya.
"sayang..... " rintih ku. Karena Dian sudah memulai aksinya tanpa memberi ku waktu untuk bernafas barang sedetikpun.
Bahkan dia sendiri yang melepaskan jilbab ku.
"sayang, jangan di lempar sembarangan nanti kusut" aku pun bangkit dan meletakkan nya dalam gantungan.
Benar-benar tak sabar, sudah seperti vampir yang haus darah saja.
Aku yang masih berdiri di depan lemari langsung digendong begitu saja.
"ini lebih menyegarkan sayang" dengan rakusnya dia melahap aset kembar nya. Tanpa melepaskan penutup nya terlebih dahulu.
Oke-oke, aku faham.
Tidak akan ada penolakan kali ini. Sebagai janji ku untuk selalu berada di samping nya. Semoga saja setelah mendapat jatahnya, perasaan dia menjadi lebih baik.
_____________________^_^___________________
hemppp 🤔 untung sudah SAH. Ada saja akalnya Dian ya gays 😅
Kita tinggalkan Kayra bersama Dian yang lagi enak-enakan, oke.
__ADS_1
Terimakasih buat kalian semua yang sudah mampir 🥰🥰
Jejaknya tetap di nanti, LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH 🙏🙏🙏