
Dipikirkan itu tak penting, terlagi ujian kenaikan kelas ku belum selesai.
Tapi tidak dipikirkan itu..... jujur saja tak pernah bisa ku lupakan. Orang pertama yang memberi kesan dalam hidup ku. Mulai masuk SMP, hingga saat ini. Akankah masih berlanjut untuk nanti??
Entah itu kesan yang seperti apa, yang pasti membuat aku tidak pernah lupa.
Dulu sebelum kami sama-sama masuk sekolah, kami sering bermain bersama. Entah itu main bersama di rumah Melan, bermain di taman balai pertemuan, bermain saat ada acara-acara bersama. Dulu kami dekat, karna usia dia yang diatas ku 2th, dia sering panggil aku "adek". Sewaktu kecil aku diasuh oleh pengasuh, karna mama waktu itu masih menyelesaikan pendidikan sebagai designer.
Lebih tepatnya pengasuh itu tantenya Melan.
Tak banyak lagi yang dapat ku ingat. Yang pasti semua berubah sejak kami memasuki dunia sekolah. Orang tua ku yang lebih memilih menyekolahkan aku di Sekolah Negri, sementara Orang tua dia yang lebih memilih Sekolah Islami.
Pernah juga ku ingat, aku berkata ingin sekolah bersama dia. Nanti kami akan sekolah bersama, pergi bersama. Pulang bersama. Main dirumah bersama, kita tinggal satu rumah. Huwaaa... bbrrruukk!!
ku tutup muka pakai bantal.
Tidak taunya, aku dimasukkan disekolah yang berbeda. Namanya juga anak-anak, mana ada naluri untuk mengajukan kemauan, yang penting ada mainan banyak disana..... diam dah mulut.
Apalagi saat itu Melan menyertai ku, karna mama melan yang juga bekerja,jadi menitipkan Melan pada tantenya juga.
Sejak saat itu kami jadi jarang bertemu, karna sekolah ku dekat dengan rumah nenek, jadi aku pulang kerumah nenek lebih dulu. Sore setelah papa atau mama pulang, baru kami di jemput.
Sementara adek yang masih bayi, setiap mama berangkat ke kampus selalu di titipkan di rumah nenek.
Waktu berjalan begitu saja, sesekali kami bertemu ketika ada acara di masjid, tapi dia tidak lagi terlihat ramah.
Mungkin juga ingatan kami tentang obrolan kala itu sudah menghilang karna kami sudah sama menemukan teman-teman baru.
Teman teman baru di Madrasah dan aku teman teman baru di TK.
Pertemuan kami hanya sekilas sekilas, hingga saat itu kami bersama di rumah Melan..... dia masih bertanya apakah nanti aku akan masuk ke Madrasah? aku hanya menjawab "tidak tau"
Sampai ahirnya aku dengar kabar kalau dia sudah masuk pesantren.
Akan semakin lama lagi tidak bertemu, dan terang saja.... semakin jauh pula jarak diantara kami. Sepertinya kami tak lagi saling mengenal.
__ADS_1
Aku rasa dia yang memulai, waktu itu tidak sengaja bertemu di rumah Melan, begitu aku datang tiba-tiba dia pamit pulang.
Kemudian lagi terulang ketika acara di masjid, aku ikut Papa waktu itu, dia juga ikut abinya. Begitu aku datang sama Papa, dia langsung lari masuk rumah. Karna rumah dia masih jadi satu lingkup dengan masjid, maklum.... kluarga pemilik wakaf masjid.
Dari situ aku belum mengobarkan api perang. Belum tau permusuhan. Sekalipun dia langsung pergi, aku masih senyumin dia. Manggil-manggil dia kadang kalau tidak sengaja bertemu. Tapi tidak pernah ada respon.
Hingga ahirnya aku masuk bangku SMP, aku mulai di data untuk menjadi anggota Remaja Masjid. Sewaktu ada acara, kebetulan dia dirumah. Aku coba menyapa saat dia keluar dari rumah, dia melambaikan tangan. Tapi ternyata, dia melewati ku sembari menyambar pundak ku. Berlalu, dan ternyata menghampiri sosok wanita di belakang ku.
Aku menengok kebelakang, "owh" gumam ku.
Kemudian aku melanjutkan tugas yg dibagikan pada ku tanpa berfikir apapun.
Sewaktu aku berjalan hendak menuju panggung, aku melewati kerumunan anak laki-laki. Sepintas ku dengar "ituloooh.... pacarnya Dian"
Bagai disambar petir. Owh, begitu rupanya. Aku benar-benar sudah terhapus dari memori dia. Bahkan untuk membalas senyum ku juga sapaan ku saja sudah enggan.
Perasaan apa itu, aku tidak tau. Rasanya hanya sedih saja.
Kemudian aku lanjutkan tugas ku, tak sampai acara selesai aku pamit pulang lebih dulu. Padahal acara sengaja di adakan malam minggu saat esoknya libur sekolah. Tapi rasanya perasaan ku sudah kacau, tidak ingin lagi melihat dia.
Tapi setelah itu, kenapa barang-barang sering datang, dengan pengirim inisial dia tapi menggunakan pengiriman atas nama toko. Mau tidak mau ku Terima, kasihan pak kurir. Daripada mama tanya-tanya juga.
Awalnya aku kira dapat surprise dari siapa, padahal aku gak belanja online.
Ternyata bulan depannya datang lagi, dan setiap bulan jadi datang, tapi di minggu-minggu yang berbeda.
Pernah sesekali disertai kalimat "semoga kamu suka. Aku suka kamu"
langsung aja aku remas kertas itu, lempar ke sampah. Bukan barang berharga sih, hanya acc cewek. Namanya juga masih anak-anak, mau dapat uang dari mana coba.
Beberapa bulan berikutnya disertai surat, 1 kertas binder, full.
Yah, ungkapan perasaan.
Tapi perasaan macam apalah itu. MENYEBALKAN! seketika juga ku lempar ke tempat sampah.
__ADS_1
Hingga datang surat berikutnya,kali ini berbeda. Tulisan Arab full. Mana aku bisa baca???
kulipat saja. Ku selipkan diantara buku-buku.
Sampai ahirnya aku terlupa, dan barulah terungkap ketika aku sudah kelas 3SMP. Astaghfirullah, tepuk jidat ~~~~
waktu itu suratnya datang pas aku mau ujian kenaikan kelas 1SMP.
Dan bodohnya lagi, surat terselip di buku catatan yang waktu itu aku bawa ke pertemuan Remaja masjid. Karna buku yang biasanya habis, jadi aku ambil buku asal aja. Bisa dibilang itu buku koleksi, aku suka mengumpulkan buku-buku yang bersampul lucu.
Kemudian kertas itu jatuh pas di depan ustadzah Zia. Mungkin beliau hanya sekedar mengecek itu kertas apa, sekilas dilihatnya kemudian diberikan lagi pada ku
"ini punya kamu" dengan suara dingin.
Apa beliau sampai melihat nama yang tertanda disana? pikir ku sedikit cemas. Tapi tidak terjadi apa-apa, yasudah berlalu begitu saja.
Saat itu juga aku jadi inisiatif minta tolong dibacakan sama kakak senior yang lulusan pesantren juga. Tapi tidak lupa, nama tertanda disana aku sobek terlebih dahulu. Dan masih sama, isinya ungkapan perasaan, tapi kali ini bernada lebih memohon, hemmppp!
kalo benci benci aja, gak perlu sok-sok an cinta. Berasa di permainkan!
Banci bukan yang seperti itu?
beraninya dibelakang saja, begitu disamperin.... aku kembalikan barang-barang kiriman dia, gak ada omongan apapun, kejar kek sekedar bilang MAAF.
"HUUUHHHH MENYEBALKAN" teriak ku dalam hati sambil ku remes-remes tuh bantal.
"apa sih mau dia?! " benar-benar mengesalkan, menyita pikiran.
Terlalu dalam memberikan kesan pada perasaan ini.
Ku lirik jam, ternyata sudah larut. Sementara belajar ku hari ini benar-benar kacau, tidak ada yang membekas di otak sedikitpun.
Ahirnya aku bangun ke kamar mandi, wudhu... solat malam (karna sudah solat isyak),
mau menangis pun air mata gak bisa keluar, hanya sesak di dada. Setelah mencurahkan pada sangat pembulak-balik hati, perasaan ku lebih tenang. Dan aku segera tidur, berati besok harus bangun subuh untuk kembali belajar.
__ADS_1