KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Berdua lebih baik


__ADS_3

Hari ini hari dimana aku berencana untuk bertemu dengan Rahardian bersama Melan.


Ada perasaan menggebu untuk meluapkan segala kekesalan, namun saat aku tatap benda-benda itu untuk terahir kalinya, kenapa justru kenangan masa kecil itu yang kembali muncul?


kalung dari batang pohon singkong, topi dari daun nangka, cincin dari rumput. Dulu begitu senangnya, padahal hanya begitu.


Sekarang ada barang sungguhan yang bisa dipakai, tapi kenapa orangnya menjadi menyebalkan, berbeda 360° dari waktu itu.


Sudahlah, ini waktu yang ditunggu-tunggu. Semoga saja terungkap apa yang penjadi pertanyaan ku selama ini.


Semakin lama mengingat yang ada semakin sesak. Sungguh kebencian itu bukanlah hal yang indah.


Hari ini pertemuan OSIS berlangsung singkat, karna ada orang-tua salah satu guru yang meninggal. Semua staf akan takziah. Akan ada juga beberapa perwakilan OSIS yang ikut serta. Awalnya aku yang ditunjuk, tapi karna memang mau ada pertemuan sehingga aku mengatakan tidak bisa.


Kami membuat janji untuk bertemu di 'cafe depan kolam'.


Tempatnya cukup menyenangkan, karna berhadapan dengan kolam ikan yang sengaja dibuat untuk menyegarkan mata sembari bercengkrama.


Aku berangkat dengan menggunakan kendaraan online, dan nanti harus kembali ke sekolah saat dijemput oleh sopir.


Saat aku tiba disana, Melan dan Dian sudah datang lebih dulu. Ada perasaan dag dig dug semakin aku berjalan mendekati mereka.


"assalamu'alaikum"


ahirnya aku bersuara saat jarak kami tinggal beberapa langkah lagi. Melan dan Dian sedang asik bicara sembari menatap ikan-ikan sehingga tidak menyadari kehadiran ku.


"waalaikumsalam"


suara mereka berdua bersamaan. Ada senyum di wajah Dian, sekalipun itu hanya sekilas.


"sudah lama? " tanya ku pada Melan, seolah mengabaikan adanya seseorang disebelah dia.


"lumayan, kak Dian sih ngebet ngajakin berangkat dari ..... tadi"


jeddug,Melan belum selesai bicara aku lihat kaki Dian menendang pelan kaki Melan.


"sakit kak"


"aku pesen camilan dulu ya"


aku lihat belum nampak ada makanan di meja, entah memang belum memesan atau pesanan belum datang.


Aku hendak berjalan tapi ada tangan yang menahan ku.


"biar aku aja"


begitu aku melihat kebelakang, Dian yang memegang lengan ku.


"lepas"


seketika aku tepis tangannya, sok baik amat. Ogah banget, yang ada gak selera makan makanan yang dipesen sama dia.


"ya udah Kay, biar aku aja yang ambil buku menu. Kamu kan baru nyampek, capek kan"


Ahirnya Melan yang berdiri dan berjalan mendahului aku.


Sampai beberapa menit belum juga kembali.


"kemana sih ini Melan, lama banget ambil menu aja"


gerutu ku dalam hati. Karna berdiam berdua sama Dian dengan jarak sedekat ini, rasanya perang antara hati dan pikiran.


Mulut ini udah pengen nyerocos. Gimana jadinya kalau gak bisa ditahan lagi


"naik apa tadi kesini" Dian mulai bicara.


Sok perhatian amat!


"Haduw, Melan gak muncul muncul juga. Mana belum sempat belajar menata hati pikiran dan mulut. "


"ojek" jawab ku singkat


"kata Melan ada yang mau kamu sampaikan.Apa? "


Dia sudah memulai pembicaraan rupanya. Baiklah, aku juga ogah lama-lama dekat dia.


"Ngapain kamu kirim ke aku barang-barang sebanyak itu. Aku gak butuh! ambil aja di rumah Melan, sepulang dari sini langsung aku antarin"


"kenapa dikembalikan, pakai aja"

__ADS_1


"aku gak butuh! bisa beli sendiri"


Suara ku sudah naik satu oktaf di setiap kalimat, ahirnya Melan muncul juga.


"kemana aja sih kamu" jadilah Melan ikut kena kesinis an ku.


"sakit perut" dia jawab singkat dan kembali duduk, menyodorkan buku menu pada ku.


Yang betul saja, Dian ikutan mendekat melihat buku menu yang aku pegang.


Sekilas aroma minyak rambutnya tercium oleh ku.


Deg, nusuk di hati. Apalagi aroma parfume nya semakin tercium, tak bisa ku pungkiri.... aroma yang soft tapi membekas di hidung ku.


Aroma nya masih saja sama, setiap kali tanpa sengaja berpapasan.


"mundur" dia nampak kaget dan langsung mengangkat kepala, ewh yang ada malah pandangan kami bertemu.


"dug dug dug dug" terdengar suara jantung ku dengan ritme tak beraturan.


Setelah aku tulis beberapa pesanan ku, kembali aku sodorkan ke Melan. Biar dia milih sendiri sama kakaknya itu.


Kalau kaya ini, bisa -bisa meledak. Padahal marah dengan elegan itu akan lebih mengena.


Kata halus tapi menusuk itu akan lebih membekas.


Setelah sekian lama aku dipermainkan oleh sikapnya, enak saja dia bisa pulang dengan tenang.


Tak lama mereka melihat buku menu, Melan meninggalkan kami lagi untuk menyerahkan pada waitress.


"Kayra, kalau aku bilang sayang sama kamu, apa kamu akan percaya? "


Dian kembali bicara. Disaat aku belum fokus, kalimat dia terdengar seperti hembusan angin.


"coba diulangi"


"kalau selama ini aku tidak pernah membenci kamu, justru aku sayang sama kamu. Apa kamu percaya? "


seketika aku lihat ke arah nya. aku amati seperti apa expresi dia saat mengatakan kalimat itu.


"kamu pikir itu mudah, semudah kamu ngomong! enak saja permainkan perasaan. Setelah kamu rong-rongi, kemudian dibelai, dan saat lengah apa akan langsung kamu terkam?!


Entah apa salah ku sama kamu, sampai kamu sepertinya jijik bertemu aku. Kamu gak perlu pura-pura manis lagi. Faktanya sikap mu terlalu pahit, bahkan hanya untuk menjadi teman!


Bahkan aku harus menerima kebencian dari ummi mu, padahal jelas-jelas itu bukan kesalahan ku.


Padahal dulu kami begitu dekat, tentunya saat kamu tidak dirumah.


Tapi begitu kamu sering dirumah, semua berubah. Bukan hanya kebencian dari mu, kebencian ustadzah juga yang harus aku terima, dan itu yang lebih membuat ku terpukul. Aku seolah menjadi pengecut, yang tidak berani menampakkan muka Karna kesalahan. Ketakutan untuk mendengar kata-kata yang menyakitkan, bahkan gunjingan yang di lontarkan oleh ummi mu tentangan aku. Aku tidak berani menghadapi itu semua.


Padahal selama ini aku tidak pernah membuat masalah dengan siapapun. Beruntung aku punya orangtua yang bijak.


Sekalipun pada ahirnya aku tau bahwa semua itu adalah ulah mu sendiri, tapi hubungan ku dengan ustadzah mungkin tidak akan bisa sebaik dulu lagi.


Apa kamu sendiri bisa mengembalikan hubungan baik ku dengan Ummi mu?!


Aku sudah muak dengan sandiwara mu. Beruntung setelah kejadian itu aku tak perlu lagi terpaksa menerima paket yang diantar oleh kurir. Tak perlu lagi mendengar kalimat-kalimat sampah yang di ucapkan anak-anak kecil. Tak perlu juga mendengar titipan salam, yang sekilas terdengar manis nyatanya itu hanyalah sebuah bualan. Omong kosong!


Dan lebih sial lagi, setelah kejadian itu justru aku sering kali harus melihat orangnya langsung. Satu kata untuk, PENGECUT! "


"apa yang kamu curi dari HP Melan"


ahirnya kalimat itu terucap juga. Setelah beberapa menit aku mengeluarkan pidato singkat, sengaja agar dia tak punya celah untuk bicara. Karna sanggahan dari dia hanya akan menaikkan emosi ku.


Beberapa saat hening, mungkin dia sedang mencerna perkataan ku.


Sementara Melan tak nampak datang juga, sepertinya dia sengaja meninggalkan kami berdua.


"aku boleh bicara? kali ini kamu boleh menilai aku seperti apa. Aku hanya berusaha menyampaikan apa yang sebenarnya.


Sebelumnya aku minta maaf atas segala sikap ku. Bukan hanya kamu, tapi adik ku sendiri, Melan juga protes tentang hal yang sama.


Aku tidak bermaksud untuk menjadi orang yang menyebalkan.


Aku benar-benar sayang sama kamu. Dari dulu, dari kecil kita bersama aku menyayangimu. Entah itu perasaan apa, mungkin karna kita sering bersama.


Seiring berjalannya waktu, hingga aku tak punya kesempatan lagi untuk sering bertemu kamu, aku selalu ingin melihat mu. Tapi sepertinya kita sudah memiliki dunia kita masing-masing.


Kamu masih ingat kita sepakat untuk terus bersama, mau sekolah sama-sama. Tapi nyatanya orang tua kita punya milihan mereka masing-masing. Sementara kita tidak berdaya kan untuk bilang 'tidak'

__ADS_1


Kita masih anak-anak waktu itu, hingga sekarang kita semakin besar dan punya keinginan sendiri.


Berulang kali aku coba mengatakan perasaan ku, tapi kamu selalu saja acuh. Tidak percaya. Mulai SMP bukan aku selalu berusaha mengatakan itu sama kamu, karna saat itu keinginan ku mulai kuat.


Ya, aku menyebalkan. Aku merasa hanya itu yang bisa aku lakukan. Menyanyangi kamu dari jauh. Dulu kamu senang kan waktu aku buatkan mainan kalung, cincin, topi, dari bahan seadanya waktu itu. Karna aku masih di TK, jadi baru itu pengajaran yang aku dapat.


Aku pikir kamu akan senang dengan accessories yang aku kirim.


Karna hanya anak-anak lebih kecil dari usia ku yang bisa aku suruh-suruh, jadi aku manfaatkan mereka dengan menyogok uang buat jajan.


Bahkan diam-diam menghubungi HP kamu juga gak bisa. Ternyata Melan bilang, diluar jam sekolah HP kamu parkir di dalam kamar.


Sampai sejauh ini pun aku tidak tau harus bersikap bagaimana. Terlagi dengan sikap ummi yang sudah lebih dulu overthinking sama kamu. Kamu yang tidak pernah mempercayai aku lagi.


Sekalipun begitu perasaan ku masih tetap sama.


Melihat mu dari jauh, hanya itu yang aku bisa. Bahkan untuk menegur sapa saja sekarang aku tidak berani. Aku memang terlalu pengecut.


Tapi aku tetap menjaga mu dalam do'a ku. Aku selalu lembut menyebut nama mu di hadapan Rabb ku.


Aku berharap masih ada maaf dari mu untuk ku. Bahkan aku berharap masih ada tempat untuk ku dihati mu.


Mungkin belum saat ini, tapi suatu saat nanti, semoga Allah takdirkan kita untuk berjodoh.


Aku tidak akan terus diam. Aku akan menjemput mu dengan pinangan"


Sudah tidak ada kalimat lagi yang dia ucapkan. Bagus, kalimat terahir mengenai hati.


Aku yang ingin membuat kalimat ku terkesan dalam, justru kalimat dia yang menancap dalam di hati juga pikiran.


Sampai aku tidak tau lagi bagaimana harus menanggapi ucapan dia. Aku butuh waktu untuk mencerna setiap kalimatnya.


Sepertinya kali ini dia mengatakan yang sebenarnya.


Setelah pengungkapan kami berdua, kami sama diam. Hanya menatap kedepan sembari memainkan HP. Sudah dipastikan kami tidak akan berani saling menatap.


Beruntung ada ikan yang menari-nari sejak tadi.


Melan juga kenapa tak kunjung datang, apa ini rencana dia, sengaja membuat aku bicara berdua dengan kakaknya?!


Panjang umur, dia datang dengan membawa nampan ditangan. Berisi makanan dan minuman yang tadi sudah kami pesan.


Tanpa berkata, langsung aku sambar gelas berisi es jeruk yang tadi aku pesan.


"haus banget yaaa"


tapi sudah tidak aku hiraukan lagi ucapan Melan. Bahkan dia belum selesai menurunkan makanan dari nampan, aku sudah mengangkat sendiri piring berisi waffle strawberry. Makanan manis akan memperbaiki mood.


Segera aku Lahab tanpa melihat mereka berdua lagi.


"Kay...


kenapa si nih anak. Kamu apakan dia kak?!"


Dian pun tidak memberi jawaban.


"sepertinya ada yang sudah aku lewatkan. Ada apa dengan kalian berdua ini"


Melan masih saja ngomong sendiri


"ya sudahlah. aku dianggurin. aku pulang aja"


"ewh... "


malah ngomongan barengan., aku pegang tangan kiri Melan, Dian pegang tangan kanan Melan.


"malah kompakan"


"kamu aja yang duduk sini. Aku balik duluan"


Piring ku sudah kosong, gelas juga sudah kosong. Aku segera berdiri dan ingin secepatnya menghilang.


Kendaraan online yang aku pesanpun juga sudah datang.


Sebelumnya aku menghampiri meja kasir untuk membayar makanan, ternyata semua makanan sudah di bayar.


********^_^*******


horrre... kejujuran sudah terungkap. Akan seperti apa ya cerita selanjutnya????

__ADS_1


Nantikan yaaa, jangan lupa tinggalkan jejak buat yang sudah mampir 😘


__ADS_2