KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Calon Suami


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu setengah jam, akhirnya sampai juga di gerbang Pesantren.


Seperti rencana awal, adek dan Melan hanya akan menunggu di luar Pesantren. Jadi jarak beberapa meter sebelum tiba di Pesantren kami bertukar mobil lebih dulu.


Saat aku datang mobil Siska sudah terparkir di halaman depan. Itu artinya dia sudah datang lebih dulu.


Tadi sempat menghubungi ku, awalnya mau mampir dulu ke rumah. Tapi setelah aku bilang kalau aku akan di antar oleh Dian, dia langsung membatalkan rencana.


"huh, yang udah punya calon pendamping hidup" kalimat Siska menyambut ku dengan helaan nafas yang berat begitu aku memasuki teras paviliun.


"assalamu'alaikum" ucap ku sambil cengar-cengir. Tak tahan menyembunyikan segala rasa bahagia ini dari Siska. Memeluknya erat dan penuh semangat.


"iya-iya. Selamat ya buat kalian. Akhirnya dapat titik terang juga" ucapan selamat dari Siska untuk kesekian kalinya.


"ekhem" Dian berdehem,membuyarkan kemesraan antara aku dan Siska.


"berapa hari sih gak ketemu, sepertinya rindu berat" goda Dian.


"gak usah ngiri gitu. Bilang aja kalo mau di peluk juga sama Kayra" ucap Siska, tanpa mendapat tanggapan dari Dian.


"ini tasnya mau ditaruh mana? " tanya Dian sambil terus berdiri memegangi tas ku.


Lalu aku meraihnya dari tangan Dian dan segera membawa masuk ke dalam kamar.


"temenin ke ummi yok, kangen juga beberapa hari tidak bertemu" aku menggandeng tangan Siska. Artinya tidak ada penolakan. Aku masih merasa sungkan jika harus berdua dengan Dian saja menemui beliau.


"kangen sama ummi, apa anaknya? " Siska malah menggoda. Padahal jelas-jelas aku sudah menentukan pilihan.


"Siska.... lihat kondisi deh. Jangan sampai setelah ini Dian meminta ku untuk kembali ke rumah" aku mencubit kecil pinggang Siska.


Dian yang masih setia men tenteng oleh-oleh yang tadi kami beli, berdiri mematung di samping mobil. Menatap lekat ke arah aku dan Siska.


"ngobrolin apa sih, sepertinya seru sekali" tanya Dian begitu kami sudah jalan bersama menuju kediaman Ummi.


"rahasia perempuan.


Jangan bilang kamu cemburu juga sama aq, Dian"


"cemburu, kalo kamu menjerumuskan Kayra pada cowok lain"


Aku hanya diam mendengar ocehan Dian dan Siska. Anggap saja itu bentuk keharmonisan mereka. Namanya juga Siska, cowok mana sih yang gak di ajak ribut?


Setelah dulu, pengalaman pahitnya bersama Indra di masa SMA, membuat dia menjadi dingin dan sedikit kasar pada cowok.

__ADS_1


"alhamdulillah, anak ummi satu lagi sudah kembali" sambut ummi begitu kami memasuki teras rumah. Padahal mengucap salam saja belum.


"assalamu'alaikum ummi" ummi sudah lebih dulu memeluk ku, seperti layaknya ibu dan anak yang sudah terpisah lama saja.


"iya-iya, Wa'alaikumsalam.


Ayo kita masuk, ngobrol di dalam. Ummi sudah kangen sekali ditinggal kalian dua hari saja" Ummi masih terus memegangi bahu ku dan membawa ku masuk ke dalam rumah. Sudah pasti langsung di ikuti oleh Dian dan Siska.


"ummi ambilkan minum ya untuk kalian"


"tidak ummi, jangan.


Ummi duduk saja, kita mengobrol" kata ku, mencegah.


"kalian ini selalu tidak mau kalau dibuat kan minum, tidak enak ya? " tanya ummi sembari kembali dengan membawa minuman gelas air mineral.


"bukan begitu ummi. Ummi tidak perlu repot" jawab ku menjelaskan, tidak mau jika ummi salah faham.


"yasudah kalau begitu. Minum ini saja.


Sekarang ayo ceritakan, bagaimana liburan kalian berdua di rumah. Tadi ummi belum sempat mengobrol dengan Siska. Dia datang tepat adzan magrib" Ummi terus menanyai kami berdua, sampai lupa ada seseorang yang lain turut bersama kami.


"astagfirullah, ummi sampai lupa.


"calon suami Kayra, Ummi" dengan lantang Dian langit menjawab.


Sesaat wajah ummi terlihat menegang. Kaget, itu sudah pasti. Karena aku tidak mengatakan apapun sebelum kepulangan ku kemarin. Jangankan untuk memberi tau ummi, bahkan aku sendiri saja tidak tau menau.


"Dua hari ijin berlibur, pulang-pulang diantar calon suami" begitu kira-kira yang ada dalam pikiran Ummi.


"ekhm, iya Ummi. Kenalkan ini Dian. Baru kemarin ini dia melamar.... "


"jadi, kamu ijin pulang kemarin untuk lamaran? " spontan Ummi menanggapi perkataan ku yang belum selesai aku ucapkan.


"bukan seperti itu ummi" aku jadi bingung akan menjelaskan pada Ummi seperti apa. Jika bercerita dari awal, sudah pasti sampai lewat tengah malam belum juga tamat.


"dadakan Ummi, dan murni hanya saya yang merencanakan" Dian angkat bicara. Lumayan lah, membantu ku untuk tidak bercerita panjang lebar.


"owh, begitu. Alhamdulillah, kalau memang jodoh kalian sudah dipertemukan. Kapan rencana pernikahan, apa sudah dekat juga? "


"owh, tidak Ummi. Mungkin setelah saya menyelesaikan S1" sanggah ku dengan cepat.


"iya Ummi, jadi saya titip Kayra dulu selama ada di pesantren ini" lanjut Dian.

__ADS_1


"tenang saja, pasti Ummi akan menjaga Kayra dengan baik"


Perbincangan kami terus mengalir, sampai waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Aku berusaha menyenggol sudut lengan Dian, memberi isyarat agar dia segera pamit. Tapi Ummi masih saja asik bercerita.


Sementara di luar, adek sudah beberapa kali mengirimkan pesan.


Sampai akhir nya ada suara mobil datang, dan ternyata itu ustadz Billal.


Saat Ummi berdiri untuk menyambut kepulangan ustadz Billal, barulah kami semua ikut berdiri untuk berpamitan.


"iya-iya, sudah malam ya. Yasudah, kamu hati-hati ya.


Siapa tadi, nak Dian ya? "


"ya Ummi"


"assalamu'alaikum" ucap kami bertiga serempak.


"mari ustadz" Siska menyapa.


Sementara aku dan Dian hanya tersenyum kecil.


Kami bertiga berjalan keluar Pesantren. Mengantarkan Dian menuju mobilnya. Sudah pasti wajah adek dan Melan siap mengomel.


Tapi sebelum itu terjadi, Dian berhasil menjinakkan mereka dengan mengiming-iming belanja gratis.


"yang di tunggu datang, kok malah pulang" aku menggoda Dian, sebelum kami berpisah.


"yang penting Ummi sudah tau. Sudah pasti Ummi tidak akan menyimpan berita ini begitu saja.


Aku gak tega melihat wajah patah hati beliau"


Sontak aku tertawa mendengar kalimat terakhir Dian. Bisa saja dia, mentang-mentang dirinya yang sudah menang.


Padahal justru dia sendiri yang pernah kelabakan karena cemburu pada ustadz Billal.


"yasudah, Hati-hati di jalan"


"kamu cepet tidur, gak usah curhat sampai tengah malam" seakan dia tau saja kalau sudah pasti aku akan berbagi kebahagiaan ini bersama Siska.


Sementara aku dan Dian mengobrol berdua, tiga penunggu lainnya asik mengobrol sendiri. Merencanakan apa saja yang akan dibeli, guna memalak Dian. Meminta bonus karena sudah setia menjadi obat nyamuk, sejak kemarin.


________________TBC_______________'

__ADS_1


__ADS_2