
Mata kuliah berakhir pukul dua siang.
Berbeda dengan biasanya, saat emosi meluap-luap bawaanya pengen makan terus. Kali ini aku sama sekali tidak berselera untuk makan.
Aku sangat penasaran, nasehat apa yang akan mama sampaikan setelah mendengar berita yang aku bawa.
Sungguh ini di luar kepala ku.
Bagaimana juga reaksi Dian jika aku memberi tahu ada seseorang yang melamar ku (anggap saja begitu).
Saat dalam perjalanan pulang aku mencoba menghubungi Dian.
Setelah apa yang terjadi kemarin, aku merasa ada seseorang yang pantas mendengar keluh ku, selain mama.
Mungkin kemarin aku berkata padanya "aku bisa mengatasi sendiri" tapi tidak untuk kali ini. Hati ku butuh penguat, butuh suntikan semangat untuk melewati ini semua.
Di depan ku memang ada supir, tapi tidak lagi aku hiraukan.
Aku menelpon Dian dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Spontan jawaban dia
"aku aja yang menikahi kamu sekarang juga. Daripada kamu di miliki orang lain"
Hal konyol apa lagi itu. Bisa dilalap mentah-mentah aku sama ustadzah Zia. Terkadang emosi memang bisa membuat pikiran seseorang tidak lagi normal.
Setelah percakapan panjang ku matikan sambungan telepon. Aku juga memberi tahu jika saat ini dalam perjalanan pulang ke rumah.
Taxi online yang aku naiki memasuki halaman butik. Ku pandangi sesaat halaman rumah yang beberapa bulan ini telah aku tinggalkan. Tidak ada yang berubah.
Sampai mama menyadari bahwa anak gadisnya pulang.
"Kayra, sayang" mama menghujani ku dengan ciuman. Sudah pasti mama merindukan aku, begitupun dengan aku.
Setelah itu aku menyapa para pegawai mama yang sudah bertambah menjadi empat orang, setelah sebelumnya hanya dua orang.
"Lagi ramai banget yah ma, sampai nambah pegawai" tanya ku ingin tahu.
"kamu lupa kalau sebentar lagi resepsi pernikahan Maryam sama dosen kamu itu? " mama menjawab dengan antusias.
"owh, jadi pesen sama mama gaun-gaun nya"
"bukan hanya gaun pengantin, tapi semua baju keluarga. Keluarga dua mempelai" kali ini mama menekankan pada kata 'dua keluarga'. Itu artinya pesanan memang benar-benar banyak.
__ADS_1
"jadi ini yang bikin mama sampai lupa sama anak gadisnya" ucap ku sedikit cemberut.
"yah bukan begitu sayang, tapi kita kan memang harus amanah dengan pekerjaan. Apalagi deadline sudah mendesak"
Kali ini aku dan mama sudah memasuki rumah. Aku berbaring di sofa sejenak. Rasanya rindu sekali dengan tempat ini.
"adek pulang jam berapa ma" tak lupa aku merindukan adek terbawel, tercentil, terperhatian. Ter... ter... ter... lah pokoknya. Sepi juga gak barengan sama dia.
"biasanya sih jam 3. Kamu sudah kasih kabar kalau pulang hari ini? "
"gak mah" jawab ku singkat.
"mama masak apa? " aku susul mama ke dapur yang sedang menyiapkan cake.
"ada kare rajungan. Kakak belum makan? "
"belum ma" tak berfikir panjang aku langsung mengambil piring. Mungkin bukan aku tidak berselera makan, melainkan sedang tidak tertarik dengan masakan luar.
"tumben" tanya mama menyelidiki. Kemudian nampak memperhatikan tubuh ku.
"kenapa ma? Kayra makin langsing, apa makin berisi? " tanya ku menggoda.
"makin berisik" jawab mama sekilas.
"gak ma. Mau tidur di rumah, kangen kasur"
"sudah ijin? kenapa gak pulang bareng sama Siska? "
"belum ma. Kayra telepon Siska nanti, biar di sampaikan sama ummi"
"tumben kakak pulang dadakan, gak barengan sama Siska. Ada masalah? " tanya mama mulai menyelidiki.
Aku tersedak, dengan segera mama mengambil kan air minum.
"mama, anak masih makan diajak ngobrol terus" papa mendekati meja makan.
"papa sudah pulang, tumben?" tanya ku.
"iya, firasat mungkin kalau anak gadis nya pulang" papa menggoda.
"sudah lupa ya sekarang sama Papa, gak pernah telepon" papa menghardik.
__ADS_1
"Kayra telepon mama gak pernah di angkat pa. Kayra juga lagi padat jadwal di kampus. Kayra mau ikut kelas akselerasi. Terus juga pak Nicholas meminta Kayra untuk jadi asisten beliau. Cuti menjelang pernikahan sampai setelah pernikahan"
"waaah, sudah hebat ya anak papa ini. Tapi kenapa harus kamu, apa tidak ada dosen pengganti? "
"dosen pengganti tetap ada kok pa"
Papa duduk menemani aku menghabiskan makan. Tadi menegur mama karena mengajak ku ngobrol, tapi sekarang papa sendiri yang terus memberi ku pertanyaan. Mungkin rasa rindu menjadikan papa lupa.
Andaikan mereka tau, aku juga merindukan rumah ini. Tapi, haruskah aku kembali lari? rasanya terlalu plinplan diri ku ini.
Saat aku berbincang dengan papa, mama kembali ke butik. Hingga jam menunjukkan pukul empat sore, adek datang meramaikan rumah. Tak lama di susul oleh mama, yang meninggalkan tempat dinas lebih cepat.
Suasana riuh yang sangat aku rindukan. Pertambahan usia belum juga menjadikan aku dan adek berubah sifat juga sikap saat di rumah.
Hingga adzan magrib di kumandangkan, kami semua berangkat ke masjid bersama. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Akhirnya aku menginjakkan kaki kembali di masjid ini.
Entah apa yang akan terjadi, semoga saja ibadah ini tidak dinilai untuk urusan dunia semata. Bukankah ini tempat umum, bahkan ini rumah Allah. Kenapa aku harus takut atau enggan untuk datang, hanya karena seseorang.
Allah Maha Tau segalanya. Semoga ustadzah Zia segera mendapatkan hidayah.
Jam makan malam tiba. Dan ini waktu yang paling aku tunggu untuk menyampaikan tujuan dari Kepulangan ku.
"ma,misal dapat menantu Ustad,lulusan S2 Turki. Mama gimana? " tanya ku sembari membantu mama menata menu diatas meja.
"gak gimana-gimana sih. Kalau memang itu jodoh terbaik untuk anak mama, mama bisa apa" tanggapan mama dengan entengnya.
"kalau anak mama saat ini di lamar orang dan dalam waktu dekat akan menikah" aku tak lagi bercanda mengingat mama yang menanggapi pembicaraan ku dengan santai saja.
"hah, kakak serius? " justru adek yang langsung menyambar dengan nada tinggi, karena kagetnya.
"palingan juga bercanda. Kakak kamu mana berani nikah" ternyata mama yang justru menanggapi pembicaraan ku dengan bercanda.
"kalo Kayra serius, apa Mama dan Papa akan mengijinkan? " aku terus bertanya tentang perkara inti.
"rupanya ini yang membuat kakak pulang" ahkirnya Papa yang menanggapi ku dengan serius.
Aku mengangguk sembari menarik bangku dan duduk di sebelah papa.
"eh, kakak ini. Pulang-pulang bercanda saja"
"Kayra tidak bercanda mama" ucap ku sekali lagi meyakinkan semua orang.
__ADS_1
"yasudah kita makan dulu. Keburu dingin masakannya" Papa menghentikan pembicaraan kami dan segera memulai acara makan malam.
__________________tbc________________