
"hay, ini kalian?????
Ahhhh, aku kangen sekali" ucap ku penuh semangat kemudian menyambut mereka dengan pelukan.
Sementara yang duduk di samping ku berdehem berulang kali sembari bergeming "yang duduk di sini dari tadi aja gak di peluk"
Aku mencubit pinggang Dian karena masih juga menggerutu karena tidak ikut mendapatkan pelukan.
"gak sungguhan pengen di peluk juga kan? " bisik ku.
"sungguhan lah" jawab Dian lirih
"owh, jadi udah siap nih kalo besok nikah? " gertak ku kembali.
"siap aja. Nikah sekarang juga siap" aist, kenapa jadi aku yang mengkerut?
Aku jadi kalah telak kalau gertak-gertakan soal ini.
Akhirnya aku kembali fokus pada kedatangan Meysa dan Melda.
Sejak siang dalam grup Chat tidak ada pembahasan bahwa mereka akan ikut serta dalam kencan ini. Tapi tidak mungkin kalau mereka kebetulan datang kemari.
Entah siapa yang merencanakan ini, Melan ataukah Dian, terserah lah. Yang penting aku bisa melepaskan rindu bersama mereka.
Kencan dengan membawa adek dan juga Melan, itu saja sudah cukup aneh. Bagaimana tidak, bukankah yang di sebut kencan itu saat sepasang kekasih mengadakan dinner romantis atau sejenis nya.
Sementara ini?
Ini namanya 'reuni'. Tapi tak apalah, kejutan ini juga tak kalah membuat ku bahagia. Sepertinya Dian cukup tau dengan apa yang aku harapkan.
"rencana kamu lagi ini? " setelah puas melepas rindu bersama Meysa dan Melda, kini aku kembali menatap Dian. Yang tadi sempat teracuhkan.
"sedikit. Aku hanya menyetujui, Melan yang minta" jawab Dian tegas.
Setelah sekian purnama akhirnya rasa penasaran Meysa dan Melda tentang sosok yang bernama Dian, terbayar juga. Untuk pertama kalinya mereka menatap Dian dengan sangat jelas. Setelah sebelumnya sempat bertemu tanpa sengaja dan itupun memberikan insiden yang tidak menyenangkan.
Mereka saling berjabat tangan dan berkenalan. Jika sebelum nya kata umpatan yang mereka lontarkan saat pertemuan tidak sengaja kala itu, kini mereka berjabat tangan sembari mengulum senyuman.
"ekhm, cuma sahabat aku aja nih yang di undang. Sahabat kamu gak ada yang pengen dateng gitu? " kini giliran aku yang mengajukan pertanyaan. Rasanya tidak adil jika hanya aku saja yang dibuat bahagia olehnya.
__ADS_1
"sebenarnya ada satu, yang sangat ingin datang untuk mengucapkan 'selamat' atas kebersamaan kita ini. Tapi dia belum mempunyai keberanian untuk itu" Dian berkata dengan terbata-bata.
"kenapa gak berani, kan kita ramai-ramai ini"
Antara iya dan tidak untuk berkata, Dian melihat ke arah adek seperti sedang meminta sebuah persetujuan. Sejak kapan mereka berdua seklop itu? tanya ku dalam hati.
Kemudian adek menggelengkan kepala.
"mungkin lain kali, kita berkumpul bersama teman-teman ku" kata Dian memberikan jawaban.
Sementara Melan, Meysa dan Melda, tanpa di suruhpun sudah ikut bergabung mencicipi hidangan yang ada di meja.
Hanya adek saja yang mencicipi sedikit cake. Dia masih begitu kekeh untuk menjaga prinsip 'tidak makan berat di atas jam 5 sore'.
Sebenarnya aku masih sedikit penasaran, sejak kapan adek menjadi sedekat itu sama Dian. Sampai-sampai dia ikut mengenal sahabat Dian.
Tapi yasudah lah, seperti bukan waktu yang tepat untuk membahas tentang ini. Lalu akupun ikut bergabung kembali menyantap makanan yang masih begitu banyak.
"nasi tumpeng nya boleh di potong gak nih? " tanya Melan.
"ambil aja. Tapi yang pertama buat yang punya hajat donk" kata Dian.
"iya-iya. Buat pujaan hati kakak yang pertama" timpal Melan sedikit sewot. Mungkin saja dia sedikit cemburu karena aku mendapatkan begitu banyak kejutan dari kakak sepupunya itu.
"gak usah tergoda dek, belum laku. Jadi harus tetep jaga postur tubuh. OK" timpal Dian seolah mendukung program diet adek.
"ye....enak aja kak Dian. Banyak ya yang daftar, antri-antri malah" ucap adek tak terima dikatakan belum laku oleh Dian.
Setelah sekian menit kami semua menyantap hidangan, akhirnya isi meja bersih juga. Andai saja tadi itu hanya kami berdua yang makan, sudah pasti setengah saja tidak akan tersentuh.
Setelah perut kenyang kami semua kembali berbincang. Beruntung Dian termasuk orang yang pandai dalam berinteraksi, jadi sekali pun dia cowok seorang diri tidak menjadikan dia terabaikan.
Kini waktu menunjukkan pukul 20.30
Melan,Melda, Meysa juga adek memutuskan untuk berfoto-foto terlebih dahulu sebelum meninggalkan tempat.
Aku dan Dian tak mau ketinggalan, kamipun juga melakukan hal yang sama. Hanya saja berfoto di obyek yang berbeda. Setelah sebelumnya sempat bergabung berfoto bersama 3M.
Malam ini langit bertaburan bintang. Indah sekali. Seakan mampu melukiskan apa yang tengah aku rasakan.
__ADS_1
Sayangnya belum halal, jadi masih harus ada pembatasan yang kokoh supaya setan tidak mampu memperdaya.
Sejauh ini saja aku sudah sangat bersyukur dengan kasih sayang Tuhan yang begitu luar biasa.
Bisa tersenyum bahagia bersama dia yang selama ini sudah memperjuangkan ku. Dengan segala pengorbanan yang mungkin dulu justru mendapatkan kebencian dari ku.
Rasanya aku menyesal dulu pernah sangat membenci dia. Rasanya aku menyesal dulu menatap sebelah mata apa yang dia perjuangkan.
Tapi...jika dulu aku tidak merasakan semua kepahitan itu,mungkin saja saat ini aku tidak akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa seperti ini.
Janji Tuhan itu pasti, setelah ada kesulitan pasti akan ada kemudahan. Setelah ada kesedihan pasti akan ada kebahagiaan. Dan kini betapa aku merasakan itu semua nyata.
Seakan malam ini hanya menjadi milik kami berdua. Tawa riuh anak-anak dalam berfoto sama sekali tidak mengganggu kebersamaan kami.
Tak ku sangka aku bisa kembali bersandar pada pundak lelaki yang dulu menjadi pahlawan kecil ku.
Saat aku terjatuh ketika bermain,atau aku menangis saat di olok oleh teman. Dia-lah yang selalu menjadi menolong ku.
Mungkin dulu aku belum tau apa arti dari itu semua. Namun kini, dengan penuh kesadaran aku kembali bersandar pada pundak yang sama.
Rupanya memang dia-lah orang yang Tuhan ciptakan untuk menemani hidup ku.
Harus kami lalui jalan yang panjang dan berliku lebih dulu sebelum pada akhir nya kembali pada titik yang sama. Itulah jodoh, tidak ada yang tau. Tapi kalau memang sudah jodoh, juga tidak akan kemana.
Mungkin hingga nanti, kami akan tetap mengenang kisah ini.
Kisah dari awal kami bersama, saat mulai terpisah kan, lalu badaipun mulai berdatangan menghantam, hingga pada akhirnya kami bisa sampai pada pelabuhan.
Cerita-cerita itu mungkin akan selamanya datang untuk ber-reuni dalam hidup kami.
Seperti saat ini, kami kembali mengenang masa-masa itu. Rasanya lucu sekali.
Tak terasa mereka berempat sudah menunggu sampai terkantuk-kantuk.
"kak, sudah belum pacaran nya? mau langsung nikah ya besok? " panggilan adek membuyarkan semua ingatan tentang masalau.
"astagfirullah, udah hampir jam 10" aku tersentak kaget begitu melihat jam.
"untung aja gak di usir sama penjaga cafe" celetuk adek.
__ADS_1
"yaudah ayok pulang" ajak Dian.
Tak lupa aku kembali ke meja untuk mengemasi barang-barang. Juga membawa serta bucket bunga yang belum juga menunjukkan tanda-tanda layu. Mungkin setelah ini akan aku awetkan, supaya kebahagiaan malam ini tidak akan bernah layu juga.