
Menyaksikan aku yang datang dengan wajah sembab dan ada bekas lebam di pipi kiri, membuat Melan langsung naik pitam.
"Kay, jangan bilang..... " ucap Melan seakan ia tau sesuatu
"iya tuh, perbuatan sodara kamu" Melda yang menjawab
kini semua berhamburan memeluk ku bersamaan.
Sementara aku masih belum bisa berkata apapun, rasanya masih terlalu sakit. Luar dalam.
Hingga pelukan kami harus terlepas karena waiters datang dengan membawa makanan yang kami pesan.
"jangan bilang gak jadi makan lagi" kata Melan, mengingat kejadian waktu itu dimana aku pulang begitu saja setelah berdebat dengan Dian.
"makan Kay, kamu kan hoby makan. Lupakan masalah-masalah receh macam itu" Siska memperingatkan. Pasalnya beberapa hari ini aku sendiri yang berkata padanya "apapun yang terjadi soal Dian itu tidak akan mempengaruhi hidup ku."
Melihat teman-teman makan dengan lahabnya mana mungkin aku tidak tergoda. Memang sudah seharusnya, aku tidak menganggap penting perkara apapun yang berhubungan dengan Dian.
Sudah cukup sial aku mengenal dia, tidak seharusnya aku melibatkan diri terlalu jauh lagi pada kehidupan Dian.
Lupakan sesaat tentang Dian, waktu singkat ini terlalu berharga untuk aku sia-siakan dalam kesedihan. Belum tentu bulan depan bisa berkumpul lagi bersama mereka.
Kami semua begitu menikmati pesanan masing-masing.
Memang tak salah jika kedai ini dijadikan langganan, masakannya memanjakan lidah sekali.
Kami makan dengan saling mencicipi, jadi saling tahu rasa dari semua menu yang dipesan.
"sorry gays, setelah ini kita pulang ya" ucap Melan memecah keheningan
"yah, baru jam segini Mel" ada Siska yang masih keberatan
"aku uda disuruh pulang nih, ada keperluan" Melan kembali menjelaskan
jujur saja aku sendiri sudah kehilangan mood, tapi jika teman-teman yang lain masih ingin menghabiskan waktu bersama, aku tidak keberatan.
"kasihan Kayra gays,dia butuh mood booster" kata Melda
"aku pulang sendiri aja deh kalo gitu. Pesen ojek online" Melan bersih kekeh untuk pulang
"gimana Kay? " tanya Siska
"pulang aja yok, udah lewat Asar ini. Tapi kalian main di rumah ku, gimana? " aku memberi ide, kemudian disambut dengan kompak oleh teman-teman yang lain.
"setuju"
"setuju"
"setuju"
jawab mereka bersamaan.
"lepas maghrib kita pulang ya" kaya Melda
"ok"
"siap"
diikuti oleh Meysa dan Siska
Sebelum meninggalkan kedai kami menyempatkan untuk solat Ashar terlebih dahulu. Setelah itu kami bergegas untuk pulang.
Begitu mobil memasuki halaman terlihat mobil lain sedang terparkir, yang tidak lain adalah mobil kak Jo.
"aku duluan ya" Melan berpamitan.
begitu kami memasuki rumah, hanya ada adek dan kak Jo sedang di depan TV.
__ADS_1
"baru pulang" sapa kak Jo
"iya. Kakak dari tadi? " Siska yang menjawab, sementara aku masih dengan kepala tertunduk
"kak naik duluan ya, kebelet" seakan Meysa mengerti jika aku tidak ingin berlama-lama bertemu kak Jo
Kami langsung masuk ke dalam kamar. Baru juga Melda menutup pintu, sudah ada yang mengetuk dari luar
"kak Jo"
"Kayra mana"
sempat aku memberi isyarat jika tidak mau menemui kak Jo
"apa aku kasih tau tante.... "
"ada apa sih kak" akhirnya aku berdiri menemui kak Jo.
"bisa ngobrol sebentar"
aku ikuti langkah kak Jo menuju sofa
"kamu kenapa"
"kenapa apanya?"
"wajah kamu, apa kamu punya musuh lagi? "
karena kak Jo tau, percuma juga aku sembunyikan dengan menutupi memakai kerudung.
"ini lebam Kay, sampai biru begini. Siapa yang lakukan? "
"Kamu sudah bukan anak kecil lagi, kamu harus bisa membela diri sendiri. Lupakan cara kuno kamu di massa SMA dulu"
"Kayra jawab kakak.
"gak perlu kak. Kay baik-baik aja" jawab ku singkat
"seperti ini kamu bilang baik-baik aja. Ini sudah masuk ke ranah kekerasan Kay"
"kamu tunggu sini sebentar"
aku rasa ini terlalu rumit untuk aku ceritakan pada kak Jo. Kejadiannya sudah terlalu lama, kisah ini sudah terlalu panjang untuk kembali aku jabarkan dari awal.
"sini, aku bantu kompres" kak Jo kembali dengan diikuti oleh adek. Membawa es batu dan mengkompres pipi ku yang lebam. Dengan telaten ia lakukan itu, sama seperti setahun silam saat kepala ku yang benjol.
"kenapa lihat kakak seperti itu" kak Jo menyadari jika aku memperhatikan dirinya.
"terimakasih kak"
hanya dibalas senyuman oleh kak Jo
"tumben gak dibelain sama sahabat-sahabat kakak" kata adek
dan lagi, kak Jo memberi isyarat pada adek untuk tidak memberi ku banyak pertanyaan dulu.
"ini tidak akan hilang dalam sebentar. Oleskan minyak untuk menghilangkan bekas kebiruan" kak Jo memberi tahu.
"dasar kesayangan, belain aja terus" ucap adek pada kak Jo sembari menimpuk kak Jo menggunakan bantal sofa.
Mungkin karena lamanya, Teman-teman sampai menyusul ke ruang tamu.
"hemp, pantesan gak balik-balik kamar. sama pangeran Johan rupanya" goda Siska yang selalu membuat ribut saat bertemu kak Jo.
"eh diem ya.
Lagian kamu kemana aja, Kayra bisa seperti ini gak di belain sama kamu? " tegur kak Jo
__ADS_1
"eh, dikira aku bodyguard nya Kayra. Ke mana-mana mesti dikawal" Siska menyanggah
"lha, Khan emang pergi sama kamu. Gimana sih kamu ini " Kak Jo masih tak mau kalah
"lanjutin deh ributnya, sahabat yang aneh" gumam adek kemudian berdiri
"kak Melda sama kak Meysa betah amat sahabatan sama mereka" lanjut adek kemudian pergi menuruni tangga.
"gimana ceritanya Kayra bisa kayak gini" kak Jo justru bertanya pada teman-teman
"bukan seperti yang kakak fikirkan. Aku gak punya musuh. Ini terlalu rumit untuk kakak tau"
aku tidak bisa membiarkan teman-teman menceritakan yang sebenarnya.
"serumit apa sih Kay, sampai aku tidak bisa mengerti? "
"maaf kak, untuk kali ini aku tidak bisa berbagi cerita sama kakak"
"baiklah kalo gitu.
Sudah sore mungkin papa sudah akan pulang"
ucap kak Jo
"kak" aku sempat menahan tangannya sebelum dia beranjak pergi
"terimakasih" ucap ku. Aku benar-benar merasa banyak hutang budi pada kak Jo
"itu aja? "
dan ku balas dengan anggukan kepala.
"yaudah. Aku duluan ya, semua" pergilah kak Jo menuruni anak tangga.
"tumben sopan" Siska berteriak.
Tak ada jawaban, sepertinya kak Jo sudah kehilangan mood untuk berdebat dengan Siska.
"kenapa sama dia? " tanya Siska, yang sudah pasti tidak akan mendapat jawaban dari aku ataupun Melda dan Meysa.
"kamu sih Kay, cowok sebaik itu di cuekin terus" Siska masih saja berbicara sendiri.
"ngomong sekali lagi, aku timpuk nih pakek bantal" ucap Meysa. Dari kami berempat sepertinya baru aku yang benar-benar menerima perubahan sikap Siska.
"aku gak habis fikir aja, salah aku tuh dimana. Jadi serba salah tau gak. Aku mesti bersikap gimana biar bisa keluar dari kemelut ibu dan anak itu? "
"dasar, ibu dan anak sama-sama nyusahin" ucap Siska dengan nada kesal.
"awas aja, biar aku labrak besok si Dian di kampus" Siska kembali mengeluarkan kekesalannya.
"SISKA" teriak Melda dan Meysa bersamaan.
sementara aku masih berfikir keras ditengah keributan tiga sahabat ku itu.
____________^_^___________
puh puh, kasihan Siska kena marah terus sama 3M.
lebih kasihan lagi Kayra yah, kena tampar sampai memar.
awh, ya sudahlah ya. Biarkan mereka berakting dengan peran mereka masing-masing.
Maafkan author juga yang suka telat up, masih bertugas dengan peran di dunia nyata nih.
jangan lupa tinggalin jejak ya, vote like and komend. Biar makin semangat up up nya
terimakasih untuk yang masih setia mampir 😍 jangan lupa nantikan kelanjutan kisahnya 😘😘
__ADS_1