KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Lembur tugas


__ADS_3

Berbeda dari weekend sebelum-sebelumnya,dimana aku sering kali pergi jalan-jalan atau sekedar jajan sama Siska. Hari ini aku harus disibukkan oleh tumpukan kertas tugas. Bahkan janji ku untuk menemani Siska jalan-jalan sekaligus menjadi supir pribadi dia belum bisa aku penuhi. Justru aku yang merepotkan dia lagi dan lagi. Mau tidak mau aku minta dia untuk menemaniku mengerjakan tugas dari pak Nicholas. Bisa-bisa aku kerjakan dalam mimpi jika hanya mengerjakan sendirian tugas yang segitu banyak.


"Kay, kamu masih punya hutang jawaban ya sama aku" ucap Siska di sela-sela mengerjakan


"hutang lagi Sis. Perasaan banyak amat hutang ku sama kamu" jawab ku sambil tetap memikirkan jawaban dari soal


"hahahaha, bisa aja kamu" Siska malah tertawa mendengar aku menyebutkan kata 'hutang'


"iya deh iya, terserah kamu aja mau jawab atau tidak" lanjutnya.


"beneran deh. Pertanyaan yang mana lagi sih"


"soal asdos yang waktu itu"


"owh, itu"


"nah kan, gak dijawab lagi"


"iya nanti waktu break aku kasih tau. Takut salah nih sama jawaban kalau fokusnya dibagi-bagi"


"janji ya"


"ya ingetin lagi"


Dimulai dari jam 8 pagi sampai saat ini sudah hampir jam 11 siang baru 3 pertanyaan yang terjawab. "Ini anak-anak sengaja mengerjai aku dengan memberikan pertanyaan yang jawabannya panjang-panjang atau gimana ya?" pikir ku dalam hati


Sampai adzan dzuhur dikumandangkan baru 5 soal dari 40 soal yang terjawab. Mantap. Lantas bagaimana rasanya kalau jadi asdos?


"kita solat dzuhur dulu yok" aku mengajak Siska


"sebentar lah, lurusin pinggang sama punggung" ucap Siska sambil mengeliat kan tubuhnya.


"yaudah kita solat gantian. Kamu rebahan dulu gih" ucap ku sembari berjalan ke kamar mandi


Tak banyak waktu yang kami habiskan untuk istirahat mengingat lembar pertanyaan yang masih begitu banyak. Selesai solat kami segera menuruni tangga untuk makan siang. Semua sudah berkumpul di depan meja saat kami turun.


"siang om, tante. Hallo adek" sapa Siska. Dia sempat bercerita bahwa merasa begitu nyaman di rumah ini. Hangat, penuh kekeluargaan. Berbeda sekali dengan suasana di rumahnya. Tidak mengenal waktu makan, hari efektif ataupun libur. Meja makan selalu kosong.


"ayo kita makan dulu sayang" ucap mama membalas sapaan Siska. Aku jadi merasa memiliki satu anggota keluarga lagi. Sayangnya tidak tinggal satu atap. Keluarga ku pun memperlakukan Siska dengan hangat.


Berfikir itu mengeluarkan banyak energi ya?


dan itu membuat aku juga Siska makan dengan begitu Lahab. Atau memang karena masakan mama yang enak?


"lupa diet kak" kalimat adek yang seringkali membuyarkan fokus makan.


"massa pertumbuhan" jawab ku cuek kali ini.


ahirnya meja kembali hening, sementara mama yang melihat ke arah kami hanya menggelengkan kepala.


"Siska mau nambah lagi, ayo gak usah sungkan"


kalau aku gak perlu ditawari juga pasti nambah, balado cumi plus tumis kangkung. Masakan mama selalu bikin khilaf, apalagi disaat seperti ini. Butuh banyak asupan energi.


Selesai di meja makan aku dan Siska menuju ke teras untuk mencari udara segar sejenak.


Dan ini saatnya bagi ku untuk membayar hutang, menjawab pertanyaan Siska tentang asdos. Panjang lebar aku ceritakan sembari menatap bunga-bunga cantik yang sedang bermekaran.

__ADS_1


Setelah mendengar semua penuturan ku, yang mendengar hanya menganggukkan kepala saja, menyebalkan. Tau begitu gak perlu di jawab tadi. Membuang energi bukan?


Kemudian mata kami saling memandang saat melihat mobil kak Jo menuju halaman.


Kali ini aku tidak perlu membuka dan menutup kan pintu gerbang untuknya, karena sudah di pasang sensor otomatis pada pintu gerbang.


datang di waktu yang tidak tepat, gerutu ku dalam hati. Entah kenapa beberapa hari ini aku jadi merasa sedikit sensi terhadap kak Jo.


"pantes gak ada jawaban. Orangnya disini ternyata" ucap kak Jo saat dia turun dari mobil.


"kenapa kak? maaf aku lagi sibuk sekali hari ini, gak ada waktu" terpaksa aku beri penekanan pada kalimat terakhir supaya kak Jo lebih faham.


"ok. Aku mau ketemu Nahla" jawabnya santai


"owh, ada di dalam masuk"


sementara aku dan Siska sudah berjalan masuk lebih dulu.


Adek yang saat ini sedang di depan TV sudah sangat tau kedatangan kak Jo. Jadi aku tidak perlu memberi tau apapun lagi dan langsung menuju ke atas.


"yakin dia gak bakalan ganggu Kay" tanya Siska.


"kita pindah ke kamar aja kerjain nya"


Satu jam berjalan, dua jam berjalan dan suasana aman terkendali. Bahkan sejak beberapa menit yang lalu sudah tidak aku dengar lagi suara kak Jo.


"mau kerjain sampai kapan Kay, udah gak kuat nih mata aku" Siska menggerutu


"sampai selesai lah" ucap ku enteng yang membuat Siska langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"ampun deh, yang mau dijadiin asdos. Semangat 45" ucapnya dengan nada lirih yang menandakan dia benar-benar mengantuk.


tak lama kemudian sudah tidak ada lagi pergerakan dari Siska. Dapat dipastikan kalau dia sudah tidur.


Setelah mendengar Adzan Ashar aku turun untuk mengambil cake, sekedar untuk tenaga plus semangat tambahan.


Saat aku menuruni anak tangga terahir rumah nampak begitu sepi tak ada siapapun di bawah, tapi mobil kak Jo masih di depan.


Selesai mencicipi cake aku sempatkan untuk menelpon pak Nicholas


"assalamu'alaikum, pak sudah cek email dari saya? "


"minta tolong segera ya pak, karena jawaban dari soal panjang-panjang sekali pak. Siapa tau bisa dapat dispensasi begitu"


ucap ku dengan santai yang kemudian aku dibuat melongo dengan jawaban dari sebrang telepon


"kamu kira jualan apa, minta diskon terus. Upetinya mahal jadi ujiannya nya juga harus berkualitas"


"tapi kan saya tidak pernah minta dijadikan asdos pak, kuliah juga baru semester dua" ucap ku dengan nada menurun


melihat situasi dan kondisi yang aku tidak mungkin bisa untuk menawar lagi akhirnya aku menyerah dan menyudahi telepon.


Sementara aku masih penasaran kemana perginya semua orang. Begitu aku menginjakkan kaki di teras, nampak papa adek sama Kak Jo sedang duduk bersama di teras butik. Bukan pemandangan yang aneh melihat mereka duduk bertiga.


Setelah mengetahui itu aku kembali ke kamar untuk mandi juga solat Ashar.


Sepertinya bukan hanya Siska yang butuh istirahat, aku pun mulai merasa sangat mengantuk. Tapi sebelumnya aku bangunkan Siska dulu untuk solat Ashar.

__ADS_1


"kamu ini gimana sih. Aku disuruh bangun kamu malah tidur" protes Siska


"sebentar aja. Sambil nunggu kamu mandi juga solat Ashar"


Sebelum aku benar-benar tertidur, hanya berbaring sembari terus men scroll layar handphone yang sedari tadi aku abaikan.


Ada panggilan dari kak Jo juga beberapa pesan. Dilanjutkan pesan dari Dian, Melan, Remond pun turut hadir. Dan hanya pesan dari Melan yang aku jawab. Gak mau ribet dengan membalas pesan dari 3 cowok itu.


Disaat seperti ini waktu tidur yang sedikit tapi berkualitas lebih di butuhkan. Sudah aku set alarm setelah membalas pesan Melan. 15 menit cukup, sebelum adzan magrib di kumandangkan.


Saat aku bangun Siska tidak ada di kamar. Dia tidak membangun kan aku, pasti gak tega melihat aku yang bekerja ekstra.


"syukurlah kalo sudah bangun. Ada pak Nicholas di bawah" Siska masuk ke kamar dengan membawa berita yang membuat aku seketika meloncat dari atas kasur.


"serius, aku gak mimpi ini" tanya ku masih tidak percaya.


"iya, sudah ayo cepetan. Orangnya sudah nunggu dari tadi gara-gara kamu yang masih mollor"


dengan segera aku mencuci muka dan memakai kerudung.


Berikan senyuman termanis sebagai ganti karena beliau sudah rela menunggu kamu tidur .


Entah bisikan dari mana kalimat itu.


"maaf Pak sudah menunggu lama" ucap ku sembari mendekati tempat duduk beliau.


"baru kali ini ya dosen suruh nunggu mahasiswa nya" protes pak Nicholas.


"capek pak. Ada apa ya pak tiba-tiba kesini"


"saya antarkan buku untuk kamu jadikan acuan jawaban. Sebentar saya ambilkan dimobil"


aku ikuti pak Nicholas dari belakang, takut dikatain gak sopan lagi.


"terimakasih ya kamu sudah membantu bapak. Karena bapak masih harus bolak-balik ke Solo ini, ibu sedang sakit disana dan kondisi kurang baik"


deg, hati ku langsung tertunduk mendengar ucapan pak Nicholas. Gak tega untuk protes lagi.


"innalillahi, sakit apa pak. Semoga lekas mambaik ya pak, bapak beserta keluarga diberikan kesabaran"


"iya, kamu Do'akan saja ya. Saya minta maaf kalau sudah merepotkan kamu"


"sejak kapan dosen minta maaf sama mahasiswa nya pak? "


tanya ku yang membuat tangan pak Nicholas mendarat di jidat ku.


"aw, sakit pak"


Siska nampak memperhatikan dengan penuh pertanyaan.


"ok Kalau begitu, bapak pamit dulu. Mau langsung ke Solo ini"


"iya pak sebentar saya panggilkan mama sama papa"


mama dan papa segera keluar dari kamar begitu aku ketuk pintu dan mengatakan bahwa pak Nicholas akan undur diri.


Sudah pasti lembur ini, ditemani buku-buku tebal dari mas dosen.

__ADS_1


Begitu mobil pak Nicholas pergi aku dan Siska kembali ke kamar. Tak menunggu Siska mengajukan pertanyaan, ku beritahukan apa saja yang pak Nicholas katakan baru saja. Tidak ingin juga disangka ada hubungan khusus antara mahasiswa dengan dosen.


_______________^_^____________


__ADS_2