KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Tak Se-panas Kuah Soto


__ADS_3

Rumah masih begitu lengang saat aku dan Dian memasuki gerbang. Bahkan saat kami memasuki pintu pun. Maklum, hanya ada ummi dan abi di rumah. Tapi pintu rumah di biarkan terbuka, itu artinya mereka ada di rumah.


Setelah kejadian kemarin, Dian memutuskan untuk mengantar ku lebih dulu ke tempat kerja. Jadi kami pergi ke rumah ummi lebih pagi dengan menggunakan satu mobil saja.


"assalamualaikum" salam Dian.


Tanpa mendapat jawaban dari siapapun, Dian langsung menuju pintu kamar dan membuka kuncinya.


"gak ada orang ya?" aku masih celingukan berharap ada seseorang yang muncul.


Dian menarik tangan ku memasuki kamar saat aku berniat untuk melihat ummi ke dapur.


"apa lagi sayang, morning kiss nya kan sudah tadi. Aku mau lihat ummi"


"kapan kita akan bercinta di kamar ini?" dia masih saja menahan ku dalam pelukan.


"masih pagi, pikirannya udah kesana aja. Udah awh, nanti kita telat. Kapan-kapan aja bahas itu" aku mengurai tangan Dian dengan sedikit memaksa. Lalu keluar dari kamar meninggalkan dia sendiri.


Baru beberapa langkah aku mencium aroma harumnya masakan. Sehingga ku percepat langkah dengan semangat 45.


Rasanya rindu juga dengan rumah ini. Jauh sebelum ada insiden antara aku dan Dian, rumah ini sudah seperti rumah ketiga bagi ku, setelah rumah ku sendiri dan rumah Melan.


Aku dan Melan sering sekali bermain kesini sepulang sekolah. Karena di sini disediakan banyak buku bacaan. Ummi juga suka membuat kudapan dulu, bahkan Melan sering minta dibuatkan sesuai dan kami berdua yang menghabiskan.


"Rindu rumah ini, rindu bercanda sama ummi, rindu dengan makanan buatan ummi juga. Rindu dengan kasih sayang ummi yang pernah hilang"


"assalamualaikum" ku ucap salam begitu melihat sosok ibu mertua yang sempat menjadi musuh ku.


"waalaikumsalam.


Kapan datang nak, kenapa tidak memberi tau dulu"


Ku hampiri ummi dan meraih tangan beliau, lalu menciumnya dalam-dalam. Tangan yang beberapa tahum silam bisa mengantarkan ku pada surga Illahi, sebab ilmunya. Tangan yang beberapa tahun lalu sempat melukai ku dengan tamparan kerasnya.


Dunia ini benar-benar seperti panggung sandiwara. Dengan aku dan Dian sebagai pemeran utama dan ibu mertua sebagai tokoh antagonisnya. Dimana dua-duanya berhasil menjungkir balikkan dunia ku, perasaan ku, hidup ku.


Pernah aku membenci keduanya. Namun siapa sangka, Allah hadirkan kebaikan melalui mereka berdua. Allah kembalikan mereka berdua sebagai jalan ku menuju surga Nya.


"baru saja ummi. Tadi sudah salam begitu masuk pintu depan, tapi tidak ada jawaban"


"owh, mungkin ummi sedang menggoreng, jadi berisik. Gak kedengaran"


"ummi masak apa?" aku mencoba mengintip dengan mensejajarkan wajah dengan ummi.


"ini buat kentang goreng. Abi minta di masakan soto, tapi yang lengkap pakai irisan kentang goreng, bihun, telur, ayam"


"Kayra sama Dian ikut sarapan di sini boleh ummi?"


"ya boleh donk. Ummi senang malah"


"alhamdulillah.


Apa yang kurang ummi, biar Kayra bantu siapkan"


"sudah semua, tinggal tunggu kentang gorengnya matang saja"


"ekhmmm.


Kalau abi....kemana ummi?"


"tadi ada di depan kok. Lihat berita. Mungkin ke atas, ngisi bak mandi.

__ADS_1


Tadi sih ummi yang minta buat ngisi bak mandi atas.


Sudah matang. Bantu ummi siapkan di meja makan yok. Terus kita sarapan bareng.


Ummi sebenarnya juga peeenggeeenn sekali makan bareng kalian. Tapi ummi takut mau ngomong sama suami mu.


Apa dia masih marah sama ummi?"


Aku menghela nafas mendengar perkataan ummi. Dan berfikir keras untuk menjawab pertanyaan ummi. Takut salah, itu yang aku rasakan. Secara di sini aku yang lebih muda. Bahkan beliau seorang pendidik agama. Apa pantas jika berbalik aku yang menasehati beliau?


"ekhm.....mungkin mas Dian hanya butuh waktu untuk bisa menerima ini semua ummi"


"maafkan ummi ya. Maafkan semua salah ummi. Ummi berbuat khilaf. Ummi jadi merasa tidak pantqs menjadi orang tua. Ummi malu pada kalian"


"ummi, jangan berkata seperti itu. Ummi tetap yang terbaik.


Setiap orang wajarkan pernah berbuat salah. Mari sekarang kita perbaiki bersama-sama" aku meraih tangan ummi yang saat itu tengah menaruh tumpukan piring ke atas meja.


Pelukan hangat seorang ibu kini tengah aku rasakan. Terlepas dari semua cerita di masalalu, ini adalah waktunya untuk memperbaiki sesuatu yang belum pernah Dian dapatkan hingga saat ini.


"kamu memang wanita yang baik. Dian tidak salah memilih mu"


"mudah-mudahan ummi. Tolong bantu bimbing Kayra supaya bisa menjadi istri dan anak menantu yang solihah"


"eekkhhhmmm eekkhhmmm" suara batuk abi mengurai pelukan ku bersama ummi.


Rupanya Dian sudah menemui abi terlebih dahulu. Mereka datang berdua menuju meja makan sebelum di panggil.


"assalamualaikum abi" aku menghampiri abi dan bersalaman, mencium tangan beliau.


"waalaikumsalam.


Ayok, kita sarapan bersama" abi mempersilahkan ku untuk duduk.


Sementara Dian masih terlihat banyak diam. Padahal tadi pagi dia bilang "kangen masakan ummi". Tapi menegur ummi, mengajak bicara juga tidak. Bahkan dia seperti menganggap ummi tidak ada. Menjabat tangan, bersalaman dengan ummi pun juga tidak.


"Keterlaluan" pikir ku. Namun ini bukanlah waktu yang tepat untuk menegur.


Yah, mungkin dia hanya merindukan masakan ummi, bukan orangnya. Entahlah, memang aku tidak ikut merasakan seberapa besar rasa kecewa juga marah Dian terhadap ummi, aku hanya berusaha memahami. Menunggu waktu mengikis semua rasa kecewa dan sakit hatinya. Semoga saja semua ini segera berlalu.


"ummi tidak tau kalau kalian akan sarapan di sini, jadi ummi hanya memasak menu permintaan abi saja" kata ummi memecah keheningan.


"ini juga sudah enak sekali ummi. Di rumah mama belum pernah memasak seperti ini" kata ku.


"ini itu soto khas Jawa timuran Kay. Dulu waktu abi masih sering mendampingi abah untuk mengahadiri panggilan ngaji, setiap melewati kota X pasti selalu menyempatkan untuk mampir"


Aku menganggukan kepala mendengar cerita abi.


"ekhm....kalau seperti itu, kenapa pengasuhan pesantren tidak di pasrahkan pada abi saja, sambil menunggu Dian 'matang' secara ilmu, mental......."


"sudah selesai kan makannya? Ayo kita berangkat sayang, nanti telat" Dian memotong perkataan ku begitu saja.


Mungkinkah aku salah bicara?


Setelah berpamitan kami meninggalkan kediaman ummi dan abi. Hingga kami memasuki mobilpun, tak ada percakapan yang aku dengar keluar dari mulut Dian.


"Di......"


"iya" dia hanya menjawab tanpa memperhatikan ku.


"aku salah bicara ya tadi?"

__ADS_1


"yang mana?"


"soal pesantren"


"tidak. Hanya saja banyak hal yang tidak kamu ketahui, jadi kurang tepat apa yang kamu usulkan.


Dan aku, belum mau sama sekali membahas tentang itu"


"huh. Gimana aku bisa tau, kamunya juga gak pernah mau cerita. Hah,ya sudahlah. Lebih baik aku diam saja" gerutu ku dalam hati.


Hingga mobil sampai di halaman kantor kami hanya saling diam. Menyebalkan sekali.


"nanti kalau tidak bisa pulang bareng papa, kasih tau aku. Gak boleh pulang sama siapapun"


Ucapnya sembari sebelah tangan mengusap bibir ku.


"gak usah yaaa. Malu ketahuan kalo tiba-tiba ada orang lewat" lalu aku menggeser duduk ku sedikit ke belakang.


"gak usah apa?"


"morning kiss. Kan tadi sudah"


"aku itu bersiin lipstik kamu yang berantakan.


Harusnya sekalian aku hapus aja tadi semua lipstiknya. Biar gak ada yang perhatiin bibir kamu" kata Dian penuh penekanan.


"yeee...emang nya se-waw itu aku? Sampe-sampe ada yang perhatiin bibir aja"


"iya. Dan aku selalu ingin melahap kalo lihat bibir imut kamu. Apalagi kalo pas ngoceh ngoceh begitu"


"ih, apaan sih. Nyebelin"


Kami terus bercengkrama sampai tiba di depan ruangan devisi keuangan.


Setelah kejadian kemarin, tingkat keposesifan seorang Dian meningkat tajam. "semua orang harus tau, kalau kamu sudah menikah".


Kalimat itu masih saja terngiang di telinga ku.


Lagi pula siapa juga yang menyembunyikan setatus, kalau aku sudah jadi istri orang. Waktu nikah juga sudah mengundang bagitu banyak tamu. Huh,dasar. Cemburu itu emang buta.


"bawa tisu kan, minta satu" setelah sampai di depan ruangan dia belum juga pergi. Padahal tadi waktu di rumah abi, bilangnya takut telat. Sekarang malah berlama-lama.


"nah, begini seharusnya. Dandan itu hanya boleh buat suami" bisiknya di sebelah telinga ku.


Dan saat itu ada karyawan yang memasuki ruangan. Aku menganggukkan kepala, tersenyum, padahal rasanya malu sekali saat ini.


"udah awh, berangkat sana. Nanti telat loh kamu" secara halus aku meminta dia untuk pergi.


"lihat dulu isi tas kamu" minta ijin, tapi belum di berikan tangannya sudah merebut lebih dulu.


"Di...apaan sih"


"ini, aku ambil" dia tunjukkan sebatang lipstik lalu memasukkan nya ke dalam saku kemeja.


Lipstik terbaru dari brand X, dapat hadiah waktu nikah, baru juga aku pakai pagi ini.


"sudah sudah. Kamu berangkat sana. Aku tinggal masuk ruangan loh" rasanya otak ku di buat mendidih pagi ini oleh tingkah Dian.


"iya, aku pergi. Sudah siang" katanya santai.


Aku menjabat dan mencium tangannya. Lalu sekilas dia mengecup keningku. Aku hanya bisa melotot menahan mata. Sampai Dia berlalu pergi.

__ADS_1


Memang sih ini sudah menjadi kebiasaan setiap hari, tapi ini tak tepat waktu sekali. Salah tempat. Karena saat ini banyak karyawan yang lalu lalang. Sudah pasti aku akan menjadi bahan hotnews seharian nanti.


______________________^_^____________________


__ADS_2