
Karena hari masih sore aku berniat untuk pergi ke kafe X menggunakan motor saja. Lumayan bisa sampai lebih cepat. Sekalipun aku telah mendapat hadiah ulang tahun mobil dari eyang, tapi aku tidak begitu suka keluar dengan menggunakan mobil, sulit untuk menembus kemacetan. Apalagi di pagi hari saat semua orang tengah keluar menuju tempat aktifitas masing-masing. Dan sore hari saat jam pulang kerja.
Motor matic ini tak lain juga hadiah dari eyang saat aku berusia 17 tahun. Tapi sayangnya saat itu mama dan papa belum mengijinkan aku untuk mengendarai motor sendiri pergi ke sekolah.
Selama itu juga motor matic berwarna merah maroon itu menjadi penghuni garasi. Dan kini kendaraan itu menjadi teman setia ku selama tidak hujan.
Adzan ashar telah di kumandangkan. Berbeda dengan hari-hari biasanya, dimana aku sering kali menanti suara adzan yang dikumandangkan oleh seseorang yang aku kenali, kini hati ku rasanya enggan sekali. Bahkan untuk mengingat namanya saja aku tidak ingin. Inikah yang dinamakan kemarahan? apakah kali ini aku benar-benar marah pada sosok itu?
Surat yang tadi siang aku terima juga belum ku buka. Aku tidak terlalu penasaran dengan isinya, mungkin saja sama seperti biasanya saat ia melakukan kesalahan. Ucapan maaf, menyesal, dan berjanji. Sepertinya aku sudah sangat hafal dengan pola yang laki-laki itu ciptakan.
Entahlah, aku tidak ingin memikirkan itu lebih lama lagi.
Setelah aku mandi dan solat ashar tentunya, kini aku tengah duduk didepan cermin, ber-make-up tipis sudah menjadi kebiasaan ku. Bukan sengaja untuk menarik lawan jenis, hanya saja aku melihat diri ku yang terlihat lebih dewasa dengan sedikit polesan.
Berawal dari desakan Siska kini aku telah terbiasa melakukan itu, sehingga tak butuh waktu lama lagi untuk berada di depan cermin.
Pesan dari kak Maryam masuk, memberi tahu kan bahwa dia sudah dalam perjalanan. Aku pun segera meluncur dengan motor matic ku.
Masih dengan permasalahan perasaan ku sendiri, aku menghindari jalan yang melewati rumah Dian. Sekalipun jalur utama sedikit lebih jauh, aku lebih memilih itu.
Kali ini jarak yang aku tempuh cukup lama dari rumah, kurang lebih memerlukan waktu 30 menit untuk tiba di tempat dengan kecepatan 40-60km/jam. Sehingga aku melaju dengan kecepatan 60-80km/jam supaya aku tiba lebih cepat.
Sesekali aku merasa ada yang mengikuti ku, saat aku melaju dengan cepat motor itupun tak kalah cepat seperti takut kehilangan jejak ku. Tapi begitu lampu merah, aku tidak bisa menjangkau dia lewat spion motor ku. Berulang kali seperti itu, tapi aku tetap yakin melaju dengan mulut tetap komat-kamit melantunkan sholawat. Semoga keselamatan senantiasa menyertai ku. Aku yakin Allah sebaik-baiknya pelindung.
Saat aku tiba di tempat sudah ku jumpai kak Maryam di depan kafe.
"kenapa tidak langsung masuk kak? " aku menegur kak Maryam begitu selesai memarkirkan motor.
"iya, sudah ada pak Nicholas di dalam" ucap kak Maryam lirih, seperti malu-malu.
"bagus donk, bisa ngobrol lebih dulu" aku menggoda kak Maryam
"enggak ah, kamu ini Kayra" begitulah kak Maryam, aku yang berusaha menjaga jarak dari laki-laki saja sering khilaf. Tapi kak Maryam selalu teguh untuk menjaga jarak dari laki-laki dan selalu menghindari berdua saja dengannya.
Entah kenapa, aku jadi teringat dengan sosok kak Jo. Yang selalu saja berusaha menerobos pertahanan ku. Dan bodohnya aku kalah untuk bertahan.
Kemudian mengingat perkataan mama tempo hari, yang seolah kak Jo akan bisa menjadi penjaga ku. Tiba-tiba aku ikut kesal padanya. Memang kak Jo sering kali menolong ku, tapi juga semua terjadi karena dia. Andai saja dia tidak terus memaksa untuk mendekati ku, mungkin aku juga tidak akan mengalami semua itu.
Ah, entahlah. Semakin semua difikirkan hanya membuat semakin kacau perasaan saja.
"assalamu'alaikum pak" aku menegur pak Nicholas lebih dulu begitu melihat meja yang beliau duduki. Sepertinya aku yang begitu dekat dengan pak Nicholas padahal juga kak Maryam sudah mengenal pak Nicholas lebih dulu.
"waalaikumusalam" ayo duduk.
Pak Nicholas mempersilahkan untuk duduk. Sudah terhidang satu gelas orange jus, sepertinya sudah dari tadi pak Nicholas datang, saking bersemangat nya bertemu calon istri mungkin.
"pak, sudah kenal dengan kak Maryam kan pastinya" sementara yang di sebutkan namanya hanya tersenyum.
"silahkan berbincang ya, biar saya ambil buku menu" tak banyak basa-basi lagi, aku segera memberikan waktu untuk mereka berbincang.
Aku berjalan menuju tempat pemesanan. Suasana cafe cukup ramai, mungkin itu sebabnya tidak ada waitres yang menghampiri karena sibuk. Atau mungkin memang aturannya pelanggan yang menghampiri meja pemesanan.
Saat aku berdiri antri di tempat pemesanan, ada pegawai yang datang memberi tau pegawai lainnya
"ada yang ribut-ribut di depan"
"siapa, pelanggan? "
"gak tau, masih di luar sih, rebutan tempat parkir mungkin"
__ADS_1
kemudian pegawai yang penasaran memantau sisi TV dan membesarkan area dimana terjadi keributan.
Semua yang berdiri di depan ku telah mendapat layanan, kini giliran ku yang memesan. Karena berada paling depan sehingga aku bisa ikut melihat layar CCTV .
deg
jantung ku langsung berdetak kencang ketika mengetahui siapa yang sedang bertikai di depan. Kak Jo dan Dian, apa yang mereka lakukan? Sebelumnya aku sudah tahu jika mereka bersahabat, tapi kenapa sekarang justru bertikai?
"mbk, saya mengenal mereka. Tolong antarkan pesanan ke meja nomor 8,saya akan keluar sebentar" ucap ku pada mbak penjaga kasir setelah aku membayar pesanan itu
Begitu aku sampai di depan, ku lihat mereka sedang bersikukuh dengan pembicaraan masing-masing. Sengaja aku tidak langsung menegur mereka karena ingin tau apa yang sedang mereka perdebatan
"kamu ini, kenapa tiba-tiba nonjok aku" ucap Dian sembari memegangi ujung bibirnya.
"itu untuk balasan atas tamparan di wajah Kayra" kak Jo berkata dengan nada marah
"kamu ngomong apa sih" sepertinya Dian tidak ingin sesuatu itu di ungkap
"kamu gak usah pura-pura lagi. Aku udah tau semuanya, tentang kamu dan Kayra.
Jauhi Kayra jika kamu mendekat hanya untuk menyakiti dia" terdengar lantang suara peringatan yang kak Jo ucapkan
"justru aku kesini itu mau jagain Kayra, tadi aku dengar Kayra janjian sama pak Nicholas makanya aku ikuti Kayra" Dian berbicara. Rupanya tadi sewaktu di kampus dia sengaja mengikuti dan menguping pembicaraan ku dengan pak Nicholas.
"kamu bilang mau jagain Kayra dari pak Nicholas, sementara kamu jagain Kayra dari ummi kamu saja tidak bisa" ucap kak Jo dengan nada meremehkan
Pertikaian mereka masih berlanjut cukup lama. Yang pasti banyak hal yang bisa aku tau dari pertikaian mereka ini.
Setelah semua terungkap jelas bahwasanya kedua sahabat itu menyukai gadis yang sama, yaitu aku. Akankah mereka tetap bersahabat?
Dan bagaimana dengan aku sendiri, kini hati ku semakin kacau setelah mendengar apa yang mereka ucapkan.
Aku hanya bisa berdiri mematung dengan hati yang bergemuruh.
Tak sempat aku mendekat, akhirnya mereka berdua menyadari bahwa aku tengah mematung menyaksikan pertikaian mereka.
Dan kini, haruskah aku ikut marah di tengah pertikaian berdua?
"Kayra"
"Kay"
ucap Dian juga Kak Jo begitu mereka menyadari kehadiran ku
"sejak kapan kamu disitu? " tanya kak Jo
"dari tadi. Dan aku mendengar banyak pembicaraan kalian" aku berbicara dengan nada bergetar.
Mereka berdua saling bertukar pandang.
"Kayra kamu jangan salah faham" ucap kak Jo
Sementara Dian masih diam membisu.
Aku tau Dia bukan tipe orang yang mudah untuk bicara. Bahkan setelah ini, aku tidak tau lagi apakah dia masih mempunyai keberanian untuk terus mendekat ku, setelah sekian banyak ulah yang ia ciptakan.
Dian tipe orang yang pendiam, pemalu, tapi terus memaksa untuk mendekat.
"kalian berdua sama saja. Sama-sama menyusahkan ku" sebenarnya aku ingin berkata panjang lebar, dalam hati aku mencerca mereka berdua. Tapi entah kenapa, mulut ini berat untuk berkata. Sehingga hanya kalimat itu yang mampu keluar.
__ADS_1
Aku tinggalkan mereka dengan perasaan yang masih tak karuan. Sudah terlalu lama aku meninggal kan kak Maryam, pasti dia mencari ku.
Saat aku kembali sepasang laki-laki dan perempuan yang duduk berhadapan sama-sama diam.
Hanya ada gelas minuman, dan aku tidak melihat sederetan makanan yang tadi aku pesan.
"sudah selesai? " pak Nicholas menegur ku. Dan aku tidak bisa berpura-pura lagi untuk tersenyum.
"sudah pak. Bapak dan kak Maryam apa sudah selesai? bisa kita tinggal kan tempat ini? atau saya minta ijin pulang duluan kalau memang belum selesai"
"kita sudah selesai" jawab kak Maryam dan pak Nicholas bersama. Kemudian mereka saling bertukar pandang, seolah tau apa yang sedang terjadi pada ku.
"Kayra kamu baik-baik saja? duduklah dulu, minum minuman kamu" kak Maryam tampak memperhatikan ku.
Akhirnya aku duduk dan meneguk es lemon yang tadi aku pesan.
"gak usah terlalu dipikirkan Kayra, jangan jadikan ulah mereka beban untuk kamu" nasehat pak Nicholas.
"tadi saya sempat melihat ke depan karena kamu tidak kunjung kembali. Ketua sama wakil BEM di kampus kan? " pak Nicholas kembali menjelaskan.
"makanannya sudah selesai, tadi sengaja aku minta di bungkus saja. Kita pulang sekarang Kay? " tanya kak Maryam.
ku anggukan kepala
"aku boleh ikut sama kakak? " pinta ku pada kak Maryam.
"boleh, ayok. Ke rumah kakak ya" dan kami segera keluar dari kafe menuju parkiran.
Masih terlihat dua cowok itu mundar-mandir di depan kafe. Untung saja tidak ada satpam, kalau ada sudah pasti di usir dari tadi.
"Kayra"
"Kay"
mereka memanggil ku bersamaan. Namun aku abaikan. Dan justru pak Nicholas yang mendekati mereka.
Entah apa yang mereka bicarakan, aku sudah tidak menghiraukan. Segera aku menaiki mobil kak Maryam dan mobil melaju meninggal kan kafe.
Soal motor ku, tadi aku menitipkan pesan pada penjaga kafe bahwa akan ada seseorang yang mengambil.
"Assalamu'alaikum, ma minta tolong pak Warno untuk ambil motor Kayra di kafe X. Kayra diikuti Dian dan kak Johan, mereka membuat masalah. Kayra ke rumah kak Maryam"
aku kirimkan pesan pada mama kemudian aku kirimkan juga foto kak Maryam yang sedang menyetir mobil.
Keluarga kak Maryam bukanlah orang asing bagi mama, jadi tidak akan menjadi masalah jika aku berada di sana sekalipun sampai malam.
_____________^_^__________
cie, yang jadi rebutan dua cowok tampan, bahagia apa bangga nih?
gimana kalau readers yang jadi Kayra? ada yang pernah jadi rebutan jaman ababil dulu?
yang berpengalaman awas ketawa-ketawa sendiri.
Semoga masih suka lah ya sama kehadiran Kayra. Dan jangan bosan untuk tinggalkan jejak, biar yang baca semangat yang nulis juga makin semangat.
Tak lupa author ucapkan terimakasih untuk yang masih setia mampir di novel ini. 🙏😘
Sambil nunggu update cerita Kayra, boleh ni mampir di novel baru saya CINTA atau OBSESI.
__ADS_1
ceritanya tentang, cinta segitiga. hihihi 🤭 yang penasaran, langsung intip aja yuuuk