KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
ABG Labil


__ADS_3

Aku pulang dengan hati yang berantakan. Harus bahagia atau sedih. Harus kembali menyayangi atau tetap membenci.


Aku tinggalkan mereka berdua begitu saja. Bahkan aku tidak memberi kabar lebih dulu sama Mama kalau aku pulang dengan kendaraan online. Kebetulan tak ada pesan juga panggilan masuk dari Mama.


Setiba dirumah aku langsung masuk ke kamar untuk solat dhuhur. Apalagi yang bisa aku lakukan, selain mencurahkan semua ini pada sang pembulak balik hati.


Berharap ada setitik ketenangan setelahnya.


Terasa berat, lebih berat dari menghadapi kak Joe dulu.


Sepertinya kali ini tidak akan kembali tenang hanya dengan kenyang.


Butuh sandara. *O*h maaaammaaaa, pikir ku sekilas. Tapi aku tak yakin menceritakan ini sama mama. Sempat terfikir kak Jo, tapi kan dia juga menaruh hati sama aku. Remond, ah tak usahlah terlibat terlalu dengan orang baru.


Kak Gilang, aku merasa langsung semangat mengingat nama itu. Tapi, akan terlalu lama jika aku harus bercerita dari awal.


krreeeeek


Suara pintu terbuka dan mama yang nampak sedang berjalan memasuki kamar.


Karna sejak pulang tadi aku tidak keluar kamar. Mata ku sembab, tak bisa ku tahan air mata untuk tidak keluar saat mencurahkan pada sang empunya hati ini.


"kakak kenapa, matanya sembab. Habis nangis"


tak bisa ku bendung lagi. Air mata kembali pecah begitu mama mendekat dan duduk diranjang sebelah ku.


hhiikkzzz hhiikkzzz hhiikkzzz


aku kembali tidak bisa mengendalikan tangisan. Masih saja terisak, sementara hanya membelai lembut kepala ku tanpa bertanya lagi.


Hingga aku merasa lebih tenang, air mata mampuh aku hentikan.


Tak mungkin mama akan menerkam ku jika aku menceritakan ini sama mama. Toh selama ini mama selalu percaya dan suport aku


"Dian ma... Rahardian"

__ADS_1


"dia kenapa"


"tadi aku mau ketemu dia, bareng sama Melan"


"kakak diapakan, di hina-hina sama dia? "


"bukan" aku kembali terdiam, berusaha menata kalimat. Darimana harus bicara???


"mama tau kan selalu ini aku sama dia gak pernah akur. Tapi di belakang itu dia sering kasih aku barang-barang ma. Dan beberapa kali mengirim surat"


ssrruuuttt


aku berusaha menahan sisa sisa tangisan


"di surat itu dia bilang sayang sama Kay. Tapi dibalik itu sikap nya jauh berbeda. Dia seperti enggan bertemu Kay. Langsung pergi kalau tidak sengaja bertemu Kay. Kay sebel ma, Kay benci, Kay merasa di permainkan oleh sikap bunglon dia"


"hemmp... terus" mama masih saja mengelus kepala ku penuh sayang


"tapi dia justru bilang, kalau semua sikap nya itu demi melindungi Kay dari ustadzah Zia. Dia benar sayang sama Kay. Tapi belum bisa baik sama Kay untuk saat ini"


"Kay gak tau ma. Tapi pernah sekali Dian mengirim surat dengan tulisan Arab, jelas Kay gak bisa baca. Cuma Kay simpan dalam buku. Tidak sengaja waktu Kay ada pertemuan Remas, kertas surat itu jatuh dan ustazah yang menemukan. Mungkin sempat baca tertanda nama Dian di ujung bawah surat itu. Tapi itu sudah lama sekali ma. "


"ya sudah. Yang sudah kemarin disimpan rapi sebagai pelajaran saja. Kay berbenah mulai saat ini, mulai lembaran baru"


"maksudnya ma"


"Dian sudah mengakui kesalahan dia. Mau perasaan dia yang seperti apa, Kay tidak perlu memikirkan terlalu panjang. Ada hal lain yang lebih penting untuk Kay fikirkan. Kay sudah kelas 3 sekarang. Mau masuk universitas ternama bukan?! "


"tentu saja Ma"


"Maafkan dia, karna dengan memafkan hati kita akan lebih tenang. Kembalikan apa yang pernah Dian kasih. Kalau memang dia belum bisa kembali bersikap baik sama Kay demi melindungi dari ustazah Zia, ya sudah biarkan saja.


Kalian tidak harus akrab sekalipun rumah dekat. Tidak akrab tapi juga tidak musuhan."


"ada lagi ma"

__ADS_1


"ya, apa itu? "


"dia bilang.. mungkin belum saat ini, tapi dia juga tidak akan diam. Dia akan menjemput Kay dengan pinangan suatu saat nanti"


"jalan kalian masih panjang nak. Terlalu dangkal untuk memikirkan hal itu saat ini. Jangan menjadikan beban sesuatu yang belum seharusnya. Tugas kalian untuk belajar saat ini. Memang kita tidak tau kehendak Allah akan seperti apa, dijalani saja apa yang ada saat ini. Apa yang Kay rasakan saat ini, belum tentu sama dengan esok. Remaja seusia Kay itu masih labil. Sekarang A besok bisa B, besoknya lagi bisa C.


Bergaul dengan banyak teman, mengetahui karakter benyak orang, itu lebih penting. Dari sekedar PACARAN. Pacaran itu mendekati zina, dilarang oleh agama.


Bisa mengganggu konsentrasi belajar. Bukankah menciptakan prestasi yang banyak itu lebih penting?! "


"iya ma.. terimakasih nasehatnya"


"tidak perlu berterimakasih, ini sudah kewajiban mama.


Anak mama mulai besar rupanya"


mama membangunkan ku dan mengusap wajah ku yang masih basah oleh air mata.


"oh ya, soal ustazah Zia yang tidak ramah lagi sama Kay, gak perlu di jadikan beban. Kay juga tidak perlu balik membenci ustazah.


Tetap senyum aja kalau bertemu beliau. Selama kita tidak berbuat salah, siapapun itu yang jahat atau jutek sama kita, tetap senyumin aja.


Semakin Kay dewasa, semakin Kay mengerti karakter banyak orang, akan semakin mudah bagi Kay untuk memahami.


Coba fikirkan saja dari segi ustazah, yang dulu kakaknya Dian sudah putus kuliah, sekarang Dian yang putus dr Pesantren. Setiap orang tua pasti punya rasa kecewa. Maklumin aja ya"


"iya ma. Beruntung Kay punya ibu seperti Mama"


hangat peluk mama memang sangat nyaman, menenangkan.


Tidak salah aku menceritakan ini sama mama. Karna bagaimana pun juga ibu lah yang lebih berhak tau atas setiap kondisi anak-anaknya.


*******_^_********


memaafkan itu lebih baik ya teman-teman. Maafkan juga author yang update ny suka lama, suka ada typo.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak 😘


__ADS_2