KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Siang penuh kejutan


__ADS_3

Akhirnya aku kembali ke kampus setelah drama siang ini. Rasanya jadi kapok menemani papa ke undangan pernikahan. Dan Kak Jo yang kehadirannya dianggap sebagai penolong, pada ahirnya sama saja membuat ku ingin melolong.


"Siskaaaaaaaaaaaaaa"


"hih, apa sih Kay. Datang-datang bukannya kasih makanan malah melolong panjang"


"anjing apah melolong" timpal ku.


"buruk Sis, buruk"


"buruk kenapa, pengantin nya jelek? "


"hah, gak gitu. Drama 17th ke atas"


"maksudnya? "


karena duduk di bangku pojok paling belakang aman dari pusat perhatian, jadi aku mencerita kejadian semua kejadian tadi sama Siska. Saking asiknya bercerita aku sampai tidak sadar jika mas dosen berdiri di belakang ku. Pantas saja Siska hanya terdiam sambil menutup mulut. Pasalnya dari tadi aku tidak memberi kesempatan Siska untuk bertanya. Aku kira saking syoknya dia mendengar cerita ku.


"Sudah selesai baca novel nya? "


awalnya aku kira suara teman laki-laki yang iseng.


"novel, kisah nyata ini" ucap ku menanggapi


"ekhm... ekhm.... "


seseorang berdehem dengan suara lebih berat, membuat aku menolehkan kepala.


Tak bisa berkata-kata, mulut ku hanya terbuka meng nganga. Wajah mas dosen begitu dekat. Sampai ahirnya Siska yang menutup mulut ku dan mas dosen menarik tegak kepalanya kemudian berjalan menuju depan kelas.


Segera aku membalikkan badan duduk dengan posisi yang benar menghadap ke depan.


"memalukan" umpat ku dalam hati


"makanya kalo ngomong kasih jeda, jangan kaya kereta. Kena samber sendiri kan"


terdengar suara protes dari bangku belakang


Sementara aku hanya diam tidak berani berkutik lagi. Beruntung bukan dosen yang killer. Bisa habis aku.


Aku menyimak dengan baik penjelasan dari pak Nicolas. Takuk kalau sewaktu-waktu pertanyaan mengarah pada ku. Biasanya kan begitu di sinetron-sinetron, kalau ada yang tidak fokus langsung dikasih pertanyaan. Sampai jam pertemuan selesai ternyata tidak ada yang diberi pertanyaan. Dan sesi tanya jawab pun tidak dibuka. Tumben, pikir ku. Mungkin karena sudah sore, kembali aku berfikir sendiri sembari membereskan isi tas ku.


"Kayra Putri Al Mahira"


aku mendongak kaget karena nama ku dipanggil dengan lengkap, jarang terjadi.


"saya pak" sembari ku angkat tangan ku.


"iya, kamu.


Setiap anak buat pertanyaan di kertas dan serahkan pada Kayra.


Kayra, kamu cari semua jawaban nya pertemuan minggu depan akan kita bahas"


pak Nicolas memberi instruksi.


"tapi pak"


menjawab pertanyaan anak satu kelas, aku merasa terlalu berat


"itu hukuman untuk kamu karena kisah nyata kamu menyita waktu mengajar saya"


tidak akan ada ralat lagi rupanya, pak Nicolas menyambar begitu saja saat aku belum selesai berbicara. Bisa apalagi kalau sudah begini?

__ADS_1


"ckckckckckk" terdengar tawa kecil dari bangku belakang


Pak Nicolas meninggal kan ruangan.


"Siska... awas ya. Harus bantuin"


"kejar sana, kejar. Siapa tau masih bisa dapat dispensasi"


secepat kilat aq berlari keluar ruangan. Memakai dress panjang bukan halangan, untung saia aku selalu memilih yang longgar, jadi aman untuk berlarian sekalipun.


"pak... pak Nicolas"


beruntung masih terkejar


"ada apa lagi? "


jawab beliau singkat


aku yang masih ngos-ngosan karena lari belum bisa bicara, masih mengatur nafas.


"ada apa Kayra, waktu saya tidak banyak"


"huh, mentang-mentang dosen sok sibuk" umpat ku dalam hati


"kalau saya menemui kesulitan dan tidak bisa menjawab bagaimana pak? satu kelas kan banyak sekali, 40 mahasiswa pak"


"mau dispensasi? "


"mau pak, mau"


"kerjakan dulu itu. Minimal benar 75% kamu saya angkat jadi asdos"


"hah? tidak salah dengar saya pak? asdos?"


"iya, benar. Saya yakin kamu mampu, kamu punya potensi. Jika benar-benar menemui kendala tanyakan melalui e-mail saya"


aku hanya bisa mengiyakan, dan pergilah beliau dari pandangan ku. Akupun kembali ke kelas.


Begitu aku sampai di kelas lembar-lembar pertanyaan telah terkumpul. Tanpa banyak tanya dari mahasiswa lain itu semakin mempermudah. Dunia kampus memang tidak se drama massa SMA.


"gimana dapat dispensasi gak? "


tanya Siska saat kami mulai berjalan menuju parkiran.


"kalo misal ada yang nawarin kamu, mau gak jadi asdos? jawaban kamu gimana? "


"hahahaha, jangan bikin aku ketawa keras deh Kay. Udah ayo cepetan. Udah sore ni"


"kak Johan, ngapain dia disini? " seru Siska sembari terus berjalan menuju arah mobilnya.


aku terdiam namun banyak pertanyaan, kenapa harus muncul lagi setelah semua kejadian tadi?


"minggir kak, mobil bagus mau lewat"


Siska menepis kak Jo yang saat ini berdiri di depan mobilnya.


"enak saja. Bagusan juga punya ku.


Eh terserahlah. Yang penting Kayra pulang sama aku" ucap kak Jo kembali melanjutkan


"enak saja. Kenapa nyuruh-nyuruh seenaknya" aku membantah


"wwweeeekk" Siska menjulurkan lidah, dibalas dengan penuh kemenangan oleh nya.

__ADS_1


Yang diejek pergi juga.


Eh tidak, tunggu. Dia mengeluarkan sesuatu


"Ok, berarti ini biar saka aku saja ya" kak Jo menunjukan sebuah bag berwarna pink, tak lain itu adalah kebaya ku yang tadi.


"ampun... kenapa bisa ketinggalan sih" gumam ku sendiri


"punya kamu Kay" Siska bertanya


"iya, baju kebaya yang tadi" aku membenarkan


"mampus lo, hahahah" ucap Siska sembari masuk kedalam mobil, meninggalkan aku yang masih saja berdiri mematung.


Kali ini justru aku yang ditertawakan oleh mereka berdua.


"bagaimana ini? " pikir ku dalam hati. Aku masih saja bingung.


"tttiiinnnnn tttiiiiinnnn" bunyi klakson mobil Siska


"jadi pulang sama siapa nih? " sang empunya berteriak dari dalam mobil


Merasa tak punya pilihan lagi, dengan langkah yang berat aku berjalan menuju mobil kak Jo.


"pilihan yang tepat" gumam kak Jo, sembari mengikuti aku memasuki mobil.


"sejak kapan sih kakak nyebelin gini" gerutu ku sembari memasang sabuk pengaman.


"sejak kamu selalu menolak kakak! "


ucapan kak Jo seketika terdengar begitu menakutkan, dengan terus mendekatkan wajahnya pada wajah ku. Hingga jarak wajah kami berdua tinggal beberapa senti saja. Aku tidak berani menatapnya, hati ku seketika berdesir. Seperti bukan sosok yang aku kenali yang saat ini tengah bersama ku.


"hahahaha, kamu kenapa Kay mendadak pucat begitu? "


aku tidak berani membuka mata, sampai kemudian terdengar tawa kak Jo.


"segitu takutnya kamu sama kakak? " kak Jo kembali melanjutkan ucapannya.


"kurang tampan apa kakak ini? Dosen itu aja kamu kejar-kejar, baru juga kakak dekati begitu udah ketakutan" ucapnya kembali sembari terus memandangi spion tengah.


"sudah bercanda nya? ayo pulang" ucap ku dengan nada tegas.


"ok, siap melaju menuju rumah calon mertua" ucap kak Jo dengan PDnya.


Aku hanya bisa menggeleng kan kepala dengan semua tingkah kak Jo hari ini.


Sampai kepala rasanya berat mengingat semua kejadian hari ini.


Aku sandarkan kepala pada bangku mobil, berusaha memejamkan mata. Siapa tahu bisa menghindarkan aku dari berbagai macam pertanyaan kak Jo lagi.


Cukuplah untuk hari ini, semoga esok lebih baik. Waktu terlalu berharga untuk memikirkan perkataan kak Jo. Belum lagi memikirkan jawaban dari puluhan tugas. Memikirkan menjadi asdos sepertinya menarik?!


Awh, jalan masih begitu panjang. Menghayal terlalu tinggi itu menyusahkan, gak mudah mencapai nya. Mimpi boleh, tapi jangan lupa saat terbangun akan tetap dunia nyata yang kamu jumpai.


_______________^_^_______________


berhayal boleh, tapi resiko ditanggung pembaca ya


berhayal setampan apasih Johan, spt itu misalnya.


Ganteng sih relatif ya, tergantung bayangan pembaca masing-masing.


Kira-kira nih, ada yang punya bayangan visual paling tepat untuk masing-masing pemeran?

__ADS_1


boleh komen-komen donk 🙏🙏🙏


Terima kasih untuk yang masih setia mampir 🥰🥰🥰🥰😘


__ADS_2