KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Negosiasi Dua Hati


__ADS_3

"masa iya sih, kalau pengen ketemu harus nunggu satu minggu dulu" Dian tak henti-hentinya menggerutu sejak awal pertemuan. Mulai duduk di bangku cafe sampai sekarang selesai makan.


"kamu gak capek ngomong seperti itu terus dari tadi? " aku yang mendengar saja rasanya lelah. Rasanya sudah seperti bocah yang sedang merengek untuk dibelikan jajan.


"ya, makanya pulang ya. Plisss.


Sampai kapan kita akan terpisah terus? Apa harus nunggu nikah dulu baru bisa hidup bersama? "


"ya iyalah. Harus. Pertanyaan macam apa itu, masa iya kita kumpul kebo? " spontan aku bersuara dengan nada tinggi. Sepertinya Dian benar-benar terserang virus bucin sekaligus kebelet nikah.


"ya gak gitu juga sayang.


Ayolah, pokoknya ada dua pilihan. Pulang ke rumah atau segera nikah"


"gak gak. Ini gak sesuai dengan kesepakatan awal. Dian, kamu jangan nyebelin deh. Mentang sudah dapat lampu hijau, mau main seenaknya sendiri. Gak bisa, gak bisa" Lama-lama kesel juga rasanya menghadapi seseorang yang lagi kena virus.


"Kayra, memangnya kamu gak pengen ya kita sering ketemu? " Pribadi baru seorang Rahardian yang saat ini sedang aku hadapi. Benar-benar sudah seperti bayi yang merengek minta mainan atau jajan.


"enggak! "


"kok gitu sih, kamu gak serius sama hubungan kita? "


"Dian, ayolah. Hubungan kita bukan baru kemarin sore.


Kemana sosok Dian yang berwibawa, menjaga konsistensi, kolot dengan kedisiplinan waktu? "


Mau tak mau aku harus mengingat tentang image yang selama ini dia bangun.


"semua gak berlaku buat kamu"


"kenapa bisa gitu, why? "


"karena cinta tak pernah memandang logika" Dian menatap tajam ke arah ku. Sepertinya dia tidak main-main dengan apa yang dia katakan.


Benarkah cintanya begitu menginginkan kami untuk bersama?


Apakah aku tega menyiksa dia dengan penantian ini?


Terlihat jelas permohonan dari sorot matanya. Rasanya aku tak mampu lagi untuk mengatakan TIDAK.


Aku harus bagaimana?


Bernegosiasi dengan seseorang yang sedang jatuh cinta, kebelet nikah, rupanya tak mudah.


Dan, bukankah dalam agama jika seseorang telah cukup usia, siap mental, maka menikah itu sangat dianjurkan untuk menghindari perbuatan zina?


"Dian sabar ya. Kasih aku waktu untuk menyelesaikan jalan ku yang tinggal beberapa langkah saja.

__ADS_1


Ya sudah, begini saja. Sekarang aku lagi ngurus magang. Nanti biar sekalian aku pamit dari pesantren"


"selesai magang kita nikah" dengan santai Dian berkata nikah, nikah dan nikah. Itu saja yang ada di pikiran Dian sejak tadi.


"ya gak gitu juga Rahardiannnnnn.


Tau awh, pusing aku lama-lama. Dasar, bucin! Kamu yang, bucin kenapa aku yang repot sih"


"karena bucin nya sama kamu" dengan nada manja Dian masih memasang wajah memelasnya.


Jadi bingung, siapa yang cowok, siapa yang cewek ya. Perasaan dari tadi Dian saja yang manja-manja.


"untung ya aku waras. Coba kalo bucin barengan, Bisa-bisa udah hamil sekarang"


"ya jangan gitu juga sih Kay. Makanya sih, nikah aja yok. Terus kita bucin barengan. Terus bikin anak, terus kamu hamil. Terus ...... " jadi melihat sisi cerewet nya seorang cowok kalau seperti ini.


"terus.... gak usah di lanjutkan.


Udah awh stop bahas nikah nikah dan nikah.


Sabar, anggap aja ini ujian kesabaran buat kamu. Atau, anggap aja ini karma buat kamu karena selama ini sudah menjungkirbalikkan hati ku"


Diam, hening.


Mungkin Dian sedang mencerna perkataan ku. Entah dia sadar atau tidak bahwa selama ini dia telah menjungkirbalikkan perasaan ku. Dan gak mudah untuk menghadapi semua gejolak itu.


"sudah ya. Jadi cowok gak boleh lembek. Lawan semua bisikan setan. Lawan hawa nafsu. Puasa aja dulu, sampai tanggal pernikahan tiba"


"kok bisa gitu? " tanya ku heran.


"iyalah. LDR gini aja udah diet alami, bawaannya males makan. Apalagi puasa" rupanya diam-diam ada yang curhat. Jadi beneran ya Dian sedang di landa bucin akut????


"tapi kalo puasa kan dapat pahala sayang. Menghindarkan dari hawa nafsu"


Tak ada suara. Masih dengan ekspresi wajah yang layu. Padahal sudah makan habis satu piring penuh.


"yasudah, sebisa mungkin aku usahakan buat nemenin kamu di waktu jam makan. Yah, biarpun itu cuma lewat vcall sih.


Dian, asal kamu tau yah. Masih mending loh di saat kamu bucin gini ada yang merespon.


Lha, aku dulu, kamu yang selalu bikin perasaan ku jungkir balik, harus menghadapi perasaan ku sendiri. Bayangin coba, gimana beratnya?


Udah aku yang tersakiti, malah aku lagi yang di salahkan, dipojokan oleh ummi kamu. Atas apa yang sama sekali tidak aku lakukan. Sudah aku jadi korban kamu, jadi korban ummi kamu. Kebayang gak gimana rasanya jadi aku? "


Aku menyandarkan kepala di pundak Dian. Bukan aku dengan sengaja ingin mengingat kembali luka itu, rasanya begitu berat. Aku hanya ingin Dian tau, bahwa aku pun pernah melewati masa-masa berat, bahkan hanya seorang diri.


"maafkan aku ya. Sebegitu besar luka yang pernah kamu alami karena aku. Aku janji, setelah ini tidak akan pernah ada luka lagi"

__ADS_1


Pandangan kami bertemu, begitu lekatnya. Tak ada kebohongan di dalamnya. Yang ada hanyalah harapan. Harapan akan keindahan di hari esok.


"berjanjilah tidak akan membuat diri mu sendiri terpuruk. Apapun itu, bersabarlah untuk waktu yang kita tunggu. Semakin lama kita menanti, akan semakin indah saat bersama.


Cinta ini adalah kekuatan kita untuk tetap bersemangat menjalani hari-hari. Menanti hari bahagia saat kita akan bersama nanti.


Tak perlu tergesa-gesa, bisa jadi itu tidak akan baik nantinya.


Sudah sejauh ini kita bertahan dalam kejauhan. Berapa tahun ya? Sepuluh tahun ada kan ya? Lebih deh sepertinya.


Kita hanya akan menunggu kurang dari setahun, untuk menikah. Gak lama kan? "


Aku sudah seperti ibu-ibu yang sedang memberi pengertian saja, disaat anaknya merajuk.


Rupanya, tak pandang perempuan maupun lelaki, Sama-sama bisa merajuk. Dan tugas dari pasangan adalah, menjadi air yang menyegarkan saat tanamannya layu. Itulah yang sedang aku lakukan saat ini.


"bener juga sih kata mau. Gak lama lagi kita bakal nikah ya" (nah, kan. Bunganya udah mulai segar 😘)


"iya sayang. Gak lama kok, sebentar lagi. Kita nikah.


Kerja yang rajin ya, yang semangat cari duit buat biayain pernikahan kita. Kan aku belum kerja, kamu udah ngebet nikah aja. Jadi ya, mau gak mau kamu sendiri yang biayain"


"buat kamu, apapun itu.


Kamu mau minta mahar .....apppaa aja boleh, berapppaa aja boleh. Mau minta pesta semegah apapun, boleh. Mau minta gaun semaaaahhhal apapun boleh. Pokoknya semua.


Yang terbaik buat pesta pernikahan kita nanti. Sampai kamu gak akan lupa seumur hidup kita"


"awh, serius. Beneran tuh. Emangnya udah terkumpul lagi duit tabungan kamu? " aku pura-pura meragukan keuangan Dian. Ingin ngetes saja, ingin tau juga sih. Sepertinya dari kemarin waktu lamaran gak habis-habis surprise yang dia kasih.


"kamu belum tau yah?


Aku punya saham loh di beberapa cafe dan restauran"


Saat itu aku sedang menghabiskan jus mangga ku, dan aku di buat tersedak tiba-tiba dengan ucapan Dian.


"hah, seriusan? Sejak kapan? Diam-diam jadi pengusaha?" tanya ku semakin penasaran


"sejak setahun kuliah. Kan dari dulu aku gak suka barang mewah. Gak seperti kakak. Setiap kali kakak minta dibelikan sesuatu, aku gak pernah minta apapun. Jadi abi menyisihkan uangnya di tabungan ku.


Begitu aku dapat ilmu di bangku kuliah, aku sering nongkrong sama temen-temen. Ada kakak dari temen yang punya usaha cafe, awalnya temen cerita sih kalau kakak nya lagi butuh dana. Sedangkan aku ada uang nganggur tuh. Iseng-iseng deh aku tawarkan buat tanam sahan di sana. Beberapa bulan berjalan, aku rasa perkembangannya cukup lumayan, akhirnya ketagihan dan jadi merembet ke tempat-tempat yang lain juga"


Aku angkat dua jari jempol tinggi-tinggi. Gak menyangka ada seorang pebisnis muda, dan itu nyata di depan mata.


Memang aku bukan cewek matre. Tapi siapa yang gak bangga sih kalau punya pasangan mapan, beruang 😄 bonus lah ya itu 🥰


"selamat selamat. Hebat. Salut aku. Keren calon imam ku ini. Makin cinta deh" tak henti aku mengulum senyum. Turut berbahagia atas pencapaian nya. Juga berbahagia karena bunga ku tak lagi layu.

__ADS_1


Satu lagi, sangat bahagia karena Allah mengirimkan calon imam yang seperti Dian. Yang pasti tak akan ada duanya. NANO NANO


__________________tbc__________________


__ADS_2