
Setelah menemani Siska makan aku bersiap untuk berangkat kuliah.
Terpaksa aku meninggalkan Siska di pesantren. Tapi sebelumnya aku menitipkan Siska pada ummi.
"kamu berangkat kuliah sendiri Kayra? " tanya ustadz Billal. Orang yang membuat aku merasa begitu malas untuk memasuki kediaman utama. Tapi mau bagaimana lagi, itu rumahnya.
"iya ustad" jawab ku singkat dan ingin segera melangkah pergi.
"mau bareng sama saya? " kalimat penawaran yang seketika menghentikan langkah ku.
"tidak ustad, Terima kasih" dengan sangat sadar aku menolak tawaran itu.
"gak perlu sungkan. Saya ada urusan di kantor Depag hari ini, bisa jadi sampai sore" tak juga menyerah ternyata ustad Billal.
"ekhh.... ekhhh.... "
"biar saya yang mintakan ijin sama ummi"
"niat bener ustad ini! penawaran atau pemaksaan sih! " gerutu ku dalam hati.
Aku masih diam terpaku, kaki terasa kaku bibir terasa ngilu.
"ayo, berangkat" ustad Billal telah kembali dengan diikuti ummi.
"bareng saja sama Billal Kayra, daripada kesepian di mobil sendiri" ummi menepuk-nepuk bahu ku.
Mau tak mau bibir ini jadi tersungging, entah apa arti dari senyuman itu. Berat untuk menerima tapi tak bisa untuk menolak.
Percuma saja menghindari makan pagi satu jika pada akhirnya justru satu mobil berdua. (Maaamaaaa tooooloong)
"ustad, saya minta ijin duduk di bangku belakang ya"
"tidak mau, saya bukan sopir kamu"
"susah sekali sih mengelak dari ustad satu ini" gerutu ku dalam hati sembari menutup pintu dengan suara keras.
"kamu kenapa? " tanya ustad Billal, mungkin menyadari aku menutup pintu dengan sedikit membanting.
"eh, tidak ustad" aku mengelak
Mobil melaju meninggalkan pesantren. Rasa hati dag dig dug tak karuan. Baru kali ini duduk di mobil Toyota sport keluaran terbaru rasanya tak enak sekali. Bukan mobilnya yang gak enak, melainkan perasaan nya.
Sepanjang perjalanan aku hanya diam, mengumpat dalam hati si ustad yang hobinya maksa. Dan entah kenapa aku benar-benar tak berdaya. Rasanya ingin sekali mulut ini berkumat-kamit mengeluarkan dalil-dalil tentang dilarangnya perbuatan-perbuatan yang mendekati zina.
Berulang kali aku berfikir "aku, atau dia yang sikapnya tak pantas? "
"Kayra" seseorang di bangku kemudian memanggil nama ku.
"iya" jawab ku.
"kamu berfikir apa dari tadi hanya diam? Gak perlu takut, saya tidak semenakutkan yang kamu pikir"
deg
berasa skak mat. Mau mengelak bibir tak bisa bergerak.
"maaf ustad" hanya kata itu yang mampu keluar.
"untuk apa? "
Mobil tiba-tiba menepi, seketika aku menatap ke arah ustad Billal.
"ada apa ustad? " tanya ku.
__ADS_1
Lagi-lagi aku harus mendapatkan tatapan menguliti.
"kamu punya pacar? "
"tidak ustad, saya tidak pernah pacaran" spontan aku menjawab. Tapi, kenapa juga ustad Billal menanyakan urusan pribadi ku? semakin menakutkan saja ustad ini.
Hanya untuk pertanyaan itu dan mobil kembali melaju.
Kini sudah memasuk area kampus. Aku meminta untuk di turunkan di depan gerbang masuk saja. Tapi lagi-lagi mendapat penolakan dari ustad Billal.
aku bisa apa?
aku bisa apa?
aku bisa apa?
selain menahan perasaan kesal.
Kapan aku bisa bebas dari segala jeratan dunia ini?
Mobil tepat berhenti di depan gedung Fakultas Ekonomi.
"nanti kabari saja saya kalau sudah selesai kuliah. Ini nomor saya" ucap ustad Billal sebelum aku turun, sembari memberikan sobekan kertas kecil.
"ya Allah, aku harus mengumpulkan keberanian macam apalagi untuk menghadapi ustad Billal? Kenapa harus ada pagi dan lagi? " Bicara ku dalam hati sesaat setelah turun dari mobil, sebelum kembali melangkah kan kaki.
Memasuki area kampus pikiran harus bersih. Tes akselerasi di depan mata. Sementara pak Nicholas masih saja menawarkan posisi sebagai asdos. Mendesak, untuk menggantikan beliau selama cuti menikah. Anggap saja lagi dapat rejeki nomplok.
Pelajar pertama, kedua telah berlalu. Ada waktu 30 menit sebelum kelas ketiga. Aku manfaatkan untuk dan makan siang. Sembari menunggu pesanan makanan datang, aku menghubungi Siska.
"assalamu'alaikum, kenapa Kay" suara Siska sedikit serak, mungkin baru bangun tidur.
"waalaikumsalam. Aku yang telpon kamu yang salam duluan" protes ku.
"gimana, udah baikan? "
"alhamdulillah udah. Tadi juga di tungguin sama ummi, sambil interogasi" ucap Siska penuh tanda tanya.
"maksudnya? "
"interogasi.Tanyain segala macam soal kamu"
"maksudnya? "
"ya gak tau, mau dijadiin menantu mungkin"
"maksudnya? "
"maksudnya, maksudnya terus. Mulai lola kalo diajak ngomong beginian" Siska nampak geram.
"kamu gak usah bikin aku kenyang mendadak deh"
Disela-sela telephone ada pesan masuk, ustad Billal.
dreettt
"sudah istirahat belum, mau saya jemput makan siang? saya telpon gak bisa masuk, kamu lagi telepon sepertinya" ~ Pengiriman 0812345xxxx
"uhhhhkk... uuhhuuukk... uuhhhuukk" aku langsung tersedak air liur membaca pesan dari ustad Billal.
"Kay, kamu kenapa. Lagi makan, kesedak? "
"awh... iya. Aku lagi di kantin ini"
__ADS_1
"yaudah, makan dulu sana. Makan sambil telepon gak baik"
Sesaat kemudian sambungan telepon kami terputus.
Melupakan apa yang tadi sempat di katakan oleh Siska, tapi masih membayang di kepala isi pesan dari ustad Billal. Membuat aku melahap nasi yang sudah di depan ku dengan Lahap. Yang penting kenyang dulu, lainnya pikir belakang.
ttrriinngg
"saya tidak akan makan siang sebelum kamu menjawab tawaran saya" ~pengirim 0812345xxxx
"iwh, sejak kapan menunggu jawaban dari tawaran. Yang ada selalu pemaksaan. Dasar! " aku ngomel sendiri, kemudian datang teman kelas cowok ku yang juga sedang makan disana.
"permisi, boleh aku temani disini ya. Daripada kamu bicara sendiri" kalimat terakhir bernada mengejek.
Apes benar,sehari saja tanpa Siska.
Aku hanya mendengus dan menyunggingkan senyum. Menatapnya sekilas kemudian melanjutkan makan ku.
Karena sebelumnya aku tidak pernah memberi kesempatan pada lelaki manapun untuk dekat dengan ku. Dekat secara fisik, juga dekat secara hati. Kecuali, dua lelaki super menyebalkan itu. Yang berhasil membobol pertahanan ku berkali-kali.
"kalau mau duduk, duduk saja. Tidak perlu mengejek" ucap seseorang dari belakang tempat duduk ku.
"pantesan pesan saya tidak di jawab, rupanya sudah makan" belum sempat berkata apapun sudah kembali diserang dengan kalimat baru.
"lanjutkan saja makannya, tidak baik makan sambil bicara. Saya akan memesan makanan"
"astagfirullah, Ustad satu ini benar-benar ya" pikir ku sekilas. Kemudian kembali menghabiskan makanan.
Terserahlah orangnya mau apa, toh ini tempat umum, bebas.
Aku memang sengaja tidak membalas pesan yang masuk. Ewh, malah orangnya yang tiba-tiba masuk. Gak heran sih, hari gini take lokasi di HP bisa membuat siapapun melacak lokasi.
"aha, aku punya ide. Mungkin saat ini waktunya pak Nicholas membalas budi pada ku, hihihi" pikir ku dalam hati.
Aku kirimkan pesan pada pak Nicholas. Meminta beliau menjadi superhero yang menyelamatkan aku dari tatapan mata elang.
Semoga saja beliau sedang tidak ada kelas saat ini.
Beberapa saat menunggu. Saat ini makan ku sudah habis. Hanya saja masih menyeruput jus alpukat.
Seperti biasa, Ustad Billal ikut duduk di meja ku tanpa meminta pendapat ku.
"permisi ya" ucapnya. Disambut anggukan oleh teman ku.
Beberapa saat menunggu pesan jawaban, ahirnya datang juga.
tteriinngg
"wah, maaf Kayra. Bapak sedang ada meeting dengan dosen lain" ~P'Nicho
Mau bagaimana lagi, Terima nasib sajalah. Duduk manis sampai ustad Billal selesai makan. Setidaknya beliau menatap ke arah piring saat makan, bukan ke arah ku.
_________________^_^_______________
hay-hay, Kayra menyapa kembali.
terimakasih untuk para pembaca yang masih setia disini.
dukungan tetap author harapkan yah, tapi maaf kata sambutan tak bisa sepanjang biasanya nya.
pokoknya LOVE LOVE lah 🥰 untuk para pembaca Kayra
😘
__ADS_1