KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Pertunangan


__ADS_3

Menjelang dhuhur datang beberapa mobil lagi, saudara yang rumahnya sekitaran Jogja saja. Sebelum itu, telah datang puluhan kotak seserahan beserta buah tangan lainnya.


Padahal Melan yang mau di lamar, tapi semua barang ada di rumah ku saat ini. Jadi tersenyum sendiri, membayangkan andai saja semua ini lamaran yang datang dari Dian.


Aaarrgghhh, kenapa jadi nikah... nikah... dan nikah si yang ada di otak ku ini!


"ayo semua mulai bersiap. Supaya tidak terlalu lama saling menunggu" Eyang mulai bertindak untuk menggerakkan anak cucunya yang masih saja asik curcol.


Perempuan ya, kalo sudah ngobrol. Suka lupa sama waktu.


Lantai bawah di penuhi oleh para orang tua. Sementara anak-anak mudanya berada di lantai atas.


Aku pun tak ketinggalan ikut menyiapkan diri, tampil dengan dandanan sebaik mungkin. Bukan karena ada Dian di sana, melainkan ini adalah hari istimewa untuk sahabat ku.


Setelah semua persiapan selesai semua mulai berbaris. Beriringan berjalan ke rumah Melan dengan membawa sebuah kotak juga nampan pada masing-masing tangan.


Aku mendapat bagian membawa kotak berisi kain tile bermotif mutiara dengan warna silver pink. Dari luar saja terlihat lembut bahannya, pasti akan sangat cantik kalau nanti dijadikan kebaya. Sayangnya bukan untuk aku 😀


Aku jadi ikut deg-degan saat mulai melangkah memasuki rumah Melan. Pasalnya terlihat jelas Dian menyambut rombongan pengiring dengan sebuah kamera di tangan. Wajahnya terlihat begitu segar dengan tatanan rambut yang tidak seperti biasanya.


Senyumnya terus mengembang, entah itu spesial untuk ku atau untuk semua tamu yang ada.


Hati ku semakin berdegup kencang saat kedua mata ku kembali menangkap keberadaan sosok yang selama ini sering kali mengusik ku, ustadzah Zia. Mau tak mau, aku tidak bisa menghindari. Dalam hati aku terus berdoa, semoga pertemuan ini tidak kembali membawa petaka.


Mencoba menetralkan degupan jantung ku dengan mengalihkan fokus pada Melan. Senyuman Dian benar-benar mengusik hati ku. Namun harus menahan senyuman karena ada penjaganya di ujung sana.


Rela tidak rela akupun harus melepaskan pelukan. Setelah itu aku mengambil tempat duduk di belakang saudara yang lain. Anggap saja aku sedang bersembunyi. Bukan aku merasa takut pada ustadzah Zia. Hanya saja tidak ingin terlihat begitu mencolok guna menghindari tatapan dari Dian yang sudah pasti sulit untuk aku menyembunyikan senyuman.


Acara belum juga di mulai. Tapi dari tempat ku duduk bisa terlihat Dian masih saja membidikkan kamera. Semoga bukan aku yang menjadi objek utama fotonya.


Dilihat dari cara dia memegang kamera, ini bukanlah pertama kali dia memegang benda itu. Jujur saja, aku terpesona dengan gayanya. Tidak kalah keren dengan gaya Raymond saat memfoto.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, banyak orang terlihat sedang menikmati suguhan. Mulai dari kue basah hingga kue kering. Namun tangan ini sulit di gerakan untuk meraih makanan. Merasa ada yang sedang memperhatikan. Niat hati ingin segera berlari.


Berada di acara semacam ini bersama Dian juga ustadzah membuat ku merasa tidak nyaman. Merasa resah sendiri, sementara yang lain terlihat menikmati.


Perasaan ku semakin mengembang bagai ingin terbang saat melihat pesan dari Dian


"you are so beautiful" diikuti dengan emoticon peluk dan cium.


Tanpa aku balas, ada pesan masuk lagi dari orang yang sama. Kali ini foto sebuah cincin di dalam kotak. Dengan kalimat "cantik gak? suka gak? "


Aku menggelengkan kepala geli. Apasih maksud dia? tanya ku dalam hati. Yang kemudian keinginan tahuan ku memudar seiring dengan di mulainya acara.


MC membacakan susunan acara. Sambutan demi sambutan di sampaikan. Acara tukar cincin pun telah selesai.


Tiba pada sesi foto bersama sembari ramah tamah. Fotografer masih dengan orang yang sama. Kami sempat bercanda tadi saat aku yang berfoto bersama kak Gilang dan Melan. Tiba-tiba Dian menyerahkan kamera pada orang lain dan ikut bergabung berfoto bersama.


Beruntung tidak ada drama dadakan. Bahkan tadi saat mata kami tak sengaja bertemu, ustadzah Zia yang berada tak jauh darinya tersenyum pada ku. Senyum yang bertahun-tahun hilang, kini mulai kembali mengembang.


Semua orang sedang menikmati jamuan menu utama,begitupun aku. Dengan ditemani alunan lagu dari band yang sedang hits saat ini. Lalu mic MC kembali berbunyi dengan suara nyanyian langsung dari seseorang. Dan aku hafal benar suara siapa itu. Melan yang saat ini ikut makan dan duduk bersama ku, terus saja menggoda. Beruntung aku tidak sampai tersedak.


Menit berikutnya mic kembali ke tangan MC yang sebenarnya. Yang tak lain adalah kerabat Dian juga Melan dari Bandung.


Tapi bukan hanya MC yang bicara, melainkan mereka berdua. Dengan obrolan yang sedikit-sedikit aku merasa bahwa itu menjurus pada ku.


"sepertinya akan ada dauble engagement nih" ucap si MC. Lalu kembali di jawab dengan kalimat tersirat oleh Dian.


Hati ku kembali bergetar, dag dig dug tak karuan. Sementara suara siuh mulai memenuhi ruangan.


"maafkan kelancangan saya untuk saat ini. Karena ini di luar acara yang seharusnya.


Tapi kebetulan di sini aka keluarga besar saya dan juga keluarga besar Kayra. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.

__ADS_1


Dengan segenap kerendahan hati saya juga minta maaf kepada Om Wijayakrama beserta ibu, mungkin ini kurang sopan karena saya belum menghadap secara pribadi. Tapi setelah acara ini, insya Allah saya akan datang bersama abi dan ummi"


Hati ku semakin tak karuan saat nama ku juga mama dan papa di sebut oleh Dian. Dan lagi, kalimat terakhir membuat ku benar-benar tercengang. Apa maksud semua ini? Apa aku mau di lamar?


Aku menggenggam erat tangan Melan, karena dialah yang terdekat dengan ku saat ini.


"Bismillah hir rohman nirrohim, dengan ini saya meminta ijin kepada bapak Wijayakrama untuk meminang putri bapak yang bernama Kayra Putri Almahira. Wanita yang selama ini menjadi semangat saya. Wanita yang selama ini selalu memenuhi hati saya. Wanita yang selama ini ada dalam doa saya"


Kini suasana berubah menjadi hening.


Pandangan ku mencari keberadaan mama dan papa. Entah kebetulan yang seperti apa, papa sudah mengobrol bersama ustadz amin. Sementara mama,belum sempat aku melangkah ke tempat mama ustadzah Zia sudah menghampiri mama terlebih dulu.


Kini aku membungkam mulut dengan kedua tangan. Menahan segala rasa yang ada.


"ayo Kay, nunggu apa lagi" kata Melan.


"aku mimpi gak sih ini Mel? Coba cubit" ucap ku pada Melan.


Rasanya ini seperti mimpi. Aku masih syok. Antara iya dan tidak. Apakah ini benar-benar terjadi? secepat inikah? Tanpa ada pembicaraan apapun sebelum nya.


Gila, Dian gak tanggung-tanggung jungkirbalikkan hati aku.


Aku menghampiri mama dan ustadzah Zia. Memeluk mama untuk sesaat. Lalu ustadzah Zia ikut mengusap bahu ku sembari tersenyum. Apakah ini artinya?????


Ya Allah inikah hadiah terindah dari mu?


Aku benar-benar tidak percaya ini terjadi. Terlagi, seulas senyum dari ustadzah Zia yang mengisyaratkan bahwa beliau mengizinkan.


Takdir Allah sungguh siapa yang tau. Dialah sang Maha pembulak-balik hati. Keangkuhan hati manusia hanyalah hal kecil bagi Nya. Hati ustadzah Zia telah luluh, entah bagaimana caranya. Dian sama sekali tidak pernah bercerita tentang ini.


Dengan ucapan basmalah juga aku berusaha menata hati dan langkah. Semoga ini menjadi awal yang baik untuk kebersamaan ku dan Dian.

__ADS_1


__________________TBC__________________


__ADS_2