KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Awal perbaikan


__ADS_3

Hanya ada dua mata kuliah hari, tepat pukul sepuluh siang aku meninggalkan rumah.


Berbincang dengan mama selama 3 jam cukuplah untuk melepas rasa rindu yang tertahan.


Kuliah ku baru akan dimulai nanti pukul sebelas. Masih ada waktu satu jam untuk berkunjung ke rumah kak Jo.


Aku sudah membawa sebotol air mineral yang telah di bantu isi doa oleh ustad Billal.


Mama mendukung ku, ternyata mama pernah menyampaikan hal itu pada orang tua kak Jo.


Disini memang aku yang berperan, aku yang berinteraksi dengan Kak Jo. Tapi dibalik itu semua, ada orang tua kami yang saling berbagi keluh kesah dan bersama mencari solusi.


Kedekatan yang bukan dikarenakan kerabat, melainkan atas nama persahabatan.


Hay, apa kabar para sahabat ku 3 M? akankah persahabatan kita bisa selanggeng itu?


Aku merindukan mereka, sekali pun kini aku tidak lagi berlindung dibawah ketiak mereka. Minimal aku ingin meminjam pundak mereka sesaat saja.


Dengan sedikit harapan yang lebih aku menginjakkan kaki di rumah kak Jo.


Terlihat dia sedang duduk di bangku teras saat aku memarkirkan mobil. "Baguslah kalau sudah mulai mau keluar kamar" pikir ku.


Dengan senyum penuh harapan baik aku turun dari mobil.


"assalamu'alaikum kak" sapa ku.


Disambut dengan pandangan yang penuh mengawasi "masuk, mama di dalam" jawabnya.


Dia bahkan tidak menjawab salam ku.


"aku kesini untuk tengok kakak. Apa kakak sudah merasa lebih baik? " kemudian aku ikut duduk di bangku teras.


Badannya kini sudah terlihat lebih segar, mungkin baru saja mandi.


Tanpa menjawab pertanyaan ku, kak Jo justru meninggalkan aku dan masuk ke kamar. Akhirnya aku mengekor di belakang.


Gini amat yah nolongin orang yang lagi patah hati?


kalian ada yang pernah patah hati? semoga tidak sampai separah ini 😭


"kak, tadi aku belikan bubur ayam yang dulu kakak sering makan di sana. Mau makan sekarang? "


"buat kamu aja" ucapnya,tanpa melihat aku sedikitpun.


*Ju*des amat ya, sabar-sabar.


Kenapa malah seperti ini? kenapa justru aku yang diabaikan?


Akhirnya aku keluar dari kamar kak Jo dan menyapa mamanya yang sedang ada di teras belakang bersama di bayi. Mungkin hati ku akan kembali dingin setelah melihat yang imut-imut menggemaskan.


"assalamu'alaikum tante" sapa ku.

__ADS_1


"waalaikumsalam, Kayra. Sudah dari tadi? "


"baru saja tante"


"sudah ketemu sama Jo, tadi dia duduk di teras depan"


"sudah tante, tapi kenapa dia jutek sekali sama Kayra ya? apa habis bertengkar dengan om atau tante mungkin? " kini aku mulai terbiasa berinteraksi dengan keluarga ini. Seperti kata mama, lama-kelamaan kamu akan merasa seperti keluarga di sana.


"enggak Kay, mana mungkin kami menambah beban mental dia dengan memarahi"


"oh ya tante, apa sebelumnya tante pernah menanyakan hal lain pada teman-teman KKN kak Jo? Maksud Kayra begini, mungkin saja ada faktor lain yang mengganggu mental kak Jo selain patah hati"


"tidak pernah Kay. Dan selama ini tidak pernah ada hal yang aneh pada sikap dia"


Jadi ini murni karena patah hati?


"tante mungkin punya camilan, cake atau snack? Kayra ingin coba ngobrol sambil ngemil. Karena dulu kami sering melakukan itu"


"iya, ada. Ayok, tante ambilkan"


Aku ikuti mamanya kak Jo ke dapur. Setalah beliau mengambilkan kue dari dalam kulkas, aku berjalan menuju rak perabotan dan mengeluarkan gelas.


"tante, Kayra ambil minum ya" aku menuangkan isi botol ke dalam cangkir. Beruntung aku menemukan cangkir kesayangan yang pernah kak Jo ceritakan. Semoga saja dia mau meminum air yang sudah berisi doa.


Aku kembali ke kamar kak Jo dengan membawa nampan beserta isinya.


Seperti biasa, kak Jo sedang duduk di bangku meja belajar, menghadap ke arah luar jendela dan melamun.


"kak, nanti kesambet loh kalo melamun terus" aku letakkan nampan di meja.


Aku mencoba menatap mata kak Jo setiap kali berbicara, seperti yang di sarankan oleh mama.


Kali ini dia menatap ku lekat, detik berikutnya dia memegang kedua lengan ku. Mata kami bertatapan, wajah kak Jo semakin mendekat. Jantung ku berdetak menjadi tak karuan.


Apa yang akan kak Jo lakukan?


"apa benar Kay, gak ada sedikitpun aku di hati kamu? apa benar itu?


Kayra Putri Almahira, apa benar kamu menolak cinta ku? katakana Kay, katakan" ucapnya dengan penuh penekanan.


Dengan jarak yang sedekat ini, dengan tatapan kemarahan yang penuh ambisi, terasa dari cengkeraman kak Jo yang semakin mengerat. Aku takut


"kak, kita tidak harus membicarakan ini" aku takut, aku takut kak Jo tidak bisa mengendalikan dirinya.


"kak,sakit" Bahkan cengkeraman di tangan ku terasa semakin sakit.


Tidak ada suara, tidak ada jawaban. Tapi kedua lengan ku masih terkurung dalam cengkeraman kak Jo.


"auh, sakit kakkkk" sengaja aku berbicara lebih keras, semoga itu bisa menyadarkan alam bawah sadar kak Jo.


Dan, berhasil. Seketika tangan kak terlepas.

__ADS_1


"iya, iya. Maaf. Maafkan kakak. Kakak tidak bermaksud menyakiti kamu" kak Jo mengalihkan pandangan dan mengusap wajahnya dengan kasar. Kemudian menangkup wajahnya menggunakan kedua tangan. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran kak Jo saat ini. Yang pasti, ada suatu rasa yang bergejolak di hati nya.


Apakah dia mengingat kenangan kami dulu?


Apakah rasa cinta di hatinya kembali menggebu?


"kak, sudah ya. Kita makan camilan aja yuk biar lebih santai" sayangnya belum ada respon.


"kakak minum dulu ya, supaya lebih tenang"


Yeah, berhasil. Tangan kak Jo terulur untuk menerima gelas yang aku sodorkan.


Alhamdulillah, satu teguk... dua teguk.... air berisi doa itu sudah masuk. Semoga bisa membuat hatinya lebih dingin.


"kita duduk di luar yok kak sambil menikmati angin. Biar gak bosan di kamar terus. Siapa tau suasana hati kakak akan lebih baik"


Kak Jo mengangguk. Kemudian berdiri dan berjalan lebih dulu. Aku mengekor sembari membawa nampan di tangan.


sudah seperti majikan sama pembantu aja, payah!


Kak Jo menuju teras belakang. Di sana lebih sejuk jika matahari sudah hampir mencapai tengah seperti ini.


Aku melihat jam, waktu ku tersisa dua puluh menit lagi. Tapi meninggalkan kak Jo dengan keadaan seperti saat ini, aku takut itu akan memberikan pukulan baru pada dirinya. Perasaannya baru saja membaik, bahkan aku berharap bisa mengorek sedikit saja isi dari hatinya.


Mungkin memang aku yang jahat, aku yang membuat dia patah hati, tapi boleh kan jika aku sekedar mendengarkan isi hatinya. Isi hati yang beberapa tahun lalu pernah dia ungkapkan dan aku abaikan.


Mungkin itu akan sedikit mengurangi beban perasaannya.


"kenapa? kamu mau pergi, pergi aja" ternyata dia melihat saat aku memperhatikan jam tangan.


"enggak, kan mau nemenin kak Jo ngemil.


Udaranya terasa panas, makanya aku lihat jam" entah alasan ku masuk akal atau tidak, yang pasti saat ini aku ingin menjaga mood baik kak Jo.


"awet juga ya cangkir kesayangan kak Jo ini" aku memulai pembicaraan saat kami sudah duduk.


Dia melirik sekilas. Aku ingat, cangkir itu dia dapat saat lomba agustusan di sekolah. Dia begitu antusiasme untuk memenangkan lomba. Tidak taunya dia sangat mengincar hadiah, padahal hanya sebuah cangkir.


Cangkir yang dibalut stiker bergambarkan musisi ternama saat itu dan dia begitu mengidolakan musisi tersebut.


Aku kembali memancing obrolan dengan menyodorkan kue di toples.


"ternyata kakak memang suka ya sama kue ini, pantesan setiap lebaran Kayra lihat selalu ada kue itu di meja"


"enak loh kak. Tante yang bikin, apa beli ya? " aku masih saja mengoceh sendiri seperti burung.


"beneran kakak gak mau icip? " aku sodorkan satu potong di depan mulut kak Jo.


Aku menyuapinya? untuk pertama kali aku menyuapi orang asing, apa yang aku lakukan?


Happp!

__ADS_1


Seperti seekor cicak yang menangkap nyamuk dengan cepat, seketika kue itu masuk ke dalam mulut. Seakan semangat nya telah kembali, minimal semangat untuk makan.


______________TBC____________


__ADS_2