KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Kencan Pertama


__ADS_3

Rahardian Putra Admaja


Nama itu tidak henti-hentinya memenuhi isi kepala ku.


Jika dulu mengingat inisial dari nama itu saja sudah membuat ku enggan setengah mati,kini mengingat nama itu menjadikan aku bahagia setengah mati.


Bagaimana bisa?


Rupanya Allah menjadikan kebencian ini sebagian dari rasa sayang yang muncul dari hati kecil.


Lebih tepat nya, aku membenci jarak yang menjadikan Dian buta sehingga melakukan hal-hal bodoh. Hingga pada akhirnya akulah yang harus menanggung akibat dari kebodohan nya.


Dan sekarang, akulah yang di buat bodoh oleh Dian dengan selalu mendengar perkataan nya.


Bahkan mungkin aku sudah gila karena selalu tersenyum sendiri jika mengingat semua perjalanan antara aku dan dia. Tak terbayangkan jika pada akhirnya kami akan bersama dan itu terjadi secepat ini.


Setelah beberapa bulan mencoba mengakui perasaan dan berhubungan baik dengan Dian, baru kali ini kami akan berkencan. Itupun harus di temani adek dan juga Melan.


Yasudah lah, daripada tidak sama sekali. Pikir ku.


Lepas Isya Melan sudah menunggu di rumah. Tinggal menunggu kedatangan si pangeran.


Tapi sayangnya, si pangeran gak punya mobil. Jadinya numpang 🤣


Yah, kami akan pergi menggunakan mobil ku.


Setelah Dian datang, dia berpamitan pada mama. Karena papa sedang ada tamu rekan kerja sejak sore tadi. Keluar dari ruang kerja hanya untuk solat.


"sini aku yang nyetir. Calon pengantin biar duduk manis saja" kata Melan.


"eh, biar aku aja kak Mel. Aku kan juga udah punya SIM" adek menyela.


"udah... biar cowok aja yang nyetir" lalu Dian menyambar kunci di tangan ku.


Aku masuk di bangku tengah. Sementara adek sama Melan masih ribut entah berebut apa. Jelas-jelas Dian sudah duduk bangku kemudi.


"kalian mau gitu aja? ditinggal nih" peringatan Dian menghentikan pertikaian mereka.


Tak sampai di sana, dalam mobilpun rupanya pertikaian masih berlanjut.


"aku juga udah punya SIM tau dek" ucap Melan tak terima.


"kamu palingan nyogok ya? " kali ini ucapan Melan membuat adek tersulut.


"enak aja, ya enggaklah kak.


Palingan kak Kayra tuh yang nyogok" ucap adek sembari menatap ke arah ku.


"eh... enak aja. Mana ada" jawab ku singkat.


"habisnya, baru juga bisa udah langsung punya SIM aja. Kalo ada kan belajar udah lama. Umur aja yang jadi kendali. Jadi begitu umur ku 17,langsung deh aku minta bikin SIM sama papa" curhat adek.


"iya-iya, yang udah bisa nyetir dari lama. Udah punya SIM juga. Sayangnya, mobil belum ada" aku mengecilkan suara saat mengucapkan kalimat terakhir.


"sebentar lagi kakak. Kemarin aku sudah mengajukan kok, begitu eyang dateng" bukan adek namanya jika tidak selalu menang.


Dian beberapa kali melirik ke arah belakang. Mungkin sedikit heran, ternyata tidak sekompak saat di luar. Bagi dia ini pertama kali menyaksikan interaksi antara aku dan adek.


Berbeda dengan Melan, dia hanya duduk santai sambil menyimak.


"kalo kak Melan, kapan minta dibelikan mobil kak Mel? " tanya adek mengganti subjek. Merasa menang dari aku, kini mencari mangsa baru.


"gak usah nunggu dibeliin mobil juga tiap hari SIM udah kepake dek" jawab Melan santai.


"maksudnya? " tanya kembali adek.


"kepake, orang tiap hari jadi supir pribadinya Ega"


"resiko jadi kakak" ucap Dian dengan cepat.


"iwh, jadi kakak yang sensi sih" kata Melan memprotes kakaknya.


"sabar kak Dian. Kita sama, aku juga gak pernah tu di perhatikan sama kak Kayra" entah keberanian dari mana adek langsung bicara begitu saja. Karena memang sudah bukan rahasia lagi jika tidak ada keharmonisan antara Dian dan kakaknya.


Dari belakang bangku kemudi aku mengusap pelan bahu Dian.


Aku cukup tau keinginan yang dia pendam terhadap seorang saudara. Pernah beberapa kali dia menceritakan tentang kakaknya.


"Mel, jangan kebiasaan deh ngatain aku calon penggantin" aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"calon pengantin teriak calon pengantin" adek bergumam.


"tapi kan beda...... " kalimat Melan menggantung.


"jangan gantian deh bapernya" sepertinya aku tau kemana arah kalimat Melan yang belum terselesaikan.


"habisnya, kakak kamu itu. Datang hanya untuk pergi" suara Melan berubah menjadi sendu.


"sabar sayang, abang pergi untuk mengais rejeki" ucap ku menyamarkan suara seolah menjadi kak Gilang.

__ADS_1


"apaan sih Kay" Melan mendengus.


"kenapa gak minta langsung nikah aja. Kan bisa ikut ke sana terus" ucap ku santai. Memberikan ide yang tak mungkin, seandainya itu terjadi pada ku.


"ngawur kamu!


Gimana kalo kita nikah barengan, sekarang juga" tantang Melan.


"ok ok. Aku tau. Itu gak mungkin.


Sabar dulu donkk, jangan jadi baperan. Gak baik buat kesehatan hati dan jantung"


"makanya, jangan suka pamer yang mesra-mesra donk"


"astagfirullah Melan.... mesra dari mananya?


Sejak kapan aku sama Dian suka bermesraan?


Jangankan untuk bermesraan, bicara baik-baik aja juga baru beberapa bulan ini"


"kakak ngegas" protes adek.


"curhat.... curhat... " Dian menimpali.


Kemudian suasana menjadi hening. Mengingatkan Melan supaya tidak mudah baper, justru aku sendiri yang menjadi baper mengingat betapa buruknya hubungan antara aku dan Dian dulu. Rasanya itu gemas tak karuan. Ingin menyentuh manusia itu melampiaskan segala rasa. Nano-nano banget!


Tiba di cafe yang dituju.


Rupanya Dian sudah memesan meja terlebih dulu. Bahkan ada sebuah bucket bunga di sana. Kali ini mawar pink semua.


Kami menempati privat room,yang ada di lantai paling atas. Dian menarik bangku dan mempersilahkan aku duduk. Di sebelah meja kami sudah ada satu meja lagi untuk adek dan Melan. Terpisah tapi berdekatan.


"assshhh, jadi obat nyamuk. Nyebelin. Turun ajalah ayo kak. Daripada bikin kak Mel baper" adek mengomel.


"tapi nanti..... "


"udah biarin aja. Mereka cukup tau yang namanya dosa. Dan dosa di tanggung sendiri" bukan adek namanya kalau tidak bicara ceplas ceplos.


Kemudian mereka berdua berjalan menuruni tangga, tanpa berpamitan lagi.


Sedangkan aku, mungkin aku sudah lupa jika pergi ke tempat ini bersama orang lain lagi.


Hati yang berbunga-bunga ini sudah mengalihkan dunia ku. Yang terlihat di depan mata hanyalah Dian yang ada.


Rasanya seperti mendapatkan durian runtuh. Bahagianya belum juga habis. Surprise dari Dian masih saja mengalir. Akan ada surprise apalagi malam ini?


Aku mencium dalam-dalam bucket bunga tersebut. Hingga aroma wangi khas mawarnya merasuk memenuhi kerongkongan. Setelah puas mencium aromanya,ku letakkan kembali bucket bunga itu di samping meja ku. Karena di tengah meja sudah di isi dengan dua gelas minuman. Dan juga ada kotak cake di sana.


Harusnya tidak perlu, aku juga tidak mengharapkan itu. Bahagia ku sudah cukup dengan kamu mengikrarkan hubungan kita. Dan mendapatkan restu dari orang tua.


"gak sekalian nasi tumpeng nya? " tanya ku basa-basi.


"ada kok. Ditunggu aja" jawab Dian santai.


Hah, apa??????


Seriusan?


Terus siapa yang mau makan ini semua?


Sekalipun aku suka makan, itu kalau lagi galau. Kalau lagi bahagia begini, rasanya kenyang terus 😆


"mau tiup lilin?


Awh, gak usahlah. Seperti anak kecil aja" dia yang bertanya dia sendiri yang menjawab.


Aku hanya tersenyum, rasanya begitu sulit untuk menahan senyuman.


"di potong yok, sambil nunggu pesanan makanan datang" ajak Dian.


Sebelum melakukan itu aku mengeluarkan handphone terlebih dulu. Aku foto cake yang begitu cantik. Black Forest yang berlapis coklat dengan hiasan coklat pink disertai bunga-bunga hidup sebagai hiasan nya.


"mau foto sama cake nya? " mungkin sedikit norak pertanyaan itu. Tapi aku tidak menolak.


"sama kamu juga yok" kata ku.


Akhirnya Dian merubah posisi duduknya. Bergeser ke sebelah ku.


Setelah berfoto aku mulai memotong kue itu.


"mau aku suapin" aku mulai memindahkan potongan kue ke atas piring kecil.


"boleh. Tapi gantian ya" usul Dian, tak mau kalah.


Kami habiskan satu potong kue berdua.


Baru saja meneguk sedikit minuman, makanan sudah datang.


Seperti yang tadi Dian katakan. Ada sebuah tumpeng mini yang ikut menyertai. Padahal tadi kami tidak memesan itu.

__ADS_1


Sudah pasti ini Dian sendiri yang menyiapkan sebelum.


Aku menatap Dian lekat-lekat. Mencoba mengamati aura yang terpancar di wajahnya.


Untuk pertama kalinya dan baru langkah pertama, aku sudah mendapatkan kejutan sebanyak ini darinya.


Apakah ini semua cara dia untuk menunjukkan kebahagiaan nya?


Dengan memanjakan dan membuat aku melayang setinggi mungkin.


Semoga tidak akan pernah lagi jatuh terhempas, karena pasti akan sangat menyakitkan.


"hay, kenapa perhatiin aku kaya gitu sih" Dian menghentikan dialog ku dalam hati.


"kenapa kamu mesti lakuin ini semua Dian? " aku bertanya dengan nada sedikit sendu.


"hay, kenapa. Kamu gak suka? Apa aku bikin kesalahan? Apa aku nyakitin kamu lagi? " tanya Dian sangat khawatir.


"aku bahagia. Sangat bahagia. Sangking bahagia nya, aku gak bisa mengungkapkan dengan kata-kata"


Terdengar helaan nafas lega Dian.


"aku kira kenapa tadi.


Syukurlah kalo kamu bahagia. Aku janji, setelah ini aku akan membuat kamu lupa dengan semua kesedihan yang dulu pernah ada"


"Dian...... "


"khemm... iya"


"ini semua bukan mimpi kan? Ini bukan drama? Ini bukan sandiwara?


Ini bukan salah satu cara untuk membalaskan dendam mu yang dulu? "


"Kayra, bagaimana bisa kamu masih berfikir seperti itu tentang aku.


Ini nyata, dengan sangat sadar aku merencanakan ini semua. Hanya untuk kamu"


Aku tak bisa berkata-kata lagi. Tanpa sadar air mata ku menetes.


"kok malah nangis" Dian menyentuh kelopak bawah mata ku.


Semakin terisak, aku menutup mulut ku dengan tangan.


"aku...... aku bahagia Dian. Terimakasih untuk semuanya"


Dian menarik ku ke dalam pelukan nya untuk sesaat.


"sudah ya jangan nangis lagi. Seyum aja, aku lebih suka lihatnya"


Aku menunduk membersihkan sisa air mata yang masih terasa basah di pipi.


"boleh pinjam tangan kamu sebentar? "


Apalagi ini? tanya ku dalam hati.


Dian kembali membuka kotak perhiasan.


"tadinya aku buat kalung. Tapi itu gak akan diketahui orang lain, jika kamu sudah milik ku. Jadi aku rubah jadi gelang saja" ucap Dian sambil memasangkan gelang di pergelangan tangan ku.


Sebuah gelang rantai dengan tulisan di tengah "K&D"


Sebegitu nya Dian menyatakan perasaan bahagia nya. Hingga ingin semua orang tau jika kini aku telah menjadi milik nya.


Bagaimana nanti saat aku kembali ke pesantren?


Jika cincin dan gelang ini tetap tersemat, pasti akan ada banyak pertanyaan. Tapi jika aku lepas, pasti Dian akan kecewa.


Bagaimana dengan ustadz Billal?


Sekalipun aku menolak niat baik beliau, tapi bukan berarti aku menghancurkan perasaan beliau.


Cepat atau lambat semua juga akan terjadi. Mau sampai kapanpun aku menyembunyikan nya.


Maaf, maaf dan maaf. Mungkin hanya kata itu yang bisa ku ucapkan nanti.


"udah gak boleh nangis lagi. Aku hanya ingin lihat senyuman kamu. Pokoknya aku akan mengganti air mata yang dulu dengan senyuman"


Lalu aku tersenyum menatap senyuman Dian.


Dian mengambil handphone nya. Kembali mengambil beberapa foto. Lalu kami foto berdua dengan aku menggenggam bucket mawar yang tadi.


Baru juga akan memulai makan, suara riuh beberapa orang berjalan menaiki tangga.


Bukannya tempat ini sudah di pesan khusus ya? Kenapa masih ada orang yang memasuki?


Belum selesai aku bertanya-tanya dalam hati. Suara gaduh 3M beserta adek menggemparkan seisi ruangan.


Astaga..... kejutan lagi, kejutan lagi?!

__ADS_1


___________________TBC________________


__ADS_2