KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Sudah Jatuh Tertimpa Tangga


__ADS_3

Menangis adalah pelarian pertama untuk meluapkan segala rasa ini.


Tidak pernah aku sangka, pengorbanan ku selama ini justru mendapatkan balasan penghinaan semacam ini.


Aku dilecehkan, oleh orang yang aku prioritas sesempit apapun waktu ku.


Aku dilecehkan, oleh orang yang aku bantu dengan segenap jiwa raga ku.


Aku dilecehkan, oleh orang yang selama ini aku anggap sebagai malaikat penolong ku.


Kak Jo,kenapa harus kak Jo yang menyakiti ku sesakit ini?


Kenapa dia melakukan ini terhadap ku? Betapa aku mempercayai dia, betapa aku peduli terhadap nya. Betapa aku merasa bersalah atas apa yang menimpa nya.


Haruskah ini balasan yang aku dapat kan?


Tangan ku bergetar, hati ku bergemuruh.


Jangan pernah katakan jika ini adalah bagian dari patah hati, depresi atau apalah itu!


Yang pasti aku tidak akan pernah mentolerir untuk kali ini.


Aku menangis sejadi-jadinya, entah sudah berapa lama. Air mata ku mulai mengering, hanya suara sesenggukan yang terdengar. Rasa sesak di dada belum juga hilang.


Aku beristighfar dalam hati, menarik nafas panjang dan mengeluarkan. Begitu untuk beberapa kali.


Rupanya banyak energi yang terbuang untuk menangis. Dan sekarang aku merasa lemas, aku tidak yakin bisa mengendarai mobil sampai ke pesantren.


Akhirnya aku memesan ojek online untuk mengantar ku ke cafe terdekat. Disamping butuh moodbooster, ini juga sudah waktunya makan siang, penghuni perut mulai teriak-teriak.


Supir ojol datang, dengan cepat aku memakai helm dan pergi. Meninggalkan mobil dan parkir begitu saja di pinggir jalan. Masa bodo, bilang aja lagi mogok kalo ada yang tanya, pikir ku.


Sembari menunggu pesanan datang aku menghubungi nomor Siska berkali-kali, tapi tidak ada jawaban. Pesan ku juga tidak dibalas. Mungkin dia sedang ada kelas.


KOSONG, pikiran ku saat ini kosong.


Menerawang jauh ke ujung jalan, yang terlihat justru bayangan saat kak Jo menjamah wajah ku dengan begitu dekat.


Lamunan ku buyar saat ada panggilan masuk, Dian.


"hay,iya" Dengan isakan yang tertahan, aku mencoba untuk membuka mulut. Sayangnya, suara ku nyaris tak terdengar. Jangankan untuk menjawab salam, untuk berkata 'iya' saja begitu susahnya.


"Kayra kamu kenapa? Kamu baik-baik saja? Perasaan aku gelisah terus dari tadi, kepikiran kamu"


tanpa bisa berkata-kata, justru air mata ku yang jatuh.


"Kayra kamu lagi dimana, share lokasi ya aku ke sana"


terlalu berat untuk berkata, sudah pasti hanya isak tangis tangis yang Dian dengar.


"Kayra.. Kayra... kamu dengar aku kan. Share lokasi sekarang, aku langsung ke sana"


Panggilan terputus.


Apalagi yang bisa aku lakukan, selain mengikuti perintah Dian. Membagikan lokasi ku saat ini.

__ADS_1


Minuman yang aku pesan sudah datang.


Baru sadar jika aku belum solat dzuhur. Ku lihat jam tangan dan masih ada waktu untuk solat dzuhur.


Kebetulan sekali di seberang jalan ada masjid, sehingga aku tinggalkan meja ku sebentar sembari menunggu pesanan makanan jadi.


Air mata ku bercampur dengan air wudhu. Terasa sejuk menyapu sebagian tubuh. Namun dalam dada masih terasa begitu sesak.


Dalam masih sudah tak ada seorang pun. Hanya terdengar suara beberapa orang dari dalam ruang sekretariat.


Selesai solat aku tumpahkan semua sakit di hati ini. Menangis, menangis dan menangis. Entah seberapa keras raungan suara tangis ku, hingga ada seseorang yang menghampiri ku.


"dek... dek... apa baik-baik saja? " seketika aku mendongak.


Beberapa detik mata kami bertemu. Sesempit inikah dunia, hingga harus dipertemukan dengan tanpa sengaja.


"Kayra, kamu kenapa? " mungkin ustadz Billal juga terkejut begitu melihat seseorang itu adalah aku.


Entah apa yang terjadi pada otak kecil ku, mulut ku begitu sulit untuk di gerakkan.


Melihat wajah ku yang begitu berantakan dengan mata sembab yang hampir saja tidak dapat melihat. Saking lamanya menangis.


Ustadz Billal memeluk ku dan aku tidak menolak. Hingga beberapa lama sampai aku bisa mengendalikan tangis ku, ustadz Billal melepaskan tangannya.


"rupanya sudah ada yang datang lebih dulu" kembali terdengar suara seseorang dari pintu masjid.


Dian, sejak kapan dia di sana?


"yasudah saya pergi" datang tak diundang, pulang tak di antar.


Apakah dia sudah ada saat ustadz Billal memeluk ku tadi?


Ya Allah, berat sekali ujian hari ini. Rasanya untuk menangis saja aku sudah tak sanggup. Tapi air mata jatuh begitu saja.


Harusnya Dian yang bisa menghentikan air mata ini, tapi apa?


Justru dia ikut menambah air mata yang tumpah.


Kenapa, kenapa harus ustadz Billal yang Allah Kirimkan untuk memeluk ku?


Tapi untuk saat ini aku tak punya kekuatan untuk menolak.


"sudah, kamu tenangkan diri dulu" ustadz Billal masih memegang pundak ku.


"di... dian" ucap ku terbata.


"dia hanya salah faham, nanti saya akan bantu bicara" ucap ustadz Billal lembut.


"kamu sendirian? mobil kamu dimana? "


"saya memesan makanan di cafe depan ustad" otak kecil ku sudah mulai berfungsi sekalipun terkadang masih keluar sesenggukan isak tangis.


"boleh saya temani, mungkin kamu bisa sedikit bercerita jika kamu mau"


Ustadz Billal jalan lebih dulu dan kami meninggal masjid menyeberangi jalan menuju cafe.

__ADS_1


Sesampainya di sana semua makanan yang ku pesan sudah berada di atas meja. Jika orang melihat mungkin hidangan sebanyak ini untuk sebuah keluarga kecil. Padahal hanya aku seorang yang memesan. Entah habis atau tidak.


"sebanyak ini, kamu undang banyak teman? " ustadz Billal heran.


Aku menggeleng kan kepala.


"ustadz pesan minum saja" kemudian aku menuju wastafel untuk mencuci tangan.


Selanjutnya aku sudah menyantap beberapa menu, tanpa ada rasa sungkan pada ustadz Billal. Mungkin karena kami sudah terbiasa makan satu meja. Sekalipun aku gak pernah sih makan sebanyak itu saat di pesantren.


Nah, jadi ketahuan kan rakusnya 🤣🤣🤣


EGP


"Maaf saya tidak bisa menceritakan apa yang terjadi pada ustadz. Tapi saya mau minta tolong kalau boleh" benarkan, kalau perut kenyang hati lebih tenang. Sambil menunggu ustadz Billal menyelesaikan makan aku kembali memulai pembicaraan.


"katakan saja" ucap beliau singkat.


"saya tinggalkan mobil saya di pinggir jalan tidak jauh dari sini. Boleh minta tolong antar ke sana? "


"mobil kamu mogok?"


"tidak"


"lalu kenapa ditinggal"


"tadi saya terlalu emosinal sampai saya tidak punya tenaga untuk membawa mobil sendiri" bisa jadi ustadz Billal berfikir jika aku terlalu labil.


"ok,nanti saya antar kamu ambil mobil"


Hidangan terakhir, pudding coklat oreo. Orang bilang, makanan coklat-coklat itu bisa jadi moodbooster saat hati sedang berantakan.


Makan selesai.


Tadinya pergi ke wastafel untuk mencuci tangan, begitu kembali malah membawa beberapa batang coklat di tangan.


"ini untuk kamu" ustadz Billal menyodorkan semua coklat itu pada ku.


"banyak sekali ustadz?"


"iya, tadi bayar di kasir gak ada uang kembalian" ustad Billal bercanda atau bagaimana sih? auto modus ini 🤔


________________^_^______________


Berhenti deh nangis-nangisnya Kayra, kasihan para readers yang baca sambil ikutan nangis tuh 😭😭😭


ada gak nih yang ikutan baper?? hayyo ngaku


Yakin aja deh, badai pasti berlalu. Akan ada mentari setelah hujan usai.


Dan semoga ada jejak yang tertinggal setelah bab ini terbit 🤲


LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAH, apapun itu.


semoga para pembaca Kayra pada baik hati yaah 😍😍😍

__ADS_1


Terima kasih masih setia mengikuti hingga bab ini 🥰🥰🥰


__ADS_2