
Siska POV
Pembelajaran bahasa Arab hari ini berjalan dengan menyenangkan. Karena untuk pertama kalinya aku mendapatkan point sempurna saat praktek percakapan menggunakan, tentu aku sangat bahagia.
Hingga jam pelajaran usai, Kayra belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal tadi sempat mengirim pesan kalau dia akan mengusahakan untuk ikut kelas meskipun terlambat.
Di akhir pertemuan, aku sempat berbincang dengan ustadz Billal. Tapi bukan tentang aku atau beliau yang menjadi tema perbincangan. Melainkan tentang Kayra.
Yah, akhirnya ustadz Billal mengakui sendiri bahwa beliau penasaran dengan cincin juga gelang dengan inisial nama yang melingkar di jari dan tangan Kayra. Namun tidak akan keberanian untuk menanyakan langsung pada Kayra.
Setelah memberitahu Ustadz Billal tentang pertunangan Kayra barulah beliau menceritakan tentang dirinya sendiri. Lebih tepatnya curhat tentang hati. Terluka namun bahagia. Seperti itulah yang bisa aku simpulkan.
Terluka karena sudah benar-benar tidak ada kesempatan, namun bahagia karena sudah menemukan titik terang.
"yah... mungkin ini memang sudah nasib saya Sis" kata ustadz Billal sendu.
Berusaha memasang wajah simpatik, itulah yang aku lakukan. Karena selama ini aku bukanlah teman yang baik yang bisa mendengarkan curhatan mellow seorang laki-laki. Tapi entah kenapa, kali ini aku bisa ikut merasakan kesedihan yang dialami ustadz Billal.
Tapi yah, kembali lagi pada takdir Allah. Kalau memang tiada jodoh, bisa apalagi kan ya? Selain belajar ikhlas untuk menerima.
Aku dan Ustadz Billal baru akan keluar dari kelas, tiba-tiba ustadz Fikri datang mengejutkan kami.
"waah, pemandangan tak biasa ini" goda ustadz Fikri.
"pemandangan apa ustadz? " tanya ku, yang tidak faham dengan maksud ucapan ustadz Fikri.
"ewh, tidak tidak.
Maaf Siska, saya ada perlu sebentar dengan ustadz Billal jika kamu tidak keberatan" Ucapan Ustadz Fikri benar-benar membuat aku bingung. Kenapa aku harus keberatan juga? aku ini kan hanya seorang murid.
"tentu tidak ustadz. Saya permisi dulu kalau begitu. Assalamu'alaikum" akupun berpamitan untuk pergi lebih dulu.
" waalaikumsalam Warahmatullah" jawab ustadz Billal dan ustadz Fikri bersamaan.
"kamu Bill, tidak berhasil mendekati Kayra sekarang beralih ke Siska" sayup-sayup aku mendengar apa yang di ucapkan ustadz Fikri. Dan aku hanya geleng-geleng kepala, rupanya ustadz Fikri salah faham dengan apa yang baru saja di lihatnya.
Begitu aku memasuki rumah paviliun ternyata Kayra sudah ada di dalam kamar.
"Kayra, padahal sudah aku tunggu-tunggu loh dari tadi" protes ku, begitu memasuki kamar dan melihat Kayra tengah bersantai di atas kasur.
"maaf,tadi begitu sampai ternyata perut aku gak bisa diajak kompromi. Mules banget, malahan masih... sampe sekarang" Jelasnya. Dan aku lihat Kayra memang tengah berbaring ke arah samping dengan memegangi perut.
"makan-makan gak ngajakin temen sih" dengan santai nya aku memprotes Kayra, tanpa menanyakan sebab apa yang membuat dia sakit perut.
"enak aja makan-makan. Lagi PMS nih! " Kayra menjawab dengan begitu cepat.
"hahhaaha, kirain" aku justru tertawa lebar mendengar alasan Kayra.
"ih, dasar teman gak punya akhlak. Temen kesakitan malah diketawain" kali ini mulut Kayra terlihat lebih mancung 😁 dan aku tertawa kecil.
"telp Dian sana, dijamin langsung sembuh" kembali aku menggoda Kayra.
"apaan sih" jawab Kayra singkat
"kata orang, obat cinta itu paling mujarab"
"seperti kamu pernah mengalami aja" kali ini aku mendapat ledekan dari Kayra.
"kan kata orang. Aku cuma menirukan kata orang-orang tuh"
Percakapan ku dengan Kayra harus terhenti karena ada panggilan masuk dari ustadz Billal. Tumben sekali, pikir ku.
"assalamu'alaikum ustadz, ada yang bisa saya bantu? "
"kamu dimana, lagi sama Kayra tidak? "
__ADS_1
"iya ustadz, ini saya lagi di rumah bersama Kayra. Dia sedang kurang sehat"
"kurang sehat bagaimana, sakit apa Kayra?
Ustadz Fikri sempat bertabrakan dengan Kayra, saat mau ke kelas menemui saya tadi. Apa mungkin dia berjalan dengan cepat karena sedang sakit? "
Aku diam sejenak, mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh ustadz Billal.
Tadi Kayra bilang dia tidak sempat ke kelas karena sakit perut, tapi kenapa bertabrakan dengan Ustadz Fikri karena jalan terburu-buru dari arah kelas?
Hemppp 🤔 apakah ada yang sedang berbohong disini? Awas aja ya Kayra, batin ku geram. Sejak kapan gadis manja anak mama itu bisa berbohong?
"Siska..... " panggilan ustadz Billal terdengar dari seberang telpon, mungkin karena aku diam terlalu lama.
"iya ustadz"
"Kayra sakit apa? " masih saja ustadz Billal menghawatirkan Kayra rupanya.
"gak apa-apa ustadz, saya matikan dulu ya telfon nya. Nanti saya kabari lagi. Assalamu'alaikum" ucap ku setengah berbisik, kemudian mematikan sambungan telepon.
Dan kini, fokus ku kembali pada Kayra. Aku baru ingat, bukankah Kayra siklus menstruasi nya hampir sama dengan aku? Jadi sudah pasti, Kayra sedang berbohong.
"ada apa Sis" tanya Kayra begitu aku kembali masuk ke dalam kamar.
"ekhm, ada sesuatu. Aku boleh minta tolong gak? "
"minta tolong apa? "
"itu, ummi minta tolong dibantu memindahkan Al Qur'an yang akan di donasikan. Tapi aku masih kebelet PUP sekarang.
Gak enak mau kasih tau ummi yang sebenarnya, tapi juga gak enak kalo bikin ummi menunggu lama"
"iya iya. Biar aku yang bantuin. Aku ambil wudhu dulu"
Baru juga aku selesai berkata, Kayra langsung bergegas bangun begitu mendengar nama 'ummi' aku sebut.
"ekhm...... semangat sekali ya??? Tadi katanya lagi PMS? "
Seperti tengah tertodong senjata, Kayra tersenyum tidak jelas sembari berusaha menghindari amukan ku.
Jadi, sudah pasti dia benar berbohong.
"Kayra.... awas ya kamuuuu" ucap ku dengan gemas.
"hehe, maaf maaf, aku gak bermaksud" Kayra terus mencoba menghalangi tangan ku yang masih terus mencari celah untuk menggelitiki nya.
Pokoknya tak ada ampun, pertama kali Kayra membohongi ku, gadis manja ini rupanya benar-benar sudah bertransformasi setelah lama berpisah dari aku. Makin pintar saja dia.
"Siska... ampun Sis.
Geli... sis..
Siska.... ampun"
Kayra masih saja berteriak, hingga ada celah dia berlari keluar halaman rumah.
Akupun masih belum puas, belum ingin menyerah, Sampai Kayra mengatakan kenapa dia berbohong.
"kasih tau gak....
Oh, rupanya bersatu sama Dian, ini dapetnya. Jadi suka bohong"
"ih, apaan sih. Kenapa bawa-bawa Dian. Gak ada hubungan nya.
Iya iya, stop dulu gelitikinnya. Aku cerita sekarang"
__ADS_1
"janji.... "
"iya"
Tapi apa yang terjadi, setelah aku lepaskan malah Kayra kembali berlari.
Dan kali ini, ada ustadz Billal berjalan dari arah berlawanan tanpa Kayra sadari.
"ustadz, tolong ustadz, tangkap Kayra ustadz" aku berteriak seolah ustadz Billal teman ku saja.
Dengan malu-malu Kayra berhenti dan kembali ke arah ku dengan sendirinya.
Yes, aku menang.
"ada apa sih kalian berdua ini, seperti bocah saja"
tanya ustadz Billal menghampiri kami berdua.
"hemppp, ustadz. Kalau ada orang berbohong, hukuman yang pantas apa ya? "
"siapa yg berbohong?
Kayra, kamu katanya lagi sakit. Kok malah lari-larian"
Aku dan Kayra saling memandang. Sepertinya aku punya rencana, untuk mengerjai Kayra.
"ternyata ustadz, tadi itu Kayra hanya pura-pura sakit perut supaya tida mengikuti kelas Bahasa Arab? "
Terlihat raut muka padam di wajah Kayra. Karena dia paling menghindari konflik dengan ustadz Billal.
"astaghfirullah Kayra, apa benar seperti itu? "
"ewh, tidak. Tidak seperti itu ustadz.
Tadi itu, saya sudha ke kelas. Ternyata di kelas sudah kosong. Tinggal Ustadz sama Siska aja.
Dan tiba-tiba saya sakit perut, jadi saya ya kembali dengan jalan seribu langkah. Tidak taunya malah tertabrak dengan ustadz Fikri"
Dengan tatapan memperingatkan Kayra menatap ke arah ku.
"jadi benar seperti itu? "
"iya....
" tidak...
Aku dan Kayra berkata bersamaan.
"awh, yasudah. Saya kira ada apa tadi. Kalian ini, seperti anak kecil saja.
Ya sudah saya pamit, assalamu'alaikum"
Setelah kepergian Ustadz Billal, aku kembali menggandeng erat tangan Kayra. Berjalan kembali memasuki kamar.
"Kayra, tolong ya. Gak usah pura-pura lagi deh. Akutuh hafal bener kamu seperti apa. Kelihatan banget kalo lagi bohong" kata ku, langsung pada intinya.
"hehe, seperti yang aku bilang tadi Siska. Beneran.
Aku tuh gak enak ganggu kalian berdua yang terlihat sedang mengobrol hangat. Jadi ya aku langsung pergi begitu tau kelas sudah kosong.
Gak biasanya kan kamu bisa bersikap seperti itu? "
"astaghfirullah Kayra, bisanya pikiran kamu sama seperti ustadz Fikri. Parah"
"tapi memeng bener kan, jarang-jarang loh aku lihat kamu bisa ngobrol tenang seperti kamu ngobrol sama ustadz Billal"
__ADS_1
Aku diam, berfikir sejenak dan memang benar sih apa yang dikatakan Kayra. Tapi bukan berarti aku jatuh cinta kan sama ustadz Billal kan?
___________________^_^___________________