
Seperti yang papa katakan tadi saat memasuki kamar ku, setelah membereskan sisa makan malam aku dan mama di minta untuk masuk ke ruang kerja papa. Karena disana kedap suara, jadi dipastikan apapun yang akan aku ceritakan dijamin kerahasiaan nya.
"aku boleh ikut ya ma, pliss" adek merengek untuk ikut masuk
"adek, cobalah mengerti privasi masing-masing" jawab mama
"tapi kan aku bukan orang lain ma" adek masih saja menyanggah
"tapi bisa saja kamu menceritakan pada orang lain, apa yang kamu dengar" akhirnya kalimat mama membuat adek diam
"apakah mama tahu jika selama ini adek sering memberitahukan keadaan ku pada kak Jo? " pikir ku
Aku dan mama masuk ke dalam ruang kerja mengikuti papa yang sudah masuk lebih dulu.
"sekarang bicaralah sayang" ucap mama begitu selesai mengunci pintu
"tadi Kayra dan teman-teman makan di kedai X ma. Begitu sampai disana ternyata sudah ada rombongan keluarga Dian. Awalnya kami ingin makan di bangku atas, tapi setelah tau ada keluarga itu akhirnya kami memilih di lesehan.
Padahal Kayra sama sekali tidak berbuat apa-apa, menyapa Dian saja tidak. Tapi memang sebelumnya kami sempat bertemu di X moll. Dia sedang jalan-jalan bersama temannya. Itupun Kayra hanya sekedar melihat, tidak ada percakapan diantara kami.
Hanya saja Melan menghampiri kakaknya itu, dan entah berkata apa akhirnya Dian pulang.
Mana Kayra tau jika akan bertemu di tempat lain.
Kemudian Kayra ke kamar mandi. Begitu Kayra keluar dari kamar mandi, ada Dian di depan. Kayra tidak tau apa yang sedang Dian lakukan yang pasti dia menyapa Kayra. Cuma sebentar ma, 2 atau 3 percakapan kemudian datang ustadzah Zia. Kayra menyuruh Dian untuk pergi lebih dulu karena ada ummi nya.
Kayra pikir ustadzah akan ke kamar mandi. Tapi begitu kami berpapasan malah tangan Kayra di cengkram dan Kayra ditarik ke dalam kamar mandi. Kayra di tampar ma, Kayra dimaki-maki, Kayra di dorong sampai jatuh.
Ma, seburuk apa diri Kayra ma hingga harus diperlakukan seperti itu?
Dimana letak kesalahan Kayra ma? "
Tangis ku kembali pecah, dada ku begitu sesak mengingat kejadian itu kembali.
"ini sudah keluar jalur ma" papa mulai angkat bicara
"kita ke rumah ustad Amin besok. Kita klarifikasi kejadian ini. Kayra benar, sebenarnya apa kesalahan Kayra hingga dia diperlakukan seperti itu"
"selama ini mama juga hanya diam dengan segala perkataan ustadzah Zia yang menyakitkan. Yang selalu menjelekkan kamu. Menjelekkan keluarga kita. Padahal mama sendiri juga tidak tau seburuk apa kesalahan keluarga kita terhadap mereka.
Ini benar-benar sudah keterlaluan"
"tapi pa, ma. Apa ini tidak akan menjadikan permasalahan semakin panjang"
"papa benar sayang, ini sudah tidak bisa di diamkan saja. Sudah masuk pada tindakan kekerasan"
"bahkan papa bisa melaporkan pada polisi saat ini juga. Papa telepon om Dirga"
"tidak pa, jangan. Kayra mohon"
"Kayra, kamu anak papa. Papa harus melindungi kamu"
"pa, tenang dulu pa.
Kalau kita sudah membawa kasus ini pada polisi kasusnya akan menjadi panjang.
Kita temui saja dulu ustadzah Zia"
"Kayra, besok pagi kita ke sana ya sebelum kamu pergi kuliah" mama membujuk ku
__ADS_1
"Kayra tidak mau bertemu Dian ma"
"sebenarnya seperti apa sih hubungan kamu sama Dian ini. Papa jadi bingung. Kalian pacaran tidak, sering ketemu juga tidak, apalagi pergi berdua"
"papa sudah lupa yang dikatakan ustad Amin tempo hari. Ustadzah Zia itu hanya terobsesi anaknya jadi santri, tapi malah minta keluar dari Pesantren. Dan menuduh Kayra penyebab anaknya keluar dari pesantren"
"ada ya orang tua macam itu" papa hanya menggeleng kan kepala
"ma, pa. Boleh Kayra untuk sementara waktu menjauh dari segala permasalahan ini? "
"maksud kakak? " mama dan papa bertanya bersamaan
"Kayra tidak ingin bertemu Dian untuk sementara waktu. Kayra merasa lelah dengan semua tentang dia"
"tunggu-tunggu, papa jadi semakin bingung"
"papa gak akan faham. Kayra benar-benar capek dengan semua tentang Dian.
Bisa gak sih Kayra gak usah kenal Dian lagi? "
"hemp, Rupa-rupanya anak papa sudah mulai besar ini. Jadi lain lagi permasalahan nya jika sudah menyangkut hati"
"papa, apa sih"
"memangnya di kampus Dian sering menemui kakak,bukannya kalian beda fakultas ya? " kali ini mama yang angkat bicara
"gak juga ma, malahan di kampus dia seperti tidak mengenal Kayra, jarang bicara.
Kayra satu organisasi sama Dian ma"
"berarti kalian jarang interaksi ya. Tapi kenapa sepertinya begitu dekat"
"makanya itu ma, Kayra ini gak pernah dekat-dekat sama Dian. Tapi menurut ustadzah, seolah Kayra yang selalu berusaha mendekati anaknya itu.
"kenapa harus begitu? " tanya mama
"supaya ustadzah tau, siapa yang mendekat dan selalu berusaha mendekati"
"apa kakak merasa itu baik?"
"iya ma"
"kamu gak pernah pergi jauh selama ini, gak pernah pisah sama mama sama papa. Apa yakin ingin kos? " papa ikut mengkhawatirkan
"insya Allah pa. Do'a kan Kayra, semoga dengan begini ustadzah bisa melihat kebenarannya.
Tapi papa dan mama harus janji, tidak akan memberitahu kan keberadaan Kayra pada siapapun. Termasuk adek juga Melan"
"bukan hanya itu, Kayra juga akan mengganti nomor telepon dengan nomor yang baru"
Mama menatap ku sendu, kemudian buliran air mata menetes tanpa ada suara.
"mama yakin, setelah ini kamu akan menjadi pribadi yang lebih tangguh. Jangan biarkan badai ini membuat mu tumbang sayang"
"tidak ma. Kayra akan sangat kuat karena memiliki orang tua seperti mama dan papa. Kayra hanya minta kepercayaan, doa dan dukungan dari mama juga papa"
"tentu sayang. Tanpa di minta pun doa mama dan papa akan selalu menyertai"
"papa tidak bisa berkata-kata lagi.
__ADS_1
Selama kamu masih berpegang teguh pada agama, semoga iman yang akan selalu menjaga setiap langkah mu nak"
"iya pa, terimakasih"
"kapan akan cari tempat kos, biar papa temani"
"nanti kita bicarakan lagi pa, Kayra cari informasi dulu tempat kost yang bagus"
"apa sebaiknya kamu selalu di temani Johan ke mana-mana, supaya Dian tidak bisa lagi mendekati kamu? " Tiba-tiba mama menyebutkan nama orang lain
"maksud mama? "
"yah kan bisa saja nanti Dian terus mencari kakak, mengikuti kakak, mencari tahu keberadaan kakak"
"ma, Dian bukan penjahat. Kayra tau itu"
"jangan melibatkan orang lain dalam permasalahan ini ma"
"apa mama tau kak Jo juga menyukai Kayra? "
"iya, tau dari adek"
"mama bukan sedang mendekatkan Kayra dan kak Jo atas nama persahabatan mama kan? "
"hah, tidak tidak. Kenapa kamu berfikir seperti itu.
Ya Khan Johan anaknya memang baik kan, sopan. Anggap saja dia seperti saudara, atau kakak begitu"
"tapi anggapan kak Jo akan lain ma. Awh, mama ini"
"iya iya, mama minta maaf"
"sudah ma, jangan ikut campur urusan anak-anak selama tidak keluar jalur.
Yasudah, kita sudah terlalu lama disini. Kasihan Nahla"
"adek juga tuh pa kasih tau. Selalu aja dia jadi kaki tangan kak Jo untuk mata-matai Kayra"
Kami bertiga keluar setelah pembicaraan yang begitu panjang.
Aku benar-benar merasa bersyukur berada di tengah-tengah keluarga kecil ini. Kesabaran mereka luar biasa, cinta dan kasih sayang mereka tiada batas.
Memang benar apa yang dulu papa pernah katakan, fokus pada satu tujuan itu akan lebih mudah. Oleh sebab itu papa benar-benar mewanti-wanti agar aku tidak pacaran.
Sekalipun hingga saat ini aku masih bertahan untuk tetap menghindari itu, nyatanya permasalahan ini tetap saja hadir.
Seiring berjalannya waktu, semakin usia bertambah, akan bertambah pula permasalahan.
________________^_^_______________
Alhamdulillah, sampai juga pada part ini. Dimana Kayra merasa benar-benar lelah dan tersakiti oleh semua yang terjadi dan memilih untuk pergi.
Tapi........
itu Kayra yah, semoga pembacaan setianya Kayra masih tetap bertahan dan selalu menantikan kisah selanjutnya.
Kira-kira, Dian masih tetap ngejar-ngejar Kayra gak yah???
ada yang tau, coba bisikin sini lewat coment
__ADS_1
trimakasih untuk yang masih setia bersama Kayra. Jangan lupa LIKE, VOTE & COMENT
😘