KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Semoga Menjadi Solusi


__ADS_3

Menanggapi perkataan ku pada pagi itu, ustad Bilal mengajak ku untuk mengobrol. Entah sejauh mana cerita yang sudah beliau dengar. Beliau mengatakan hanya ingin membantu ku, itupun andai aku mau. Beliau tidak ingin aku merasa terpaksa atau tertekan dengan kehadiran beliau disekitar ku.


Jujur saja awalnya memang aku merasa sedikit takut. Terlalu mendadak beliau mendekati ku waktu itu. Dengan cara yang terlalu ektrim pula, membuat aku sedikit trauma.


Akhirnya aku mengajukan untuk mengajak serta Siska dan beliau tidak menolak. Setidaknya dengan kehadiran orang lain tidak membuat aku terlalu canggung atau takut.


Disisi lain karena memang aku butuh. Setidaknya beliau adalah ustad. Do'a nya manjur, InsyaAllah. Semoga dengan jalan itu bisa membantu menyembuhkan kak Jo. Anggap saja rukyah jarak jauh. Karena untuk mengajukan rukyah secara langsung, aku belum berani. Takut jika kak Jo tidak mau dan justru mengamuk.


Baru sebatas ide ku bersama kak Maryam saat mengobrol kemarin. Aku akan meminta pendapat ustad Bilal, dan jika itu kemungkinan bisa membantu aku akan memberi tahukan pada mama.


Pertemuan kami tetapkan pukul empat sore, saat aku dan Siska pulang dari kampus. Aku meminta bertemu di luar karena tidak ingin ada asumsi baru lagi dari keluarga. Setelah kejadian malam itu, mana mungkin aku berani bermain api. Akan ada banyak hati yang aku kecewakan jika itu sampai terjadi.


Sengaja aku tidak mengunjungi kak Jo untuk hari ini. Selain aku lelah, aku juga ingin tau reaksi dia bagaimana, setelah ada aku dan saat aku kembali tak ada. Sebab aku pun mulai jengah merasakan aktifitas tambahan ku satu ini. Apa mungkin aku tidak ikhlas??? astagfirullah, ucap ku berkali-kali dalam hati.


dddrrrrtttt


suara getar handphone ku. Lupa masih ku silent saat pelajaran tadi.


"saya sudah di tempat yang kamu tentukan"


Rupanya pesan dari ustadz Bilal.


Hari ini juga sengaja aku menumpang satu mobil dengan Siska. Karena jadwal yang masuk normal hari ini, tanpa embel-embel kegiatan lain. Tapi ya gitu, aku harus kembali jadi sopir pribadi dia, huhu.


Aku dan Siska memasuki cafe X. Cafe langganan saat harus melepaskan banyak beban. Tapi kali ini aku tidak memilih duduk paling depan, tentu saja supaya tidak terexpose dari jalan.


Sudah ada satu gelas minuman di depan meja ustadz Bilal saat aku datang. Aku dan Siska pun menyusul memesan makanan ringan sebagai teman santai.


"sudah pada solat Ashar belum? " ustad Bilal mengawali pembicaraan.


"ya iya, Mentang-mentang ustadz. Hal pertama yang ditanyain ya ibadah" jawab ku dalam hati sembari memainkan bibir tanpa aku sadari.


"kamu kenapa Kayra, manyun-manyun begitu" tanya ustadz Bilal kembali dengan nata datar.


"ekhm, itu ekspresi dia lagi mikir ustad" jawab Siska spontan sambil menyeruput jus segar yang dia pesan.


uuuhhhuukkhh huukkk huuukk

__ADS_1


tidak selang lama terdengar suara Siska tersedak.


"nah, kamu. Kenapa bicara kalau masih minum. Jadi tersedak khan" teguran untuk Siska kali ini.


"nah, loe. Kena juga Khan" seru ku dalam hati sambil tersenyum kecil.


"kenapa kamu tersenyum Kayra? " yailah, masih saja tahu ustad ini. Padahal sudah aku tutup ni mulut pakai tangan. Kambuh deh jiwa serba taunya.


"tidak ada ustad. Oh iya, ada apa ya ustad ingin bertemu. Ada yang serius mau dibicarakan gitu? " aku pura-pura mengalihkan pembicaraan. Tapi ya, biar tidak buang-buang waktu terlalu lama sih.


"ekhm, itu. baik.


Point 1. Tentang kedekatan kamu dengan Dian. Dia KKN di kampung kita kan?


Point 2. Kamu jadi pergi pulang malam hampir satu bulan ini. Sampai tidak pernah sempat ikut makan bersama di rumah utama.


Sudah pasti Siska tau kan ya tentang ini.


Tapi yang ingin saya tanyakan bukan tentang kedua permasalahan itu. Cukup kita sama-sama tau saja.


Melainkan tentang kamu, apa kamu baik-baik saja?"


Seketika wajah ku tertunduk, tak berani menatap ustadz Bilal. Bisa-bisa beliau baca seluruh isi kepala dan hati ku.


Andaikan yang bertanya itu Dian, pasti aku sudah baper dan spontan peluk dia untuk mencari sandaran.


"saya merasa kamu sedang dalam masalah Kayra. Apa saya bisa membantu? " yes, akhirnya dapat tawaran bantuan.


Baru aku berani mengangkat kepala. Rupanya aku tidak sedang di kuliti.


Karena bingung mau memulai darimana, aku menggoyang kaki Siska dengan maksud minta bantuan untuk bicara.


"ya gitu ustad, Kayra ini kan jadi incaran dua cowok dari dulu. Tapi baru akhir-akhir ini dia berani mengakui perasaan nya pada salah satu cowok itu. Tidak taunya, cowok yang satu lagi malah patah hati, frustasi, depresi" Siska menjelaskan dengan singkat jelas dan padat. Memang super sahabat satu ini.


"pantas saja lamaran saya di tolak ya" ucap ustad Bilal dengan senyum yang tidak bisa aku artikan.


Dan aku hanya bisa menanggapi ucapan ustadz dengan senyuman kecil.

__ADS_1


"kalau boleh tanya ustadz, apakah bisa semacam di rukyah jarak jauh begitu? " akhirnya aku mengutarakan niat utama ku untuk bertemu beliau.


Mulailah ustadz Bilal membuka ceramah sore di cafe. Dan kami tidak peduli dengan tatapan para mata dari meja tetangga. Toh ini mengandung pahala juga, bagi yang mau menyimak dengan benar sih.


Menjelaskan panjang lebar tentang hati yang diganggu oleh setan atau jin.


Rasanya seperti sedang privat agama saja. Beruntung ada camilan, lumayan untuk menutup mulut yang berkali-kali menguap. Setelah aktifitas seharian, kemudian duduk manis mendengar ceramah seperti ini, sudah pasti rasa kantuk datang menyerang.


Berakhir pada kesimpulan yang menjawab pertanyaan ku tadi, dan jawabannya adalah bisa. Tapi tiba sembarangan. Alangkah baiknya jika bertemu langsung.


Ada beberapa ayat al quran yang bisa digunakan untuk membantu, dan aku diminta untuk membacakan ayat itu.


Aku baru ingat, bahwa selama ini aku belum pernah mengajak kak Jo untuk solat. Karena memang saat aku bertemu kak Jo, waktu solat sudah ada di pertengahan. Jadi aku tidak tau, kak Jo sudah solat sebelum aku datang, atau solat setelah sepeninggal ku. Dan aku tidak pernah menanyakan itu. Astagfirullah, bagaimana bisa aku melupakan itu? bahkan dengan berwudlu saja bisa menenangkan hati seseorang dari kemarahan.


Ceramah selesai. Di tutup dengan menyeruput setengah gelas tinggi jus jeruk. Mungkin ustad haus.


"yasudah, kita pulang. Masih ada beberapa menit sebelum adzan maghrib, kalau tidak macet" ajakan ustad Bilal membuat kami semua berdiri dan berjalan meninggal cafe.


"Iya deh, iya. Ustadz, mana mau ketinggalan solat berjamaah. Tapi bakalan adem juga sih hati, kalau bersanding sama orang yang faham agama.


Semoga Dian kelak sebelas duabelas lah sama ustad Bilal" dialog ku dalam hati.


Kali ini Siska yang dengan sendirinya meminta kunci mobil dan duduk di bangku setir.


Mobil yang kami tumpangi berjalan beriringan dengan mobil ustad Bilal, menapaki jalan pulang menuju pesantren.


_______________^_^_____________


aku kembali, aku kembali 🥰


Kayra kembali gays,.........


Maafkan daku yang belum bisa konsisten update.


banyakin sabar ya para pembaca setia. Yang gak setia, semoga jadi jatuh cinta sama cerita Kayra. Sampai gak bisa moveon 🤣🤣


Balik lagi ya author kasih tau, penghasilan, hadiah, jempol atau apalah itu, hanya sebagai suntikan semangat. Yang pasti cerita ini akan tetap berlanjut. Dan akan semakin cepat selesai kalau makin banyak yang **menantikan 😍😍

__ADS_1


TERIMAKASIH BANYAK UNTUK YANG MASIH SETIA MENGIKUTI 🥰😍😘**


__ADS_2