
"kamu ini Kay, iseng banget kalo ngerjain suami" begitu komentar terakhir kak Nicho.
"ya habisnya, kesel tau kak" gerutu ku.
"oke, boleh kesel. Tapi gak boleh terlalu lama" lagi-lagi nasehat kak Maryam.
"gak akan lama mii, setelah ini juga pasti Dian datang" kata kak Nicho, yang berhasil membuat aku menumpahkan kuah sup di baju ku.
"jangan bilang kakak sudah kasih tau Dian?" tanya ku dengan segera.
"yaaa memang sudah" jawab kak Nicho dengan entengnya.
"kaaaaakaaak" rengek ku
"tadi begitu lihat kamu disini, kakak langsung mengirim pesan ke Dian" kata kak Nicho lagi.
Aku mendengus kesal. Lalu menyendok makanan dengan ogah-ogahan.
"kamu marah juga sama kakak?
Lari itu bukan penyelesaian terbaik Kay.
Gimana kakak tega menyembunyikan kamu disini, sementara sebelumnya Dian menelpon kakak dengan wajah frustasi, dengan suara yang hampir habis.
Entah, dia sudah berlari kemana saja untuk mencari kamu" kini giliran kak Nicho yang menyendokkan makanan ke dalam mulut.
"nah...Kay. Kurang bukti apa lagi coba, segitunya loh Dian merasa kehilangan.
Pernikahan itu ya seperti ini Kay. Akan selalu ada masalah, akan selalu ada konflik. Entah itu besar atau kecil. Dan kita harus siap untuk menghadapi itu" mendadak kak Maryam sudah seperti guru saja, guru pernikahan. Hhhhhhhh
"Tadinya kakak pengen ketawa pas lihat penampakan Dian di layar. Kacau banget. Nafas ngos ngosan. Rambutnya basah, mukanya penuh keringat. Kemeja berantakan, dasinya miring 30°.
Kakak kira habis lomba lari maraton" kak Nicho kembali bercerita.
Nah kan, jadinya kami makan sambil ngobrol. Padahal kan harusnya gak boleh.
Antara merasa konyol, kasihan, jadi nyesel juga sudah ngerjain dia.
Tak lama yang di bicarakan muncul. Setelah mengucap salam langsung bergabung di meja makan bersama kami semua. Mengambil duduk di kursi sebelah ku.
Memang hanya itu kursi yang tersisa.
"assalamu'alaikum, Kay" sapa Dian sambil menatap ku.
Sedangkan aku, berada pada mode fokus makan. Padahal sebelumnya juga sambil ngobrol bareng kak Nicho juga kak Maryam.
Suasana sedang kondusif karena baby Hafsyah sudah tidur sejak lepas magrib tadi.
"ayo Di, gabung makan juga. Nanti saja ngobrolnya setelah makan" kak Nicho mempersilahkan. Melihat aku yang masih lurus saja memandangi isi piring.
Akhirnya suasana hening dan kami sama menikmati makanan yang terhidang.
Setelah makan kak Nicho mengajak Dian untuk duduk di depan. Sementara aku masih membantu kak Maryam membereskan meja makan.
"kakkk, bisa pinjam baju gak? Baju ku basah, kena tumpah kuah sop tadi" pinta ku pada kak Maryam.
__ADS_1
"iya boleh. Habis gini ikut ke kamar kakak".
Kak Maryam memang kakak Thebest. Padahal tak ada ikatan darah diantara kami, tapi tiba-tiba sudah seperti saudara sendiri saja.
"mau pilih yang mana?" kak Maryam membuka lemari pakaian miliknya.
"kakaklah yang pilihkan. Yang paling kecil buat kakak aja, pasti itupun masih ke-gedean di badan ku" secara postur memang kami berbeda jauh. Aku yang kecil mungil, sementara kak Maryam tinggi besar ala-ala perawakan orang Arab.
Dan benar saja, setelah aku mengambil baju yang dipilikan kak Maryam, aku langsung mengganti baju ku.
Begitu keluar dari kamar mandi, kak Maryam sedikit menertawakan ku.
"kakak...kalo mau ketawa, ketawa aja lah. Pasti aku lucu yah, pake baju kakak" aku berjalan menuju meja rias.
"gak usah di lihat cashingnya, Dian gak akan perhatikan itu.
Sudah yok, kita turun" ajak kak Maryam dengan menggandeng tangan ku.
"setelah ini kalian bicaralah berdua. Ini baru hal kecil, kamu harus bisa mengendalikan perasaan. Jangan biarkan setan bersorak karena telah berhasil membuat kalian bertengkar"
Aku hanya diam mendengar kalimat kak Maryam. Kok perasaan ku jadi deg degan begini. Padahal kan sudah tinggal bareng juga. Aku mulai mengatur nafas. Pasti setelah ini kak Maryam dan kak Nicho meninggalkan aku bersama Dian.
"eh itu dia.
Yasudah, bicara baik-baik. Ambil bawah saja kalo istri lagi ngambek. Itu biasa" samar-samar aku mendengar kalimat yang di ucapkan kak Nicho pada Dian.
Dan akhirnya, duduklah kami berdua. Karena begitu aku berada di anak tangga terahir kak Nicho sudah berdiri dan menghampiri kak Maryam, mengajak untuk melihat baby Hafsyah.
"bicaralah. Selesaikan permasalahan kalian" ucap kak Nicho dengan tersenyum, lalu menepuk pundak ku.
Aku tersenyum lalu duduk di sebelah Dian. Mau tak mau aku harus meminta maaf lebih dulu. Karena sudah membuat kekacauan hari ini.
"maaf" ucap ku. Dan sebelum itu Dian sudah menggenggama tangan ku.
Lalu setelahnya dia langsung memeluk ku dengan eratnya.
"aku yang minta maaf. Jangan pergi-pergi lagi, please. Apapun masalahnya" pintanya.
Dipeluk gini kenapa terasa makin dag dig dug, padahal kan sudah sering.
"iya, aku minta maaf" ucap ku kembali.
"aku juga minta maaf" kami saling menatap.
Beberapa detik, lalu Dian berbisik "kita pulang ya. Jangan sampai aku melahap bibir manis itu disini, sekarang juga"
Bisikan macam apa itu.....seketika merubah suasan hati. Marah, haru, geli.
Iwh dasar, suami mesum. Baru juga baikan. Pikiran nya sudah kesana.
Lalu aku berikan cubitan kecil di pinggangnya.
"gak sopan. Rumah orang ini, dasar mesum" seru ku.
"kalau gitu kita pulang sekarang, ok" ajaknya kembali dengan gaya menaik turunkan alis.
__ADS_1
Mau bagaimana lagi kalau sudah begini, yasudah ayok saja kalau begitu.
Dian mengetuk pintu kamar Hafsyah lalu kami berpamitan begitu pintu kamar di buka.
"gitu donk. Pengantin baru itu harus senyum terus, mesra terus. Iya khan bii?" dialog kan Maryam dengan sang suami. Padahal yang tengah di singgung aku dan Dian.
"makasih kak" ucap Dian pada kak Nicho, yang dibalas dengan anggukan.
Kamipun berpamitan dan meninggalkan kediaman kak Nicho bersama kak Maryam.
Butuh waktu tempuh kurang lebih tiga puluh menit dari rumah kak Maryam menuju apartemen kami.
Baru juga perjalanan sepuluh menitan Dian sudah berbelok ke sebuah bangunan bertuliskan marble homestay.
"lho...ngapain kesini yang? Kamu punya saham disini juga?" tanya ku heran. Karena belum pernah sama sekali Dian mengajak ku mengunjungi tempat ini.
"enggak juga. Yook turun" kamipun turun dan tak lupa Dian menggandeng tangan ku.
"tarus...mau ngapain?" tanya ku heran.
"ntar juga tau" jawab Dian santai, sambil langkah kami terus mendekati meja resepsionis.
"selamat malam, ada yang bisa kami bantu?"
sapa petugas resepsionis.
"satu kamar VVIP ya mas" jawab Dian.
Aku tercengang mendengar jawaban Dian. Jangan bilang.....kalau.....
"yang??? Kita nginep disini?" pada akhirnya aku bertanya, saat kami berjalan menuju kamar yg disediakan.
"ehemmmp" jawab Dian singkat.
"tapi yang, jarak ke rumah kan gak terlalu jauh" aku masih tak habis fikir dengan keputusan Dian yang spontan.
"tapi itu terlalu lama untuk aku bisa memakan mu, Kayra" tiba-tiba tubuh ku sudah melayang. Sejajar dengan wajah tampan suami ku.
Hampir saja aku berteriak, tapi dengan cepat aku menyadari jika kami berada di ruang umum.
"Dian...apaan sih. Kaget tauu" protes ku.
"pokoknya kamu harus tanggungjawab, udah bikin aku frustasi hampir seharian ini" pintu kamar terbuka dengan cepat. Dian menurunkan ku di atas ranjang dan dengan cepat kembali mengunci pintu.
"gak ada ampun pokoknya" seru Dian dan seketika berantakan sudah kasur yang tadinya tertata rapi.
Ini ganas?? Atau buas???
Punya suami mesum amat. Baru juga di tinggal kabur setengah hari. Segitu rindunya.
Apakah masih berani kabur lagi aku setelah ini???
Bisa jadi hari-hari akan menjadi malam terus dan aku terkurung di dalam kamar. Mengerikan juga punya suami yang kelewat cinta 😍😍
_______________________^_^______________________
__ADS_1