
Pensi kali ini berbeda dengan pensi di tahun-tahun sebelumnya. Lebih meriah, karena sekolah mengundang Bandung dari sekolah lain.
Selain penampilan dari perwakilan Kelas peserta MOS, perwakilan dari masing-masing ekskul juga ikut andil.
Dan ternyata 3M menjadi perwakilan dari ekskul masing-masing. Sehingga niat ku untuk mengadu harus aku tahan dulu.
Kelas-kelas yang semula riuh kini mulai sepi karna di tinggalkan oleh penghuninya. Sementara di halaman tengah sekolah nampak begitu ramai. Semua siswa memadati lapangan.
Aku ikut duduk bersama gerombolan anggota OSIS. Yang pasti tidak ada Indra disana. Karena aku berusaha menghindar dari Indra sejak kejadian tadi pagi.
"gimana kak.. soal dramanya? " Fina kembali bertanya tentang itu.
Adek OSIS memang suka kepo. Tidak hanya itu, bahkan mereka sering menanyakan perihal aku dengan kak Jo dulu. Padahal sudah aku katakan kalau aku tidak pernah pacaran dengan kak Jo. Terlagi dengan kehadiran kak Jo kembali di sekolah waktu itu, yang sengaja jemput aku.
Seakan mengikis semua sanggahan.
"tamat hari ini. Tunggu saja Dimas bicara" ucap ku.
Karena Dimas ditunjuk sebagai MC, itu akan semakin mudah bagi dia untuk mengkonfirmasi drama yang sudah dia buat.
Acara dibuka dengan tarian, Melda tampil.
Suara riuh tepuk tangan sangat meriah. Karna ekskul tari sekolah kami pernah menyabet juara pertama tingkat provinsi. Tak kalah juga dengan lomba-lomba tari antar sekolah, sekolah kami selalu pulang dengan membawa tropi.
Suasana menjadi hening saat tarian tengah dimulai. Semua menyimak tarian dengan seksama. Tapi tidak dengan anak disebelah satu ini
"kak, tadi kak Siska masuk ke ruang OSIS ya"
"hemp" aku hanya berdehem. Berharap pertanyaan dari nya tidak berlanjut.
"terus kak, dia marah-marah gitu. Lihat kakak diruangan sama kak Indra aja? "
"gak tau. aku tinggal pergi. Urusan pawangnya"
"pawang, siapa itu kak"
"Indra"
"hahha, oh iya. Pasti langsung diam seribu bahasa kalo udah disenyumin kak Indra"
"mungkin"
"eh kak, kakak kenapa sih gak suka sama kak Indra? "
"gak suka gimana maksudnya? "
"masa sih kakak gak merasa kalo kak Indra itu naksir sama kakak"
"Ouw"
"Anak-anak OSIS aja pada tau loh kak"
Entahlah dia bicara apa, di kalimat terahir tidak ku dengar dengan jelas. Karena riuhan tepuk tangan kembali meramaikan diahir penampilan.
Penampilan langsung dilanjutkan dari ekskul band. Dan tampil lah band andalah sekolah tercinta kami. Tak kalah dari prestasi ekskul tari, ekskul band juga beberapa kali pulang lomba dengan membawa piala kemenangan.
Kali ini hampir semua ikut berdiri dan melambaikan tangan, mengikuti alunan lagu kenangan dari Chrisye anak sekolah.
Satu persatu pengisi acara tampil, sampai ahirnya adzan dhuhur terdengar dan aku meninggal kan lapangan untuk menuju masjid.
Aku berjalan sendiri, setelah beberapa langkah ada yang berusaha mengejar langkah ku.
Indra, seketika aku lihat ke arah samping.
"mau ke masjid kan? " tanya nya.
"iya" aku tak banyak berkata.
******************
(di sudut lain)
"eh lihat, Kayra. Mau kemana itu berdua aja sama Indra" ucap Siska
"ikutin yok mumpung gak ada tamengnya, 3M" ucap temannya yang lain.
******************
Sesampainya di masjid kami menuju tempat Wudhu masing-masing.
Masjid masih sepi aku datang, tapi tak lama terdengar suara beberapa anak memasuki tempat wudhu wanita.
__ADS_1
tumben mereka solat tepat waktu, batin ku. Tapi aku tidak tertarik untuk memperhatikan mereka. Setelah wudhu selesai aku segera meninggalkan mereka.
Tiba-tiba saja ada yang menarik baju ku dari belakang.
"heh, enak banget loe pergi gitu aja! "
"loe pikir semudah itu selesai urusan sama gue"
"semakin loe diem, semakin loe kalem. Bikin gue makin muak tau gak"
Siska masih saja berbicara semaunya. Tanpa melepaskan baju ku, justru dia menarik tubuh ku.
"nah, diem loe, diem. Takut, gak bawa tameng " ucap temannya yang lain.
"kalo kalian menahan ku hanya untuk urusan Indra, sorry. Aku sama sekali gak ada urusan. Dengan Indra, juga dengan kalian"
"dasar cewek sok"
"aaauuuuwww" kepala ku terbentur ubin. Mereka ber empat beramai-ramai mendorong ku.
Beruntung tidak terkena kran.
Aku menahan kesakitan sementara mereka tertawa terbahak-bahak bersama.
"kita lihat, apa sih yang bisa dilakuin seorang KAYRA tanpa tameng" Siska berucap penuh kemenangan
Salah seorang dari mereka masuk ke kamar mandi dan keluar dengan membawa air di gayung.
"siram aja Re, biar dikiranya dia jatuh di kamar mandi" ucap salah seorang.
Namun tawa mereka seketika bungkam saat dua orang cowok masuk ke tempat wudhu cewek. Indra dan kak Johan, bagaimana bisa ada kak Jo juga disini?
Kak Jo segera menolong aku, sementara Siska dkk menjadi urusan Indra.
Entah apa yang akan dilakukan Indra pada mereka, bukan lagi urusan ku.
Baju ku memang belum sempat basah, tapi kepala ku cukup cekot-cekot untuk memikirkan mereka.
"ada yang sakit? " tanya kak Jo
"ini kak" sementara aku masih saja memegangi kepala ku
"astagfirullah, benjol begini? " ucap kak Jo yang begitu kaget.
"nanti dulu kak, aku masih mau solat"
Setelah perasaan ku lebih tenang aku kembali ke kamar mandi untuk wudhu. Dan kak Jo melakukan hal yang sama.
Segera kami tunaikan solat dhuhur. Padahal masjid sudah mulai ramai, tapi kami tidak menunggu untuk solat berjamaah. Karena tadi kak Jo mengajak untuk ke ruang BP.
Akupun tidak menolak. Karena ini sudah masuk pada rana kekerasan. Ada kalanya seseorang harus dihukum atas kesalahan nya. Sudah terlalu lama aku diam dengan segala cacian Siska.
Luka dalam hati siapa yang tau, tau benjolan dikepala ku saat ini akan sangat mudah disaksikan oleh orang lain.
Antara sedih, marah juga muak. Mungkin aku berada pada batas sabar ku saat ini.
Setelah solat aku dan kak Jo berjalan ke ruang BP. Ruang BP berada di halaman tengah sekolah menghadap ke lapangan, dimana acara Pensi saat ini tengah berlangsung.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan sorotan mata dari siswa lain. Bahkan aku tidak peduli jika setelah ini akan ada yang menggunjingkan.
Saat kami masuki ruang BP, suasana tengah sepi. Belum ada guru diantara mereka. Hanya Siska dkk yang sibuk senggal-senggol satu sama lain.
"assalamu'alaikum" ucap kak Jo.
Membuat Siska dkk teralihkan pandangannya.
Tak lama setelah kamu duduk Pak Hanan, salah satu guru BP keluar. Rupanya mereka tengah menunggu kedatangan ku.
"sudah datang ya. Kenapa ini, bisa dijelaskan? " tanya pak Hanan
"maaf Pak sebelumnya, tapi Kayra kepalanya bengkak. Boleh minta ijin sambil di kompres? " ucap kak Jo meminta ijin.
Kak Jo benar-benar sigap, dalam banyak hal. Tentu saja sudah terlatih karna dirinya yang sudah terbiasa berada di organisasi. Tak heran jika banyak wanita yang menyukai nya.
Termasuk Siska, yang dulu sempat terobsesi pada kak Jo, apakah saat ini sudah benar-benar menghilang? atau justru membuat dia semakin kesal melihat perhatian kak Jo pada ku saat ini.
Sesaat setelah kak Jo pergi suasana masih tetap hening. Sampai ahirnya Indra yang mendesak Siska dkk untuk bicara.
"ayo ngomong. Atau aku saja yang menceritakan" ucap Indra.
Tapi mereka belum juga mau bicara, justru saling sikut.
__ADS_1
"ngomong disini, atau hasil Visum yang akan bicara di kantor polisi"
gertak kak Jo saat dia telah kembali. Dengan membawa bongkahan es batu dan saputangan.
"yaelah bang, serem juga kalo lagi marah beneran" ucap ku dalam hati.
"mereka ini sudah lama sekali pak sering membully Kayra. Sejak saya belum lulus dari sini"
imbuhnya lagi sembari memberikan bongkahan es batu juga saputangan pada ku.
(jangan pikir mau di kompresin juga ya! bukan drama yes)
"kak, gak perlu melebarkan masalah" bisik ku pada kak Jo. Saat ia sudah duduk disebelah ku.
"iya Pak, tadi kami semua mendorong Kayra dan dia terbentur ke ubin"
Siska mulai bicara, tapi tidak panjang.
"lebih dari itu. Ceritakan semua" Indra kembali mempertegas
Haduh, gak ada tameng 3M malah ketemu dua bodyguard macam mereka.
Aku berdialog dalam hati sembari terus menekan-nekan benjolan di kepala.
"kami memang sudah lama tidak menyukai Kayra pak. Sikap nya yang sok diem tapi diem-diem semua cowok dia embat" Siska memaparkan.
"eh, loe aja kali Sis. Aku cuma ikut-ikutan kok" ucap salah satu temannya sembari tangannya memainkan ujung rok.
"mana yang benar dan mana yang tidak juga kelihatan pak" ucap Indra yang tak sependapat dengan ucapan Siska.
"jadi, ini mau di selesai kan baik-baik atau dibawa ke jalur hukum? Jika diselesaikan baik-baik, sekarang kalian minta maaf pada Kayra dan berjanji tidak akan lagi berlaku tidak baik padanya. Jika diselesaikan ke jalur hukum, Kayra akan di visum setelah ini. Dan hasil visum akan diserahkan ke kantor polisi"
Nampak begitu panik wajah mereka semua.
Sehingga dengan cepat Siska menjawab
"diselesaikan baik-baik pak"
"jika begitu, sekarang kalian minta maaf. Dan besok, bapak panggil semua orang tua kalian kesini.
Selama tiga hari kedepan kalian tidak perlu masuk ke kelas, melainkan bimbingan mental di ruang BP" pak Hanan kembali menjelaskan.
"bapak rasa Kayra anak yang baik kok" ucap pak Hanan lirih
"iya Pak. Dua lelaki baik disebelah saya ini yang membuat saya dipandang tidak baik" celetuk ku dengan cepat.
Karna bertepatan kak Jo dan Indra duduk disamping kanan dan kiri ku.
"waah, iya ya. Kalian ini yang suka menggoda Kayra ya" ucap pak Hanan bercanda.
"ah enggak pak. Kan ini saya nolong Kayra" Indra menyanggah.
"saya kan sudah lulus pak, tidak ada urusan lagi" ucap kak Jo yang juga membela diri.
Astagfirullah, aku sampai tidak kepikiran. Kenapa tiba-tiba ada kak Jo juga tadi. Tapi menanyakan saat ini juga bukanlah waktu yang tepat.
Siska dkk sudah meminta maaf pada ku satu per satu. Semoga saja itu tulus dan tidak ada embel-embel lain lagi.
Setelah itu aku pamit untuk pulang lebih awal jika memang diijinkan. Karena kepala ku masih terasa pusing. Jika menunggu sampai acara selesai, sudah pasti sampai sore.
Beruntung BP memberi ijin.
Sebenarnya aku tidak ada niat untuk meminta antar sama kak Jo. Aku akan menunggu sopir jika memang diijinkan untuk pulang. Atau memesan kendaraan online. Tapi kak Jo bersih keras ingin mengantar ku. Malahan dia masih saja memaksa ku untuk visum.
"kita mampir ke Lab, Visum"
ucapnya sembari melajukan mobil meninggal area sekolah.
"untuk apa kak, gak perlu lah. Kan mereka sudah minta maaf"
"mereka licik. Sudah dari lama. Kalo iya mereka berubah secepat itu. Kalo tidak, bukti visum itu bisa kamu simpan untuk menakuti mereka"
Sejauh itu persiapan kamu untuk melindungi aku kak, padahal aku sendiri tidak kepikiran.
Ada benarnya juga ucapan kak Jo. Untuk kesekian kalinya aku menurut padanya.
_______________^_^______________
hah, bernafas lega deh author. Selalu ada pangeran penyelamat.
yang lagi baca nurut juga ya sama author, author lagi nyiapin kejutan demi kejutan nih.
__ADS_1
mohon bersabar menantikan 😃
sekian dulu ya, masih ikut deg-degan nih author ny 😍😘