KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Cafe X


__ADS_3

Aku dan Melan melanjutkan perjalanan menuju cafe X.


Disana memang biasanya kami menghabiskan waktu untuk sekedar mencari moodbooster. Tempatnya yang tak jauh dari rumah kami, juga suasana cafe yang terang. Karena cafe pada umunya remang-remang. Disini banyak kami jumpai muda-muda bersantai, ada juga yang sembari mengerjakan tugas. Jadi meminimalisir zina mata melihat orang pacaran. Palingan cuma cuci mata, karna setiap kali kami kesini suka memilih meja di teras dengan posisi paling depan. Sehingga setiap orang yang datang tidak luput dari pandangan kami.


Beruntung ini bukan malam minggu jadi suasana cafe tidak begitu ramai. Dan lagi ini sudah hampir jam 9 malam. Sementara cafe tutup jam 10 malam.


Tidak berbeda dari biasanya, kami duduki meja di teras yang paling depan.


"sudah donk jangan cemberut lagi" pinta ku pada Melan.


"traktir pokoknya" ucapnya


"beres, palingan juga berapa. Gak bakal habisin jatah bulanan ku" ucap ku bercanda.


"Mel......"


Sembari menunggu makanan datang, aku kembali membuka percakapan.


"ya, apa"


Melan masih saja jutek


"beneran deh. Aku itu gak nyangka banget kalo keluarga kak Maryam itu keturunan kiyai, punya pesantren juga"


semoga saja Melan masih respek dengan pembicaraan ku.


"emangnya temanan dari kapan sih"


"kapan yah? ehmmm, awal-awal masuk kuliah kalo gak salah. Dia itu anak dari pemilik toko kain langganan mama"


"ehhmmm..... "


yang diajak bicara sibuk tengok kanan-kiri, atas-bawah


"pasalnya kak Maryam itu orangnya sederhana, friendly, ngomongnya juga gak suka pakai yang kearab-araban gitu"


"itu karena dia tau kalo kamu gak bisa bahasa arab Hhhhh"


"kamu ih, malah ngledek"


"ya bagus kan, orang itu semakin berilmu semakin diam. Seperti ilmu padi tuh, semakin berisi semakin merunduk. Gak yang pamer-pamerin kemampuan, sok kearab-araban padahal kemampuan juga belum seberapa"


"hemp, pedes deh"


"lha, ya emang bener kan?! "


"Terus, kalo seperti kakak kamu yang kirim surat pakek tulisan Arab, padahal udah tau aku gak bakalan bisa baca. Itu apa namanya"


"hhhhhhhh, kalo itu cemen. Gak gentleman. Pengen kasih surat, tapi gak pengen di ngertiin apa isinya"


"hemp, betul betul betul"


"cie yang pernah dapat surat cinta"


"dari mana tau itu surat cinta, baca aja gak bisa"


saking asiknya ngobrol makanan yang datang dari tadi sampai kami biarkan begitu saja.


"sepertinya bisa deh aku belajar agama sama kak Maryam? "


"belajar apa, bahasa Arab? tartir, tilawah? jangan bilang supaya dapat restu dari ustadzah"


"hah?! apaaan. gak banget.


Gak usah ikutan nyebelin deh"


"hehe, bercanda"


"kan memang aku ikut keagamaan di kampus, makin kesini makin pengen aja memperdalam ilmu agama. Tapi gak tau gimana caranya, apa iya mau mondok? "


Melan tidak menjawab malah mendekatkan telapak tangannya ke dahi ku seembari melahab wafle Choco strawberry yang dipesan sekaligus 2 porsi.

__ADS_1


"apaan sih Mel. Kamu tuh yang harusnya tobat supaya dapat hida...."


belum selesai aku bicara, seseorang datang. Setelah moodnya Melan yang rusak, sepertinya kali ini mood ku yang akan rusak.


"assalamu'alaikum" ucap Dian


"waalaikumsalam" akua dan Melan menjawab bersamaan. Sekalipun enggan dengan orangnya tapi menjawab salam itu harus.


"kakak... bisa disini"


"kamu malam-malam masih disini. Tadi pas lewat lihat kalian, jadi aku puter balik"


"iya, tadi pergi lepas magrib"


"ijin gak? "


"ya ijinlah"


aku hanya menyimak percakapan dua bersaudara itu.


"hay" ahirnya Dian menyapa ku


sementara aku hanya diam saja.


"Kay, kenapa. Tadi aja ngomong gak habis-habis" ucap Melan


"males" jawab ku singkat juga jutek


"hemp, aku tau!


Sudah lah Kay, gak usah balik ke jaman labil. Yang nyebelin uminya kenapa anaknya yang di ngambekin. Belum tentu juga anaknya ikutan nyebelin"


"tau ah, kalian ngobrol berdua aja. Aku mau ke kamar mandi"


aku tinggalkan mereka berdua dan berjalan ke arah kamar mandi. Padahal aku tidak benar-benar ke kamar mandi. Aku duduk di bangku kosong yang terletak dipojok, yang pasti tidak terlihat dari meja yang ditempati Melan.


"kenapa lagi sama Umi Mel" Dian mulai mengintrogasi Melan


"sudah gitu kenapa? "


"Banding-bandingkan Kayra sama Hafsyah"


"oh, iya tadi Umi bilang mau sowan kesana. Tapi kenapa dia ikut Umi? "


"ya mana aku tau. Kakak aja sudah gak mondok disana, kenapa ustadzah masih sering sowan? "


"Umi memang kenal baik dengan uminya Hafsyah"


ttrriing~ HP Melan berbunyi


"panas ya, 🔥panas. Suruh dia pergi atau aku tidur dikamar mandi! "


"kamu gak ke kamar mandi kan?! dasar"


pesan dari Melan aku terima. Bisa aku lihat saat Melan mengetik balasan sambil senyum-senyum sendiri.


"kak.. pulang gih"


"lanjutin dulu ceritanya"


"aku telpon lah nanti. Kayra sembunyi tuh, gak mau keluar kalo kakak gak pergi"


yang di usir malah celingukan lihat ke kanan-kiri.


"biar aku cari kebelakang"


"kakakkkkkkk"


tangan Melan menahan.


"gak usah keras kepala. Aku gak mau bantuin lagi ya"

__ADS_1


ahirnya ancaman Melan berhasil membuat Dian mundur dan bergegas pergi.


"kalian cepet pulang"


"iya, habis ini juga pulang"


setelah motor Dian tak terlihat lagi aku segera keluar.


Dengan perasaan yang lebih panas, begitu tau wanita yang di bangga-banggakan ustadzah tadi adalah anak dari keluarga di pesantren Dian dulu. Terang saja, aku pasti kalah dinilai dari segi agama. Bukan lawan sepadan, aku mondok saja tidak.


"dibungkus aja yuk sisa makanan, sudah gak selera makan"


"sudah habis, hihihi"


ucap Melan sambil melebarkan mata.


"yasudah langsung pulang aja" ajak ku.


"punya kamu belum dimakan. Sayang mubadzir ditinggal"


"buat kamu ajalah"


"yah ni anak. Gantian aja yang badmood"


Melan meninggalkan aku untuk membungkus sisa waffle.


Sebernarnya tidak ada hari yang buruk itu. Tapi kenapa malam ini mengesalkan sekali. Tadi mau berangkat sudah dibuat kesal, sekarang pulang lebih kesal lagi.


Padahal tadi pagi hari ku begitu menggembirakan.


Mungkin ini teguran, bahwa di balik kegembiraan pasti ada kesedihan. Jadi janganlah berlebih dalam kegembiraan. Dan juga jangan berlarut dalam kesedihan.


Badai pasti berlalu.


Tapi ini rasanya sudah seperti yang basah kuyup, kedinginan, menggigil tersambar petir pula.


Kapan ahir dari semua ini.


Menjauh aku tak mampuh, mendekat masihkah ia terpikat?


Sama halnya dengan aku sengaja masuk ke lubang sumur, sanggupkah aku menghempaskan kebencian yang jelas-jelas ditunjukkan.


Perjalanan pulang menjadi terasa lebih jauh. Aku dan Melan sama diam. Jalanan tak begitu ramai, tapi ada satu motor yang dari tadi selalu berusaha menghimpit. Tidak asing, siapa lagi kalau bukan pembuat masalah.


Sekalipun benar yang di bilang Melan, belum tentu juga Dian ikut bersalah. Tapi perasaan ku masih sulit untuk beradaptasi. Satu sisi ada yang meminta untuk mendekat sementara disisi lain ada yang meminta menjauh.


Sebenarnya sama-sama tidak ada yang menguntungkan bagi ku. Maju kena mundur kena.


"kakak kenapa sih masih ngikutin"


"sudah malam, kalian cewek-cewek"


"tapi gak usah mepet-mepet. Di belakang"


aku hanya memalingkan muka. Aku butuh waktu untuk mengatasi perasaan juga fikiran ku, yang sering kali mulai tidak sinkron kalau sudah mengenai RAHARDIAN.


_______________^_^_____________


hay-hay, Kayra kembali lagi.


Ustadzah Zia bikin ulah lagi.


pembaca ikut gereget??


sabar, ini baru awal. Bu ustadzah akan lebih eksis lagi setelah ini.


penasaran????


penasaran?????


selamat menantikan episode selanjutnya 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2