
Selesai menonton aku bersama teman-teman yang lain memutuskan untuk mencari makan siang diluar. Di kedai lesehan dulu tempat pertemuan ku bersama Dian juga Melan. Aku ingat, dulu waktu disana belum sempat makan sudah terbawa emosi lebih dulu sehingga aku pergi begitu saja tanpa memakan pesanan ku terlebih dulu.
"cie, ada yang mau nostalgia rupanya" Siska menggoda
"rupanya kamu yang tau lebih banyak soal Dian ya Sis. Padahal kita aja yang sahabatan dari SMP belum pernah tau lebih dekat soal Dian" ucap Meysa
"hahaha, iyalah. Kita kan sekampus sekarang, satu organisasi juga. Jadi saksi percintaannya Kayra aku nih. Tadi pagi aja dua kali kepergok sama aku" Siska bercerita dengan semangat sambil tertawa-tawa kecil.
Melda dan Meysa sengaja disuruh datang dengan memakai kendaraan online, supaya bisa jalan satu mobil. Tidak taunya setelah satu mobil malah jadi tempat nimbrung begini.
"Siska, terus yah. Terusin aja" jujur saja aku benar-benar tidak berharap banyak. Sekalipun aku akui, aku bahagia dengan perhatian yang diberikan oleh Dian. Tapi aku juga tidak lupa, akan ada singa yang siap menerkam jika aku dekat dengan lelaki itu.
"hati ku belum siap mengembang gais,apalagi untuk terbang. Karena ada jarum yang siap untuk menusuk. Jadi tolong yah, berhenti bahas nama itu terus menerus" ucap ku dengan nada sendu dan memohon
Tiba-tiba ada pelukan dari belakang, Melan.
"sabar yah sahabat aku dari bayi. Kalau memang kamu dan kakak berjodoh, insya Allah akan tetap bersama sekalipun jalannya gak mudah"
"kamu tuh Siska, gak perlu deh ngompor supaya Kayra jadian sama Dian. Ntar kalo dia sampe patah hati, mau kamu tanggung jawab" ucap Meysa pedas
"kita yang sahabatan dari SMP aja gak pernah berani nyuruh Kayra buka hati untuk siapapun. Termasuk kak Jo.
Dia cukup tau apa yang harus dia lakukan"
Melda menambahkan
Aku jadi merasa tidak enak pada Siska
"udah-udah. Gak perlu juga kan kita debat hanya gara-gara Dian? "
"iya deh, aku minta maaf" ucap Siska dengan nada lemah
"daripada mikirin masalah aku sama Dian, pikirin aja mau makan apa nanti" ucap ku mengalihkan pembicaraan
"sampe di tempat aja belum, gimana bisa tau ada menu apa aja disana" Melda menjawab
"hehe, aku sama Melan aja ya yang sudah kesana" sempat lupa jika aku sama teman-teman jarang makan di kedai semasa SMA. Palingan juga jajan pas jalan-jalan bareng ke mol.
vcan
"ah, perasaan kamu sendiri belum pernah makan di sana Kay" kini giliran Melan yang menyerang ku
"justru belum pernah itu, jadi pengen coba lagi. Waktu itu sepertinya enak, berhubung suasana hati yang gak enak duluan, yaah gitulah" aku tak kehabisan kalimat untuk menyanggah
"iya deh, iya. Iya in aja ya teman-teman" ucap Meysa pada teman-teman yang lain sambil mengedipkan mata.
Untung sudah mulai handal menyetir, sambil bercanda pun tetap santai. Berbeda dengan sebelum-sebelumnya yang menyetir dengan tegang, sampai berkeringat dingin dan di tertawai oleh Siska.
"bu sopir hati-hati ya, bawa nyawa penumpang loh" ucap Siska lagi-lagi menggoda ku
"penumpang nya jomblo-jomblo pula" gantian aku mengatai teman-teman
"termasuk yang lagi ngomong" Melan mengatai ku balik. Akhirnya kami semua tertawa bersamaan.
Kini mobil terparkir sempurna di warung lesehan yang kami tuju. Kami semua segera turun. Tidak lupa sebelum turun merapikan riasan masing-masing. Bisa dilihat kini aku dan teman-teman lebih memperhatikan tampilan dibanding jaman SMA dulu. Apalagi jaman SMP, jangan ditanya. Bisa sembunyi di lubang sedotan, saking malunya.
Tidak ingin mengingat kejadian masa lampau, aku mengajak teman-teman untuk duduk di atas saja. Menjauhi tempat terjadinya tragedi di masa lalu.
Baru beberapa langkah lagi-lagi aku dikejutkan oleh beberapa orang yang tengah duduk makan bersama. Aku hanya bisa menelan ludah, karena aku tau itu akan sangat mudah. Siapalah aku, aku cukup tau diri dan mencoba untuk bersikap biasa.
"beneran kita mau duduk disini? " tanya Melan
"cari tempat lain aja yok" Siska memberi usul
"iya yok, cari tempat lain aja" Melda dan Meysa ikut bicara.
__ADS_1
Akhirnya aku dan teman-teman berbalik arah menuju tempat lesehan di gazebo.
"tenang Kay, anggap aja gak lihat apa-apa tadi" ucap Melda sambil meraih tangan ku dalam pelukannya
"ini tempat favorit keluarga kakak kamu Mel? " aku bertanya pada Melan. Dan dia hanya bisa mengangguk pelan
"favorit keluarga kami lebih tepatnya" Melan berbicara
"kenapa kamu gak bilang adari tadi Melan" ucap Siska dengan nada tinggi
"mau tau mereka juga disini" jawab Melan santai
"yasudahlah. I'm fine, gays!
udah gak usah ribut lagi. Pesen makanan aja. Jangan biarkan orang lain merusak acara kita hari ini" ucap ku melerai percakapan panjang tentang lagi-lagi itu
"faktanya dari tadi dia sudah merusak mood kamu Kay" ucap Meysa
"sudah gak usah dibahas terus kalo gak mau bikin aku makin BT" ucap ku dengan nada sinis kali ini.
"oke-oke. Ceritakan hal lain gays" ucap Melda sembari memberi kode pada yang lain
"eh, gimana kalau kamu suruh kak Jo kesini aja Kay" Siska memberi usul
"gak mau ah" aku menjawab
"sekali-kali tunjukin sama dia. Gak cuma dia aja yang bisa bikin kamu kesel" Siska kembali bicara. Kali ini dengan nada emosi
"terus apa untungnya buat aku? "
"puaslah. Bisa bikin kesel juga. Biar satu sama" Siska memberi ide
"Siska, gak! Bukan ide yang bagus itu" Melan tidak setuju dengan usul Siska
"fokus dulu sama pesanan gays, jangan sampe salah nulis gara-gara kebawa emosi" Melda mengingatkan.
Sesaat mereka semua diam. Melihat kembali pesanan yang telah di tulis. Setelah yakin semua benar, Melda berdiri untuk menyerahkan daftar pesanan. Kemudian pembicaraan beralih pada hal lain.
Sementara aku kembali terdiam. Tidak habis fikir dengan apa yang saat ini terjadi. Kenapa aku bisa tidak tau kalau tempat ini favorit keluarga Melan. Sesempit inikah dunia, sehingga aku harus kembali bertemu dengan dia. Ataukah dunia sedang memperlihatkan bahwa dia memang untuk orang lain.
Bukankah tadi dia mengirim foto, memperlihatkan bahwa dia sudah berada di dalam kamar?
"gays.. gays" Melda kembali
"tau gak sih" Melda kembali berbicara dengan antusias
"apaan" Siska menjawab dengan cepat
"ibu-ibu yang disana tuh, dari tadi lihat ke arah sini terus" Melda memberi tau. Karena dia duduk paling tepi menghadap ke arah meja tempat keluarga Dian berada.
"yaudah si, mata mata dia" Meysa menjawab dengan cuwek
"pas aku berdiri ngasih pesanan tadi, lihat aku tuh dari atas ke bawah. Tau gak sih" Melda kembali memberi tahu
"menantu idaman nya gak secantik kamu mungkin Mel" ucap ku sembari beranjak, mau ke toilet.
"udah de ganti topik. Gak usah hibah'in orang terus. Dosa tau" ucap ku sebelum pergi
"eh, kemana Kayra" Melda berteriak
"toilet" jawab ku singkat dan segera menuju arah toilet
Perut jadi terasa mules mengingatkan kejadian hari ini. Tapi sudah di toilet juga gak ada yang keluar.
"hay"
__ADS_1
kejutan demi kejutan. Sapa seseorang begitu aku keluar dari toilet wanita.
"ngapain, ini toilet cewek" sebisa mungkin ingin bersikap tenang, tapi rasa ini tak bisa menahan untuk berkata sinis
"kamu disini juga" ucapnya yang aku rasa hanyalah basa-basi
"iya, Mel.. " belum selesai aku bicara, pengawal dia sudah muncul
"ummi kamu" ucap ku singkat sembari menunjukkan ke arah kedatangan ummi nya.
"yasudah aku duluan"
Dian berlalu pergi sementara aku masih diam ditempat. Tidak mungkin juga aku berjalan bersamaan meninggalkan tempat ini.
Sementara dari kejauhan bisa kulihat aura wajah ustadzah Zia yang sudah tidak menyenangkan. Aku mencoba bersikap biasah saja. Dan saat langkah kaki kami berpapasan, lengan tangan ku ditahan oleh beliau.
"ikut saya kamu"
DEG
perasaan ku sudah tak enak mendengar suara garang ustazah. Lengan ku ditarik kembali menuju ke toilet. Beruntung toilet sepi, jika tidak pasti sudah banyak mata yang memperhatikan
"tenang Kayra, kamu bukan penjahat. Kamu bukan maling" ucap ku dalam hati memberi keberanian pada diri sendiri
PLAK
sebuah tamparan mendarat di pipi kanan ku. Rasanya begitu menusuk.
Belum juga aku mengangkat wajah, aku sudah kembali di hakimi
"DASAR KAMU ANAK KERAS KEPALA. SUDAH BERAPA KALI SAYA PERINGATKAN, JANGAN DEKATI ANAK SAYA. KAMU ITU GAK PANTES UNTUK ANAK SAYA. GAK PERNAH NYANTRI, GAK TAU DIRI JUGA. KAMU YANG SUDAH MEMPENGARUHI ANAK SAYA. GARA-GARA KAMU ANAK SAYA KELUAR DARI PESANTREN. GARA-GARA KAMU ANAK SAYA JADI SERING MEMBANTAH. BERANINYA BERBICARA BERDUA DI DEPAN SAYA. KAMU INI BODOH ATAU BAGAIMANA, APA GAK PERNAH DI DIDIK SOAL AGAMA SAMA ORANG TUA KAMU"
"cukup bu. Ibu tidak tau apapun tentang hidup saya. Ibu boleh menghardik saya macam apapun. Tapi tolong, jangan libatkan orang tua saya dalam hal ini" hati ku sangat sakit dengan penuturan terahir baliau
"JUSTRU ITU, ORANGTUA KAMU HARUS TAU. SUPAYA BELAJAR BAGAIMANA SEHARUSNYA MENDIDIK ANAK"
tubuh ku seketika terasa lemah, bahkan badan ku bergetar. Aku tidak bisa lagi menahan tangis sangat ustadzah keluar meninggalkan aku.
Betapa menyakitkan. Apa salah ku, dimana letak salah ku. Kenapa harus setajam itu, dimana sisi lembut yang dulu ku kenal. Dimana letak keadilan, seperti yang pernah beliau sampaikan selaku pemuka agama?
Aku masih berdiri mematung di depan cermin wastafel dengan isakan tangis yang semakin dalam.
Tanpa aku sadari ada seseorang yang memeluk ku dari samping.
"ya Allah Kayra, kamu kenapa? pasti ibunya Dian tadi ya? " ternyata Melda yang datang
Beberapa saat Melda menenangkan ku. Setelah isak tangis ku reda, dia bantu merapikan kerudung ku yang berantakan karena di tarik oleh ustadzah Zia. Tidak lupa membasuh muka supaya lebih segar. Tapi tidak bisa ku sembunyikan bekas tangisan ku.
Saat berjalan menuju tempat kami, bisa ku dengar canda tawa kedua keluarga itu. Tapi tidak ada suara Dian sedikitpun. Aku bisa merasakan, mungkin ada kecemasan dan berbagai macam pertanyaan dari dalam hatinya.
"kamu dilihatin terus sama Dian" Melda berbisik
sementara aku hanya menunduk karena malu. Jika berpapasan dengan orang pasti terlihat kalau aku baru saja menangis.
Lagipula hati ku masih terlalu sakit saat ini untuk pura-pura tersenyum.
______________^_^____________
hay-hay, selamat pagi, author menyapa lagi nih
terimakasih ya untuk yang masih setia mampir disini 😘😘😘
semoga gak bosen ya sama ceritanya.
Ada yang penasaran seperti apa kelanjutan nya???tetap nanti kan up selanjutnya.
__ADS_1
🥰🥰🥰🥰 luph luph deh buat pembaca setia Kayra