KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Tatapan Elang


__ADS_3

Kami telah sampai di pesantren.


Aku turun lebih dulu dan membantu Siska berjalan. Sementara ustad Billal membantu membawakan makanan yang tadi di bungkus. Siska minta satu porsi soto lagi untuk dibungkus, mungkin saja malam-malam dia lapar.


Setelah mengantar Siska ke dalam kamar aku kembali keluar menemui ustad. Mengambil bungkusan dan kunci mobil.


Deg


Lagi-lagi mata kami bertemu pandang. Aku segera mengalihkan pandangan ke arah lain, tapi tidak dengan ustad Billal. Matanya tetap intens menatap ke arah ku. Entah bagian mana yang sebenarnya dipandangi. Dengan tangan yang masih tertahan mengulurkan bungkusan plastik.


"assalamu'alaikum" rupanya Ummi sudah datang.


"waalaikumsalam" sambut ku.


"bagaimana keadaan Siska? "


"sudah di kamar ummi. Tadi setelah makan juga sudah minum obat"


"saya pamit dulu, assalamu'alaikum" ustad Billal berpamitan.


"iya ustad, terimakasih. waalaikumsalam"


kemudian aku dan ummi masuk ke dalam kamar melihat Siska.


"gimana nak, apa sudah baikan? " tanya ummi pada Siska.


Aku meninggalkan ummi dan Siska di dalam kamar. Mencari udara segar sembari menstabilkan detak jantung yang masih saja berpacu tidak menentu.


Membuka lembaran demi lembaran yang tadi siang diberikan pak Nicholas.


Minggu depan tes akselerasi akan diselenggarakan dan ini latihan tes yang terakhir. Semakin kesini memang semakin menguras otak. Bagaimana nanti dengan tes yang sebenarnya ya?


"Kayra, ummi tinggal dulu ya" ummi keluar dan menyentuh pundak ku sembari berpamitan.


Setelah kepergian ummi aku kembali ke kamar. Sebenarnya takut juga berada di teras lama, takut ada yang menguliti ku dengan tatapan selidiknya. Sebenarnya apa yang ustad Billal lakukan terhadap ku, apa iya hanya kerena kesalahan ku tempo hari. Apakah itu menjadi kesalahan fatal?


Aku jadi mengingat tingkah konyol ku sewaktu SMP dulu. Karena tidak suka menjadi perhatian guru di tempat less, sehingga aku mencampuri minuman beliau dengan vetcin, masako, dan bumbu penyedap lainnya.


Dan lagi, sewaktu SD aku menjadi kebanggaan wali kelas. Hanya karena wali kelas itu kenal dekat dengan mama. Dan aku tidak suka itu. Lalu aku menaruh kotoran juga lem di bangku beliau.

__ADS_1


Kenapa hidup ku selalu saja menjadi pusat perhatian?


Jika kemaren berurusan dengan laki-laki yang seumuran, aku berani saja berdebat dan marah. Tapi kali ini, sepertinya aku tidak punya keberanian untuk melawan. Jangankan melawan dengan kalimat, melawan tatapan matanya saja aku tidak berani.


Mamaaaaaa tolooonngggg, Kayra pengen jadi bayi lagi saja jika harus seperti ini


Tanpa aku sadari, aku meremas kertas yang tadi ku pegang.


"Kay, bukannya itu kertas latihan yang tadi siang"


aku segera merapikan kembali begitu aku menyadari nya. Tapi sayang, kertas itu sudah terlanjur kusut.


"ya ampuuunnnn" pekik ku saat kertas kusut itu tidak juga mau kembali ke bentuk semula.


"kamu ini kenapa sih? " tanya Siska.


"mau jadi bayi" jawab ku asal.


"mau jadi bayi, apa mau punya bayi? " tanya Siska kembali.


"tau ah, gelap" mencoba melupakan tapi sulit. Pada akhirnya aku hanya bisa pasrah pada keadaan.


"gak jelas deh kamu. Perasaan ya, sejak mengasingkan diri di pesantren ini kamu jadi makin cerewet bukannya makin pendiam. Padi tuh makin berisi makin merunduk".


"apaan sih Kay" ucapnya menggerutu tidak menyukai tingkah ku.


"awas aja ya sampai sakit pura-pura. Kamu tidak tau seperti apa rasanya di perhatikan naik turun oleh ustad Billal"


"sakit Kay, aku ini sakit. Tapi bisa jadi mendadak sembuh melihat tingkah kamu" ucapnya sembari menarik selimut menutupi seluruh badan, termasuk kepala.


Aku biarkan Siska dengan tingkahnya yang seperti itu. Tidak ingin terus larut dalam pembahasan yang sama.


"tidur yang nyenyak, biar besok udah enakan dan bisa masuk kuliah " gumam ku sambil menjauh dari ranjang. Entah Siska mendengar atau tidak. Kemudian aku pergi menuju ruang tamu.


Aku duduk sembari memandangi kertas yang telah kusut. Memang butuh waktu untuk mencerna soal-soal yang tertera di sana. Tapi aku rasa tidak terlalu sulit.


Setidaknya tidak sesulit memahami bahasa Arab. Apalagi gurunya mengerikan macam ustad Billal. Astagfirullah, seandainya aku masih sepolos saat SD, SMP dulu. Yang belum mengerti dosa, mungkin aku sudah memikirkan banyak cara untuk membalas tatapan ustad Billal.


"Ini yang di tatap kertas soal tapi pikirannya kenapa jadi ke ustad ya" gumam ku.

__ADS_1


Menyadari isi kepala ku yang mulai tidak sinkron, aku menyudahi belajar ku dan kembali ke kamar. Menyusul Siska ke alam mimpi.


Esok paginya aku mengikuti solat subuh seperti biasa. Sementara Siska masih tidur nyenyak dan aku sengaja tidak membangunkan nya.


Selesai solat subuh aku bergabung bersama santriwati yang sedang murajaah. Sekalipun baru surat pendek, aku ingin memperbaiki semua bacaan Quran ku.


Tapi kini aku mulai punya target, minimal jus 30 harus aku kuasai.


Aku mengakhiri mengaji ku begitu langit mulai menampakan cahaya putih. Karena asiknya mengaji aku sampai lupa membangun kan Siska untuk solat subuh. "Apa kabar anak itu ya? " gumam ku dan segera mungkin aku kembali ke paviliun.


"assalamu'alaikum" sapa ku begitu memasuki kamar.


"waalaikumsalam" jawabnya datar dan tanpa basa-basi.


"gimana Sis, udah enakan belum? " tanya ku.


"belum. Aku gak masuk aja ya hari ini" pintanya.


"tapi ikut sarapan kan? " aku mulai worry jika mengunjungi rumah utama sendirian.


"aku pengen makan bubur ayam, gofood aja nanti"


Mendengar jawaban Siska membuat aku duduk lemas seketika.


"coba deh aku lihat ya ummi bikin menu apa hari ini" aku masih berharap Siska bersama ku.


Aku pergi ke rumah utama, langsung menuju dapur karena di depan sepi.


"Assalamu'alaikum" semua orang yang di dapur mendongak.


"waalaikumsalam.Kay, bagaimana keadaan Siska" tanya Ummi.


"dia masih ingin istirahat ummi, hari ini tidak masuk kuliah"


Kegiatan memasak masih berlangsung dan tak butuh waktu lama untuk semua hidangan tersaji di atas meja makan.


Ada sayur sup, dan aku rasa cukup nikmat dimakan selagi hangat saat badan kurang sehat.


Aku mendapat alasan untuk menghindari meja makan di kediaman utama.

__ADS_1


Pastinya bukan untuk menghindari makanan yang tersaji di sana, melainkan menghindari tatapan elang dari ustad Billal.


______________tbc______________


__ADS_2