KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Harus Bagaimana


__ADS_3

Sekuat hati aku meyakinkan Dian agar bersabar menunggu sampai aku menyelesaikan S-1. Kurang dari satu tahun, yah... itu bukanlah waktu yang terlalu lama jika di bandingkan dengan perjalanan kisah kami yang begitu berliku.


Namun bagaimana dengan hati ku sendiri?


Dengan susah payah aku yakinkan diri ini, bahwasanya semua akan indah pada waktunya. Tapi jangan tanya, masih bisakah aku bersabar untuk menanti hari itu? Aku sendiri rasanya tak yakin.


Setelah sekian panjang derita yang ku rasa, menjalani kisah bersama Dian yang belum juga berakhir hingga saat ini. Sungguh aku tidak sabar lagi menanti hari bahagia itu.


Dian mengantarkan aku kembali ke pesantren. Dengan berat hati aku melambaikan tangan perpisahan.


Bertahanlah wahai hati, untuk cinta yang selama ini kau nanti.


Bersabarlah diri, untuk bersanding bersama dia yang selama ini menanti.


Sungguh, menyemangati diri sendiri itu tak semudah seperti saat menyemangati orang lain.


"assalamu'alaikum" aku melangkah kan kaki di rumah paviliun.


Suasana sepi karena aku tiba lepas dhuhur, mungkin semua orang sedang beristirahat, termasuk Siska.


Tak ada jawaban, namun begitu aku membuka pintu kamar, langsung di sambut pelukan oleh Siska.


"Kayra, hikkss... hiikkkss... hiikks.. "


"hey, kenapa? ada apa Sis" aku menyambut nya dengan pelukan juga. Jarang-jarang aku lihat Siska menangis sampai se sendu ini.


"kamu kenapa, ada apa? " aku menarik Siska untuk duduk di ranjang.


"aaa.... aaakkuuu" suara Siska terputus khas orang menangis terisak.


"kamu kenapa? "


"a.... akku... mes.. ti gi.. ma.. na? "


"sudah-sudah. Kalo masih pengen nangis, nangis aja dulu. Tapi setelah itu janji cerita ya"


"sssrrreeegggg ssrreegggg " suara airmata sekaligus ingus yang di seka oleh Siska.


Rupanya orang yang sedang menangis sudah lupa soal kebersihan. Mungkin begitu juga dengan aku 😄😂


"udah, aku udah gak nangis kok" Siska bilang, tapi masih terdengar suara sesenggukan.


"yaudah cerita gih" kata ku penasaran.


"ustadz Billal......


ustadz Billal.....


ustadz..... "


"iya Siska, kenapa dengan ustadz Billal. Kamu di apakan sama ustadz Billal? Ayo temenin biar aku yang negur beliau" ucap ku karena tak sabar dengan Siska yang menyebut nama ustadz Billal berulang kali.

__ADS_1


"ustadz Billal nglamar aku"


Seketika mata ku melotot dan mulut ku terbuka mengangap. Apa aku gak salah dengar?


"apa Sis, bisa di ulang gak? "


"iya, ustadz Billal nglamar aku tadi pagi. Udah gitu langsung di depan Ummi dan pak Kyai"


"serius kamu? " tanya ku dengan mata masih melebar dan menggeleng-gelengkan kepala.


"serius Kayra.


Biasa aja donk ekspresi wajah kamu"


"bentar deh Sis, kita gak lagi mimpi kan ini? " tanya ku kembali sambil menggoyangkan wajah Siska juga.


"beneran Kayra.


Kamu aja syok, apalagi aku? "


"jadi...... ini nangis nya nangis bahagia? " padahal aku sudah khawatir lebih dulu, takut terjadi sesuatu.


"aku bingung Kay. Mesti gimana? " ucap Siska dengan nada tak berdaya.


"aku juga bingung Sis, mesti gimana? " aku pun tak kalah bingung soal desakan Dian untuk mempercepat pernikahan.


"tapi kamu gak cemburu kan? " tanya Siska yang membuat aku menanggapi dengan cepat.


"berarti seandainya aku Terima lamaran dari ustadz Bilal" perkataan Siska menggantung. Membuat aku menyela dengan cepat.


"jadi, kamu memang ada hati sama ustadz Billal? "


"ya gak gitu juga. Kan baru seandainya"


"apa juga ku bilang, benar kan firasat ku kalau ada something. Cie, Siska cieeeee"


"udah ah Kay. Gak usah godain terus. Kasih saran donk, aku mesti gimana? "


"gimana yah, kalau aku ngrasa tuh, kamu sama ustadz Billal itu seperti ular yang bertemu pawang. Seperti yang pernah aku bilang. Siska yang biasanya meledak-ledak setiap ngobrol sama cowok, tiba-tiba jadi jinak"


"enak aja, emangnya aku binatang buas.


(jeda)


Tapi bener juga sih. Dekat sama ustadz Billal itu bikin aku tenang, nyaman. Ngobrol sama beliau itu menyenangkan.


Tapi, aku ngrasanya itu sudah seperti punya kakak aja Kay.


Masa iya sih aku jatuh cinta sama ustadz Billal?


Tapi, usia nya beda jauh sama kita Kay"

__ADS_1


"kebanyakan 'tapi'. Kalo suka suka aja sih" jawab ku asal.


Jangankan untuk memahami jalan hidup orang lain. Untuk hidup ku sendiri saja terkadang aku masih bingung. Orang yang dulu aku benci, begitu ingin aku hindari, kini justru akan menjadi orang yang paling dekat dengan ku.


Aku, yang dulu sekuat hati menahan godaan untuk tidak pacaran. Alih-alih menjaga mandat papa, takut kalau ketahuan dan di nikahkan. Kini justru hati meronta ingin selalu bersama Dian. Inikah yang dinamakan jatuh cinta? Atau jangan-jangan sebenarnya aku juga ikutan bucin, sama seperti Dian.


"Kayra pleas, kasih masukan yang bener donk" rengek Siska kembali.


"terkadang takdir itu tidak memandang logika Sis. Mau jarak usia berapapun, kalau sudah takdirnya, bisa apa lagi? Itulah, kalau sudah jodoh, kita bisa apa lagi.


Seperti yang aku alami sendiri Sis. Kamu cukup faham kan dengan apa yang terjadi pada ku dan Dian?


Jadi, sekarang tanyakan pada hati kecil mu. Karena hati tidak akan pernah berdusta.


Lalu, minta pendapat dan restu dari orang tua.


Dan yang paling penting, solat istikharah "


Siska terdiam mendengar penuturan ku yang panjang lebar. Sudah seperti orang tua yang menasehati anaknya saja. Padahal aku sendiri masih belajar tentang hakikatnya hidup dan kehidupan.


"gitu yah? " tanya Siska dengan enteng nya. Maklum, selama ini dia kurang dekat dengan orangtuanya.


"jadi anak mama itu enak lagi Sis, ada apa-apa bisa langsung ngadu tanpa berfikir ini itu" aku menyemangati Siska agar mau untuk lebih dekat dengan orangtuanya.


"bener juga sih, tapi..... "


"tapi, lagi.


Udah gak usah kebanyakan tapi. Minta ijin sana buat pulang besok"


"tapi mama lagi di luar kota Kay" repot nya punya orangtua bisnisman yang super sibuk yah.


"telpon aja kalau gitu. Gampang kan" kata ku memberi saran.


"enak aja, ini kan penting. Aku pengen ngomong langsung sama mama"


Akhirnya perbincangan kami berlanjut hingga sore datang. Membahas tentang hati, yang pada akhirnya tak berujung entah kemana. Tapi jodoh, akan tetap berlabuh pada dia yang seharusnya. Sebab takdir akan mencari jalannya sendiri. Tak bisa kita hindari, sama sekali tidak.


Siapa sangka, jalan cerita kami akan menjadi seperti ini.


Dari sekian banyak laki-laki yang mengejar ku, kenapa pada akhirnya Dian lah yang menjadi pelabuhan hati ku. Orang yang paling memporak porandakan hati ku, yang sering kali membuat aku menangis.


Sementara Siska, dari sekian banyak laki-laki yang pernah dia kenal selalu saja dia buat geleng-geleng kepala. Layaknya anjing yang bertemu kucing dan siap memangsa.


Siapa sangka yang berhasil menjadi pawangnya adalah ustadz alim dengan sejuta prestasi.


Hahahha, bisa jadi Siska akan berjubah panjang setelah ini. Aku tertawa sendiri dengan apa yang aku pikirkan.


Terasa lucu, sepertinya masa senang-senang kami akan segera berakhir. Secepat inikah?


_________________^_^_______________

__ADS_1


__ADS_2