
Seperti yang sudah aku perkirakan, mama pun manyambut kedatangan ku dengan wajah terkejut.
"jadi mama gak suka nih anknya pulang"
"Ya bukannya gak suka gitu. Kamu ini, sama anak sendiri juga.
Tumben aja, baru kemarin pulang. Gak kasih kabar juga" Celoteh mama sambil menghidangkan minuman untuk si calon menantu.
"mama ih, mentang-mentang mau punya menantu anak sendiri dilupakan" sindir ku.
"maksudnya gimana" tanya mama yang tak faham dengan kata ku.
"minumnya cuma satu" aku merengek.
"Astaghfirullah Kayra, kamu ini.
Kan biasanya kamu gak suka kalo mama buatkan minuman manis"
Selesai aku melepas rindu sama Mama, aku meninggalkan Dian bersama mama untuk masuk ke kamar maletakan bawang bawaan ku.
"sebenarnya ada hal yang ingin Dian bicarakan Ma. Makanya Dian jemput Kayra untuk pulang" Samar-samar aku mendengar pembicaraan Dian pada mama
Lalu entah apa yang mereka perbincangkan, karena perut ku terasa mulas tak bisa di tahan lagi.
Cukup lama aku berada di kamar mandi. Begitu aku turun, dibawah sudah ramai. Papa dan adek sudah pulang dari jogging. Tanpa kehadiran ku, kebiasaan mereka sama sekali tidak berubah.
"kakak, pagi-pagi sudah cerah aja" adek menggoda ku. Sudah pasti ada maksud lain. Apa mungkin Dian sudah mengobrol kan dengan Mama dan Papa?
"cerahlah, pake sunblock tiap hari" jawab ku asal.
"sarapan dulu aja yok, nanti kita lanjut ngobrol setelah sarapan" kata papa yang muncul dari balik meja makan.
"sudah pa, sudah sarapan nasi kuning tadi" jawab ku sembari bersalaman pada papa.
"oh, gitu ya. Beli nasi kuning lupa sama adeknya sekarang"
"gak kepikiran" jawab ku singkat. Lalu aku mengambil piring yang berisi buah.
"iyalah, mana kepikiran sama orang lain kalo udah berdua. Yang lain ngontrak"
"hustt, adek. Apa sih. Sudah makan sana" mama menegur adek.
Sementara aku menyusul Dian yang pindah duduk di bangku teras. Dia bilang lebih segar kalau duduk di teras, bisa sambil memandangi tanaman.
"mau langsung ngomong sekarang? " tanya ku sembari meletakkan piring yang aku bawa di atas meja.
"iya, sekalian aja. Udah gak sabar"
Setiap kali aku mendengar ucapan Dian "gak sabar" pikiran ku jadi menerawang berkelana jauh dan itu membuat aku ngeri.
"Gak sabar" itu dalam artian?
Apakah ingin segera menunjukkan pada dunia bahwa aku miliknya? misalnya, pergi kemanapun berdua dan selalu menggenggam erat tangan ku.
Ataukah ingin bermanja-manja seperti pasangan yang sedang pacaran begitu?
__ADS_1
Atau mungkin, hubungan lebih yang seperti pasangan menikah pada umumnya?
Hubungan badan?
Lalu..... aku hamil?
Dan......
"aaaaaahhhhh tidaaakkk" membayangkan itu semua membuat aku berteriak tanpa sadar.
"Kay kamu kenapa, kena pisau? " dengan sigap Dian memeriksa tangan ku.
Dan ternyata benar, tangan ku sudah berdarah-darah. Bahkan lebih dari satu sayatan. Bagaimana bisa aku tidak merasakan sakit ataupun perih?
Karena???
Oh karena pikiran yang sedang berkelana kemana-mana. Astaghfirullah hal adzim.
"kok bisa sih Kay?" dengan cepat Dian membersihkan tangan ku. Setelah sebelumnya berlarian masuk ke dalam rumah, meminta kotak p3k dan berujung membuat heboh seisi rumah.
"perih gak? tahan ya" perlahan Dian meneteskan obat lalu membalutnya.
"padahal disini ada calon dokter loh" kata adek. Lagi-lagi dia bergurau dengan cita-cita tertinggi nya itu. Yah, semoga saja tercapai segala angan dan cita-citanya.
"tapi tangan aku lebih manjur kalo buat ngobatin Kayra" sanggah Dian.
"iya deh, percaya. Yang lagi bucin" ledek adek.
"Lagian, kakak ada-ada saja. Kupas buah tapi yang di kupas malah tangan sendiri. Pasti sambil liatin kak Dian.
Emang kak Dian seganteng itu yah? " tanya adek yang masih saja heran "kok bisa sih? "
"aaiissttt. Lebay semua. Susah emang lawan pasangan yang lagi bucin.
Udah awh, mau mandi aja" ahkirnya adek pergi meninggalkan kami berdua di teras.
Tak lama kemudian ayah yang bergabung di bangku teras. Gantian aku yang masuk ke dalam rumah untuk mencari mama, mengajak bergabung bersama di bangku teras.
"sebentar ma, ada yang mau di obrolin, penting. " pinta ku. Karena mama masih saja serius mendesain gaun.
"penting, penting banget ya? "
"iya ma, penting... ting.. ting... ting... "
"pantesan, ada yang pulang dadakan. Sepertinya mama tau hal penting itu"
"iwh, mama. Udah ah, ayoook" aku terus memegangi lengan mama. Dan akhirnya mama berdiri juga.
"duduk sini ma" aku mempersilahkan mama duduk dan aku berada di sebelah mama.
"ada yang penting pa. Sepertinya gak harus nunggu setahun lagi kita sudah sebar undangan" Dian nampak tersipu malu sebab mama sudah memulai perbincangan lebih dulu.
"benar begitu Dian? " tanya papa.
Sepertinya sudah ada burung yang menyampaikan kabar lebih dulu. Atau mungkin hanya aku saja yang selalu tau belakangan.
__ADS_1
"iya ma, pa. Dian minta ijin untuk memajukan tanggal pernikahan.
Rasanya terlalu berat untuk menunggu waktu satu tahun"
"Bagaimana pa? " tanya mama pada papa, tapi arah pandangan mata menatap ku.
"yah terserah anak-anak saja lah kalau begitu" jawab papa tanpa sanggahan ataupun kalimat memberatkan lainnya.
"tapi kuliah aku pa? " sementara aku sudah sangat khawatir, terus menggigit bibir bawah sembari hati dag dig dug serasa mau meledak.
"kuliah ya tetep kuliah" papa bercanda atau bagaimana ya, rasanya aku masih tidak percaya.
"sungguhan pa? Kayra masih tetep bisa kuliah setelah nikah? " tanya ku dengan ekspresi kegembiraan.
"ya bisalah.
Mama kamu aja dulu kuliah juga kamu sudah lahir"
"tapi dulu papa pernah bilang. Kalau Kayra ketahuan pacaran bakal langsung dinikahkan dan gak akan di sekolahkan lagi" aku masih dan akan selalu mengingat peringatan paling menakutkan yang pernah papa keluarkan.
"itukan kalau pacaran, gak jelas, hanya mendekati dosa.
Kalau nikah, ya mana bisa papa buat aturan yang sama. Jodoh itu sudah ditentukan waktunya. Mana bisa papa mencegah ketentuan Allah.
Kalau memang kalian merasa seperti itu, sudah yakin dengan keputusan yang diambil.
Papa dan mama selalu orang tua hanya bisa mendukung dan mendoakan"
"sungguhan pa? " saking bahagianya aku langsung memeluk mama dan papa bergantian.
"makasih pa, ma" ucap ku lagi.
"kalau begitu nanti saya bicara sama Abi. Supaya datang kesini untuk membicarakan segala sesuatunya"
"nanti malam juga boleh Di. Mumpung Kayra ada di rumah. Dari pada bolak-balik kamu culik dia dari pesantren" kata mama.
"isht, apaan sih mama" ucap ku dengan malu.
"iya ma. Maunya juga begitu. Cepet nikah aja biar dia gak pergi-pergi lagi" sambung Dian yang membuat aku semakin malu.
"ecie... yang mau cepet-cepet nikah" yang suka buat ribut sudah muncul, siapa lagi kalau bukan adek.
"oh ya ma, setelah ini saya ajak Kayra ke rumah boleh? " Dian meminta ijin.
"ih, baru juga di anterin pulang. Mau di bawa pergi lagi. Gak boleh, aku mau ada perlu sama kakak" adek menahan.
"sudah sudah, kalian urus saja. Pusing papa kalo kalian sudah mulai ribut begini" Lalu papa berdiri dari tempatnya.
"mama juga mau lanjut lembur lah, sudah deadline" mama pun ikut masuk ke dalam rumah.
"antri dulu, udah duluan aku yang minta ijin sama mama" Dian tak mau kalah.
"berarti nanti malam kakak sama aku ya, gak ada kencan"
"enak aja. Malam minggu waktunya kencan lah"
__ADS_1
"kalian berdua silahkan ribut deh, mau mandi. Gerah" belum juga tinggal bersama satu rumah. Lama-lama butuh headset buat tutup telinga.
"jadi... dari tadi tuh belum mandi" ucap Dian dan adek bersamaan. Sementara aku sudah pergi dari pandangan mereka berdua.