
Terlepas dari keadaan rumah ku yang tengah ramai saat ini, di rumah Melan juga nampak beberapa keluarga yang tengah hilir mudik.
Sampai akhir nya aku mendapat bisikan dari adek "kak... kak... kak Gilang mau nglamar kak Melan loh"
Aku yang saat itu sedang menikmati pudding buatan mama bersama Eyang, berhenti mengunyah seketika.
Rasanya seperti, antara percaya dan tidak. Rasanya seperti tak ada angin tak ada hujan, tapi tiba-tiba listrik padam. Pantas saja keluarga berkumpul, ada Eyang pula.
Memang kebersamaan ku dengan Melan tak selekat dulu lagi. Tapi kami masih rutin berkomunikasi kok. Tapi Melan tidak pernah mengatakan apapun, tidak bertanya apapun, dan tidak pernah bercerita apapun.
Wah, pelanggaran ini. Pikir ku.
Aku saja sampai sejauh ini masih selalu bercerita dan meminta pendapat tentang Dian. Enak saja dia main tikung, gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba lamaran.
Rasanya kaki ingin segera melangkah ke rumah Melan. Namun naluri menahan, ada Dian di sana. Ada saudara yang lain, bisa jadi ustazah Zia juga sedang berada di sana.
Akhirnya kaki ku melangkah, tapi bukan ke rumah Melan. Melainkan mencari kak Gilang dan menyeretnya untuk di kupas tuntas secara tajam. Enak saja, mau nikahin sahabat ku tapi gak ada permisi dulu sama aku.
"apa sih Kayra, mau kemana? " gak Gilang sedikit berjalan terseok karena lengan tangannya aku tarik.
"ayo... ikut pokoknya" ajak ku tanpa ada kompromi.
"iya, tapi pelan-pelan. Biar bener dulu nih jalannya"
Aku membawa kak Gilang ke teras atas.
Masih terlihat Dian di tempat yang sama, tapi aku tak menghiraukan dia kali ini.
"kakak, ayo ceritain sama aku sekarang. Sebelum aku mengajukan banyak pertanyaan" perintah ku pada kak Gilang.
"cerita apa Kay? " kak Gilang masih memasang wajah seolah tak ada apa-apa.
"tuh, Melan. Kenapa aku baru tau belakangan? " tanya ku penuh selidik.
"owh..... " jawab kak Gilang enteng.
"eh, cuma owh...? " aku di bikin geregetan sama kak Gilang.
"ya sabar dulu, ngatur alur. Bingung mau cerita dari mana"
"saking banyaknya yang aku gak tau ya? " aku masih sangat antusias untuk ingin tahu.
Kak Gilang masih tampak berfikir
"tuh, dilihatin terus sama yang di sebrang tuh" ucap kak Gilang.
"kakakkkkkk, mengalihkan pembicaraan ni" ucap ku geram.
"eciee, apa mau sekalian bareng nih. Mumpung lagi ada Eyang juga" malah kak Gilang yang menggoda aku.
Satu cubitan, dua cubitan, ketiak kanan, ketiak kiri, sampai akhir nya ampun-ampun.
"iya iya cerita. Udah, ntar yang di sebrang ngambek, cemburu.
__ADS_1
Rasanya kaya kita yang pacaran dan dia yang lagi kepanasan" masih saja meledek orang lain, dasar kakak satu ini.
Kali ini mata ku melotot dengan susah payah dan bibir manyun.
"jadi, aku sama Melan itu gak sengaja critanya. Tapi semua berjalan begitu saja, dan.. sampailah pada tahap ini" kak Gilang kembali diam.
"ih, yang jelas sih kalo cerita" aku masih belum mendapatkan jawaban yang seharusnya. Kalau gak bisa menguliti Melan, berarti harus kak Gilang yang di kuliti.
"waktu itu tumben aja komenan di setatus fb. Dia bikin setatus soal tugas. Setelah basa-basi cukup lama, akhirnya dia hubungin aku juga, buat bantuin bikin tugas.
Dari sana kita jadi dekat dan semakin dekat. Banyak hal yang aku temukan pada diri dia,apa yang selama ini aku cari.
Sampai akhir nya suatu saat aku samperin dia, ketemu empat mata. Terang-terangan aku tanyain soal kehidupan pribadi dia, hubungan asmara dia. Tadinya dia gak mau jawab, malah ngambek.
Setelah itu lama gak ada komunikasi, aku telpon gak pernah dia angkat. Kirim pesan juga gak pernah di respon.
Padahal waktu itu juga sudah aku jelasin lewat pesan. Maksud dan tujuan ku tanya kaya gitu. Aku daftar jadi calon suami kalo memang memungkinkan.
Beberapa bulan gak ada komunikasi, kebetulan kami di pertemukan lagi waktu ada event pameran. Di sana dia masih mencoba menghindar. Sampai akhirnya aku berhasil membawa dia ke suasana yang lebih sepi dan mengajak dia berbicara. Tak masalah dia menolak kakak, asalkan jangan menghindari macam itu.
Dan kamu tau apa jawaban dia?
Dia menantang kakak untuk langsung datang ke rumahnya.
Baru juga awal bulan kemarin kakak ke sini sendirian. Ketemu sama orang tua dia. Lalu minggu depannya kesini bersama mama dan papa. Dan nanti sore, kakak akan melamarnya.
Karena kakak akan di pindah tugaskan ke Manado awal bulan depan. Jadi kakak tidak akan memberikan kesempatan pada orang lain untuk mendekati Melan selama kakak jauh di sana. "
Uwh... cerita yang mengharukan bukan?!
Tapi memang layak sih, karena Melan tidak pernah bermain api dengan cowok selama yang aku kenal.
Spontan aku memeluk kak Gilang, mungkin ini menjadi kali kedua sebelum yang terakhir. Sebelum nanti terakhir memeluk dia saat di pelaminan.
"selamat ya kakak ku.... akhirnya laku juga" ucap ku dengan gemas sembari memainkan kedua sisi pipinya. Dan mungkin ini akan menjadi kali terakhir aku bisa bercanda sedekat ini dengan kak Gilang. Setelah nanti pernikahan itu berlangsung, tak mungkin lagi aku lakukan ini saat dia sudah menjadi suami orang.
Ini benar-benar kejutan. Melan, akhirnya tak hanya seperti saudara. Melainkan akan benar-benar menjadi saudara. Jadi tak sabar untuk bertemu dia, memeluk dia dan memberi ucapan selamat.
Selesai sudah mengupas tuntas kisah kak Gilang. Dan saat menengok ke seberang, Dian sudah tak ada di sana.
"baik-baik sama Dian. Semoga cepat nyusul" kali ini kak Gilang menepuk bahu ku lalu berjalan menuruni tangga.
Aku tak heran jika kak Gilang tau soal aku dan Dian. Jika kenyataan dia sebentar lagi akan menjadi calon sepupu Dian juga.
Sepintas muncul dalam benak ku. Kak Gilang, sepupu ku. Menikah sama Melan jadi sepupunya Dian. Lalu aku menikah sama Dian. Akan jadi seperti apa garis keturunan kita nanti?
Aku menggelengkan kepala geli, lalu berjalan ke kamar mengambil handphone.
Rasanya hati ku berbunga-bunga saat ini. Entah ikut bahagia karena ini menjadi hari bahagia Melan dan kak Gilang, atau bahagia karena kebahagiaan ku sendiri?
"semoga cepet nyusul" kalimat kak Gilang masih terus terngiang di kepala ku. Seandainya saja jalan ku dan Dian semulus jalannya kalian?
tttuuuutttt tttuuuutttt ttttuuutttt
__ADS_1
setelah dering ketika baru mendapatkan jawaban.
"assalamu'alaikum" jawaban dari seberang telepon yang selalu menenteramkan hati.
"waalaikumsalam warohmatuloh.
Kok sudah ngilang, gak lagi marah kan? " tanya ku.
"marah kenapa? " yang di tanya malah pura-pura lupa.
"yang tadi, aku sama kak Gilang di depan" ucap ku singkat.
"owh, enggak lah. Tau kok itu kakak kamu, calon suami Melan kan?!
Kalo itu Johan, mungkin akan lain lagi" malah membawa nama orang lain.
"eh tunggu. Kamu sudah tau soal Melan, kenapa gak kasih tau aku" protes ku.
"lha... kamu belum tau?
Aku kira kamu udah tau lebih dulu malah. Kamu kan sahabat dia dari lahir" kalimat terakhir malah mencibir.
"ngledek nih"
"beneran loh. Aku gak tau kalo kamu belum tau. Tadi subuh kan ketemu sama Nahla di masjid. Aku tanyain katanya bakalan pulang pagi ini. Jadi ya, aku kira karena kamu udah tah" penjelasan dari sebrang sudah selesai, tapi aku masih tetap diam.
"jangan ngambek donk" ucapnya lagi.
"kamu juga jangan ngambek" ucap ku, mungkin sedikit gak jelas.
"kan memang aku gak ngambek.
Aku mesti ke kantor sebentar antar data. Makanya aku pulang. Nanti pulang cepet kok, sampai ketemu di acara lamarannya Melan ya. Gak perlu dandan, gitu aja udah cantik. Aku suka"
Wao wao wao, digombalin. Rasanya seperti mau terbang nih 🤭 melayang-layang.
"yaudah hati-hati". Percuma juga mau protes, dia memang selalu bisa menjungkir balikkan hati ku.
Dia... mungkin hanya dia
ku slalu memikirkan nya
tak pernah ada habisnya
Sementara dari bawah terdengar suara musik yang sedang di putar.
Lalu aku sadar jika di bawah sedang banyak keluarga. Pasti kehadiran ku di tanyakan. Mungkin saja di perlukan untuk membantu mengerjakan sesuatu.
Hari ini adalah hari bahagia Melan dan kak Gilang. Kenapa malah aku yang di bikin melayang-layang sama kata gombalan Dian.
Ah, cinta.... cinta....
Semoga derita ku segera berlalu dan berganti dengan restu, aamiin.
__ADS_1
__________________TBC________________