
Setelah hampir dua bulan baru kali ini aku bertemu dengan Melan. Biasanya hanya vcall saat sebelum tidur. Karna Melan sendiri masih sibuk, banyak tamu sanak saudara. Pasca kepulangan kakek dan neneknya pulang dari haji.
Aku sendiri sudah datang berkunjung sehari setelah kepulangan beliau, bersama mama papa juga adek pastinya.
Saat kami berkunjung hanya abi nya Dian yang disana, sementara ustadzah Zia tidak terlihat.
Berbicara tentang abi dan umi nya Dian, beliau berdua sangat berbeda. Satu sisi ustadzah Zia nampak tidak menyukai aku, kedekatakan ku dengan Dian lebih tepatnya. Di lain sisi, ustad Amin justru semakin ramah dengan ku. Suka menggoda malah, "kapan siap di hitbah" itu kalimat beliau yang paling sulit dari ingatan ku.
Sehingga seringkali aku malu sendiri saat bertemu beliau. Apalagi sedang bercengkrama begini. Terasa canggung setelah beberapa bulan tidak bertatap muka, setelah aku mengundurkan diri dari keanggotaan remas.
"Mel mel"
panggil ku. Saat ini kami sedang duduk di depan TV di lantai bawah. Karena di kamar atas ada Dian sedang bermain PS. Padahal sudah di bangku kuliah, hobinya main PS belum juga berubah.
"kenapa Kay"
tanya Melan sembari mengunyah keripik singkong yang sedari tadi toples tak pindah dari pangkuan.
"yang di atas tuh, pernah cerita-cerita soal di kampus gak? "
rasa penasaran ku sebenarnya tidak tertahan, tapi gengsi juga mau tanya sama yang bersangkutan.
__ADS_1
"kak Dian? "
"iyah, siapa lagi"
"gak pernah tuh. Kenapa emang? "
"tau gak, dia itu satu organisasi sama kak Jo"
"trus kenapa? "
"kok kenapa sih? aduh, hemp. Perasaan dia ke aku sudah hilang belum sih? "
"idih, gaklah. Terus dia tahu gak kalo satu kampus sama aku"
"tau sih kalo itu, sempat tanya sama aku. Kalian ini, bukannya udah sering chatting an ya? apa aja emang yang dibahas"
"nglucu aja dia. Mau jadi pelawak mungkin"
"ntar deh. Jujur aku gak faham arah pembicaraan kamu"
"aaaahh Melan. Gini yah, secara Dian sama kak Jo satu organisasi. Dan mereka punya riwayat perasaan yang sama. Aku tuh takut kalo bakalan dibuat ribet sama situasi itu"
__ADS_1
"yaudah si, berati kamu gak boleh gabung di organisasi yang ada mereka berdua"
aku hanya menganggukkan kepala kali ini. Benar juga. Lagipula aku tidak ada minat untuk bergabung di BEM.
Obrolan kami terhenti karena yang dibicarakan datang
"hey 😊"
sapanya sembari tersenyum. Mampir sebentar mencicipi isi toples yang di pegang Melan kemudian pamit pulang.
Sebenarnya tak perlu kalimat panjang untuk menjelaskan sebuah perasaan, cukup dengan sapaan disertai senyum sudah membuat hati ku mengembang bahagia. Benar adanya, senyum itu sedekah. Ketika kita tidak punya apapun untuk disedekahkan cukuplah tersenyum itu sudah membuat orang lain bahagia.
"senyumlah untuk semua orang, tapi hati mu jangan"
Entah hingga saat ini hatinya masih untuk ku atau tidak, aku sudah tidak lagi peduli. Kembali bersahabat itu sudah lebih dari cukup.
Selepas kepulangannya akupun pulang.
Karena mendadak dapat pesan "mau ada tamu". Siapa lagi kalau bukan keluarga kak Jo.
Mama meminta ku pulang untuk membantu membuat hidangan. Karena adek sedang ikut papa pergi.
__ADS_1