KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Acara dimulai dengan prosesi panggih atau temu manten.


Pukul setengah sepuluh kami meninggalkan kamar hotel. Karena cukup jauh jarak dari hotel ke gedung resepsi. Acara panggih akan dimulai pukul sepuluh.


Kali ini bukan hanya sopir yang menjemput, tapi ada juga adek di sana.


Saat aku keluar dari lift adek sudah menunggu di lobby bersama Dian.


Akun turun belakangan karena masih ada sedikit masalah dengan gaun yang ku pakai tadi.


"aidah... kakak aku makin cantik aja" goda adek.


"udah siap? yok berangkat" kata Dian.


"cussss, gak usah lama-lama berada di luar neek, nanti luntur tuh make up" ses Nita berkata.


Pokoknya kalau sudah dia yang bicara, gak boleh de ada yang ngebantah. Iya-iya in aja. Bisa jadi panjang ceritanya.


Setelah mobil sampai di tempat acara, kami turun dengan arah jalan yang berbeda. Karena iring-iringan pengantin yang akan melaksanakan prosesi panggih tengah di siapkan.


Dian berjalan menuju rombongan pengantin pria, yang kemudian bersama-sama akan berjalan menuju keberadaan pengantin wanita.


Sementara aku berjalan ke arah pelaminan ditemani adek. Sudah ada se kerumunan keluarga yang siap menyambut ku di sana.


Sejak tadi turun dari mobil, adek menggandeng lengan ku dengan erat. Aku anggap itu sebagai bentuk manja nya terhadap ku. Yang setelah ini mungkin waktu ku harus terbagi untuk lebih banyak orang. Sehingga perhatian ku terhadap nya sudah di pastikan akan berkurang.


Aku berjalan semakin dekat. Ada sosok lain yang tertangkap oleh netra ku, sebelum aku menyapa para keluarga.


"kak, kakak tenang ya. Ada kak Jo bersama keluarga nya di sini" sejenak aku terdiam. Aku masih sangat ingat apa yang ku bahas tadi malam bersama Dian. Hanya saja aku masih butuh waktu untuk kembali mengatur emosi.


"ya, gak masalah" kata ku pada adek.


"tapi kak Jo gak di sini. Dia ikut di rombongan kak Dian"


Sampai di sini ada sesuatu yang bisa ku simpulkan. Kedatangan adek, bukan semata untuk ku. Melainkan untuk mengatur kedatangan seseorang yang jujur saja aku tidak mengundang nya.


"Kayra, selamat menempuh hidup baru ya sayang" mama nya kak langsung menghampiri ku dan menghamburkan pelukan.


Aku sangat sadar, kesalahan hanya terletak pada kak Jo. Tapi entah kenapa, rasanya aku begitu canggung untuk berinteraksi dengan keluarga ini. Dan bukan kah itu sudah berlangsung sejak dulu?


Aku hanya merasa sedikit sungkan. Mama mama yang tak sedih melihat anaknya berantakan hanya karena seorang wanita? Bahkan itu berimbas pada kesehatan mental sekali pendidikan yang sedang ia tempuh.


Jika mengingat itu, aku selalu teringat bagaimana ustadzah Zia berlaku pada ku pada saat semua hal buruk itu terjadi pada Dian.


Semua karena aku, sekali pun itu tanpa sepengetahuan ku dan jelas bukan aku yang mau.


Mungkin hanya karena kedekatan keluarga kami, sehingga sama sekali aku tidak menerima umpatan dari keluarga kak Jo.


Aku memeluk kembali mama nya kak Jo. Sedikit erat.


"maafkan Kayra tante. Karena memilih orang lain sebagai pelabuhan terahkir" dengan susah payah aku menahan air mata supaya tidak keluar. Sebab waktu sudah mendesak, ses Nita bisa ribut tujuh hari belum juga selesai jika make up ku sampai luntur.


"kamu tidak salah. Tidak perlu meminta maaf. Karena jodoh itu memang tidak bisa di nego" mama nya kak Jo menatap ku dengan senyum sumringah.


Kemudian suara dari pengeras menyebutkan bahwa acara akan segera di mulai.


Aku menarik nafas dalam dan membuangnya. Ku lakukan berulang kali untuk menghilangkan kegugupan yang menyerang.


Kenapa hati ini harus kembali tak menentu? Bukankah semua sudah jelas. Bahkan dia yang tersakiti sudah berusaha untuk ikhlas. Tak seharusnya aku terus merasa bersalah seperti ini.

__ADS_1


Sementara susunan acara di bacakan, aku masih di beri wejangan saat nanti melakukan segala sesuatu dalam prosesi panggih.


Faham atau tidak, aku hanya mengangguk kepala. Ketentraman serta kekuatan yang semalam ku dapat rasanya sirna.


Sementara mata ku tak dapat menjangkau keberadaan Dian saat ini. Untuk melakukan komunikasi lewat handphone itu tidak mungkin. Karena kami sama-sama tidak membawa nya.


Aku butuh menatap nya barang sedetik saja untuk menghilangkan rasa tak menyenangkan ini.


Tanpa ku sadari keringat dingin memenuhi kening ku.


"rileks aja, ini tuh tinggal seneng-seneng nya aja. Proses yang paling mendebarkan udah kemarin" kata salah satu keluarga.


"iya bude" jawab ku dengan senyuman tipis.


Seandainya ada orang lain yang bisa membaca pikiran ku tanpa harus ku katakan???


"kakak tadi gak sarapan, kenapa kelihatan pucat? " adek datang dengan membawakan tisu untuk menghilangkan keringat yang nampak sebesar biji jagung.


"udah dek. Kakak cuma.... " kalimat ku tercekat. Terlalu banyak orang berlalu lalang, aku tak nyaman jika ada orang lain yang mendengar.


"ada sesuatu yang mengganggu pikiran kakak?


apakah.... kedatangan kak Jo? " adek berbicara lebih dekat saat menyebutkan nama ia. Ia cukup faham tentang apa yang aku risaukan.


"entahlah. Padahal semalam kak Dian sudah memberi tau tentang ini.


Tapi rasa bersalah sekaligus amarah belum bisa hilang begitu saja.


Namun sekarang, rasa bersalah kakak yang lebih besar.


Rasanya terlalu menyakiti.... memaksa dia untuk berada di tempat ini" dengan sekuat tenaga, aku tetap berusaha menahan genangan air mata supaya tak jatuh.


"tenang lah kak. Dia sendiri yang bersedia untuk datang. Sebelumnya aku sudah mengatakan itu, tapi dia sendiri yang merasa yakin untuk datang. Semua akan baik-baik saja. Kak Dian sudah menunggu kakak di depan.


Pasalnya aku meminta ijin untuk ke kamar mandi terlebih dulu dengan di temani adek. Sehingga perbincangan panjang lebar kami tidak ada yang mendengar.


"istighfar kak. Baca solawat. Tarik nafas. Everything is ok"


Lalu kami beranjak meninggalkan kamar mandi. Di sambut oleh ses Nita yang langsung menambah ketebalan bedak ku. Padahal rasanya sudah engap sekali wajah ku.


Acara di mulai. Satu demi satu, seruntutan acara panggih berlangsung.


Dengan nafas lega aku menggenggam erat tangan Dian. Seakan tak ingin melepaskan. Dialah kekuatan ku saat ini.


Tanpa aku berkata apapun, rupanya dia mampu menangkap sinyal kekhawatiran dalam diri ku.


"kenapa tadi lama sekali? ada kendala? " tanya Dian di sela-sela prosesi saat dirasa ada kesempatan.


"maaf, aku.... tadi.... perasaan ku kembali campur aduk" kata ku lirih dan tercekat-cekat.


"apa karena dia? " tebakan Dian langsung mengenai pada sasaran. Sepertinya Dian dan adek yang sengaja merencanakan untuk membawa kak Joe menjauh dari sekitar pandangan ku.


Pembahasan kami tak lagi berlanjut. Karena MC kembali membacakan serangkaian acara yang belum selesai.


Lalu aku berbisik pada mama untuk meminta waktu jeda sebelum acara foto bersama tamu di langsungkan.


Aku butuh tambahan energi untuk mengusir rasa gundah ini. Tapi namanya hati, kalau sudah datang mellow nya, akan sedikit sulit untuk mengusir nya begitu saja.


Hingga tiba acara foto bersama. Satu demi satu tamu menghampiri kami di pelaminan. Memberikan ucapan selamat, pelukan hingga kecupan.

__ADS_1


Banyak nya orang yang menghampiri sesaat membuyarkan rasa yang tengah menghantui ku. Hingga datang lah keluarga kak Jo. Namun tak ada dirinya yang mengekor.


Tamu undangan sudah nampak sibuk mencicipi hidangan. Tinggal satu dua yang antri untuk berfoto. Namun tak juga nampak sosok kak Jo.


Hingga hari semakin siang. Tamu undangan berganti menjadi teman-teman kami berdua. Dari dari segala penjuru, bisa di bilang begitu.


Tak ku sangka yang datang membludak. Padahal ini hari efektif.bRasanya hampir dari semua teman yang ku undang datang.


Mengingat aku dulu yang begitu pendiam, cuek bahkan ada yang mengatai ku sombong juga sok.


Soal Dian, teman nya lebih banyak dari kampus dan tempat kerja.


Tiga sahabat ku tengah bersama, eh salah empat. Melan, Meysa, Melda dan Siska. Mereka nampak asik bersenda gurau dalam satu lingkaran meja. Rasanya aku ingin berlari menghambur pada mereka. Tapi bagaimana bisa dengan memakai gaun panjang besar nan lebar yang tengah ku pakai ini.


Yasudahlah, mereka berbahagia di hari bahagia ku. Semua bisa berkumpul itu saja sudah cukup.


Tak banyak teman yang hadir berlama-lama. Selain teman-teman dekat kami. Hingga di akhir sesi datanglah keluarga Pesantren tempat ku dulu menimba ilmu.


Ustadz Billal yang kini telah resmi bersama Siska. Kami saling memberi selamat, karena sejak itu kami belumlah bertemu.


Juga kak Maryam bersama kak Nicho dan si bayi mungil mereka, Hafsyah. Beserta keluarga besar.


Rasa bahagia yang mendalam menyelimuti resepsi pernikahan kami. Dengan banyaknya tamu undangan yang datang, memberi selamat.


Hingga di sesi terakhir pun suasana masih tetap riuh, meriah. Apalagi dengan kolega mama, papa juga keluarga Dian. Mereka yang paling heboh diantara kedua sesi sebelum nya.


Masih terlihat papa nya kak Jo berdiri di ambang pintu masuk sebagai penerima tamu. Hanya dengan melihat beliau saja entah kenapa hati ku kembali resah. Serasa di ingatkan kembali dengan sosok yang beberapa menit lalu aku lupakan.


Lelah yang luar biasa telah menyerang ku. Berkali-kali aku menguap.


Entah berapa ratus foto yang sudah terambil. Tapi si mas mas pemegang kamera masih saja semangat menyuruh kami untuk melakukan berbagai macam pose. Sampai di akhir acara pun, di saat make up ku sudah mulai luntur.


Tak sabar rasanya mendengar MC menutup acara. Hingga tiba nama dari Pimpinan Pesantren tempat Dian bernaung disebut untuk membacakan doa. Hati ku sangat lega.


Acara benar-benar selesai.


Aku tak langsung meninggalkan pelaminan. Kaki ku rasanya masih beku karena lamanya berdiri memakai sepatu hak tinggi.


Tanpa aku minta, seseorang datang membawa flatshoes ku. Betapa bahagianya aku, kaki ku terbebas juga akhirnya.


Barulah kami berdua meninggalkan pelaminan, tempat bersejarah yang tidak akan pernah kami duduki lagi. Namun kenangan nya lah yang akan kami bawa hingga nanti.


Kami berjalan menuju kamar yg memang di sediakan untuk beristirahat sejenak penyewanya. Tak lain kamar yang dulu aku tempati saat prosesi siraman.


Tak mau menunggu lebih lama lagi, aku segera meminta untuk di ganti pakaian dan dibersihkan wajah ku dari make up yang membuat mata ku tak bisa memejam. Sebab bulu mata yang begitu tebal dan panjang.


Dian meninggalkan kamar kembali.


Hingga aku selesai melepaskan semua baju serta riasan, kini giliran Dian yang di minta masuk untuk melepaskan baju pengantin yang masih di kenakan.


Aku terkejut, karena Dian datang tak sendiri. Melainkan bersama kak Jo. Padahal hati ku sudah mulai tenang, ku pikir sudah tak ada lagi dia di tempat ini.


"bicaralah berdua. Selesaikan" bisa ku dengar Dian berkata demikian pada kak Jo.


Satu centi, kini Dian sudah di hadapan ku.


"Jo ingin meminta maaf secara langsung. Temui selagi aku mengganti pakaian"


Perasaan ku kembali tak karuan. Apa-apa an ini? secara terang-terangan suami ku menyuruh ku untuk berbicara berdua dengan mantan rivalnya.

__ADS_1


Sekuat itukah persahabatan mereka?


____________________^_^____________________


__ADS_2