KALAU SUDAH JODOH

KALAU SUDAH JODOH
Pencarian sang Istri 1


__ADS_3

Ku lihat mobil Dian pergi meninggalkan area kampus. Setelah beberapa saat pencarian tidak juga membuahkan hasil.


"nyari siapa pak Man, kok sampai ngos-ngosan begitu" tanya pak satpam yang membantu ku dalam persembunyian.


"itu.... istrinya anak muda tadi lari, ngambek. Gara-gara cemburu katanya. Pengantin baru roman-romannya"


"walah, ada ada saja"


"iya. Yasudahlah.


Saya tadi sebenarnya di panggil ke ruang administrasi, ewh malah ketemu insiden pengantin baru.


Ya sudah ya Li. Tak ke kantor administrasi dulu"


Begitu pak Hambali, sapaan pak satpam yang sudah menolong ku tinggal seorang diri, aku keluar dari pos satpam.


"trimakasih ya pak, sudah membantu" kata ku.


"iya neng, sama-sama. Trus neng Kayra mau kemana sekarang?"


"pulang pak. Sudah tidak ada jadwal ngampus sampai pekan depan. Tinggal menunggu jadwal sidang skripsi"


"semoga lancar ya neng. Dan lulus dengan nilai cumlaude"


"aamiin. Trimakasih do'anya pak"


Pak Hambali adalah satpam lama yang sudah cukup mengenal ku. Juga beberapa kali membantu ku bersembunyi dari kejaran laki-laki hidung blang-blang. Termasuk dulu saat panas-panasnya konflik antara aku dan Dian, juga antara aku dan pak Nicholas. Pak Hambali sering kali membuyarkan kerumanan yang tengah meng-hibahkan aku.


"saya permisi ya pak"


"ya neng. Cepet pulang, gak baik bikin suami kuatir"


"hehe, iya pak. Siap"


Tak lama taksi online pesanan ku datang. Kini tujuan ku adalah rumah kak Maryam. Karena aku masih enggan untuk pulang ke apartemen.


Apakabar dengan handphone ku?


Jangan tanya. Panggilan tak ada hentinya. Juga pesan masuk panjang lebar, segala bujuk rayu dari Dian. Sampai aku tak bisa menggerakkan nya sama sekali. Tadi saja memesan taksi online dengan meminjam HP pak Hambali.


"aku masih kesel sama kamu. Mau jalan-jalan dulu, cari moodboster. Gak usah di telponin terus, aku tau jalan pulang" satu kali ku balas pesan Dian. Setidaknya biar dia berhenti untuk terus menelpon. Kasihan juga anak orang, jadi gak fokus kerja. Hehehe


Beberapa saat taksi yang ku tumpangi sudah sampai di kediaman kak Maryam. Begitu turun dari taksi, aroma sedap masakan langsung tercium oleh hidung ku. Membuat cacing dalam perut ku kembali berteriak. Efek makan gado-gado yang belum sampai habis.


Dari luar terdengar celotehan baby Hafsyah


"assalamu'alaikum" ucap ku sembari mendorong pintu yang tidak tertutup rapat.


"waalaikumsalam warah matullah. MaasyaaAllah, tante pengantin baru. Akhirnya main kesini" jawab kak Maryam dengan senyum ramahnya.


"hehe, sibuk bikin skripsi kak.

__ADS_1


Hay adek cantik...doakan tante segera lulus yaaa" kini gantian aku menyapa Hafsyah.


Percakapan kami menjadi panjang lebar mempertanyakan kabar satu sama lain. Termasuk kabar buruk yang terjadi pada ku hari ini, spontan mendapat jeweran dari kak Maryam.


"aisht....ini anak. Sekalinya datang kesini ternyata lagi kabur" kata kak Maryam.


"hehe, ya bukan begitu juga kak. Lagi bosan aja di apartemen terus. Sepi, gak ada siapa-siapa yang bisa diajak ngobrol. Satu-satu nya orang ya cuma Dian. Aku kan lagi kesel sama dia" panjang lebar aku menjelaskan.


"yasudah..kamu boleh curhat apapun itu yang bisa bikin hati kamu plong. Tapi janji, setelah itu kamu harus pulang.


Gak baik dek marahan sama suami lama-lama" nasehat kak Maryam.


"iya kak, siap. Lagipula, mana bisa aku marah sama dia lama-lama. Hihie" kata ku sambil nyengir.


"iya dewh percaya, yang pengantin baru.


Omong-omong, kapan nih Hafsyah dapat temen main?" pertanyaan kak Maryam yang penuh teka-teki.


"maksud kakak?" tanya ku, tak faham.


"kamu sudah langsung program hamil belum?" kali ini kak Maryam langsung pada intinya. Aku yang semula tengah mencicipi cake buatan kak Maryam yang baru saja matang, tersedak dengan kerasnya. Makanan tersangkut di tenggorokan dan aku batuk-batuk sampai keluar airmata.


"minum minum, ambil air minum" perintah kak Maryam dengan panik.


"maaf aku gak lihat kalo kamu lagi ngunyah" imbuhnya sembari menyodorkan segelas air putih pada ku.


"kak Maryam jahat, cake yang tadinya nikmat jadi berubah rasa" protes ku.


Sebagai gantinya, boleh de sisanya kamu bawa pulang. Makan berdua bareng suami, biar rasanya makin nikmat" goda kak Maryam.


"waaaah, sungguhan kak? Makasih baanyyyaaak" kata ku dengan gembiran. Namun detik kemudian


"aku nginep sini aja deh kak, boleh kan? Semaaaalam aja" pinta ku.


"uuuhhhuuukkkk hhhuukkk uuukk" gini gantian kak Maryam yang tersedak.


"astagfirullah haladzimm" sebut kak Maryam.


"jadi aku yang ikutan tersedak"


"kakak gak ikhlas ya cake ny buat aku" tanya ku menyelidik.


"ya gaklah, mana mungkin. Bukan itu. Tapi..." belum selesai kak Maryam bicara, si kecil Hafsyah berceloteh sambil memasukkan lagi sepotong cake ke mulut ummi nya.


"tapi apa kak?" tanya ku penasaran.


"tapi kamu gak boleh nginep sini, tanpa seijin suami" lanjut kak Maryam yang spontan membuat aku cemberut.


"yah kak Maryam, namanya juga lagi ngambek. Mana ada minta ijin" kata ku datar.


"Kay, pernikahan itu bukan main-main. Kini surga mu ada pada suami, bukan lagi di telapak kaki ibu. Kamu tidak bisa lagi berbuat sesuka hati kamu. Dalam keadaan suka ataupun tidak, kamu harus tetap meminta ijin suami. Haram bagi seorang wanita, satu langkah saja pergi tanpa seijin suami" nasihat kak Maryam.

__ADS_1


"berarti...aku datang kesini, sekarang ini, aku lagi berdosa donk kak" tanya ku.


"bisa jadi. Karena kamu pergi tanpa seijin suami, tanpa memberitahu suami, bisa jadi sekarang suami mu sedang bingung mencari kamu kesana kemari. Sedangkan kamu yang lagi dicari malah enak-enakan duduk disini, makan cake.


Sampe cemotan kaya gitu, mirip Hafsyah" kata kak Maryam panjang lebar. Sialnya, di ujung kalimat kak Maryam berbicara sambil menertawakan ku.


Dengan cepat aku mengambil tisu dan melap mulut ku.


"mana ada tante disamain seperti Hafsyah, ummi nya Hafsyah lucu dewh" kini aku beralih berceloteh dengan si kecil Hafsyah.


"iyalah, mirip anak kecil namanya ituh.


Kalau ngaku sudah dewasa, mana ada cemburu-cemburu macam itu. Pakek acara kabur segala" ledek kak Maryam.


"iwh kak Maryam, bukannya di bela nih adek nya"


"dibela itu kalau benar, Kay. Kalau salah, ya kakak wajib ingatkan donk.


Stop dewh cemburu-cemburu gak jelas macam itu. Toh mereka hanya mengagumi suami kamu, bisa ketemu suami mu aja udah seneng minta ampun khan.


Sedangkan kamu, kamu yang miliki suami mu. Mau tidur sampai bangun tidur disebelah dia. Bebas peluk dia, bebas cium dia, bebbbaaasss" ucapan kak Maryam menggantung.


"bebas apa kak?" tanya ku datar


"bebas ngapain aja, pokoknya. Terserah kamu, punya punya kamu, mau di apain aja juga boleh" kata kak Maryam, ambigu.


"kak Maryam ini bicara apa sih?" tanya ku heran.


Belum sampai kak Maryam bicara lagi, dari luar terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Siapa lagi kalau bukan abi si kecil Hafsyah, kak Nicho.


Dengan cepat Hafsyah berlari kearah depan, pasti juga sudah hafal dengan suara mobil abinya.


"Kay, kamu disini. Sudah daritadi?" sapa kak Nicho setelah cipika cipiki dengan baby Hafsyah sembari berjalan memasuki rumah.


"lumayan kak" kata ku singkat.


"ini bi, ada yang lagi kabur ceritanya" kak Maryam mengadukan ku begitu saja pada kak Nicho.


Habis sudah aku. Gak akan ada celah lagi untuk bersembunyi.


"owh, jadi yang anak-anak rame dikampus tadi, ngomongin kamu sama Dian?" tanya kak Nicho.


Padahal kampus luas, kenapa sampai terdengar juga di telinga kak Nicho.


"memangnya ada kak yang hibah in aku?" tanya ku, menggali informasi.


"iya, tadi sekilas dengan cerita anak-anak. Katanya ada pengantin baru yang lagi ribut, sampai pak Man ikut lari-larian nyari si istri yang kabur" kak Nicho memberi tau.


Akhirnya topik pembahasan kami beralih pada suasana kampus yang tadi sempat heboh.


___________________^_^___________________

__ADS_1


__ADS_2