
Sudah dua hari ini aku tidak bisa menelpon mama. Telepon adek, lagi tidur. Terdengar dari suaranya yang serak khas orang sedang tidur. Telepon papa, masih di kantor. Hati ku cukup gundah gulana, tapi masih bisa ku tahan. Karena ada Siska pastinya. Kami saling memberi suport saat salah satu diantara kami mulai patah semangat.
Saat sudah di pesantren aku mulai mengikuti kegiatan yang ada di sana. Fokus ku tak lagi pada HP. Bahkan HP aku tinggalkan di dalam kamar saat aku mengikuti kelas di pesantren. Bagaimana tidak, jika santri yang lain saja tidak diijinkan membawa handphone ke pesantren, akankah aku seenaknya sendiri membawa handphone ke dalam kelas? Setelah sekian banyak keistimewaan yang aku dapat disini, aku cukup tau diri untuk tidak lagi mengajukan permintaan lain.
Kini aku tengah duduk bersama santri lain sedang mengikuti kelas bahasa Arab. Sebagai seseorang yang sangat awam, bahkan belum pernah sekalipun berkenalan dengan materi itu. Rasanya begitu memusingkan. Sama seperti saat menemui angka di neraca saldo tidak balance, sehingga harus kembali mengulang, mengulang dan mengulang.
Sementara aku melihat sahabat ku satu-satunya saat ini, entah sudah berapa kali menguap. Pasti karena ia jenuh dan tidak mengerti dengan materi yang tengah di sampaikan ustad. Untung saja ustad nya bening, bertubuh tinggi ramping hidung mancung dengan mata yang cekung. Rata-rata pengajar di pesantren ini semi Arab. Pasti karena mayoritas pengajar di pesantren ini masih kerabat kak Maryam.
Hampir semua keluarga kak Maryam menimba ilmu agama di negara timur Tengah, dan setelah mereka selesai dengan pendidikan nya kembali lagi ke tanah kelahiran untuk membesarkan Pesantren. Seperti itu menurut penuturan kak Maryam. Tapi entah kenapa, berbeda dengan kak Maryam. Ia justru memilih untuk mengambil kuliah di jurusan Akuntansi. Mungkin jika tidak begini, aku tidak akan berada disini saat ini. Allah selalu memiliki rencana.
"cuci muka sana Sis" aku berbisik tepat di telinga Siska. Sudah beberapa kali Ustad memperhatikan saat Siska menguap. Rasanya begitu memalukan, di usia yang sudah berkepala dua masih saja memberi contoh tidak baik.
"balik ke kamar aja boleh gak ya" ucap Siska dengan enteng nya.
"mulai deh otak gesrek kamu" aku menimpuk tangan Siska memakai buku yang sedang ku pegang.
"Kayra, buku itu ilmu. Tolong jangan di gunakan untuk memukul" betapa kagetnya aku saat nama ku disebut oleh Ustad Billal. Siska yang sedari tadi menguap, kenapa justru aku yang kena tegur.
"iya Ustad, maaf" ucap ku singkat. Rupanya Ustad Billal memperhatikan ke arah kami. Tapi entah Siska atau aku yang menjadi perhatian Beliau.
"jika kalian bosan dengan materi ini, kalian bisa meninggalkan kelas saya" kembali beliau berkata.
"baik Ustad, ter...." kata Siska begitu saja. Terpaksa aku injak kaki Siska supaya dia menghentikan ucapannya.
"tidak Ustad, maaf" aku meralat perkataan Siska. Beruntung ini kelas para Santriwati, dan juga mereka terlatih untuk tidak bersikap urakan. Berbeda halnya dengan sekolah umum. Jika disekolah umum pasti kami sudah mendapatkan sorakan dari teman-teman yang lain.
Pelajaran kembali di lanjutkan. Dan setelah tak ada lagi pertanyaan, kelas di akhiri.
__ADS_1
Sebelum meninggal kan kelas, aku sempat berbincang dengan beberapa santriwati. Tak lain untuk bertanya mengenai Ustad Billal.
Hanya seputar sifat sikap beliau saat mengajar. Bukan yang lain. Karena dengan memahami karakter setiap pendidik, itu akan lebih mudah untuk mengikuti kelas beliau. Aku rasa begitu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih, itu artinya sebentar lagi memasuki waktu solat magrib. Aku dan Siska pun ikut meninggalkan kelas dan segera menuju ke masjid. Karena tadi pagi sudah diberi jadwal, sehingga kami tidak lagi bingung harus mengerjakan apa.
Sembari berjalan menuju kamar paviliun (para santriwati menyebut kamar yang aku tinggali seperti itu) aku meminta maaf pada Siska karena hari ini sudah beberapa kali menyakiti fisik Siska. Tadi di kampus, juga sore ini.
"udah biasa. Untung saja aku kebal, gak gampang baper" malah seperti itu tanggapan Siska. Tapi bener juga sih, untung dia cuwek. Hihihi 😁
Usai jamaah solat magrib sudah ada jadwal makan malam di kediaman utama. Ada rasa sungkan, tapi masih saja bu nyai menyuruh santriwati untuk memanggil aku juga Siska, agar bergabung bersama makan malam.
Ada suasana berbeda di meja makan, karena kehadiran Ustad Billah. Jika Siska orangnya cuwek, justru aku yang mudah baper. Aku tidak terbiasa berhadapan dengan laki-laki asing. Haruskah saat ini juga aku meminta pada bu nyai agar di gabungkan dengan santriwati yang lain saja? Bagaimana dengan pendapat Siska ya?
Bu nyai berjalan ke dapur dan aku mengikuti beliau.
"ya Kayra"
"boleh saya meminta untuk makan bersama santriwati saja? " ucap ku terus terang.
"kenapa, masakan disini kurang enak? "
"tidak begitu ummi. Hanya saja, saya tidak enak pada santri yang lain, merasa di istimewa kan" aku tidak bisa menahan lagi. Ini baru ustad Billal. Bagaimana jika nanti bertemu dengan keluarga yang lain juga?
Bagaimana pun juga mereka orang lain bagi ku.
"tapi Ruqayyah sendiri yang menitipkan kan kamu pada saya. Itu artinya kamu memang istimewa"
__ADS_1
"maaf ummi, tapi saya tidak terbiasa .... " kalimat ku menggantung, bingung mau berucap seperti apa.
"tenang saja, InsyaAllah keluarga ummi semua sopan-sopan. Tidak akan ada yang mengganggu kamu"
Ucapan Ummi langsung mengena di hati ku. Sebenarnya bukan itu juga yang aku takutkan, aku hanya terlalu canggung.
"kamu hanya belum mengenal mereka. Nanti lama-lama akan terbiasa"
Berasa kena skak mat. Bisa apa lagi aku? selain mengikuti langkah ummi untuk kembali ke meja makan.
Ummi menepuk pundak ku dan mempersilakan duduk. Dengan sangat berat aku menyunggingkan senyum.
Sebelumnya di meja makan terdengar riuh suara obrolan. Tapi begitu aku dan ummi datang semua menjadi bungkam. Kemudian masing-masing mulai mengambil piring dan men centong nasi.
Aku hanya bisa menatap pasrah. Seperti aku memang harus terbiasa dengan situasi ini.
______________^_^_____________
hay-hay, pembaca setia Kayra 😊 berjumpa lagi, ternyata belum lebaran juga ya 😄😄
okelah, author sapa juga untuk pembaca baru Kayra, semoga kalian suka ya. Terus dimasukkan ke favorit 😍😍
ngarep deh ya 🤣
kalaupun iya author gak keberatan kok, hihi 😁
LIKE, VOTE, COMENT juga bikin makin semangat nih yang up up
__ADS_1